
Sekarang aku sedang berdandan di depan cermin. Meskipun pada akhirnya wajahku kututup dengan cadar, tetap saja aku tak mau melihat orang-orang yang menatapku, memicingkan matanya karena aku tak menarik. Aku tetap memoles wajahku, mempercantik mataku dan memakai parfum favoritku. Membayangkannya saja, membuatku horny. Karena ada norma agama yang aku langgar seperti tabarruj.
1571Please respect copyright.PENANAf02SfPU1QY
"Udah cantik kok, Sayang," kata Papa memelukku dari belakang sambil mencium tengkukku.
1571Please respect copyright.PENANAo8IMyUWK8q
"Mandi sana! Udah jam segini lho..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANArFJo6gxZF6
"Bentar lagi ah... pengen peluk pacarku dulu," kata Papa sambil tetap memelukku dari belakang.
1571Please respect copyright.PENANAz5u4sP50cN
"Aku kok deg-degan ya, Jo?" tanyaku.
1571Please respect copyright.PENANAURT2n5Xb9T
"Kenapa?" tanya Papa.
1571Please respect copyright.PENANAsTGeE6Rsnl
"Aku kebayang di villa nanti..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANAZT4dl7lIXM
"Nggak perlu cemas, Sayang! Nanti yang perempuan bukan cuma kamu aja. Kita orgy... tapi mungkin, ada sedikit variasi kayak gangbang juga..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANA5kcmTxv9I7
"Bukake juga? Bukankah bukake tanpa penetrasi?" tanyaku.
1571Please respect copyright.PENANAqr6zgYW4nT
"Bener, bukake cuma ejakulasi aja. Di muka, di dada..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANABzoUFtuAA8
"Aku kebayang gangbang, Pa... Kenapa aku horny ya?" tanyaku.
1571Please respect copyright.PENANAUpxLQlIXyK
"Kamu suka digilir banyak laki-laki?" tanya Papa.
1571Please respect copyright.PENANAi5eNnxLPEW
"Hehe, nggak sih..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANAzHemm9fXn1
"Horny juga nggak ngebayangin banyak laki-laki ejakulasi di wajahmu?" tanya Papa.
1571Please respect copyright.PENANAbQE23JAHqt
Kugigit bibir bawahku, "Horny banget, Pa," kataku.
1571Please respect copyright.PENANAy9kCH4pBvK
"Kelihatan kok... dari memek kamu yang basah ," kata Papa yang tangannya berada di balik dress panjangku yang tersingkap ke atas. Dengan tangan Papa masuk ke dalam celana dalam putihku yang tipis.
1571Please respect copyright.PENANAsZYWHroONQ
"Pa... udah ah!" kataku sambil memejamkan mataku menikmati colokan dua jari Papa ke dalam liang senggamaku.
1571Please respect copyright.PENANAumlLPyJZXX
"Nanggung, Sayang... Memek kamu udah basah banget," kata Papa yang mencolok vaginaku lebih cepat.
1571Please respect copyright.PENANAUOez6Kd3xS
"Sssssh, aaaahh... aku sampe, Pa," kataku dengan tubuh mengejang.
1571Please respect copyright.PENANAtQ7IPcByma
Lalu Papa menarik tangannya sambil menunjukkan jarinya yang basah padaku.
1571Please respect copyright.PENANANBMZeHXoaP
Dengan nafas yang masih memburu, kulirik Papa yang sedang menjilati jarinya yang berleleran cairan cintaku. "Pa... kotor, Pa."
1571Please respect copyright.PENANAKzNIxfV5l2
Papa hanya tersenyum saja, sambil terus menjilati jarinya sampai bersih.
1571Please respect copyright.PENANACi7tHd5MIS
"Pa..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANAZVdAtMpmUC
"Iya, Sayang?"
1571Please respect copyright.PENANABZhDJTYxDN
"Apa yang bakal dibahas dewan direksi nanti ya?" tanyaku khawatir.
1571Please respect copyright.PENANAzAloaxxgZR
"Papa nggak tau, Fa..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAzI3QzuSndi
"Aku takut ketemu, Mama..." kataku menunduk.
1571Please respect copyright.PENANAVtB7WrgNYz
"Kenapa?" tanya Papa yang sekarang melingkarkan tangannya ke pundakku.
1571Please respect copyright.PENANAUfMb1wF7kw
"Aku nggak siap, saat melihat Mama memperjuangkan Akbar buat posisi CEO," kataku.
1571Please respect copyright.PENANAFhnmT4Ulm3
"Siapkan hatimu, Fa! Kadang kenyataan emang sulit buat diterima," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANACitrFQMzBq
"Udah, Pa. Udah aku siapin. Meski aku merasa sakit hati, tapi sama sekali nggak iri," kataku.
1571Please respect copyright.PENANAq5A99r1tYs
Lalu Papa menarik tubuhku untuk menghadap ke arahnya. Papa memegang pundakku sambil membungkuk, mendekatkan wajahnya di depan wajahku. Matanya menatapku dengan sorot mata menyelidik, "Papa tau... kamu berbohong," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAK1DlJMdiLv
Saat Papa menatapku seperti itu, kutundukkan wajahku. "Aku nggak tau, Pa," kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
1571Please respect copyright.PENANAeOSmagURhK
"Kamu iri, Fa? Iri karena posisi CEO bakal dipegang Akbar atau karena perhatian Mama ke Akbar?" tanya Papa menatapku dengan sorot mata menyelidik.
1571Please respect copyright.PENANACfftKtihfD
Kubuang muka ke samping, bukan karena jengah. Namun, dadaku pun semakin sesak. Aku tak tau, sebenarnya apa yang kuinginkan. Apakah aku cemburu? Aku sama sekali tidak tau.
1571Please respect copyright.PENANAtD7g1e3nQx
Kugeleng-gelengkan kepalaku, "Aku cuma nggak suka, Pa," kataku.
1571Please respect copyright.PENANAGwiH4qthAh
"Kalo kamu menginginkan posisi CEO, kamu bisa merebutnya saat Akbar menjadi suami kamu nanti!" kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAtBBCjEQTCi
"Nggak, Pa. Aku nggak pengen posisi itu," kataku.
1571Please respect copyright.PENANABtapnjHcFN
"Kamu cemburu sama perhatian Mama ke Akbar?" tanya Papa.
1571Please respect copyright.PENANAx4MMEO1Skq
"Aku nggak tau, Pa. Yang jelas dadaku sesak sekarang..." kataku dengan nafas berat.
1571Please respect copyright.PENANA1XuDziskdM
"Jangan terlalu dipikirin! Papa bakal perjuangin kamu," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANApiwGdLdA1Y
"Peluk aku Pa!" kataku terisak.
1571Please respect copyright.PENANA7y3TtzePed
Papa memelukku sambil mengusap-usap punggungku. Saat aku melepas pelukan Papa, Papa menatapku hangat.
1571Please respect copyright.PENANAwydfExTYV6
"Jangan nangis! Ntar blush on'nya luntur lho," kata Papa sambil mengusap air mataku.
1571Please respect copyright.PENANAa55k0YW2o0
Aku tersenyum mendengar candaan Papa,"Hihi, kenapa kalo luntur? Aku jelek ya?" tanyaku.
1571Please respect copyright.PENANAwZg3DMwIha
"Hehe, cantik sih," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAzjJ05IrxxY
"Beneran?" tanyaku sambil mengikat rambutku lalu aku memakai ciput.
1571Please respect copyright.PENANAyBq6Ug9Ine
"Iya, Sayang," kata Papa mengecup pundakku sambil memelukku dari belakang.
1571Please respect copyright.PENANAC8YTR4xrX4
"Sebentar ya, Pa. Aku pake hijab dulu!" kataku sambil memakai hijabku dan cadarku.
1571Please respect copyright.PENANAP2NvnQxxuL
Papa kembali memelukku, "Tetep cantik, meski keliatan matanya doang," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANArDT5XJlg6K
"Udah ah, dipuji terus. Bisa terbang nanti..." kataku sambil tersenyum.
1571Please respect copyright.PENANAAV1fwcketM
"Nggak apa-apa, nanti aku ikut terbang..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAdp8xOEyNBg
"Mau ngapain?" tanyaku sambil merapikan cadarku.
1571Please respect copyright.PENANAJMVVVRj9xZ
"Nggak tau, emang mau ngapain?" tanya Papa berkelakar.
1571Please respect copyright.PENANA8THsElMBOl
"Hihihi, gimana sih? Gaje deh..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANA7Dkgg1aQGa
"Ya udah, udah jam segini... Yuk berangkat!" kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAUGj5mCGlMF
"Gandeng!" kataku.
1571Please respect copyright.PENANAludNht95NN
"Manja banget..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANA4UnUNa4zgz
"Bodo..." kataku sambil menggamit tangan Papa.
1571Please respect copyright.PENANAUwTjtng9cY
***********
1571Please respect copyright.PENANA2es6u8MVEa
Sesampainya di villa, banyak banget mobil-mobil mewah berjajar di pelataran. Kulihat, ada beberapa perempuan berpakaian kantoran turun dari mobil.
1571Please respect copyright.PENANAjwvGHzpLC8
"Dia siapa, Pa?" tanyaku penasaran.
1571Please respect copyright.PENANARwd7H5XSA2
"Pegawai, Papa..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAG4QONNs8lK
"Cantik ya..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANAkoFXAdgg2e
"Ah masih cantikan kamu, Fa," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANA3J2rEYJVI9
"Alah gombal," kataku sambil menggamit tangan Papa.
1571Please respect copyright.PENANAnfKCiezpLU
Deg-deg'an juga sih, melihat kerumunan orang. Karena tak terbiasa juga dengan suasana formal seperti ini.
1571Please respect copyright.PENANAqmEYcszDju
Di dalam villa, aku berpapasan dengan Mama, namun saat aku memanggil Mama. Mama membuang muka. Kupanggil Mama berkali-kali, Mama tetap tak mau meresponku.
1571Please respect copyright.PENANAF2EYqjnlnV
Aku mengernyitkan dahiku. Rasanya sedih melihat Mama acuh padaku. Entah apa kesalahanku. Sampai Mama, dengan wajah dinginnya memandangku saja tak mau.
1571Please respect copyright.PENANAUh3XULSjPh
"Fa... " Papa membuyarkan lamunanku.
1571Please respect copyright.PENANAYPTLcqphDY
"Iya, Pa?" tanyaku dengan senyum tertahan.
1571Please respect copyright.PENANAz1QlvdISVj
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Papa dengan wajah khawatir.
1571Please respect copyright.PENANAcysBa9DfcX
"Nggak apa-apa, Pa," kataku tersenyum pura-pura.
1571Please respect copyright.PENANAB2r2kJbbiQ
Sekarang Papa membawaku ke kamar yang ada di dalam villa.
1571Please respect copyright.PENANANFlZnPxdSJ
"Papa tinggal dulu ya, Fa... buat meeting sama dewan direksi," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAXfQNVEg7kQ
"Iya, Pa..." kataku.
1571Please respect copyright.PENANAAUzwZOFjPd
Setelah Papa pergi, aku mulai merasa sedih. Di hari pertamaku bukan kesan baik yang membekas. Justru kesan buruk yang menggores hatiku.
1571Please respect copyright.PENANA2DQ8ccadBC
**********
1571Please respect copyright.PENANApNycNjfWaW
Di hari pertama, kuhabiskan di kamar saja. Namun, aku tetap dilayani oleh pembantu yang aku tak tau namanya. Agak membosankan juga sebenarnya. Apalagi aku harus mengalami pengalaman yang membekas di hatiku. Seperti saat aku berpapasan dengan Mama kemarin...
1571Please respect copyright.PENANAZC6ORUottR
Hari ini, hari kedua aku berada di villa. Aku dengan stelan hijab dan cadarku berjalan menyusuri setiap pojok, di dalam ruangan villa. Hanya sekedar ingin menikmati suasana yang cukup klasik di dalam villa, yang menurutku lumayan berkelas. Dengan banyak perabotan antik dan pajangan seperti lukisan dan patung.
1571Please respect copyright.PENANALmNkpGY8Ua
Aku sempat kagum dengan Papa, ternyata Papa penggila seni juga. Saat aku membandingkan antara aku dengan Papa, tak ada sedikit pun kemiripan karena perbedaan antusiasme. Aku bukan penikmat seni, seperti lukisan atau pun patung. Namun, meskipun begitu aku juga memiliki kesamaan dengan Papa seperti sama-sama jago coding.
1571Please respect copyright.PENANAfYirosCSKZ
Saat aku sedang melihat-lihat lukisan yang kemungkinan adalah lukisan sureal. Aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba berada di belakangku. Setelah aku menoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku. Ternyata itu Mama.
1571Please respect copyright.PENANA2Am38z2pkQ
"Halo nyonya, Johan!" kata Mama sinis.
1571Please respect copyright.PENANALdvi6hFMgH
"Mama apa kabar?" tanyaku dengan tetap elegan di depan Mama.
1571Please respect copyright.PENANA1PyhA9Dcjz
"Halah nggak perlu basa-basi!"
1571Please respect copyright.PENANAijmprre07J
"Mama kok kasar gitu sama aku?"
1571Please respect copyright.PENANAyQgSdf8ZuJ
Dengan tangan terlipat di dada Mama mendekatiku, berdiri dengan jarak yang sangat dekat di depanku.
1571Please respect copyright.PENANAGfisjVJP7s
"Aku nggak pernah mengira, kalo sainganku adalah anakku sendiri..." kata Mama.
1571Please respect copyright.PENANAo5hu1Us1Gm
"Apa maksud, Mama?"
1571Please respect copyright.PENANASfScR6mxEq
"Nggak perlu pura-pura! Pelakor..."
1571Please respect copyright.PENANAngwlOpRybL
"Pelakor? Aku ngerebut suami siapa, Ma?" tanyaku tak mengerti.
1571Please respect copyright.PENANA7sHyGY7ImQ
"Masih pura-pura lagi..."
1571Please respect copyright.PENANAuToQx7be84
Setelah cukup lama, aku baru memahami maksud Mama. "Merebut Papa dari Mama gitu?"
1571Please respect copyright.PENANAbhbwj0iWz9
"Ya..."
1571Please respect copyright.PENANAGMpP3lu566
"Mama masih berharap sama Papa? Apakabar sama suami baru Mama? Sadar Ma, Mama udah bercerai sama Papa" tanyaku tak kalah sinis.
1571Please respect copyright.PENANA2jekAmDizL
Tiba-tiba wajah Mama berubah murung. Dengan gaun tradisional khas Tionghoa lengan panjang. Berhijab simpel dan high heels, Mama terlihat cantik. Namun, di wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak kupahami.
1571Please respect copyright.PENANA6KsdFjjSwS
"Tapi, nggak seharusnya kamu melanggar batasan tabu...", kata Mama lirih lalu meninggalkanku.
1571Please respect copyright.PENANAaqIBxKB1cf
"Ma..." kataku memanggilnya.
1571Please respect copyright.PENANABBUKoOfv2c
"Jangan panggil aku, Mama!"
1571Please respect copyright.PENANAMpDlcs6Tz0
"Mama kenapa sih?" tanyaku dengan terisak.
1571Please respect copyright.PENANAyGEmFbLDVT
"Papamu emang nggak waras. Dia menikmati saat jadiin kamu obyek fantasy. Dan sekarang lebih intim dari itu, menyetubuhimu," kata Mama sinis.
1571Please respect copyright.PENANAthAFeUEHkm
"Mama yang minta!" kataku dengan terisak.
1571Please respect copyright.PENANAotvBHlcUar
Lalu Mama tersenyum sinis, "Sejak awal, aku nggak memandangmu seperti anak gadisku sendiri, meski kamu terlahir dari rahimku. Kamu mau tau kenapa? Kamu iblis kecil yang merebut cintaku, sejak pertamakali kamu lahir ke dunia."
1571Please respect copyright.PENANAUIgUK0nMAG
Aku langsung terperangah mendengar pengakuan Mama. "Mama cemburu aku terlahir ke dunia?"
1571Please respect copyright.PENANAtnju8fh92R
"Ya..." kata Mama.
1571Please respect copyright.PENANAXtZ8KywHxs
Setelah kepergian Mama, aku benar-benar tak mengerti. Kuresapi kata-kata Mama, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang tak bisa kupahami sepenuhnya. Perasaan Mama yang sulit aku tembus. Bukan sekedar perasaan cemburu yang tak wajar. Namun, sesuatu yang tak mampu kujangkau. Tersembunyi, bahkan aku pun hanya bisa melihat selubungnya. Kata cemburu.
1571Please respect copyright.PENANAl9OtcdIqUc
Dengan langkah lemah, saat aku berjalan di depan sebuah kamar. Kudengar suara desahan perempuan dari dalam kamar. Namun, karena perasaanku sedang tak baik-baik saja. Aku mengacuhkannya dan kembali ke dalam kamar.
1571Please respect copyright.PENANAQlP5k2zc7Z
***********
1571Please respect copyright.PENANACAvPjNeeyX
Di hari ketiga, lagi-lagi Papa menghilang. Kesal, karena di hari kedua dan pertama juga begitu. Lalu kulangkahkan kakiku keluar dari kamar untuk mencari Papa, namun tak ada jejaknya. Kucoba menyusuri ruangan lain, namun tetap saja tak kutemukan. Agak frustasi sebenarnya, karena harus sendirian di dalam villa. Bukan karena takut sendirian, hanya saja aku kurang nyaman karena letak villa di tengah hutan, yang berada di puncak pegunungan. Aku sama sekali, tak menyukai suasana seperti ini. Karena memang sejak kecil aku tinggal di kota besar, yang sibuk dengan hiruk pikuknya. Bahkan di rumah pun, suasananya tak sesepi seperti di villa. Meski villa ini ukuran luasnya hampir sama dengan rumahku. Kesan tuanya yang aku tak suka. Seperti suasana zaman dulu, di era kolonial.
1571Please respect copyright.PENANAjlLmbbpoyM
Sekarang aku berdiri di luar ruangan dengan pintu besar. Kudengar sayup-sayup tak begitu jelas, seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya hari ini, aku tak mendengar suara desahan, hanya orang yang sedang mengobrol saja. Karena penasaran, barangkali pesta itu diadakan disini. Kucoba untuk mendorong pintu di depanku.
1571Please respect copyright.PENANAsQKJl27Lzx
Saat aku masuk ke dalam ruangan, aku benar-benar shock, melihat om-om yang aku temui kemarin dalam kondisi telanjang. Sesekali aku menelan ludah melihat penis mereka yang menggantung.
1571Please respect copyright.PENANAKEU8EvRBai
Kucoba susuri kamar dengan mataku, karena tujuanku untuk mencari Papa. Setelah kucari, kutemukan Papa sedang telanjang juga.
1571Please respect copyright.PENANAEMu9lkmBCy
Saat aku masuk ke dalam, semua mata melihatku terkejut.
1571Please respect copyright.PENANAVQMOKPFLt0
"Loh, Farisha? Kok disini?"
1571Please respect copyright.PENANAYQR5kIBZ8G
"Kata kamu, Farisha udah pulang Jo?"
1571Please respect copyright.PENANAAh14YKrDaN
"Oh, aku lupa. Kalo Farisha masih di kamar, haha," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAQxmWkloGFx
Kutarik tangan Papa, "Kenapa tinggalin aku?" tanyaku kesal.
1571Please respect copyright.PENANACcl3KRGSFk
"Maaf," kata Papa sambil senyum-senyum sendiri.
1571Please respect copyright.PENANAgnk2tPo6xL
"Jo? Mana Alya? Udah hampir setengah jam, nggak dateng-dateng," kata Om itu yang tiba-tiba membuatku kaget.
1571Please respect copyright.PENANANePvaVYBKD
"Wah nggak tau juga. Aku juga nungguin," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANASxwRYGA0Yy
"Ya udah, aku hubungi aja!"
1571Please respect copyright.PENANArpLfCGMK23
"Halo, Al. Kamu gimana sih? Udah banyak yang nunggu sekarang."
1571Please respect copyright.PENANAq6Qt1baAyi
"Loh, Om. Alya kan udah balik ke kota? Katanya setelah kemarin, Alya udah boleh pulang?"
1571Please respect copyright.PENANAfqeB0u933f
"Astaga, ini gimana." Kata om-om itu sambil melihat ke arah Papa.
1571Please respect copyright.PENANAEkPxKnCk2U
Papa menatapnya hanya dengan cengar-cengir saja.
1571Please respect copyright.PENANATSHH7EPHzP
Om itu menatapku diam-diam. Karena aku tau, kuberi kode pada papaku, dengan menyenggol menggunakan lenganku. Kulirik Papa yang berada di sampingku, namun Papa hanya meresponku dengan tersenyum saja.
1571Please respect copyright.PENANAsxjUBOTZNw
"Masak kita harus pulang?"
1571Please respect copyright.PENANAJm3bBZ5EHA
"Ya nggak bisa. Kita udah buang-buang waktu hari ini."
1571Please respect copyright.PENANA4XsRazERHy
"Iya, aku juga ngerasa rugi nungguin Alya berjam-jam."
1571Please respect copyright.PENANAAdaXajA7pc
Kulihat om-om di ruangan ini menggerutu. Ada wajah kecewa di wajah mereka. Mungkin acara ini, bagi mereka tak hanya sekedar acara perusahaan. Namun, cara mereka untuk lari dari kepenatan aktivitas mereka sehari-hari. Aku merasa kasian melihat mereka, meski sebenarnya mereka cabul juga seperti Papa.
1571Please respect copyright.PENANAeiFcnhTnwQ
Sesekali kulirik Papa yang berada di sampingku, namun Papa tak bergerak sedikit pun. Kupikir acara hari ini akan dibatalkan, karena yang perempuan termasuk Alya sudah kembali ke kota.
1571Please respect copyright.PENANAG3vffd8I5W
Aku sama seperti Papa, tubuhku sama sekali tak bergerak. Bahkan untuk memulainya saja aku tak sanggup. Dengan keringat yang mulai mengucur.
1571Please respect copyright.PENANADEQ85LFUaR
"Kita pulang aja..." kata om-om itu yang mulai memakai pakaiannya kembali.
1571Please respect copyright.PENANAIVoCUdd8fC
"Ya udah lah, aku juga rugi waktu disini," kata om-om yang lain juga mulai memakai pakaiannya.
1571Please respect copyright.PENANAv9OFvmW0zU
Lalu disusul om-om yang lain lagi. Dalam pikiranku, acara ini batal. Kulihat om-om di sekitarku menatapku. Agak bergidik juga membayangkannya, karena jumlah mereka sekitar 10 orang lebih.
1571Please respect copyright.PENANAMux0mvsdzI
Papa yang tau aku dipandang cabul seperti itu hanya cengar-cengir saja. Kesal sih, melihat Papa. Ya meski aku sudah siap, jika aku bakal orgy di villa. Namun karena perempuan di villa hanya tersisa aku saja, tak mungkin orgy berlangsung. Karena orgy tak hanya fokus pada satu orang perempuan. Dan sekarang tinggal aku saja yang tersisa, yang mungkin terjadi aku akan digilir oleh mereka.
1571Please respect copyright.PENANAXTduIiwDi2
Membayangkan saja, aku meremas jari-jari tanganku karena perasaan tak menentu. Bagaimana tidak? Jika benar terjadi, om-om disini akan penetrasi ke dalam lubangku. Tidak seperti bukake, yang hanya ejakulasi di atas tubuhku.
1571Please respect copyright.PENANAXSyP029NFV
Meski khawatir, karena ngeri membayangkan banyak om-om menggilirku. Namun, tak kupungkiri aku pun menikmati fantasyku. Seperti dadaku yang mulai mengencang, dengan ujung putingku yang mengacung. Sangat gatal, sampai aku membayangkan salah satu dari om-om memelukku dari belakang lalu memelintir putingku.
1571Please respect copyright.PENANAh3PtBu8xzA
Sayang, fantasy liarku tak sinkron dengan kenyataan yang kuhadapi saat ini. Sama persis seperti ide gilaku yang tak bisa menjadi kenyataan.
1571Please respect copyright.PENANAWrlajaBp2Q
Aku mengharapkan om-om di ruangan ini beraksi. Tak mungkin, aku menawarkan diri lebih dulu, karena egoku masih dominan. Maka dari itu, aku enggan merendahkan diriku sendiri untuk menggantikan Alya. Karena aku masih memikirkan reputasiku. Apalagi ini bukan sekedar have sex normal yang hanya satu cowok, satu cewek. Namun satu cewek, dengan banyak cowok.
1571Please respect copyright.PENANAF7VdWE6q0m
Sesekali kulirik, mereka mengacuhkanku. Bahkan Papa pun, hanyut ke dalam obrolan. Kucoba sedikit menguping. Meski lirih, aku masih bisa mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Mereka membahas perusahaan, khususnya pergantian CEO. Seperti mengkritik keputusan Mama, yang gegabah mencalonkan calon menantunya daripada anak perempuan satu-satunya yang lebih memiliki kompetensi. Mendengar mereka, berada di pihakku, perasaan cemasku sedikit terobati. Aku senang mendapat dukungan, apalagi dukungan itu dari dewan direksi.
1571Please respect copyright.PENANAqQ0WrQbb8y
Lalu satu persatu dari mereka duduk di atas matras yang berukuran besar. Mereka saling memberi isyarat melalui mata, lalu berbisik-bisik lirih. Jadi aku tak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Papa pun ikut duduk, sedangkan aku berada di samping Papa.
1571Please respect copyright.PENANA41Clo1zFId
Mereka masih membahas seputaran bisnis, tak beralih untuk membahas topik yang berbeda. Sebenarnya aku cemas. Namun, lebih gelisah lagi saat om-om dewan direksi mengacuhkanku. Awalnya mereka sekedar melirikku, lalu menatapku dengan tersenyum. Lagi-lagi harapanku tak menjadi kenyataan. Persepsiku pun salah, karena mereka tetap memegang teguh integritasnya sebagai laki-laki terhormat.
1571Please respect copyright.PENANATHvANFbxjt
Papa pun demikian, berbeda 180° seperti Papa yang aku kenal. Saat di rumah Papa sering menggodaku, dengan memantik nafsuku. Dan pada akhirnya kita bercumbu.
1571Please respect copyright.PENANAbYiI04o7iJ
Yang aku alami akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan prinsipku. Awalnya aku dominan, saat partnerku adalah papaku sendiri, prinsipku seketika runtuh. Membuat aku rela menyerahkan diriku, harga diriku dan hatiku. Bahkan aku tak bisa menolak saat Papa menawarkan ide gilanya padaku. Agar aku berada ke dalam dominasinya.
1571Please respect copyright.PENANATQlHntMXYb
Apakah ini bucin? Kupikir perasaan itu muncul saat aku merindukan Aldo atau perasaan intim bersama Pak Salim. Ternyata aku salah, karena aku masih bisa berpaling ke dalam pelukan Papa.
1571Please respect copyright.PENANA0PaWbz5KWL
Kulihat salah satu om-om melihat jam di pergelangan tangannya. "Kayaknya aku harus segera pulang deh."
1571Please respect copyright.PENANAtrnKEvThNh
"Kenapa buru-buru?" tanya om-om yang lain.
1571Please respect copyright.PENANAw44lVVNvUB
"Keputusan dewan direksi udah fix kan?" tanya om-om itu yang bernama Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANAeUTxF93aaF
"Iya, keputusan sudah fix. Karena status quo ada di tangan Jenny pemegang saham terbesar. Jadi bisa memutuskan apa aja buat penggantian CEO," kata Om itu yang bernama Wijaya. Jenny adalah mamaku.
1571Please respect copyright.PENANAMQciyBzJj9
"Tapi menurutku, keputusan Jenny terlalu ceroboh. Meski dia punya kuasa penuh atas keputusannya. Memilih orang yang nggak punya kapasitas untuk memimpin perusahaan itu gegabah," kata Om itu yang bernama Jansen.
1571Please respect copyright.PENANAzUDgMWQ6S5
"Dia terlalu terbawa emosi... membawa urusan pribadi ke dalam urusan perusahaan," kata Om Wijaya.
1571Please respect copyright.PENANAdx48qL2vjB
"Bukankah Jenny kayak gitu karena si tuan tanah itu? Aku pikir, ini bukan sekedar urusan emosional," kata Om Jansen.
1571Please respect copyright.PENANACTonjMgWJ0
Papa menghembuskan nafas panjang. "Masalah ini nggak sesederhana itu," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAMjOUu9eMP1
"Aku tau, Jo. Masalah ini hanya soal cuan," kata Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANA7xDdWehy6P
"Kalo Jenny mempertimbangkan masalah opportunitas. Apa opportunitas yang diambil Jenny dari Aziz?" tanya Om Jansen.
1571Please respect copyright.PENANAXF5Hsn5ntS
"Aku nggak tau. Awalnya aku berpikir Jenny segampang itu dikuasai. Tapi, setelah aku sadar kalo Jenny itu perempuan cerdas dan dominan. Kutepis pikiran itu. Justru dugaanku, ada strategi bisnis dalam langkah catur Jenny yang nggak kuketahui," kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAu4TiSi5KmJ
Om Hendarto menatapku, "Kalo emang CEO harus diganti. Aku lebih memilihmu, Fa," kata Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANABNI6DxymOF
"Setuju... karena Farisha lebih punya kapasitas dalam memimpin perusahaan daripada Akbar. Apalagi si Akbar nggak punya basic bisnis apa pun," kata Om Jansen.
1571Please respect copyright.PENANA4MZ2StJ0BH
"Farisha cuma pekerja freelance, Om. Farisha nggak yakin bisa memimpin perusahaan sebesar ini," kataku merendah.
1571Please respect copyright.PENANAtYpsyhZXil
"Kamu terlalu merendah, Fa. Om yakin kamu bisa sahebat Papa atau Mama kamu," kata Om Wijaya sambil menepuk pundakku.
1571Please respect copyright.PENANAlCFpYyw1KS
"Bener..." kata Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANAx1NgindHLG
Sekarang aku berada di tengah, dengan dikelilingi oleh 15 om-om setengah baya.
1571Please respect copyright.PENANA126wtJiCGm
"Kita harus misahin urusan bisnis sama urusan yang lain. Jangan kayak Jenny, yang mencampur keduanya," kata Om Wijaya.
1571Please respect copyright.PENANApd04NyW08X
"Setuju... apalagi sekarang waktunya seneng-seneng... hehe" kata Om Jansen.
1571Please respect copyright.PENANAyJpyYDmiCS
"Gimana menurutmu, Fa?" tanya Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANAMrvqQUFBkl
"Emm, maksudnya Om?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
1571Please respect copyright.PENANAiOGpIw3oGE
"Ah coba jelaskan, Jo!" kata Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANAwMEO5HlFR5
"Hahaha, jadi dilempar ke gua," kata Papa tertawa ngakak.
1571Please respect copyright.PENANArLFQn80Mlc
Om Hendarto mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Tangannya merangkul pundakku, dengan sesekali tangannya yang berada di bahuku meremas lembut.
1571Please respect copyright.PENANANACv5gpvvA
"Om, tau hubunganmu sama papamu. Om, sih nggak permasalahin itu..." kata Om Hendarto.
1571Please respect copyright.PENANAkLD4M0oX72
Lalu Om Jansen duduk di sebelah kananku, "Nggak perlu khawatir. Kita dukung kamu sama papamu, toh kamu lebih baik daripada Jenny."
1571Please respect copyright.PENANAVbCMOOS47H
Mendengar ucapan Om Jansen, aku mengernyitkan dahiku. "Om, menormalisasi incest?" tanyaku mulai membuka suara.
1571Please respect copyright.PENANAU57LbOmlFd
"Bukan soal incestnya, Fa. Tapi soal hati, soal kecocokan," kata Om Hendarto sambil terus mengusap, meremas bahuku.
1571Please respect copyright.PENANA35rywcEAl7
Sesekali kuembuskan nafas panjang, karena merasakan remasan pada bahuku. "Soal hati ya, Om? Normal nggak sih, Om. Mencintai tapi mengizinkan orang lain menyentuh orang yang dicintainya?" tanyaku sambil melirik Papa.
1571Please respect copyright.PENANAtxuKEjeJ6j
"Aduh, kesindir gua, haha."
1571Please respect copyright.PENANA7km3wgWP9S
"Mungkin Johan punya alasan, Fa," kata Om Jansen mengecup pundakku.
1571Please respect copyright.PENANAANhem1S89w
Nafasku sedikit memburu, padahal kita masih ngobrol biasa saja.
1571Please respect copyright.PENANAllvVU5CbSy
"Apa alasan rasionalnya, Om? Kecenderungan cuckold? Agak aneh sih, Om. Incest tapi cuckold," kataku dengan suara bergetar karena tangan Om Jansen melingkar ke pinggangku. Lalu naik ke sela-sela hijab menuju dadaku.
1571Please respect copyright.PENANAnmZlvpFPLr
"Nggak ada yang aneh, Fa. Yang penting consent kan? Kata Johan, kamu punya pandangan kayak gitu soal relationship?" tanya Om Hendarto ikut menyusupkan tangannya dari bawah hijabku. Lalu naik ke dadaku.
1571Please respect copyright.PENANAWoYrgzZlF4
Sekarang dadaku diremas dari kanan dan kiri. Mendapat sentuhan, remasan pada dadaku, libidoku mulai naik. Kutahan desahanku sedemikian rupa, dengan mata terpejam.
1571Please respect copyright.PENANAJG718WXVfL
"Tapi, kamu cinta nggak sama Johan?" kata Om Hendarto berbisik ke telingaku yang tertutup hijab.
1571Please respect copyright.PENANAakmr6qC4f4
Aku tak menjawab pertanyaan Om Hendarto. Karena antara nafsu, perasaan dan akal sehatku terasa saling bertubrukan. Nafsuku menghendaki untuk mengabaikan sikap Papa, yang tak cemburu melihatku dijamah orang lain. Hatiku mencoba menyangkal hasratku, yang menginginkan sikap Papa yang protektif padaku. Akal sehatku mencoba membatasi nafsu dan hatiku, bahwa aku sudah melewati batas tabu.
1571Please respect copyright.PENANACyGU4COpCL
"Sssssh, aaaaah." Kurasakan tangan Om Hendarto sudah mulai masuk ke dalam dress panjangku dengan membuka kancing depanku satu persatu sampai sebatas perut. Setelah kancing dress panjangku sudah terbuka, tangan Om Hendarto berada di atas payudaraku yang masih tertutup tanktop dan bra.
1571Please respect copyright.PENANAIR9lFH9gac
Om Hendarto kembali menanyakan pertanyaan yang sama, "Kamu cinta kan sama papamu?" tanya Om Hendarto lirih sambil mengecup pundakku yang masih tertutup hijab.
1571Please respect copyright.PENANA6cFt9Od5Ie
"Sssssh, aaaah." Lagi-lagi aku hanya bisa mendesah, tanpa membuka mulutku untuk mengakui bahwa aku memang mencintai Papa.
1571Please respect copyright.PENANAWGJXlOQmCr
Kurasakan tangan Om Jansen mulai menurunkan tali tanktopku sampai tali tanktopku turun sebatas siku. Setelah turun, tangan Om Jansen menyusup dari atas braku, lalu jarinya mencari-cari putingku.
1571Please respect copyright.PENANAAi3TxppxPQ
"Cinta seharusnya nggak dibatasi status apa pun, Fa," kata Om Jansen sambil memelintir putingku.
1571Please respect copyright.PENANA0tBTQ44x0u
Kupejamkan mataku, menahan gejolak yang benar-benar merongrongku. Tabu masih membentengiku. Dan rasa malu mengunci mulutku untuk mengungkap perasaanku yang sebenarnya.
1571Please respect copyright.PENANAUFUROVw05z
"Om, paham yang kamu rasain Fa," kata Om Jansen yang mulai mengeluarkan dadaku dari cup braku dan menarik tanktopku turun ke bawah.
1571Please respect copyright.PENANAD9lQAwA8Mf
"Aku cinta sama, Johan Om," kataku sambil menahan nafsu dan cinta yang mulai meruntuhkan pertahanan akal sehatku, sedikit demi sedikit.
1571Please respect copyright.PENANA1PLcUTP5YE
"Seberapa cinta kamu sama, Johan?" tanya Om Hendarto sambil menyibakkan hijabku ke belakang. Sampai dadaku yang semi terbuka terlihat.
1571Please respect copyright.PENANAwWMTcBnc8t
"Nggak tau. Yang jelas aku cinta banget, Om," kataku sambil menahan desahanku.
1571Please respect copyright.PENANAj0TJnBNE3I
Om Hendarto mencoba menurunkan dress panjangku ke bawah. Dengan mengangkat tanganku untuk melepas lengan dress panjangku. Setelah terlepas dress panjangku turun sebatas perut.
1571Please respect copyright.PENANAwuBbuA0GxU
"Apa bukti cintamu, Fa?" tanya Om Hendarto sambil mengecup pundakku yang telanjang.
1571Please respect copyright.PENANA6AnwnrPHH6
"Aku bakal menuruti apa pun, yang dia mau," kataku sambil meneteskan air mata. Pedih rasanya hatiku. Karena seumur hidupku, aku tak pernah merasakan perasaan cinta. Apalagi cinta yang sedalam ini.
1571Please respect copyright.PENANA66rm2W6a9E
Kurasakan, ada yang melepas kaitan braku dari belakang. Braku pun terlepas dengan sempurna.
1571Please respect copyright.PENANALj4TBsz4HP
"Bikin aku cemburu! Kamu bisa?"
1571Please respect copyright.PENANATWmeSw4O6c
Kudengar suara Papa yang berada di belakang tubuhku, sambil memelukku. Dengan tangannya berada di perutku.
1571Please respect copyright.PENANA4tApiWpS4i
"Caranya?" tanyaku dengan menoleh ke belakang untuk menatap papaku.
1571Please respect copyright.PENANAEndsuxdh1u
Papa memagut bibirku, dengan hisapan dan pertemuan lidah. Lalu Papa melepas pagutan pada bibirku.
1571Please respect copyright.PENANAWQ4CmZPb1P
"Aku pengen kamu digilir seluruh dewan direksi. Trus meminum sperma mereka yang ditampung ke dalam gelas. Kamu bisa?" tanya Papa.
1571Please respect copyright.PENANAlj2m4r0aOo
Tangisku langsung meledak, dengan tangis yang terisak-isak. Papa benar-benar menjadikanku objek seksual. Namun, aku rela melakukan apa saja demi Papa. Karena aku sangat mencintainya.
1571Please respect copyright.PENANAML85yfPu3j
Kuanggukkan kepalaku tanda setuju. Tubuhku pun diangkat ke tengah-tengah matras. Sekarang tubuhku sudah setengah telanjang, dengan dress panjangku yang sudah terlepas, jatuh ke bawah.
1571Please respect copyright.PENANAMQ9j2gcJAe
Yang masih melekat di tubuhku hanya celamis, kaos kaki, celana dalam, hijab, ciput dan cadarku.
1571Please respect copyright.PENANA1xj4s2lMVD
Om Wijaya mendekat untuk menarik celamisku sampai terlepas. Saat celamisku terlepas, aku dikerubungi om-om dewan direksi.
1571Please respect copyright.PENANAVIRVdepqaQ
Mataku nanar melihat om-om dewan direksi yang sudah telanjang bulat yang mengelilingiku. Mereka menyodorkan penisnya ke wajahku yang masih tertutup cadar.
1571Please respect copyright.PENANA5awALNFFcm
"Kulum!" kata salah satu dewan direksi.
1571Please respect copyright.PENANAjjA9rHgScT
Dengan kasar om-om dewan direksi menyingkap cadarku, lalu memaksaku agar mengulum penisnya.
1571Please respect copyright.PENANAnbJv3Pr9lQ
Glok glok glok...
1571Please respect copyright.PENANAzzQYYyh1uI
Belum sempat aku mengatur nafasku, wajahku ditarik ke samping kiri.
1571Please respect copyright.PENANACY7kksa37N
"Kulum!"
1571Please respect copyright.PENANAuGpoo3hE2n
Kupandang wajah om-om itu dengan memelas. Lalu cadarku ditarik dengan kasar sampai terlepas.
1571Please respect copyright.PENANAXWhcUZcWll
Glok glok glok...
1571Please respect copyright.PENANA4FQNt4EZNZ
Seperti sebelumnya, wajahku ditarik ke samping. Aku kembali mengulum penis yang berbeda.
1571Please respect copyright.PENANA9JpREUZk4I
Kepalaku dipegang, lalu memompa mulutku dengan kasar.
1571Please respect copyright.PENANAosEmPBpgsH
"Uhuk uhuk uhuk..." Aku tersedak saat penis itu terlepas dengan ludah yang berleleran dari mulutku.
1571Please respect copyright.PENANA1TDd2Ko18D
Aku kembali mengulum penis yang berbeda. Pompaan pada mulutku tak kalah kasar dari yang tadi. Lalu berpindah ke penis yang lain, berpindah lagi sampai aku tak ingat sudah penis ke berapa.
1571Please respect copyright.PENANAtb7jjPl9rh
"Uhuk uhuk uhuk..." Aku berkali-kali tersedak, sampai mataku terasa perih.
1571Please respect copyright.PENANACm39kxio4y
Lalu om-om dewan direksi mengelilingiku sambil mengocok penisnya di atas wajahku. Satu persatu ejakulasi, mengenai wajah, hijab sampai mengalir ke dadaku.
1571Please respect copyright.PENANA5U3ZtREOmV
"Fa..." Papa memanggilku.
1571Please respect copyright.PENANAnhQL3YRvKC
Papa memelukku dari belakang, "Maafin, Papa ya..."
1571Please respect copyright.PENANASae4B7Wslx
Dengan terisak aku bertanya, "Nggak jadi gangbang?" tanyaku dengan wajah belepotan sperma.
1571Please respect copyright.PENANALz6I7Xs3aj
"Nggak!" kata Papa sambil mengusap-usap punggungku.
1571Please respect copyright.PENANA1dyZQpNvpq
"Kenapa?" tanyaku dengan menatap wajah Papa sendu.
1571Please respect copyright.PENANAUP3YLIChID
"Aku nggak rela..." kata Papa.
1571Please respect copyright.PENANAGf17TYZKkP
"Tapi aku pengen mencobanya, Pa..." kataku tersenyum.
1571Please respect copyright.PENANAHQ1C2cr8lo
Kulihat penis Papa yang layu, kembali menegang. Lalu om-om dewan direksi mengangkat tubuhku menjauh dari Papa. Aku diterlentangkan dan mereka menggilirku satu persatu.
1571Please respect copyright.PENANAMUzDiiYFUh