
Sudah enam bulan berlalu sejak pertama kali aku dan suamiku, Rizal, menonton adegan film porno bersama kehidupan kami menjadi lebih mesra. Kadang diselingi dengan candaan suamiku yang lagi-lagi mengungkapkan fantasi anehnya yang ingin melihat aku disetubuhi lelkai lain. Aku menanggapinya dengan tertawa saja karena merasa hal itu sangat mustahil dilakukan. Tapi fantasi dia itu membuat gairah Rizal meningkat dan lumayan bisa memberi kepuasan padaku.
Hari itu, kami baru saja pindah rumah. Suamiku, Rizal, naik jabatan di kantornya, dan sebagai konsekuensinya, suamiku diberikan rumah dinas yang lumayan bagus dibanding rumah kontrakan yang selama ini kami tempati. Lokasinya berada di sebuah kompleks perumahan elit, di mana pagar-pagar tinggi dan gerbang otomatis seolah menjadi simbol status. Tetangga-tetangga di sini rata-rata adalah kaum individualis yang jarang bersosialisasi. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, dan senyum pun terasa mahal. Kecuali satu pasangan suami-istri yang tinggal di seberang rumah kami: Jonas dan Grace.
Jonas adalah seorang pria Manado yang bekerja sebagai pejabat di sebuah kantor pemerintah. Istrinya, Grace, adalah ibu rumah tangga biasa seperti aku. Mereka adalah pasangan yang ramah dan sering menyapa kami dengan senyum hangat. Jonas memiliki wajah tampan mirip seperti lelaki blasteran. Tubuhnya juga bagus dan atletis. Meski usianya mungkin sudah mendekati 40an. Grace, di sisi lain, adalah juga wanita Manado, sudah pasti wajahnya cantik karena memang Manado terkenal dengan wajah wanitanya yang cantik dan ramah. Usianya sekitar 35 tahunan. Keduanya memiliki postur tubuh yang tinggi dan ramping, membuat mereka terlihat seperti pasangan yang harmonis.
Suatu pagi di hari sabtu, aku berencana keluar sebentar untuk belanja ke pasar harian. Sebenarnya aku minta diantar oleh Rizal. Tapi dia kecapean habis bercinta denganku semalam dan susah untuk dibangunkan aku pesan taxi online saja ke pasarnya. Aku memakai celana jeans abu-abu dan kemeja longgar yang menutupi pinggang, sambil mengenakan jilbab pasmina. Taksi online yang aku pesan sudah di depan rumah. Saat aku melangkah keluar menuju ke taxi online, aku melihat Jonas sedang mencuci mobilnya di halaman depan. Dia mengenakan celana pendek ketat hitam dan singlet biru gelap. Otot-ototnya yang kekar terlihat jelas, dan tubuhnya berkilat karena peluh. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang menggelitik di dalam diriku. Nafsu ku tiba-tiba terpicu saat melihat tubuh Jonas.
“Aku ini sudah makin binal saja rasanya. Mungkin karena terlalu sering menonton film porno. Ih, amit-amit deh!” gumamku dalam hati, mencoba mengusik perasaan yang tak seharusnya muncul.
“Hai, Nisa, mau ke mana?” tanya Jonas, menyapaku dengan suara yang dalam dan hangat.
Aku tersenyum, mencoba menutupi kegelisahan yang tiba-tiba muncul. “Mau ke pasar sebentar, Pak Jonas. Rajin banget nyuci mobil sendiri.”
Jonas tertawa kecil, suaranya seperti gemuruh yang membuat dadaku bergetar. “Ah, tidak juga. Cuma bosan saja di rumah, jadi cuci mobil. Kebetulan juga libur sekalian olahraga.” jawabnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk, mencoba menenangkan diri. “Oh, begitu. Ya, selamat menikmati hari libur, ya.”
Jonas mengangguk balik, lalu kembali fokus pada mobilnya. Aku bergegas naik taxi online, mencoba mengalihkan pikiran dari bayangan tubuh Jonas yang masih terngiang di benakku.
Di pasar, aku berusaha fokus pada daftar belanjaan. Tapi pikiran itu terus kembali, seperti gelombang yang tak bisa dihentikan. Aku mencoba mengingat Rizal, suamiku yang selalu setia dan baik padaku. Tapi entah mengapa, bayangan Jonas terus menghantui.
Saat aku pulang, Jonas masih berada di halaman. Kali ini, Grace juga ada di sana. Mereka sedang berolahraga bersama, terlihat begitu bahagia. Aku merasa sedikit lega melihat Grace. Mungkin kehadirannya bisa mengusir pikiran-pikiran nakal yang terus mengganggu.
“Hai, Nisa! Sudah pulang?” sapa Grace dengan ramah saat aku turun dari taxi online.
“Iya, baru balik dari pasar,” jawabku, mencoba tersenyum.
“Wah, belanja banyak ya. Butuh bantuan nggak?” tanya Jonas, matanya penuh perhatian.
Aku menggeleng, mencoba menolak dengan sopan. “Nggak usah, Pak Jonas. Aku bisa kok. Terima kasih ya.”
“Oh ya, malam ini jangan lupa datang ke rumah kami ya. Grace sudah lama ingin ngundang kalian makan malam!” tambah Jonas.
Grace, ikut menimpali.“Iya, Nisa. Malam ini aku masak makanan khas Manado. Datang ya, jangan malu-malu.”
“Wah, Kak Grace repot-repot segala. Tapi terima kasih ya. Nanti malam kami datang,” jawabku sambil tersenyum.
Saat aku berjalan perlahan memasuki halaman rumahku, aku merasa Jonas memandangiku dengan tatapan yang berbeda. Mungkin ini hanya perasaanku, tapi aku merasa dia memperhatikan lenggok pinggulku. Ini bukan pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Namun, setelah menonton film porno bersama suamiku, ada sedikit rasa bangga dan bergairah saat lelaki lain memandangiku.
Tonjolan di celana pendek Jonas membuatku semakin tidak fokus. Aku mencoba mengingatkan diri sendiri, “Nisa, Jaga mata, jaga hati, jaga diri, jaga suamimu. Jangan sampai kau jatuhkan harga diri kamu.”
7844Please respect copyright.PENANAQt0aa2LJHs
Bersambung
ns18.116.241.0da2