
Sekarang aku sedang berdandan di depan cermin. Meskipun pada akhirnya wajahku kututup dengan cadar, tetap saja aku tak mau melihat orang-orang yang menatapku, memicingkan matanya karena aku tak menarik. Aku tetap memoles wajahku, mempercantik mataku dan memakai parfum favoritku. Membayangkannya saja, membuatku horny. Karena ada norma agama yang aku langgar seperti tabarruj.
1794Please respect copyright.PENANAIuLMicXJsa
"Udah cantik kok, Sayang," kata Papa memelukku dari belakang sambil mencium tengkukku.
1794Please respect copyright.PENANAetwovpCb1T
"Mandi sana! Udah jam segini lho..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANA2RWhyMUhHs
"Bentar lagi ah... pengen peluk pacarku dulu," kata Papa sambil tetap memelukku dari belakang.
1794Please respect copyright.PENANA8vZRd19vLU
"Aku kok deg-degan ya, Jo?" tanyaku.
1794Please respect copyright.PENANA2Yze98YgRh
"Kenapa?" tanya Papa.
1794Please respect copyright.PENANAtmmOLcrO7Z
"Aku kebayang di villa nanti..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANAtpeqN1odmO
"Nggak perlu cemas, Sayang! Nanti yang perempuan bukan cuma kamu aja. Kita orgy... tapi mungkin, ada sedikit variasi kayak gangbang juga..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANA61Qbo3qmib
"Bukake juga? Bukankah bukake tanpa penetrasi?" tanyaku.
1794Please respect copyright.PENANA1nmJSz4zNZ
"Bener, bukake cuma ejakulasi aja. Di muka, di dada..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANA9EZI5VWTj6
"Aku kebayang gangbang, Pa... Kenapa aku horny ya?" tanyaku.
1794Please respect copyright.PENANAmKKW6NoCs6
"Kamu suka digilir banyak laki-laki?" tanya Papa.
1794Please respect copyright.PENANAgwBotYH5yr
"Hehe, nggak sih..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANAKedd6bNBIx
"Horny juga nggak ngebayangin banyak laki-laki ejakulasi di wajahmu?" tanya Papa.
1794Please respect copyright.PENANAclWMwtUHgn
Kugigit bibir bawahku, "Horny banget, Pa," kataku.
1794Please respect copyright.PENANAlVN0NwbrPh
"Kelihatan kok... dari memek kamu yang basah ," kata Papa yang tangannya berada di balik dress panjangku yang tersingkap ke atas. Dengan tangan Papa masuk ke dalam celana dalam putihku yang tipis.
1794Please respect copyright.PENANAHVfDnhKJC6
"Pa... udah ah!" kataku sambil memejamkan mataku menikmati colokan dua jari Papa ke dalam liang senggamaku.
1794Please respect copyright.PENANANR4dPMshYQ
"Nanggung, Sayang... Memek kamu udah basah banget," kata Papa yang mencolok vaginaku lebih cepat.
1794Please respect copyright.PENANAYHSntyiyIa
"Sssssh, aaaahh... aku sampe, Pa," kataku dengan tubuh mengejang.
1794Please respect copyright.PENANAvc8HnnTdE6
Lalu Papa menarik tangannya sambil menunjukkan jarinya yang basah padaku.
1794Please respect copyright.PENANA6ypKBCloa2
Dengan nafas yang masih memburu, kulirik Papa yang sedang menjilati jarinya yang berleleran cairan cintaku. "Pa... kotor, Pa."
1794Please respect copyright.PENANAa2x256f3tg
Papa hanya tersenyum saja, sambil terus menjilati jarinya sampai bersih.
1794Please respect copyright.PENANAZUQTje1tn5
"Pa..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANAUIim6kUxnF
"Iya, Sayang?"
1794Please respect copyright.PENANAtriAobnf7D
"Apa yang bakal dibahas dewan direksi nanti ya?" tanyaku khawatir.
1794Please respect copyright.PENANAR3SzlYhMeU
"Papa nggak tau, Fa..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAFtUuZhIGuX
"Aku takut ketemu, Mama..." kataku menunduk.
1794Please respect copyright.PENANAYTdZ5f7wYE
"Kenapa?" tanya Papa yang sekarang melingkarkan tangannya ke pundakku.
1794Please respect copyright.PENANAbGX5hiYPqt
"Aku nggak siap, saat melihat Mama memperjuangkan Akbar buat posisi CEO," kataku.
1794Please respect copyright.PENANAHlGh0PujMs
"Siapkan hatimu, Fa! Kadang kenyataan emang sulit buat diterima," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAobg2h9lVKO
"Udah, Pa. Udah aku siapin. Meski aku merasa sakit hati, tapi sama sekali nggak iri," kataku.
1794Please respect copyright.PENANApidZx8aJqi
Lalu Papa menarik tubuhku untuk menghadap ke arahnya. Papa memegang pundakku sambil membungkuk, mendekatkan wajahnya di depan wajahku. Matanya menatapku dengan sorot mata menyelidik, "Papa tau... kamu berbohong," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAChCh70mDPp
Saat Papa menatapku seperti itu, kutundukkan wajahku. "Aku nggak tau, Pa," kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
1794Please respect copyright.PENANAwiqWPfsn0S
"Kamu iri, Fa? Iri karena posisi CEO bakal dipegang Akbar atau karena perhatian Mama ke Akbar?" tanya Papa menatapku dengan sorot mata menyelidik.
1794Please respect copyright.PENANAZKh9BuAFwn
Kubuang muka ke samping, bukan karena jengah. Namun, dadaku pun semakin sesak. Aku tak tau, sebenarnya apa yang kuinginkan. Apakah aku cemburu? Aku sama sekali tidak tau.
1794Please respect copyright.PENANAq8ssHn4k10
Kugeleng-gelengkan kepalaku, "Aku cuma nggak suka, Pa," kataku.
1794Please respect copyright.PENANADKE4PL3n9F
"Kalo kamu menginginkan posisi CEO, kamu bisa merebutnya saat Akbar menjadi suami kamu nanti!" kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAgx1xpGx1EK
"Nggak, Pa. Aku nggak pengen posisi itu," kataku.
1794Please respect copyright.PENANAclCpVtzlVg
"Kamu cemburu sama perhatian Mama ke Akbar?" tanya Papa.
1794Please respect copyright.PENANAq2yLggHTKO
"Aku nggak tau, Pa. Yang jelas dadaku sesak sekarang..." kataku dengan nafas berat.
1794Please respect copyright.PENANADqP8fNhDSw
"Jangan terlalu dipikirin! Papa bakal perjuangin kamu," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAzEzfvoERAd
"Peluk aku Pa!" kataku terisak.
1794Please respect copyright.PENANAOKxmgSUAZ3
Papa memelukku sambil mengusap-usap punggungku. Saat aku melepas pelukan Papa, Papa menatapku hangat.
1794Please respect copyright.PENANA6UIlyGKGEb
"Jangan nangis! Ntar blush on'nya luntur lho," kata Papa sambil mengusap air mataku.
1794Please respect copyright.PENANA3wnwVfhmtE
Aku tersenyum mendengar candaan Papa,"Hihi, kenapa kalo luntur? Aku jelek ya?" tanyaku.
1794Please respect copyright.PENANAW9CfzURdGZ
"Hehe, cantik sih," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAP7QMITlAgy
"Beneran?" tanyaku sambil mengikat rambutku lalu aku memakai ciput.
1794Please respect copyright.PENANAdONIS0l6FH
"Iya, Sayang," kata Papa mengecup pundakku sambil memelukku dari belakang.
1794Please respect copyright.PENANAq7IKqm5z5w
"Sebentar ya, Pa. Aku pake hijab dulu!" kataku sambil memakai hijabku dan cadarku.
1794Please respect copyright.PENANAPyDhr7NNpF
Papa kembali memelukku, "Tetep cantik, meski keliatan matanya doang," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAPTpWXOzM5M
"Udah ah, dipuji terus. Bisa terbang nanti..." kataku sambil tersenyum.
1794Please respect copyright.PENANA7kydmbslvP
"Nggak apa-apa, nanti aku ikut terbang..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAggIrLlYyPh
"Mau ngapain?" tanyaku sambil merapikan cadarku.
1794Please respect copyright.PENANA7z5lbEo1UQ
"Nggak tau, emang mau ngapain?" tanya Papa berkelakar.
1794Please respect copyright.PENANAa5UljSaMt6
"Hihihi, gimana sih? Gaje deh..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANArPrg3nz8Ne
"Ya udah, udah jam segini... Yuk berangkat!" kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAi1SFccA8PH
"Gandeng!" kataku.
1794Please respect copyright.PENANANIb3sV3tI9
"Manja banget..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAQzCFBgukgn
"Bodo..." kataku sambil menggamit tangan Papa.
1794Please respect copyright.PENANAf2c5VbKX0O
***********
1794Please respect copyright.PENANA0gxXbwXTs0
Sesampainya di villa, banyak banget mobil-mobil mewah berjajar di pelataran. Kulihat, ada beberapa perempuan berpakaian kantoran turun dari mobil.
1794Please respect copyright.PENANABeSOh5KbUT
"Dia siapa, Pa?" tanyaku penasaran.
1794Please respect copyright.PENANArBZju4YTIc
"Pegawai, Papa..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANASKJwtY6yVY
"Cantik ya..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANABFPVKVor5z
"Ah masih cantikan kamu, Fa," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAWJHq9ndxKo
"Alah gombal," kataku sambil menggamit tangan Papa.
1794Please respect copyright.PENANAZiW00IMMk5
Deg-deg'an juga sih, melihat kerumunan orang. Karena tak terbiasa juga dengan suasana formal seperti ini.
1794Please respect copyright.PENANAiarvc8zktx
Di dalam villa, aku berpapasan dengan Mama, namun saat aku memanggil Mama. Mama membuang muka. Kupanggil Mama berkali-kali, Mama tetap tak mau meresponku.
1794Please respect copyright.PENANAmCegKzTeK8
Aku mengernyitkan dahiku. Rasanya sedih melihat Mama acuh padaku. Entah apa kesalahanku. Sampai Mama, dengan wajah dinginnya memandangku saja tak mau.
1794Please respect copyright.PENANAHnuqFfdiA8
"Fa... " Papa membuyarkan lamunanku.
1794Please respect copyright.PENANAk9uzNCqARH
"Iya, Pa?" tanyaku dengan senyum tertahan.
1794Please respect copyright.PENANAK72MAa9iVv
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Papa dengan wajah khawatir.
1794Please respect copyright.PENANAeunKt5ivnK
"Nggak apa-apa, Pa," kataku tersenyum pura-pura.
1794Please respect copyright.PENANAIfrfPpM573
Sekarang Papa membawaku ke kamar yang ada di dalam villa.
1794Please respect copyright.PENANAnK2sfYVtBQ
"Papa tinggal dulu ya, Fa... buat meeting sama dewan direksi," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAF3xmIZULaS
"Iya, Pa..." kataku.
1794Please respect copyright.PENANAc57pvHFD2I
Setelah Papa pergi, aku mulai merasa sedih. Di hari pertamaku bukan kesan baik yang membekas. Justru kesan buruk yang menggores hatiku.
1794Please respect copyright.PENANAEf1hvWdwez
**********
1794Please respect copyright.PENANAW8EkIJJP1E
Di hari pertama, kuhabiskan di kamar saja. Namun, aku tetap dilayani oleh pembantu yang aku tak tau namanya. Agak membosankan juga sebenarnya. Apalagi aku harus mengalami pengalaman yang membekas di hatiku. Seperti saat aku berpapasan dengan Mama kemarin...
1794Please respect copyright.PENANA89r25Y0PnE
Hari ini, hari kedua aku berada di villa. Aku dengan stelan hijab dan cadarku berjalan menyusuri setiap pojok, di dalam ruangan villa. Hanya sekedar ingin menikmati suasana yang cukup klasik di dalam villa, yang menurutku lumayan berkelas. Dengan banyak perabotan antik dan pajangan seperti lukisan dan patung.
1794Please respect copyright.PENANAwQ2U3oPO4p
Aku sempat kagum dengan Papa, ternyata Papa penggila seni juga. Saat aku membandingkan antara aku dengan Papa, tak ada sedikit pun kemiripan karena perbedaan antusiasme. Aku bukan penikmat seni, seperti lukisan atau pun patung. Namun, meskipun begitu aku juga memiliki kesamaan dengan Papa seperti sama-sama jago coding.
1794Please respect copyright.PENANAX1EHRMcBAo
Saat aku sedang melihat-lihat lukisan yang kemungkinan adalah lukisan sureal. Aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba berada di belakangku. Setelah aku menoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku. Ternyata itu Mama.
1794Please respect copyright.PENANAqJIo0yVGwO
"Halo nyonya, Johan!" kata Mama sinis.
1794Please respect copyright.PENANAwqYQlPeWKY
"Mama apa kabar?" tanyaku dengan tetap elegan di depan Mama.
1794Please respect copyright.PENANAb1zHMXLQYy
"Halah nggak perlu basa-basi!"
1794Please respect copyright.PENANAGQZ1en5wrc
"Mama kok kasar gitu sama aku?"
1794Please respect copyright.PENANAd7U9NrwydT
Dengan tangan terlipat di dada Mama mendekatiku, berdiri dengan jarak yang sangat dekat di depanku.
1794Please respect copyright.PENANAoiQ3MvK1ZL
"Aku nggak pernah mengira, kalo sainganku adalah anakku sendiri..." kata Mama.
1794Please respect copyright.PENANAZ7IF5ghj9h
"Apa maksud, Mama?"
1794Please respect copyright.PENANAol06WHGEtp
"Nggak perlu pura-pura! Pelakor..."
1794Please respect copyright.PENANAnsLdCgRu5V
"Pelakor? Aku ngerebut suami siapa, Ma?" tanyaku tak mengerti.
1794Please respect copyright.PENANAHhNe2zZaTs
"Masih pura-pura lagi..."
1794Please respect copyright.PENANAwedNCDOgy5
Setelah cukup lama, aku baru memahami maksud Mama. "Merebut Papa dari Mama gitu?"
1794Please respect copyright.PENANAT5sjkgdT6L
"Ya..."
1794Please respect copyright.PENANA30IzHSx25N
"Mama masih berharap sama Papa? Apakabar sama suami baru Mama? Sadar Ma, Mama udah bercerai sama Papa" tanyaku tak kalah sinis.
1794Please respect copyright.PENANAkSUy3IShyI
Tiba-tiba wajah Mama berubah murung. Dengan gaun tradisional khas Tionghoa lengan panjang. Berhijab simpel dan high heels, Mama terlihat cantik. Namun, di wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak kupahami.
1794Please respect copyright.PENANAGoa27hTVo6
"Tapi, nggak seharusnya kamu melanggar batasan tabu...", kata Mama lirih lalu meninggalkanku.
1794Please respect copyright.PENANACyZAVD4lgD
"Ma..." kataku memanggilnya.
1794Please respect copyright.PENANA75XHgcmJot
"Jangan panggil aku, Mama!"
1794Please respect copyright.PENANAiD5JeRe9gg
"Mama kenapa sih?" tanyaku dengan terisak.
1794Please respect copyright.PENANAuTE7TsijLr
"Papamu emang nggak waras. Dia menikmati saat jadiin kamu obyek fantasy. Dan sekarang lebih intim dari itu, menyetubuhimu," kata Mama sinis.
1794Please respect copyright.PENANAx3C7AYe9GP
"Mama yang minta!" kataku dengan terisak.
1794Please respect copyright.PENANA4y4Fy1SUeG
Lalu Mama tersenyum sinis, "Sejak awal, aku nggak memandangmu seperti anak gadisku sendiri, meski kamu terlahir dari rahimku. Kamu mau tau kenapa? Kamu iblis kecil yang merebut cintaku, sejak pertamakali kamu lahir ke dunia."
1794Please respect copyright.PENANAzBLVAMJHWu
Aku langsung terperangah mendengar pengakuan Mama. "Mama cemburu aku terlahir ke dunia?"
1794Please respect copyright.PENANApfFq8ju8ce
"Ya..." kata Mama.
1794Please respect copyright.PENANA9vscbAnqnZ
Setelah kepergian Mama, aku benar-benar tak mengerti. Kuresapi kata-kata Mama, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang tak bisa kupahami sepenuhnya. Perasaan Mama yang sulit aku tembus. Bukan sekedar perasaan cemburu yang tak wajar. Namun, sesuatu yang tak mampu kujangkau. Tersembunyi, bahkan aku pun hanya bisa melihat selubungnya. Kata cemburu.
1794Please respect copyright.PENANARHw8PtjBnV
Dengan langkah lemah, saat aku berjalan di depan sebuah kamar. Kudengar suara desahan perempuan dari dalam kamar. Namun, karena perasaanku sedang tak baik-baik saja. Aku mengacuhkannya dan kembali ke dalam kamar.
1794Please respect copyright.PENANAPbi6fejo9q
***********
1794Please respect copyright.PENANAhOiEm8BeP2
Di hari ketiga, lagi-lagi Papa menghilang. Kesal, karena di hari kedua dan pertama juga begitu. Lalu kulangkahkan kakiku keluar dari kamar untuk mencari Papa, namun tak ada jejaknya. Kucoba menyusuri ruangan lain, namun tetap saja tak kutemukan. Agak frustasi sebenarnya, karena harus sendirian di dalam villa. Bukan karena takut sendirian, hanya saja aku kurang nyaman karena letak villa di tengah hutan, yang berada di puncak pegunungan. Aku sama sekali, tak menyukai suasana seperti ini. Karena memang sejak kecil aku tinggal di kota besar, yang sibuk dengan hiruk pikuknya. Bahkan di rumah pun, suasananya tak sesepi seperti di villa. Meski villa ini ukuran luasnya hampir sama dengan rumahku. Kesan tuanya yang aku tak suka. Seperti suasana zaman dulu, di era kolonial.
1794Please respect copyright.PENANAdjOq5pQthk
Sekarang aku berdiri di luar ruangan dengan pintu besar. Kudengar sayup-sayup tak begitu jelas, seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya hari ini, aku tak mendengar suara desahan, hanya orang yang sedang mengobrol saja. Karena penasaran, barangkali pesta itu diadakan disini. Kucoba untuk mendorong pintu di depanku.
1794Please respect copyright.PENANA3hPrxg8SdC
Saat aku masuk ke dalam ruangan, aku benar-benar shock, melihat om-om yang aku temui kemarin dalam kondisi telanjang. Sesekali aku menelan ludah melihat penis mereka yang menggantung.
1794Please respect copyright.PENANAMBl36HVLKH
Kucoba susuri kamar dengan mataku, karena tujuanku untuk mencari Papa. Setelah kucari, kutemukan Papa sedang telanjang juga.
1794Please respect copyright.PENANASqAxde8IYl
Saat aku masuk ke dalam, semua mata melihatku terkejut.
1794Please respect copyright.PENANAOxUaHPegFk
"Loh, Farisha? Kok disini?"
1794Please respect copyright.PENANAXhudao7ACy
"Kata kamu, Farisha udah pulang Jo?"
1794Please respect copyright.PENANAwNcoU8C3Sz
"Oh, aku lupa. Kalo Farisha masih di kamar, haha," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAvn74H9HTNz
Kutarik tangan Papa, "Kenapa tinggalin aku?" tanyaku kesal.
1794Please respect copyright.PENANAKjGec7RDK1
"Maaf," kata Papa sambil senyum-senyum sendiri.
1794Please respect copyright.PENANAO1yuNOcut3
"Jo? Mana Alya? Udah hampir setengah jam, nggak dateng-dateng," kata Om itu yang tiba-tiba membuatku kaget.
1794Please respect copyright.PENANAdTfmzgoqTm
"Wah nggak tau juga. Aku juga nungguin," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANA3vw8gfvWu4
"Ya udah, aku hubungi aja!"
1794Please respect copyright.PENANAj7hNKLkkD0
"Halo, Al. Kamu gimana sih? Udah banyak yang nunggu sekarang."
1794Please respect copyright.PENANASNkAJVi8Bt
"Loh, Om. Alya kan udah balik ke kota? Katanya setelah kemarin, Alya udah boleh pulang?"
1794Please respect copyright.PENANAx3Kd41EQH1
"Astaga, ini gimana." Kata om-om itu sambil melihat ke arah Papa.
1794Please respect copyright.PENANATzEx7UjAOG
Papa menatapnya hanya dengan cengar-cengir saja.
1794Please respect copyright.PENANAWsQkXfVr0f
Om itu menatapku diam-diam. Karena aku tau, kuberi kode pada papaku, dengan menyenggol menggunakan lenganku. Kulirik Papa yang berada di sampingku, namun Papa hanya meresponku dengan tersenyum saja.
1794Please respect copyright.PENANAPCjlez41qb
"Masak kita harus pulang?"
1794Please respect copyright.PENANAfHnzB7YzOx
"Ya nggak bisa. Kita udah buang-buang waktu hari ini."
1794Please respect copyright.PENANAm4AJqWNFVL
"Iya, aku juga ngerasa rugi nungguin Alya berjam-jam."
1794Please respect copyright.PENANAOAHl1j2yft
Kulihat om-om di ruangan ini menggerutu. Ada wajah kecewa di wajah mereka. Mungkin acara ini, bagi mereka tak hanya sekedar acara perusahaan. Namun, cara mereka untuk lari dari kepenatan aktivitas mereka sehari-hari. Aku merasa kasian melihat mereka, meski sebenarnya mereka cabul juga seperti Papa.
1794Please respect copyright.PENANAtw3cU9P3So
Sesekali kulirik Papa yang berada di sampingku, namun Papa tak bergerak sedikit pun. Kupikir acara hari ini akan dibatalkan, karena yang perempuan termasuk Alya sudah kembali ke kota.
1794Please respect copyright.PENANAtCehVDEahq
Aku sama seperti Papa, tubuhku sama sekali tak bergerak. Bahkan untuk memulainya saja aku tak sanggup. Dengan keringat yang mulai mengucur.
1794Please respect copyright.PENANAfYOgBa9Vcr
"Kita pulang aja..." kata om-om itu yang mulai memakai pakaiannya kembali.
1794Please respect copyright.PENANAPi7XQuoqBx
"Ya udah lah, aku juga rugi waktu disini," kata om-om yang lain juga mulai memakai pakaiannya.
1794Please respect copyright.PENANAgfoZkcJHEo
Lalu disusul om-om yang lain lagi. Dalam pikiranku, acara ini batal. Kulihat om-om di sekitarku menatapku. Agak bergidik juga membayangkannya, karena jumlah mereka sekitar 10 orang lebih.
1794Please respect copyright.PENANA9Dxm4KaLLC
Papa yang tau aku dipandang cabul seperti itu hanya cengar-cengir saja. Kesal sih, melihat Papa. Ya meski aku sudah siap, jika aku bakal orgy di villa. Namun karena perempuan di villa hanya tersisa aku saja, tak mungkin orgy berlangsung. Karena orgy tak hanya fokus pada satu orang perempuan. Dan sekarang tinggal aku saja yang tersisa, yang mungkin terjadi aku akan digilir oleh mereka.
1794Please respect copyright.PENANAEtOMariLOh
Membayangkan saja, aku meremas jari-jari tanganku karena perasaan tak menentu. Bagaimana tidak? Jika benar terjadi, om-om disini akan penetrasi ke dalam lubangku. Tidak seperti bukake, yang hanya ejakulasi di atas tubuhku.
1794Please respect copyright.PENANAKUdhwiiYkT
Meski khawatir, karena ngeri membayangkan banyak om-om menggilirku. Namun, tak kupungkiri aku pun menikmati fantasyku. Seperti dadaku yang mulai mengencang, dengan ujung putingku yang mengacung. Sangat gatal, sampai aku membayangkan salah satu dari om-om memelukku dari belakang lalu memelintir putingku.
1794Please respect copyright.PENANAiY2gyNtIqq
Sayang, fantasy liarku tak sinkron dengan kenyataan yang kuhadapi saat ini. Sama persis seperti ide gilaku yang tak bisa menjadi kenyataan.
1794Please respect copyright.PENANAlFb9EurmFn
Aku mengharapkan om-om di ruangan ini beraksi. Tak mungkin, aku menawarkan diri lebih dulu, karena egoku masih dominan. Maka dari itu, aku enggan merendahkan diriku sendiri untuk menggantikan Alya. Karena aku masih memikirkan reputasiku. Apalagi ini bukan sekedar have sex normal yang hanya satu cowok, satu cewek. Namun satu cewek, dengan banyak cowok.
1794Please respect copyright.PENANAmv6FgHKbjQ
Sesekali kulirik, mereka mengacuhkanku. Bahkan Papa pun, hanyut ke dalam obrolan. Kucoba sedikit menguping. Meski lirih, aku masih bisa mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Mereka membahas perusahaan, khususnya pergantian CEO. Seperti mengkritik keputusan Mama, yang gegabah mencalonkan calon menantunya daripada anak perempuan satu-satunya yang lebih memiliki kompetensi. Mendengar mereka, berada di pihakku, perasaan cemasku sedikit terobati. Aku senang mendapat dukungan, apalagi dukungan itu dari dewan direksi.
1794Please respect copyright.PENANALccflJOPjm
Lalu satu persatu dari mereka duduk di atas matras yang berukuran besar. Mereka saling memberi isyarat melalui mata, lalu berbisik-bisik lirih. Jadi aku tak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Papa pun ikut duduk, sedangkan aku berada di samping Papa.
1794Please respect copyright.PENANA1QUaJHuB6C
Mereka masih membahas seputaran bisnis, tak beralih untuk membahas topik yang berbeda. Sebenarnya aku cemas. Namun, lebih gelisah lagi saat om-om dewan direksi mengacuhkanku. Awalnya mereka sekedar melirikku, lalu menatapku dengan tersenyum. Lagi-lagi harapanku tak menjadi kenyataan. Persepsiku pun salah, karena mereka tetap memegang teguh integritasnya sebagai laki-laki terhormat.
1794Please respect copyright.PENANAtGVM1pUT2R
Papa pun demikian, berbeda 180° seperti Papa yang aku kenal. Saat di rumah Papa sering menggodaku, dengan memantik nafsuku. Dan pada akhirnya kita bercumbu.
1794Please respect copyright.PENANAkqsgB1DIN1
Yang aku alami akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan prinsipku. Awalnya aku dominan, saat partnerku adalah papaku sendiri, prinsipku seketika runtuh. Membuat aku rela menyerahkan diriku, harga diriku dan hatiku. Bahkan aku tak bisa menolak saat Papa menawarkan ide gilanya padaku. Agar aku berada ke dalam dominasinya.
1794Please respect copyright.PENANA5Orpfd10lK
Apakah ini bucin? Kupikir perasaan itu muncul saat aku merindukan Aldo atau perasaan intim bersama Pak Salim. Ternyata aku salah, karena aku masih bisa berpaling ke dalam pelukan Papa.
1794Please respect copyright.PENANAEIIkLCYpxd
Kulihat salah satu om-om melihat jam di pergelangan tangannya. "Kayaknya aku harus segera pulang deh."
1794Please respect copyright.PENANAtv3qI2gQ0y
"Kenapa buru-buru?" tanya om-om yang lain.
1794Please respect copyright.PENANA96woRhXcBR
"Keputusan dewan direksi udah fix kan?" tanya om-om itu yang bernama Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANAQBDz3oPYoW
"Iya, keputusan sudah fix. Karena status quo ada di tangan Jenny pemegang saham terbesar. Jadi bisa memutuskan apa aja buat penggantian CEO," kata Om itu yang bernama Wijaya. Jenny adalah mamaku.
1794Please respect copyright.PENANAvqxidRll6J
"Tapi menurutku, keputusan Jenny terlalu ceroboh. Meski dia punya kuasa penuh atas keputusannya. Memilih orang yang nggak punya kapasitas untuk memimpin perusahaan itu gegabah," kata Om itu yang bernama Jansen.
1794Please respect copyright.PENANAEcnFEKigA3
"Dia terlalu terbawa emosi... membawa urusan pribadi ke dalam urusan perusahaan," kata Om Wijaya.
1794Please respect copyright.PENANAoKLo88OqCK
"Bukankah Jenny kayak gitu karena si tuan tanah itu? Aku pikir, ini bukan sekedar urusan emosional," kata Om Jansen.
1794Please respect copyright.PENANAcUySwFYHle
Papa menghembuskan nafas panjang. "Masalah ini nggak sesederhana itu," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAjpRyGemvb1
"Aku tau, Jo. Masalah ini hanya soal cuan," kata Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANACQw0KjKHa7
"Kalo Jenny mempertimbangkan masalah opportunitas. Apa opportunitas yang diambil Jenny dari Aziz?" tanya Om Jansen.
1794Please respect copyright.PENANAnybCIt6yyt
"Aku nggak tau. Awalnya aku berpikir Jenny segampang itu dikuasai. Tapi, setelah aku sadar kalo Jenny itu perempuan cerdas dan dominan. Kutepis pikiran itu. Justru dugaanku, ada strategi bisnis dalam langkah catur Jenny yang nggak kuketahui," kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANADDIG75k4wG
Om Hendarto menatapku, "Kalo emang CEO harus diganti. Aku lebih memilihmu, Fa," kata Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANA46wTwznKbC
"Setuju... karena Farisha lebih punya kapasitas dalam memimpin perusahaan daripada Akbar. Apalagi si Akbar nggak punya basic bisnis apa pun," kata Om Jansen.
1794Please respect copyright.PENANA6TD9gtV9mP
"Farisha cuma pekerja freelance, Om. Farisha nggak yakin bisa memimpin perusahaan sebesar ini," kataku merendah.
1794Please respect copyright.PENANAXHclMRlgQ0
"Kamu terlalu merendah, Fa. Om yakin kamu bisa sahebat Papa atau Mama kamu," kata Om Wijaya sambil menepuk pundakku.
1794Please respect copyright.PENANAB0zAoyPMRK
"Bener..." kata Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANAWAllUh7qvu
Sekarang aku berada di tengah, dengan dikelilingi oleh 15 om-om setengah baya.
1794Please respect copyright.PENANAwI8J1vyVoC
"Kita harus misahin urusan bisnis sama urusan yang lain. Jangan kayak Jenny, yang mencampur keduanya," kata Om Wijaya.
1794Please respect copyright.PENANASRXHXOE1mf
"Setuju... apalagi sekarang waktunya seneng-seneng... hehe" kata Om Jansen.
1794Please respect copyright.PENANApRi3B5swa7
"Gimana menurutmu, Fa?" tanya Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANAE4k0iSxotn
"Emm, maksudnya Om?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
1794Please respect copyright.PENANAkFr3E4ktUJ
"Ah coba jelaskan, Jo!" kata Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANAZa6OPP5O6N
"Hahaha, jadi dilempar ke gua," kata Papa tertawa ngakak.
1794Please respect copyright.PENANAvVxYEpgRB2
Om Hendarto mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Tangannya merangkul pundakku, dengan sesekali tangannya yang berada di bahuku meremas lembut.
1794Please respect copyright.PENANA6anumhEPvG
"Om, tau hubunganmu sama papamu. Om, sih nggak permasalahin itu..." kata Om Hendarto.
1794Please respect copyright.PENANAAhJEu4ew5y
Lalu Om Jansen duduk di sebelah kananku, "Nggak perlu khawatir. Kita dukung kamu sama papamu, toh kamu lebih baik daripada Jenny."
1794Please respect copyright.PENANA70Et3p1UfT
Mendengar ucapan Om Jansen, aku mengernyitkan dahiku. "Om, menormalisasi incest?" tanyaku mulai membuka suara.
1794Please respect copyright.PENANAKi3bHPYuOZ
"Bukan soal incestnya, Fa. Tapi soal hati, soal kecocokan," kata Om Hendarto sambil terus mengusap, meremas bahuku.
1794Please respect copyright.PENANAWSWBQSYMMl
Sesekali kuembuskan nafas panjang, karena merasakan remasan pada bahuku. "Soal hati ya, Om? Normal nggak sih, Om. Mencintai tapi mengizinkan orang lain menyentuh orang yang dicintainya?" tanyaku sambil melirik Papa.
1794Please respect copyright.PENANAK5HVeD2ASn
"Aduh, kesindir gua, haha."
1794Please respect copyright.PENANAivBXmePkje
"Mungkin Johan punya alasan, Fa," kata Om Jansen mengecup pundakku.
1794Please respect copyright.PENANAumHoeFRU5J
Nafasku sedikit memburu, padahal kita masih ngobrol biasa saja.
1794Please respect copyright.PENANAHsmGMKWaLE
"Apa alasan rasionalnya, Om? Kecenderungan cuckold? Agak aneh sih, Om. Incest tapi cuckold," kataku dengan suara bergetar karena tangan Om Jansen melingkar ke pinggangku. Lalu naik ke sela-sela hijab menuju dadaku.
1794Please respect copyright.PENANALDQBkPx7h9
"Nggak ada yang aneh, Fa. Yang penting consent kan? Kata Johan, kamu punya pandangan kayak gitu soal relationship?" tanya Om Hendarto ikut menyusupkan tangannya dari bawah hijabku. Lalu naik ke dadaku.
1794Please respect copyright.PENANAy0YaKlnjya
Sekarang dadaku diremas dari kanan dan kiri. Mendapat sentuhan, remasan pada dadaku, libidoku mulai naik. Kutahan desahanku sedemikian rupa, dengan mata terpejam.
1794Please respect copyright.PENANAyUCeHE7kVo
"Tapi, kamu cinta nggak sama Johan?" kata Om Hendarto berbisik ke telingaku yang tertutup hijab.
1794Please respect copyright.PENANAXpjeoMtipK
Aku tak menjawab pertanyaan Om Hendarto. Karena antara nafsu, perasaan dan akal sehatku terasa saling bertubrukan. Nafsuku menghendaki untuk mengabaikan sikap Papa, yang tak cemburu melihatku dijamah orang lain. Hatiku mencoba menyangkal hasratku, yang menginginkan sikap Papa yang protektif padaku. Akal sehatku mencoba membatasi nafsu dan hatiku, bahwa aku sudah melewati batas tabu.
1794Please respect copyright.PENANAZLrXPeSaUE
"Sssssh, aaaaah." Kurasakan tangan Om Hendarto sudah mulai masuk ke dalam dress panjangku dengan membuka kancing depanku satu persatu sampai sebatas perut. Setelah kancing dress panjangku sudah terbuka, tangan Om Hendarto berada di atas payudaraku yang masih tertutup tanktop dan bra.
1794Please respect copyright.PENANAMj2EL9zwL2
Om Hendarto kembali menanyakan pertanyaan yang sama, "Kamu cinta kan sama papamu?" tanya Om Hendarto lirih sambil mengecup pundakku yang masih tertutup hijab.
1794Please respect copyright.PENANAd17aXcscWQ
"Sssssh, aaaah." Lagi-lagi aku hanya bisa mendesah, tanpa membuka mulutku untuk mengakui bahwa aku memang mencintai Papa.
1794Please respect copyright.PENANA8AgObnmqhs
Kurasakan tangan Om Jansen mulai menurunkan tali tanktopku sampai tali tanktopku turun sebatas siku. Setelah turun, tangan Om Jansen menyusup dari atas braku, lalu jarinya mencari-cari putingku.
1794Please respect copyright.PENANARinDijswrJ
"Cinta seharusnya nggak dibatasi status apa pun, Fa," kata Om Jansen sambil memelintir putingku.
1794Please respect copyright.PENANAfSpYeRBlwN
Kupejamkan mataku, menahan gejolak yang benar-benar merongrongku. Tabu masih membentengiku. Dan rasa malu mengunci mulutku untuk mengungkap perasaanku yang sebenarnya.
1794Please respect copyright.PENANA3qsszk4A8Z
"Om, paham yang kamu rasain Fa," kata Om Jansen yang mulai mengeluarkan dadaku dari cup braku dan menarik tanktopku turun ke bawah.
1794Please respect copyright.PENANAdQ9CmLcKUe
"Aku cinta sama, Johan Om," kataku sambil menahan nafsu dan cinta yang mulai meruntuhkan pertahanan akal sehatku, sedikit demi sedikit.
1794Please respect copyright.PENANA6x8tg0PNLe
"Seberapa cinta kamu sama, Johan?" tanya Om Hendarto sambil menyibakkan hijabku ke belakang. Sampai dadaku yang semi terbuka terlihat.
1794Please respect copyright.PENANAQduqAtHmrH
"Nggak tau. Yang jelas aku cinta banget, Om," kataku sambil menahan desahanku.
1794Please respect copyright.PENANAPkYrMFDCog
Om Hendarto mencoba menurunkan dress panjangku ke bawah. Dengan mengangkat tanganku untuk melepas lengan dress panjangku. Setelah terlepas dress panjangku turun sebatas perut.
1794Please respect copyright.PENANAHrg1mp10RV
"Apa bukti cintamu, Fa?" tanya Om Hendarto sambil mengecup pundakku yang telanjang.
1794Please respect copyright.PENANACIfBii8GTj
"Aku bakal menuruti apa pun, yang dia mau," kataku sambil meneteskan air mata. Pedih rasanya hatiku. Karena seumur hidupku, aku tak pernah merasakan perasaan cinta. Apalagi cinta yang sedalam ini.
1794Please respect copyright.PENANAtRJK5UPsHZ
Kurasakan, ada yang melepas kaitan braku dari belakang. Braku pun terlepas dengan sempurna.
1794Please respect copyright.PENANAkJ0sva9uzE
"Bikin aku cemburu! Kamu bisa?"
1794Please respect copyright.PENANAa6sejbaIDR
Kudengar suara Papa yang berada di belakang tubuhku, sambil memelukku. Dengan tangannya berada di perutku.
1794Please respect copyright.PENANA0eYHTmktI9
"Caranya?" tanyaku dengan menoleh ke belakang untuk menatap papaku.
1794Please respect copyright.PENANAk4CMo3wE94
Papa memagut bibirku, dengan hisapan dan pertemuan lidah. Lalu Papa melepas pagutan pada bibirku.
1794Please respect copyright.PENANAWDJBesKpAh
"Aku pengen kamu digilir seluruh dewan direksi. Trus meminum sperma mereka yang ditampung ke dalam gelas. Kamu bisa?" tanya Papa.
1794Please respect copyright.PENANA66X0Qo0sGC
Tangisku langsung meledak, dengan tangis yang terisak-isak. Papa benar-benar menjadikanku objek seksual. Namun, aku rela melakukan apa saja demi Papa. Karena aku sangat mencintainya.
1794Please respect copyright.PENANAxoQGizqSRg
Kuanggukkan kepalaku tanda setuju. Tubuhku pun diangkat ke tengah-tengah matras. Sekarang tubuhku sudah setengah telanjang, dengan dress panjangku yang sudah terlepas, jatuh ke bawah.
1794Please respect copyright.PENANA6KIoX5Fqe2
Yang masih melekat di tubuhku hanya celamis, kaos kaki, celana dalam, hijab, ciput dan cadarku.
1794Please respect copyright.PENANAmN8vLhWEph
Om Wijaya mendekat untuk menarik celamisku sampai terlepas. Saat celamisku terlepas, aku dikerubungi om-om dewan direksi.
1794Please respect copyright.PENANAP0eQws2QU0
Mataku nanar melihat om-om dewan direksi yang sudah telanjang bulat yang mengelilingiku. Mereka menyodorkan penisnya ke wajahku yang masih tertutup cadar.
1794Please respect copyright.PENANAweNpJfWD8G
"Kulum!" kata salah satu dewan direksi.
1794Please respect copyright.PENANADj8bPTgVyA
Dengan kasar om-om dewan direksi menyingkap cadarku, lalu memaksaku agar mengulum penisnya.
1794Please respect copyright.PENANAi7BcyVMoJf
Glok glok glok...
1794Please respect copyright.PENANAaD7bVN9niH
Belum sempat aku mengatur nafasku, wajahku ditarik ke samping kiri.
1794Please respect copyright.PENANAduFzq77E6j
"Kulum!"
1794Please respect copyright.PENANAjX7maEemOF
Kupandang wajah om-om itu dengan memelas. Lalu cadarku ditarik dengan kasar sampai terlepas.
1794Please respect copyright.PENANATotSNyxWf3
Glok glok glok...
1794Please respect copyright.PENANAkDnbDWD52B
Seperti sebelumnya, wajahku ditarik ke samping. Aku kembali mengulum penis yang berbeda.
1794Please respect copyright.PENANAlkTg3dmJjM
Kepalaku dipegang, lalu memompa mulutku dengan kasar.
1794Please respect copyright.PENANAkI0CI1vYjg
"Uhuk uhuk uhuk..." Aku tersedak saat penis itu terlepas dengan ludah yang berleleran dari mulutku.
1794Please respect copyright.PENANAccYMkWWAFy
Aku kembali mengulum penis yang berbeda. Pompaan pada mulutku tak kalah kasar dari yang tadi. Lalu berpindah ke penis yang lain, berpindah lagi sampai aku tak ingat sudah penis ke berapa.
1794Please respect copyright.PENANAHLCxWtzBBN
"Uhuk uhuk uhuk..." Aku berkali-kali tersedak, sampai mataku terasa perih.
1794Please respect copyright.PENANAVVq79xGYJ1
Lalu om-om dewan direksi mengelilingiku sambil mengocok penisnya di atas wajahku. Satu persatu ejakulasi, mengenai wajah, hijab sampai mengalir ke dadaku.
1794Please respect copyright.PENANACSe6YvQInk
"Fa..." Papa memanggilku.
1794Please respect copyright.PENANAbAJFnN4KTa
Papa memelukku dari belakang, "Maafin, Papa ya..."
1794Please respect copyright.PENANA6nA6AyttYJ
Dengan terisak aku bertanya, "Nggak jadi gangbang?" tanyaku dengan wajah belepotan sperma.
1794Please respect copyright.PENANApkoHJrXK2E
"Nggak!" kata Papa sambil mengusap-usap punggungku.
1794Please respect copyright.PENANA9kCLH3pQMY
"Kenapa?" tanyaku dengan menatap wajah Papa sendu.
1794Please respect copyright.PENANAvez3CnwwTH
"Aku nggak rela..." kata Papa.
1794Please respect copyright.PENANAZKWhTRKZVX
"Tapi aku pengen mencobanya, Pa..." kataku tersenyum.
1794Please respect copyright.PENANAO5wsEIN0Fx
Kulihat penis Papa yang layu, kembali menegang. Lalu om-om dewan direksi mengangkat tubuhku menjauh dari Papa. Aku diterlentangkan dan mereka menggilirku satu persatu.
1794Please respect copyright.PENANA7ct3j9dGRu