Seberang Selatan pintu masuk Distrik 13.
"Jadi tempat ini yang dinamakan Distrik 13? Nah, kita sudah disini lalu bisa kita lanjutkan dengarkan misinya sekarang? Serahkan urusan hajar-menghajar padaku!"
(Ketua Squad Militer 'Dewa Kemenangan' Distrik 6, Gore Victor.)
Gore Victor dengan wajah tampak yakin mengepalkan tangannya dan menunjukan otot bisep miliknya sambil memandang langit.
"Ahh... Dasar otak otot. Kalau kau pikir ini misi penyergapan Aku akan senang kau maju duluan dan modar. Jadi beban yang Aku tanggung nanti akan lebih sedikit."
(Ketua Squad Militer 'Bunga Naga' Distrik 11, Nagasi Kurumi.)
Nagasi Kurumi berjalan pelan di belakang Gore Victor dengan nada merendahkan.
"Jangan mengada-ada cebol! Dada teposmu itu sudah menandakan tidak ada beban yang harus kau tanggung."
"Ap-....!? Baiklah kau yang minta 'otot silikon'!"
Dengan menahan nada amarahnya Nagasi Kurumi segera menantang Gore Victor.
"Ngajak gelut nih cebol!"
"E-Eto-eto.... Tolong jangan bertengkar.... Kita masih di jalan umum."
(Wakil Ketua Squad Militer 'Dunia Baru' Distrik 11, Takama Yuri.)
Takama Yuri dengan nada cemasnya berusaha melerai mereka walaupun pada akhirnya akan dikacangin.
"Tak ada orang yang berani meremehkan otot-otot gagah dan machoku ini! Apa kau mau merasakan kekuatanku 'nenek cebol'!?"
Sambil mengepalkan tangan Gore Victor menantang Nagasi Kurumi.
"Heh.... Kalau kau pikir Aku takut padamu kau salah besar! Aku bisa membuatnya kempes dengan jarum pentul sekalipun!"
"Hawawawa......"
Takama Yuri segera ingin menangis kapan saja.
"Kalian berdua hentikan! Kita disini sedang menyamar jangan menarik perhatian atau kalian mau Aku jadikan permen gula!"
(Ketua Squad Militer 'Dunia Baru' Distrik 11, Yushuke Kouji.)
Muncul dari belakang Yushuke Kouji mulai menyambangi pertikaian mereka.
"Cih...."X2
Segera kedua orang yang berkelahi itu memalingkan wajah masing-masing dengan muka yang masam.
"Hah.... Dengar semuanya, kita akan menjalankan misi dari Distrik 11 secara diam-diam. Tugas kita di tempat ini untuk menemukan dan membawa salah satu anggota Dilagry bernama Fesal Karunia Putro Tinggi. Informasi yang ditinggalkan adalah dia berada di Distrik 13 setelah dibawa seseorang."
"Jadi ini adalah misi penyelamatan? Akan jadi sangat berbahaya kalau kita melakukan itu bukan? Distrik 13 pasti tidak akan tindak diam jika ada yang mengganggu mereka."
Nagasi Kurumi bertanya pada Yushuke.
"Benar, oleh sebab itu kita jangan bertindak gegabah. Kita harus menyelesaikan misi ini dengan cepat."
"J-Jika.... Mereka tahu jika Distrik 11 terlibat dalam misi ini.... Apakah Distrik 11 dan Distrik 13 akan berperang?"
Yuri merenung dan mulai membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika misinya terus dilanjutkan.
*PLUUK
Yushuke menepuk dan mengelus kepala Yuri.
"Jangan kawathir.... Kita punya klien dalam urusan ini. Mereka tidak akan seberani itu. Aku sudah menjelaskan tentang misi ini. Keterangan lebih lanjut Aku berikan 'amplop klien' pada ponsel kalian. Hanya perwakilan Distrik 11 yang diberi. Sementara Gore, kau harus menunggu pesan dari Distrik 6 untuk informasi ini."
"Baiklah, mau bagaimana lagi...."
"Oho.... lihat! Bahkan foto pemuda Dilagry yang ada di ponselku ini bahkan lebih tampan darimu."
Nagasi yang sedang mengutak-atik ponselnya mencoba menggoda Gore.
"Yah... Aku juga yakin lelaki tampan itu tidak akan memilih nenek cebol berdada tepos sebagai tipenya."
"Hah....!? Apa kau bilang!?"
"Memang benarkan kau itu jomblo berkelanjutan karena tidak ada yang bisa melihatmu karena cebol?!"
Gore mulai memancing-mancing Nagasi.
"Hah.... Au ah gelap. Baiklah kita mulai misinya!"
Ketua mereka meninggalkan ketiga rekannya.
"E-Eto Hawawawa....."
Yuri pun menangis.483Please respect copyright.PENANAp7SK02CgaG
483Please respect copyright.PENANAnRAdmY9SML
------------------------------------------------------------------------------------
Gedung penelitian, Distrik 13.
*CKREEK
Aku sedang mengecek P-90 yang Aku pakai. Aku tidak tahu cara menembak dengan benar. Selama musuh yang Aku hadapi tidak terlalu jauh mungkin Aku bisa.
*DINGG
Aku melihat nomor yang tertera pada layar papan diatas lift dan itu menunjukan angka 8. Aku dengan perlahan keluar. Saat itu ada 2 orang yang berpakaian sama denganku yang menunggu di depan lift. Aku mulai berpikir apakah penyamaranku berhasil menipunya? Walaupun pakaian yang Aku pakai terlalu longgar karena tidak pas dengan tinggi badanku. Astaga Aku benar-benar benci pada tinggi badanku ini.
"Um... Halo!?"
"....."
Mereka tidak bergeming sekalipun atau membalas sapaanku.
"Maaf permisi...."
Aku dengan gugup mulai berjalan di sela kedua orang itu. Mereka hanya memandangku tanpa menghalangi jalanku. Syukurlah Aku tidak dibuat repot sekarang.....
"Hey tunggu!"
*PUUK
Salah satu dari mereka menyentuh pundak kananku.
"Kau mau kemana?"
"Err... Apa kalian tahu Ruang Radiologi?"
"Oh... Lurus saja kedepan, belok kanan dan naik saja ke tangga kecil. Kau bisa lihat tanda merah pada dinding masuk saja. Setelah itu belok kanan lagi. Jika kau menemukan perempatan lurus saja sampai perempatan berikutnya belok kiri. Jika menemukan ruangan dengan kaca diseluruh dindingnya kau masuk saja. Oke!"
"Disitu tempatnya?"
"Bukan, itu tempat pos penjagaan. Kau tanya saja Ruangan Radiologi itu pada mereka."
Asem bener dah, Aku dikerjain.
"Oh, makasih kalau gitu."
Sesaat Aku melangkah kedepan....
"Hey kau berdarah!"
Salah satu penjaga itu menunjuk kearah sepatuku yang mengeluarkan darah yang keluar dari atas celanaku. Darahku terus mengucur dan membasahi lantai.
"Ahh...."X2
Sial, Aku ketahuan. Sebelum mereka berpikir lebih lanjut Aku harus melumpuhkan mereka terlebih dulu.
"Haia!!"
*BUUK BAAK
Aku menarik tangan penjaga yang sedang berbicara padaku tadi yang memegang pundakku dan menghantam tenggorokannya dengan sikuku.
"Kau!!"
*CKREEK
Yang satunya melihat aksiku dan hampir melepaskan tembakan dari senjatanya. Tapi itu tidak akan terjadi.
"Hua!!"
*BUUK
"Oh!!"
*GUBRRAAK
Aku mendorong penjaga yang masih lemas karena sikuanku ke penjaga satunya. Mereka tersandung dan jatuh.
*CKREEK
Segera Aku mengambil senjata laras panjang miliknya dan menodongnya.
"Woah, woah.... Sebaiknya kau singkirkan tanganmu itu dari helm-mu."
Aku tahu dia pasti ingin menghidupkan alat kontak dengan helmnya karena Aku mengerti cara kerja alat itu.
"Cih...! Kau pikir bisa lolos setelah menembakku?"
"Siapa bilang Aku akan menembakmu?"
*BEDAAK
Aku memukul helmnya dengan ujung belakang senjata dan membuatnya pingsan. Lebih baik begini daripada suara tembakan akan membuat keributan nantinya.
"Sebaiknya Aku masukan saja mereka kedalam lift."
*SREEEET
Setelah menyeret tubuh kedua orang itu kedalam lift dan mengirimnya ke lantai dasar tempat dimana sel tahanan berada. Aku mulai melanjutkan pencarianku. Aku menukar P-90 ku dengan M4A1 karena pemakaiannya yang cukup mudah. Aku juga mengambil sebilah pisau dan pistol.
"Mirip Beretta.... Ya sudahlah bawa saja."483Please respect copyright.PENANAPZuOkuT0dE
483Please respect copyright.PENANAN1G3zI9Mhf
------------------------------------------------------------------------------------
Aku berlari kesana kemari dan akhirnya tiba ke pos penjagaan. Saat Aku mengintip....
"Menang! Akhirnya Aku dapat semuanya!"
"Jangan sombong dulu ayo lanjutkan."
"Hey! Hey! Itu uangku!"
Lah loh kok para penjaga itu malah main judi!? Bukannya kerja atau apa kek!?
*BRAAK
"Kerja goblok!!"
"....."
Waduh mampuslah.... Aku malah kebablasan sampai mendobrak pintunya dan berteriak spontan karena tak tahan lihat kelakuan mereka.
"Lu siapa pendek?"
Salah satu dari mereka bertiga berdiri.
"Ehh... Emm..."
"Psst.... Hey mungkinkah dia Kepala Pengurus Penjaga yang baru? Aku diberitahu kalau rumornya dia pendek."
"Benarkah begitu? Kalau begitu gawat dong...."
Mereka sedang bisik-bisik apa sih? Aku tidak bisa mendengar mereka karena tertutup helm.
"A-Apakah anda Kepala Pengurus Penjaga yang baru?"
Ehh... Mereka sepertinya salah paham disini. Kepala Pengurus Penjaga? Wah.... Akhirnya ada kesempatan juga.
"Ehem....! Kalau Aku Kepala Pengurus Penjaga memangnya kenapa?"
Aku agak melantangkan sedikit nada bicaraku agar terkesan menekankan mereka. Semoga saja ini berhasil.
"Hii....!! M-Maafkan kami Pak!!"
Mereka bertiga langsung berdiri dengan tegap. Lalu membereskan semua kartu judi, snack, miras, uang dan buku porno yang ada diatas meja.
"Kalian ini! Bukannya kerja malah asik judi! Apa kalian tidak punya malu huh....!?"
"K-Kami benar-benar minta maaf Pak! Kami menyesal!"
"Bagus jika kalian menyadari kesalahan kalian. Sekarang sebagai hukuman kalian semua akan berpatroli di pintu masuk! Tidak boleh menggunakan lift saat turun, gunakan jalur evakuasi! Cepat!"
"Siap laksanakan Pak!"X3
*STAP STAP
Mereka dengan cepat pergi dari ruangan. Mereka itu pada bego apa ya? Ah kutu kupret, Aku lupa menanyakan Ruang Radiologi ada dimana.
"Au ah ada denah juga. Hem...!?"
Saat mataku memandangi berbagai layar monitor komputer yang terlihat menyala, merela ditumpuk menjadi sebuah susunan.
"Ini.... CCTV!?"
Aku sempat melihat berbagai macam kamera pengawas diberbagai koridor. Aku menyangka kalau alat itu rusak karena tak ada sinyal peringatan saat Aku lolos dari sel tahanan. Ternyata mereka malah asik bermain sampai-sampai tidak tahu jika tahanan mereka lepas. Mereka pantas diberi hukuman berat jika Aku benar-benar menjadi Kepala Pengurus Penjaga. Entah apa ini keberuntunganku semata atau mereka itu benar-benar bego.
Melihat berbagai macam monitor Aku menemukan sebuah ruangan dengan berbagai sistem tombol yang rumit serta banyak orang didalamnya. Sudah kuduga itu ruang radiologi.
Melihat kembali dan memastikan ruangan yang lain Aku melihat seseorang memakai topi Tribly sedang duduk-duduk disebuah sofa sambil menyeruput secangkir kopi sambil menyetel lagu pada sebuah Gramophone disampingnya. Tidak salah lagi dia orang misterius yang tempo hari mendatangi rumahku dan berusaha membawaku. Akan sangat berbahaya jika Aku bertemu dengan orang itu. Lebih baik Aku jangan bertindak sembrono.
Baiklah sudah diputuskan Aku akan langsung masuk ke ruang radiologi itu.
"Ugh...!!"
*KROMPYAAANG
Rasa kram tiba-tiba menyerang tangan kiriku. Sakitnya tidak tertahankan. Aku bisa berteriak kapan saja saking perihnya. Aku mulai lihat tangan kiriku yang sedang diperban dan mulai bergetar hebat.
"Ugh....!! S-Sakit sekali!"
Darah mulai mengucur melalui perban dan membuat warna merah pekat. Karena tidak tahan karena rasa sakitnya Aku mulai melepas sedikit demi sedikit perban yang menyelimuti tangan kiriku.
"A-Apa yang terjadi pada tanganku!?"
Saat melihat tanganku Aku terkejut bukan main. Mulai dari ujung jari sampai hampir mencapai pergelangan siku semuanya membusuk dan melepuh. Warna kulit tanganku menjadi berwarna biru kemerahan dengan bintik-bintik hitam gosong. Tak ada sehelai rambut pada tangan kiriku. Bahkan sepotong kuku pun tidak ada yang nampak. Wujudnya mirip seperti penyakit kusta dan kudis. Darah dan nanah mulai keluar dan menetes menyebabkan rasa perih pada tanganku terus berlanjut.
"Sial, Apa maksudnya ini!"
Aku menyadari adanya kotak P3K yang terpampang di dinding belakang. Dengan gegabah aku membukanya dan mencari semacam antibiotik atau semacam salep dan perban baru.
"Ahh! Ketemu!"
Aku mulai melumuri tanganku dengan antiseptik.
"Ahhk!!"
Rasa perih makin menjadi-jadi. Tapi Aku tetap lanjut menuangkannya. Aku juga menemukan obat pereda rasa sakit dan obat sakit kepala. Aku harus meminumnya.
*GLEEK
Terakhir Aku menyelimuti tanganku dengan perban yang baru dan selesai.
"Hah... Hah.... Hah...."
Walau Aku hanya melakukan hal yang sederhana tapi rasanya sangat melelahkan. Aku mengucurkan keringat dingin saking kawathir dan ketakutan.
Saat rasa sakitnya mulai mereda Aku mulai bangkit dan melanjutkan perjalananku.483Please respect copyright.PENANAdt0RRWiDsm
483Please respect copyright.PENANAAeGDrCzLBH
--------------------------------------------------------------------------------
"Bagaimana aktifitas dari pekembangan virus A.S.?"
"Sangat memuaskan Tuan Profesor. Kami berhasil menanamkannya walaupun hasilnya hampir mustahil."
"Tidak apa, lanjutkan saja penelitiannya. 1 minggu lagi Aku akan datang dan memeriksa sendiri."
"Baik tuan."
*BIP
"Baiklah Tuan Fallen telah menitipkan pesan padaku. Hari ini kita lanjutkan pemasangan virus A.S. pada Faser 212. Kali ini buat sampai hampir 90%."
"Baik Kepala Divisi."
*CEKEZZ JEZZZ
Sebuah pintu besi terbuka secara horisontal dan vertikal. Semua orang didalam ruangan terpaku dan melihat kearah seseorang yang berdiri didepan pintu. Pakaiannya mirip seperti penjaga yang selalu mengawasi dan berpatroli ditempat ini. Itu adalah Aku.
"Apa kau perlu sesuatu Pak penjaga?"
Seseorang dengan jas putih mirip seorang dokter menghampiriku dan menanyaiku.
"Ya, Aku cuma ingin menyita waktu kalian sebentar."
*CETIINGG
Aku menarik kunci sebuah flasbang yang Aku sembunyikan dibalik punggungku.
"Tangkap ini!"
*HAAP
Seseorang mengkap flashbang yang Aku lempar.
"Huh.... Flashbang!!"
*DUAAR NGIIINGG
"Ahh!! Mataku!!"
"Ahk!!"
Saat semuanya panik dan menjadi berantakan Aku mulai menodongkan senjataku.
*CKREEK
*DOOR DOOR DOOR DOOR
"Ah!!"
Aku mulai menembaki seluruh ruangan ini. Tapi yang Aku incar bukan orang-orang yang ada didalamnya, namun alat-alat fasilitas serta papan dengan banyak tombol panel yang terpasang dialat itu.
*DOOR DOOR DOOR DOO
*TIUUNG PIUUNG TUUNG
Saat Aku berhenti menembak Aku masih bisa melihat mereka semua tiarap. Beberapa melihat dan melirik kearahku dengan rasa takut yang masih membayangi mereka. Mereka semua panik dan gemetar.
"S-Siapa kau!?"
Seseorang dari mereka menatapku dibalik pojokan ruangan. Aku tidak mengenali wajahnya, tapi Aku mengenali suarannya. Dia yang pernah adu cekcok denganku waktu Aku sedang dibedah tempo lalu.
"Kau lupa denganku?"
Aku mendekatinya seraya melepas helm-ku juga.
"Kau!? Bagaimana bisa!?"
Saat melihat wajahku dia nampak terkejut dan melotot padaku.
*GRAAB
"Ugh...! Hey!!"
Aku menggenggam erat kerah bajunya dan mengangkatnya. Lalu mendorongnya dan menubrukannya ke dinding.
*BRUUK
"Ahk!!"
Aku sangat marah saat ini. Bukan karena sikapnya atau perlakuannya terhadapku dulu. Namun wajahnya yang acuh tak acuh. Tidak peduli seberapa banyak dia membuat orang-orang di sel tahanan menderita, dia benar-benar biadab. Aku ingin membunuhnya sekarang.
"Apa kau puas dengan yang kau lakukan huh....!?"
Sambil mencekiknya Aku melontarkan amukanku padanya.
"Uhuk.... L-Lalu.... Kenapa memangnya?"
Dia benar-benar menjawab pertanyaan yang membuatku muak.
"Apa yang sedang terjadi pada tubuhku huh!? Apa yang kau lakukan!?"
"Ugh.... Hahaha.... Kau pasti sudah merasakan efeknya kan? Bagaimana rasanya apakah sakit?"
Dia melirik kearah tangan kiriku yang sedang diperban. Dia tahu apa yang terjadi dengan tubuhku.
"Itu dia! Itu dia! Kau adalah faser! Kau adalah senjata biologis hidup! Kau akan menjadi kunci kemenangan kami! Ini takdirmu! Takdir untuk menyelamatkan dunia! Tidak ada cara lain selain menerimanya..... HIAHAHAHA!!"
"HENTIKAN OMONG KOSONGMU BAJINGAN!!"
Orang ini sudah menjadi gila.
*TUUING TUUING TUUING
"!!!"
Aku melihat seseorang menekan tombol alarm dan suara sirine terdengung kencang. Gawat, Aku harus pergi dari sini.
"Kau tak akan bisa lolos dari sini.... Kau sudah menjadi milik kami!"
"Cih!"
Aku segera keluar dan mencari lift untuk pergi. Aku mulai keluar dari ruangan radiologi.
"Disana! Oi kau berhenti!"
Sialan, Aku ketahuan.
*DOOR DOOR DOOR DOOR
Berondongan peluru mulai berterbangan dan melewatiku. Aku menukik dan menuju lorong disebelah kananku. Saat Aku menemukan lift itulah kesempatanku.
*DIING
"Menyerahlah!!"
Segera setelah pintu lift terbuka. Beberapa Penjaga sudah siap siaga untuk menembakiku.
"Kau pasti bercan...."
*DOOR DOOR DOOR DOOR
*GUBRAAK
Mereka mulai menembakiku. Timah panas bertubrukan dengan tubuhku dan membuatku ambruk seketika.
"A-Apa dia mati?"
Saat Aku sadar kalau Aku masih hidup, Aku membuka mataku.
*CKREEK KREEK
*DOOR DOOR DOOR DOOR
Aku segera bangkit dan membalas tembakan mereka sambil posisi duduk. Mereka langsung tewas saat Aku memberondongi mereka dengan peluru.
"I-Ini benar-benar aneh!?"
Aku meraba-raba seluruh tubuhku dan menemukan tubuhku dipenuhi dengan luka dan bolong-bolong. Tapi rasa sakit yang Aku rasakan cuma sebentar dan Aku langsung sehat walafiat. Apa ini gara-gara Aku seorang Faser?
"Hey!! Berhenti disana!!"
Bukan saatnya Aku memikirkan itu sekarang. Aku harus lolos dari sini.
*DOOR DOOR DOOR DOOR
"Ahhh!!"
Aku terperangkap dibalik pilar-pilar ruangan dan bersembunyi dari tembakan mereka. Aku harus segera membalas serangan mereka. Ada sekitar 12 orang disini.
*CKREEK
*DOOR DOOR DOOR DOOR
Aku memulai baku tembak dengan mereka semua dan memberondong mereka dengan segala arah.
"Merunduk!!"
Walaupun mereka berlindung karena tembakanku namun Aku tetap melanjutkannya.
*CKREK CKREK CKREK
"Sial, amunisiku habis!"
Kenapa bisa habis diwaktu yang tidak tepat.
*DOOR DOOR DOOR DOOR
"Waaa!!"
Mereka mulai memberondongiku lagi.
Aku menjatuhkan senjata laras panjangku dan mengambil pistol Beretta disaku pinggangku.
*CKREEK DOOR
*JUZZ
"Eh...!?"
Headshot, tembakanku berhasil mengenai salah satu dari mereka. Sepertinya Aku masih bisa melakukannya.
*DOOR
"Ahh!!"
*DOOR
"Uoh!!"
*DOOR
Aku menembaki mereka satu persatu dari mereka dan selalu tepat sasaran. Daripada menggunakan senjata laras panjang Aku merasa lebih ahli memakai pistol yang beratnya hampir 2kg.
"Uhhg.... Kakiku."
Tidak semua orang Aku tembaki sampai mati. Kalau mereka sudah tidak bisa melanjutkan tembakan mereka Aku tidak peduli mereka harus kutembak atau tidak. Lebih baik jika Aku menghemat amunisi dari sekarang.
Setelah mengisi amunisi kembali Aku memakai lift untuk turun. Lantai 8, lantai 7, lantai 6 dan berhenti.
*DING
Aku langsung waspada dengan sekitarku karena lift berhenti dilantai 6 dan keluar. Mengeluarkan M4A1 dan Aku berjalan kedepan.
"Anda ingin pergi?"
Seseorang misterius berjas hitam dengan topi Tribly berada didepanku dari jauh. Entah datang darimana orang itu.
"Kau...."
*DOOR DOOR DOOR DOOR
Aku menembakinya.
*POFFH
Segera dia berubah menjadi asap hitam. Dia terbangdan memutari ruangan dengan sangat cepat. Sampai Aku juga memutari ruangan ini dan menghabiskan seluruh amunisiku.
*CKREK CKREEK
*POFFH
"Apa anda sudah selesai?"
Dia kembali menjadi wujud manusia dan bicara denganku seolah tidak terjadi apa-apa. Segera Aku mengeluarkan Beretta dan pisau untuk lanjut bertarung.
"BELUM!!"
ns18.227.89.169da2