
Di aplikasi SweetDreams, terdapat berbagai macam hadiah yang dapat dikirimkan kepada seseorang yang sedang melakukan LIVE. Ada lima macam hadiah yaitu Cincin Perunggu, Cincin Perak, Cincin Emas, Peti Harta, dan yang paling mewah adalah Mahkota. Cincin Perunggu sendiri harganya senilai Rp. 20.000, sedangkan untuk Cincin Perak bernilai Rp 50.000 dan Cincin Emas Rp 80.000. Untuk Peti Harta sendiri seharga Rp. 150.000 dan Mahkota adalah Rp. 300.000. Itu semua adalah pendapatan bersih dari hadiah tanpa dipotong dari pihak aplikasi.
Aku semakin girang saat menyaksikan sudah ada lima orang yang mengirim Cincin Perak padahal LIVE baru berjalan lima belas menit. Saat ini pun aku belum membuka bh ku, aku masih menemani mereka mengobrol dengan kata-kata kotor atau semacamnya.
Salah satu penonton mengirim emot dengan mata berbinar-binar. Dia mengatakan. “Kak Lin masih cantik aja kayak kemarin atau kemarin lusa.”
Yang lain-lain menyahut. “Badan nggak kurus banget nggak gemuk banget. Bikin ngiler.”
Aku menanggapinya dengan tawa kecil. “Kalian suka, kan kalau badanku kayak gini?” Lalu aku agak menjauh dari kamera untuk memutar badan setengah lingkaran, memamerkan punggung dan bokongku yang kuyakin indah. “Nih ... nih ....” Kugoyang-goyang bokongku.
Saat aku kembali mendekat, komentar sudah ramai sekali.
“Ah ngaceng.”
“Cepetan telanjang.”
“Anjing seksi banget.”
Aku menutup mulut. “Sabar ya temen-temen, sabaar ....” Aku melambaikan dua tangan ke depan kamera. “Kita ngobrol-ngobrol dulu, ya. Aku capek, nih baru pulang kerja.”
Aku bernama Jung mengirim Cincin Perunggu. Tak lama kemudian dia mengirim pesan. “Kak Lin kerja apa?”
Kulihat profilnya masih level satu, itu artinya dia pengguna baru. Namun, aku tak terlalu peduli dengan level, juga aku sangat menghargainya karena di level awal sudah mengirim hadiah.
“Mas Jung, ya? ‘Kak Lin kerja apa?’, aku kerja di hotel deket sini, Mas,” jawabku setelah membaca komentarnya. Aku memang sengaja menyembunyikan identitasku yang aslinya masih pelajar dan dalam status magang.
Dengan cepat dia membalas. “Kerja hotel? Waduh, pasti jadi pemandangan tuh.”
Aku tak bisa menahan tawa. “Hahaha, Mas Jung bisa aja.”
Memang inilah kebiasaanku saat melakukan LIVE. Aku tidak langsung ke adegan inti berupa adegan-adegan panas atau semacamnya. Aku ingin membangun citra “humble” kepada para penonton setiaku. Juga, dengan cara ini aku bisa LIVE lebih lama agar ada kemungkinan penonton baru datang pula menonton.
Sesi sharing ini berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Selama itu aku tidak melakukan adegan panas apa pun kecuali memamerkan punggung, pantat atau memain-mainkan payudara. Hanya sebatas itu, aku sengaja menggoda mereka agar semakin tidak sabar dan terbakar nafsu sendiri.
Tiba-tiba ada yang berkomentar dengan emot hidung mengeluarkan asap. “Aku udah nggak tahan, Kak Lin.”
Aku terbelalak kala menyaksikan komentar tersebut. Dia memiliki nama H_1234. Akan tetapi, bukan namanya yang jadi perhatianku, tapi karena orang ini mengirimku hadiah Mahkota. Tak tanggung-tanggung, dia mengirim tiga Mahkota sekaligus.
Penyakitku pun kambuh.
Pujian-pujian sudah mereka lontarkan, ini cukup membuat aku “kepanasan” dan mulai berkeringat. Lalu hadiah-hadiah berupa Cincin Perunggu sampai Emas mulai membangkitkan gairah ini—di balik bh hitam, putingku mengeras perlahan.
Namun hadiah kali ini sungguh gila. Hadiah paling mahal, Mahkota, yang langsung dikirimkan sekaligus!
Seketika aku merasa diratukan oleh sosok H_1234. Selama ini belum pernah aku mendapat Mahkota yang langsung tiga sekaligus. Dalam satu LIVE dapat satu saja sudah sangat senang, dan ini langsung tiga.
Putingku langsung mendesak-desak, bulu kuduk meremang, dan di balik celana dalam, kelaminku mulai berembun.
“Mas H underscore satu dua tiga empat, makasih banyaaaakkk ....” Aku merangkapkan dua tangan sembari menundukkan kepala. “Mas H udah nggak kuat, ya? Eh ... kasihan banget, aku buka sekarang, ya?”
Komentar pun langsung ramai.
“Gila orang itu!”
“Sultan cok!”
“Anjay, 3 Mahkota!”
“Bodo amat, makasih H, gara-gara lo akhirnya ratu kita mau buka baju. Daritadi gw udah buka celana.”
Aku hanya baca sekilas lalu menjawab. “Maaf ya kalau kalian nunggu lama, hahaha. Hari udah gelap, nih. Nah seperti biasa, kalian mau aku buka baju gaya apa, nih?”
“Slowmotion!”
“Slowmotion, Kak!”
“gerak lambat.”
“Kasar.”
“Gue sebenernya pengen gaya dosen galak, tapi dia udah gak pake baju, yaudah gaya slowmotion aja deh.”
Kuperlebar senyumku. “Banyak yang milih slowmotion, ya? Oke deeehh. Selamat datang di tayangan bacol.”
Memang aku memberi mereka pilihan tiap kali aku hendak buka baju. Pilihan-pilihan itu ada di profilku dan ketika LIVE, aku akan ambil suara terbanyak. Ada tiga pilihan yaitu slowmotion, kasar dan gaya dosen galak. Di mana slowmotion itu aku melepas pakaian satu per satu dengan gerak lambat, gaya kasar adalah aku membuka paksa bajuku tak peduli apa konsekuensinya, dan gaya dosen galak adalah membuka pakaian dengan wajah dingin tanpa senyum.
Aku senang mereka sudah tak sabar dan aku pun semakin horny.
Aku menjauhkan diri dari kamera agar mereka bisa melihat seluruh tubuhku dengan jelas. Duduk di kasur dengan kaki mengangkang—posisinya mirip dengan Woman on Top, saat sang wanita mengangkangi pria di bawahnya, tapi kini di bawahku tak ada apa-apa kecuali kasur.
Senyumku kubuat semenggoda mungkin dengan mata agak menyipit. Dalam gerakan perlahan, aku mengusapkan dua tangan dari paha naik ke atas. Saat meraba perut, mataku terpejam dengan bibir sedikit terbuka. Desahan-desahan lirih kukeluarkan untuk membangkitkan gairah para penonton melalui indra pendengar.
Saat mencapai ulu hati, tanganku bergerak saling silang. Tangan kanan meraba payudara kiri sedangkan tangan kiri meraba payudara kanan. Kumainkan sebentar kedua aset besar itu dalam elusan lembut dan pijatan manja.
Kuintip layar HP dari mata yang kubuka sedikit. Sekilas pandang terlihat ada orang yang mengirimkan Peti Harta Karun. Ah ... memekku makin basah.
“Ahhh ...!”
Kali ini aku sedikit memekik saat dengan sengaja kuremas dua tetek keras-keras. Setelah kurasa cukup, tanganku kembali bergerak. Aku berniat melepas bh ini tidak dengan cara melepas pengait yang ada di punggung, melainkan langsung menariknya ke atas.
Kususupkan kesepuluh jari tangan di bawah bh, kuusap-usap sebentar kedua putingku yang tak sabar dipamerkan. Aku berharap dengan ini gairahku selama LIVE akan terus meningkat, jadi proses pemijitan puting ini cukup perlu menurutku.
“Bukaaa”
“Tarik ke atas kak!”
“Aahh udah mau crot aja bangsat!”
Komentar-komentar yang datang membuat senyumku merekah tanpa sadar. “Kalian nggak sabaran banget ....”
Bersamaan dengan itu, kutarik bh hitam ini ke atas secara perlahan. Otomatis payudaraku ikut tertarik. Kupejamkan mata dengan kepala sedikit mendongak untuk menikmati sensasi tarikan ini.
Pada satu momen akhirnya mencapai titik di mana putingku tersangkut. Rasanya geli-geli nikmat. “Emhh ....” Sengaja kubocorkan suara desahku.
Tak lama berselang, puting yang tersangkut itu akhirnya terlepas dan, “Aaahhh ....” kedua susu besar ini memantul-mantul angkuh di depan kamerah. Sepasang puting coklat gelap telah mengeras seakan menantang siapa saja agar segera mengisapnya. Sayang, tidak pria yang akan mengisap itu sekarang.
“OOOOHHH SUSU RATU KITAAA!!”
Satu Peti Harta Karun kembali dikirim tepat ketika aku melempar bh itu secara sembarangan.
Aku agak menaikkan tubuhku saat melepas celana dalam. Sama seperti tadi, kulakukan perlahan-lahan. Namun ketika hampir sampai di memek, bahkan saat rambut kemaluanku sudah tampak, aku sengaja menghentikan gerakan.
Sambil tertawa cekikikan, kubalikkan badan dan menungging. Kini tampaklah bokongku yang putih terawat tepat di hadapan kamera. Kuturunkan celana dalam perlahan-lahan dan hasilnya cukup memuaskan. Bokongku dapat memantul-mantul saat celana dalam itu samapi cukup ke bawah.
“Em ... mmmhh ... ini yang kalian suka, kan?” Aku meremas-remas bokongku itu dengan geraka lambat seperti yang mereka ingin.
Sampai di sini, tadi ketika aku tak sengaja melihat ada satu orang melapor dia sudah crot. Tentu saja aku tak dapat menahan tawa geliku.
“Jangan tutup hp nya dulu dong buat yang udah crot, tetep di sini aja liatan bahan coli kalian ini. Siapa tahu bisa ngaceng lagi, kan?” Kemudian kutampar kedua bokongku. “Aahh!!”
Dua menit, kurasa cukup untuk menggoda mereka dengan permainan bokong. Kembali aku menghadap kamera dan duduk di posisi awal. Akan tetapi kini, aku sudah sepenuhnya telanjang bulat.
“Kalian mau minta apa hari ini, hm?” Kuangkat dua tangan ke belakang kepala. Ini adalah pose menggoda yang favorit mereka.
Kembali aku dikejutkan dengan kiriman hadiah Mahkota dari orang yang sama, H_1234. Jumlahnya juga tiga.
“Eh, Mahkota lagi,” ucapku spontan. “Makasih banget, ya. Liat, putingku makin ngaceng nih gara-gara mahkota.” Aku mendekatkan puting ke kamera dan meremas-remasnya. “Mau minta apa Mas H?” Karena dia sudah kirim hadiah paling banyak, tentu semua orang akan maklum kalau aku menurutinya.
“Aku baru dateng Kak Lin, biasanya gimana?”
Kembali aku kaget sekali. Hari ini sudah ada dua orang pengguna baru yang mengirimiku hadiah. Karena tadi terlalu terkejut, aku sampai tidak sadar kalau akun H_1234 ini masih level 6. Mungkin karena mengirim banyak hadiah sekaligus, maka ia langsung lompat ke level 6.
“Wah, bantu dijawab man teman ....” Sambil berkata aku terus meraba-raba diri sendiri agar mereka tidak bosan melihatku.
“Suruh main sama dildo broo.”
“Bilang ke dia suhu, suruh nusuk mekinya pake timun. Gue paling suka LIVE yang itu, sayangnya gak pernah lagi.”
“Hahaha, maaf nggak bisa, sekarang nggak ada timun,” ujarku dengan senyum canggung. Dalam hati aku agak malu sebenarnya karena saat itu masih belum punya cukup uang dari SweetDreams untuk membeli dildo, sehingga terpaksa kubeli timun besar untuk kusodok-sodok ke lubang sendiri.
Saran-saran dari yang paling masuk akal hingga kurang ajar dikirimkan. Semua itu tak ada yang membuatku merasa tersinggung karena entah mengapa, saran yang brutal seperti menyuruhku colmek di depan kamar kos, itu membuatku semakin horny dan berkeringat.
H_1234 tanpa sadar sudah mengirim komentar. Kudekatkan wajah dan lagi-lagi aku terkejut sekali.
Aku membacanya dengan lirih. “Ngentot sama temen di hotel tempatku kerja?” Aku tak bisa berbohong, memekku bergetar, memintaku untuk menurutinya. Akan tetapi jika kuturuti sekarang, tentu gila. “Maaf, kalau sekarang mungkin ....”
Belum seleai ucapanku, H_1234 kembali berkomentar. “Nggak sekarang, kapan-kapan aja. Aku udah kirim tiga Mahkota lho, wkwkwk.”
Lalu dia mengirim pesan lagi, kali ini requestannya lebih mudah. Sedikit lebih mudah.
“Yaudah, kak Lin bisa colmek tapi pake penutup muka nggak? Kayak cadar gitu, tapi jangan cadar juga sih. Intinya buat kayak cewek misteriuslah. Terus jangan telanjang banget, bh sama celana dalamnya dipake lagi. Terus kakak harus nari, iya nari-nari seksi gitu sebelum colmek. Kalo ada yang kirim hadiah Cincin Emas ke atas, Kak Lin harus nari lagi sebentar sebelum lanjut colmek.”
Komentar pun banjir dengan pujian.
“Jenius!”
“Mantap.”
“Lo hebat bang H.”
“Gue pengen liat Kak Lin nari.”
“Tarian ratu!”
“Ayo Kak Lin, nari yang seksi!”
Ahh ... spreiku sudah basah, sangat basah hanya karena menyerap cairan horny dari kelamin ini.
ns3.147.242.185da2