
******
Bab 5 :
Dihukum
******
69Please respect copyright.PENANADUP6haysuY
"TARI, kumpulkan buku-buku PR-nya dan letakkan di meja Ibu," ujar Bu Evi, Guru Kimia yang biasa mengajar di Kelas XI IPA 1, saat menginjakkan kakinya masuk ke Kelas XI IPA 1 pagi ini. Tari, yang duduk di meja paling pinggir—dekat pintu masuk kelas—itu nyaris saja menjadi latah mulut karena terkejut. Tari langsung berdiri dan menjawab, 'Ya, Bu!' saat Bu Evi mulai duduk di kursinya yang terletak di depan kelas.
Tari langsung bangkit dari duduknya dan mulai berkeliling. Cewek itu mulai menagih buku PR dari barisannya sendiri. Semua murid mulai ricuh, ada yang sibuk mengeluarkan buku PR mereka, ada juga yang celingak-celinguk dan panik karena tidak mengerjakan PR-nya dengan lengkap. Anak-anak nakal yang duduk di belakang bahkan masih berani untuk lanjut menyalin jawaban dari buku PR anak-anak lain. Murid-murid yang belum selesai mengerjakan itu sudah pasti wajahnya tegang semua, mereka merasa seperti dikejar anjing karena tak ada yang berani membangkang Guru Kimia terkejam di seantero sekolah mereka itu. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir…apa salahnya mengerjakan di rumah jika memang takut dengan Bu Evi Siswandoyo itu? Alasan mereka cuma satu: nggak ngerti dengan apa yang diajarkan oleh Guru Kimia itu. Bawaannya tegang mulu, sih. Jadi, apa yang diajarkannya tak bisa masuk ke otak.
Di sisi lain, Nadya sedang mengubrak-abrik isi tasnya. Ia tak kunjung menemukan buku PR Kimianya. Demi Tuhan, Nadya berani bersumpah kalau buku PR dengan sampul berwarna peach itu tadi malam sudah Nadya masukkan ke tas. Selain itu, tadi pagi Nadya sempat memeriksa kembali isi tasnya sebelum Aldo menjemputnya.
Duh, ya Tuhan... Bukuku ke manaa?!
"Gimana, Nad?! Ketemu nggak?!" bisik Gita panik. Gita mulai membantu Nadya mengubrak-abrik isi tasnya, tetapi nihil. Buku PR itu sama sekali tak ada di dalam tas Nadya. Mereka berdua mulai mencari-cari di kolong meja dan di laci sembari sesekali melihat dengan takut-takut ke arah Bu Evi. Ekspresi wajah Bu Evi hari ini terlihat benar-benar mengerikan! Bu Evi kelihatan bad mood. Sepertinya, sesuatu yang buruk telah terjadi.
Nadya merunduk untuk melihat ke bawah kursinya sekaligus ke bawah meja orang yang duduk di belakangnya; cewek itu hampir menangis karena panik. Sementara itu, mata Gita memelotot saat melihat Tari yang sudah mulai menuju ke meja mereka.
"Duhhh, Nad, ada nggak?!" bisik Gita lagi, kali ini lebih mendesak. Gita terdengar sangat panik. Nadya sudah mulai mengeluarkan setetes air mata, matanya merah dan wajahnya pucat karena terlalu takut dan panik. Ia tak pernah meninggalkan pekerjaan rumah yang diberikan dari sekolah. Meskipun ia tidak terlalu pintar, ia selalu mengerjakan PR-nya.
Nadya bangkit dan duduk kembali di kursinya, lalu berkata dengan mata yang berkaca-kaca, "Nggak ada, Git... Aduh, gimana, nih?! Git—tadi bukunya udah gue masukin ke tas, gue inget banget."
"Lo tadi—" Perkataan Gita terputus saat tiba-tiba ia melihat Tari sudah berdiri di samping Nadya. Gita menganga. Sementara itu, jantung Nadya berdegup sangat kencang. Wajah dan mata Nadya memanas karena menahan air mata. Wajah cewek itu pucat bukan main saat melihat ke arah Tari yang sudah mengulurkan tangan untuk meminta buku PR miliknya dan milik Gita.
"Ayo kumpulin," ujar Tari dengan ramah. Gita menyerahkan bukunya kepada Tari sembari melihat-lihat Nadya dan merasakan ketakutan Nadya yang terpampang jelas lewat ekspresi wajah cewek itu.
"Punya lo mana, Nad?" tanya Tari dengan nada biasa. Tari sama sekali tidak tahu bahwa buku PR Nadya hilang. Namun, suara Tari itu berhasil terdengar hingga ke seluruh sudut kelas. Meskipun suasana kelas saat itu agak ricuh, suara Tari itu sukses membuat semua orang terdiam dan beralih melihat ke arah Nadya. Nadya menoleh ke sana kemari dengan panik.
Nadya menatap permukaan mejanya dengan kedipan mata yang tak stabil—kemudian cewek itu meremas jemarinya yang mulai terasa dingin. "Gu—gue... Punya gue..."
Gita mendengkus dan memilih untuk menjawab Tari, mendahului Nadya. "Punya dia ada—"
"Punya gue hilang, Tar. Buku gue tadi pagi ada, terus hilang," potong Nadya. Kontan saja mata Gita terbelalak. Perkataan Nadya itu membuat semua orang langsung memberikan Nadya sebuah tatapan yang seolah berkata: 'Duh, ada masalah, nih. Bu Evi pasti ngamuk.'
Nadya hanya bisa komat-kamit. Semoga Bu Evi tak menghukumnya dengan kejam. Semoga Bu Evi tak sampai membentaknya di dalam kelas.
Nadya sangat malu. Ini adalah hari yang nahas bagi Nadya karena ia duduk satu barisan dengan Tari. Beruntunglah bagi mereka yang duduk agak jauh dari barisan Tari karena Tari akan sampai di sana agak lambat dan hal itu akan memberikan waktu bagi mereka yang menyalin PR dengan mengebut. Selain itu, dengan adanya insiden hilangnya buku PR Nadya ini, itu pasti memberikan waktu banyak bagi mereka yang sedang menyalin.
Nadya hari ini bernasib buruk. Lagi pula, ke mana, sih, buku PR-nya? Mengapa bisa hilang begitu saja?
Saat Nadya kembali menatap Tari dengan wajah pucatnya, Tari melebarkan matanya. Bibir Tari langsung berkata tanpa mengeluarkan suara; cewek itu berkata, 'Lo serius?!'
Nadya mengangguk; mata Nadya berkaca-kaca. Saat cewek itu baru saja ingin menjawab Tari, tiba-tiba suara lantang Bu Evi terdengar. Suara itu membuat semua orang terkejut.
"Yang tidak mengumpulkan PR, KELUAR SEKARANG!"
Nadya terperanjat. Kini beberapa tetes air mata telah jatuh ke pipinya; ia menghapus air mata itu dengan berpura-pura menggaruk bagian bawah matanya agar tak terlihat terlalu kelihatan bahwa ia menangis. Ia menunduk saat bangkit dari duduknya sehingga rambutnya yang tergerai itu tampak menutupi sebagian wajahnya. Akan tetapi, Gita benar-benar tahu bahwa Nadya sedang menangis.
Nadya mulai berjalan ke luar dan Tari bergeser ke samping. Tari melihat Nadya dengan prihatin; semua mata tertuju kepada Nadya. Saat Nadya telah sampai di depan kelas (di dekat pintu), cewek itu pun mendengar Bu Evi berkata, "Kamu berdiri di luar dan tidak boleh duduk di kelas sampai jam pelajaran saya selesai."
Nadya mengangguk pelan, lalu merunduk hormat pada Bu Evi. Cewek itu lantas menghampiri pintu kelas.
Nadya sedikit menghela napas. Ketakutannya sedikit hilang karena ternyata hukumannya tidak seberat yang ia pikirkan. Ia sungguh berterima kasih kepada Tuhan. Apa ini terjadi karena Bu Evi kasihan padanya yang tampak sangat terpukul? Akan tetapi, wajah Bu Evi tadi tampak begitu garang. Kalau begitu...apa hukumannya tak terlalu berat karena ia selalu mengerjakan PR?
Sekali lagi, sang guru yang kejam tetaplah memiliki hati. Akan tetapi, meskipun hukuman ini tak seberapa, rasa malu yang dirasakan Nadya...sudah terlanjur membekas. Malunya luar biasa. Ini wajar karena ia adalah tipe anak yang selalu mengerjakan PR-nya sejak SD. Selain itu, Aldo tadi pasti melihat semuanya. Bagaimana ia harus bertatap muka dengan Aldo setelah semua hal yang memalukan ini terjadi? Hari ini adalah hari yang buruk. Untuk pertama kalinya selama Nadya bersekolah, Nadya tak mengumpulkan PR-nya. Ditambah lagi, semua itu harus terjadi di depan teman-temannya dan juga di depan Aldo.
Nadya menunduk. Dia jadi lesu saat menyadari hal itu.
69Please respect copyright.PENANAjggIIrvffY
******
69Please respect copyright.PENANA22CDSePx8F
Aldo memperhatikan Nadya yang baru saja menghilang di balik pintu kelas yang baru saja tertutup kembali. Cowok itu memang bersandar di kursinya, tetapi remasan tangan cowok itu pada pena yang tengah ia pegang kian mengeras sejak ia tanpa sengaja melihat Nadya panik dan mencari-cari sesuatu di dalam tas cewek itu.
Aldo meneguk ludahnya pelan dan menatap pintu yang tertutup itu dengan mata yang menyipit tajam.
"Yan," panggil Aldo saat Rian menaruh buku cetak Kimianya di atas meja. Rian hanya menatap Aldo sejenak dan berdeham, "Hm?"
"Gue titip buku gue di tas lo," ujar Aldo dan tiba-tiba cowok itu memasukkan buku PR-nya ke tas Rian yang masih terbuka karena Rian baru saja mengambil buku cetak Kimianya. Mata Rian terbelalak.
"Hah? Ngapain lo titipin, Do? Mau dikumpul, tuh!" ujar Rian. Hidung Rian berkerut karena keheranan melihat Aldo yang justru hanya mendengkus saat Rian mengatakan itu. Aldo kemudian kembali duduk bersandar. Rian menatap Aldo dengan rasa ingin tahu.
Saat Tari sampai di meja merekap—dan sebelum Rian menyerahkan buku PR-nya—tiba-tiba Aldo mengangkat sebelah tangannya. Semua orang langsung melihat ke arah Aldo; mereka menatap Aldo dengan mata yang membulat ingin tahu. Bu Evi lantas ikut menatap Aldo dan memiringkan kepalanya. "Ada apa, Nak?"
Kasih sayang buat Aldo memang agak 'beda'. Namun, bukan itu masalahnya. Masalah itu datang saat Aldo mengatakan sesuatu dengan santai, tetapi anehnya tetap menunjukkan wibawa. Namun, wibawa itu kini tampak tak sepadan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Aldo berkata, "Saya nggak bikin PR, Bu."
Kontan saja hal itu membuat Bu Evi melebarkan mata. Aldo? Si juara umum itu tidak mengerjakan PR? Meskipun Aldo lupa, ia bisa mengerjakannya di sekolah. Lima menit sudah cukup untuk mengerjakan sepuluh soal yang rumit bagi cowok itu. Namun, tidak membuat PR?
Bu Evi menatap Aldo dengan heran. "Kok kamu nggak buat? Nggak pernah-pernahnya kamu—"
"Buku saya ketinggalan, Bu," ujar Aldo sembari menatap Bu Evi dengan serius. "Kalo saya nggak bawa bukunya, kan, sama aja nggak bikin, Bu."
Bu Evi diam sejenak. Butuh waktu baginya untuk mencerna bahwa Aldo benar-benar tidak membawa PR yang telah ia berikan. Meskipun tak percaya, akhirnya ia menghela napas. Ia pun berkata dengan tegas, "Ya udah, kamu keluar dan jangan masuk ke kelas sampai saya selesai."
Aldo tersenyum tipis—sangat tipis hingga mungkin tak ada yang sadar—kemudian cowok itu mengangguk. "Baik, Bu."
Dengan begitu, Aldo bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja itu dengan langkah tegapnya. Rian menatap Aldo dengan ekspresi wajah blank, cowok berkulit hitam manis itu keheranan setengah mati. Adam, yang saat itu sedang pindah duduk ke depan Rian, kini berbalik—menghadap ke belakang—dan meninju lengan Rian. "Woi, dia kenapa?"
Rian tak melihat ke arah Adam. Ia masih menatap punggung Aldo yang kini sudah menghilang di balik pintu.
"Nggak tau gue. Tuh anak salah makan, gue rasa. Bukunya dia taruh di tas gue dan dia milih bilang kalo buku PR-nya ketinggalan," ujar Rian sembari menggeleng tak habis pikir.
Tiba-tiba mata Adam memelotot. Seperti tersengat sesuatu, tubuh Adam mematung dan hanya matanya yang membelalak penuh. Setelah itu, Adam langsung menarik lengan Rian dengan kencang dan wajah cowok itu tampak sangat excited. Rian mengaduh kesakitan dan merutuki Adam habis-habisan.
Adam berbisik di dekat wajah Rian, "Lah, Bung! Lo tau, 'kan, Nadya tadi dihukum!"
Rian kontan melebarkan mata. Hening selama dua hingga tiga detik. Cowok itu bagai baru saja mendapat pencerahan. "Oh iya, ya! Kok gue bego, sih? Astaga!!"
Rian dan Adam tertawa pelan dan ber-high five, bisa-bisanya mereka lambat connect dengan gelagat Aldo yang berbeda dari biasanya ini. Gila, kayaknya nanti mereka bisa nggodain Aldo, nih. Adam terkikik geli meskipun itu pelan agar tak sampai ke telinga Bu Evi. Setelah itu, Adam melihat Rian memberikan buku PR-nya kepada Tari—mereka bahkan tak sadar bahwa Tari masih ada di sana—dan Tari melihat Rian sembari tersenyum jail. Rian ikut menaikturunkan alis cowok itu kepada Tari dan dari sana Adam tahu bahwa Tari juga memikirkan hal yang sama. Setelah itu, seisi kelas tiba-tiba ribut.
"Acieee! Dia keluar demi ceweknya, 'kan?!" ujar seorang cowok yang duduk di belakang, dia menatap Rian sembari bertanya. Rian mengangguk pada cowok itu dan terkikik geli. Sementara itu, para cewek di kelas mulai heboh.
"Iiih, so sweet-nyaaa!!! Kapan gue punya cowok kayak gituuu!" teriak salah satu cewek dan semuanya tertawa. Jelas saja Bu Evi langsung membentak mereka saat mereka semua tertawa.
"YANG RIBUT SILAKAN KELUAR SEKARANG!"
69Please respect copyright.PENANAl27vsGQV8Q
******
69Please respect copyright.PENANAVFSOj0jUPT
Baru beberapa saat Nadya berdiri di depan kelas—dan guru-guru yang lewat mulai melihatnya seraya mengernyitkan dahi—tiba-tiba Nadya dikejutkan dengan suara pintu kelas yang terbuka. Nadya langsung menoleh ke samping kirinya dan terperanjat saat melihat bahwa itu adalah Aldo. Aldo sedang melihat ke arahnya, tangan kanan Aldo masih ada di belakang pinggang cowok itu untuk menutup pintu kelas.
Nadya menganga.
Aldo? Buat apa Aldo keluar? Kan lagi belajar! Apa Aldo permisi ke toilet?
Tatapan mata Aldo tampak begitu dalam dan lekat; kedua mata cowok itu terlihat begitu jernih. Saat Aldo telah menutup pintu, cowok itu pun berjalan menghampiri Nadya. Hanya butuh tiga langkah agar Aldo bisa berdiri di depan Nadya; Nadya kini sudah sepenuhnya menghadap ke Aldo. Mata Nadya masih membulat.
Aldo masih menatap Nadya lekat-lekat. Nadya meneguk ludahnya tepat saat Aldo memasukkan kedua tangan cowok itu ke saku celana seragamnya. Mereka saling memandang, lalu tiba-tiba suara berisik dari dalam kelas dan bentakan Bu Evi itu membuat Aldo menoleh sebentar ke samping. Setelah itu, Aldo kembali menatap Nadya.
Cowok itu pun tersenyum.
"Nad," sapanya.
Nadya terkejut. Saat itulah Nadya mulai berdiri tegak; cewek itu mulai mengernyitkan dahinya. "Aldo? Kamu mau ke toilet, ya?"
Aldo semakin tersenyum manis. "Nggak. Aku juga dihukum."
Mata Nadya terbelalak. "Lah? Kok kamu dihukum?"
Saat Aldo mulai berdiri membelakangi dinding kelas seperti yang Nadya lakukan tadi, Nadya juga otomatis ikut melakukan hal yang sama. Itu membuat mereka jadi berdiri berdampingan.
Aldo kemudian menghela napasnya dan berkata, "Aku nggak bawa buku PR-ku, Nad."
Nadya kaget bukan main. Kontan cewek itu menatap Aldo tak percaya. "Ha? Nggak mungkin kamu nggak bawa! Kamu, kan, biasanya—"
"Biasanya itu bukan berarti akan terus kayak gitu, Nad," ujar Aldo saat cowok itu menoleh kepada Nadya. "Kamu juga...nggak biasanya, 'kan?"
Nadya tercengang. Wajah Aldo sangat memesona, terutama saat Aldo menoleh kepadanya seperti itu. Akan tetapi, cewek itu langsung menggeleng dan kembali menatap Aldo heran. Matanya kembali membulat. "Tapi kamu itu—aku nggak percaya, Aldo."
"Ya udah, biar aku tanya," ujar Aldo kemudian. Cowok itu mulai menatap Nadya dengan mata yang sedikit menyipit. Cahaya matahari membuat iris mata cowok itu terlihat begitu indah. "Apa buku kamu hilang pas di sekolah?"
Nadya menunduk. Cewek itu meneguk ludahnya dan menghela napas, kemudian mengangguk. "Tadi malam udah kumasukin ke tas, Aldo, terus tadi pagi sebelum kamu jemput juga aku periksa lagi. Aku yakin banget itu ada di tas, tapi nggak tau kenapa tadi pas mau dikumpul malah nggak ada."
Aldo menatap Nadya dengan intens. Cowok itu kemudian menghadap ke depan dan bernapas samar.
"Aku nggak bakal tenang belajar di kelas kalo kamu berdiri di luar, Nad," ujar Aldo pelan. Nadya langsung menatap Aldo dan lagi-lagi cewek itu tercengang. Setelah itu, Aldo melanjutkan, "dan aku juga nggak tau apa aku bisa belajar dengan tenang kalau kamu bener-bener nggak ada di kelas. Satu kelas dengan kamu ngebuat aku mulai berpikir kalo…kelas tanpa kehadiran kamu itu rasanya aneh."
Pipi Nadya merona. Mata Nadya berkedip perlahan dan dari tatapan matanya, agaknya cewek itu benar-benar tak menyangka. Ia tak menduga kalau Aldo merasakan hal semacam itu; apa yang Aldo katakan itu benar-benar di luar perkiraannya. Ia tak percaya, benar-benar tak percaya, dengan apa yang baru saja Aldo katakan.
Tak tahukah Aldo bahwa kalimat itu membuat hati Nadya menghangat dan jantung Nadya berdegup kencang?
Setelah hening selama beberapa detik lamanya, Nadya akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Ada sesuatu yang mendadak ingin ia tanyakan meskipun ia tak tahu apakah suaranya terdengar aneh atau serak karena jantungnya sedang berdebar tak keruan. "Aldo, kamu...kenapa kamu nggak ngobrol sama aku dengan panggilan 'lo-gue' waktu pertama kali kamu ngehampirin aku di pohon yang ada di belakang sekolah itu?" tanya Nadya dengan hati-hati. "Aku memang jarang ngobrol sama kamu, 'kan? Selama ini juga cuma pernah ngomong sama kamu pas kita dapat tugas kelompok bareng. Itu pun cuma ngomongin tugas. Ngomongnya pun pake manggil nama."
Aldo menatap Nadya perlahan. Cowok itu melihat Nadya melanjutkan, "Kalo dipikir-pikir, kayaknya waktu di belakang sekolah itu adalah pertama kalinya kita bener-bener ngobrol, 'kan?" Nadya tersenyum pada Aldo. "Aku heran aja kok kamu nggak pakai lo-gue."
Mata Aldo berkedip sebentar. Dua detik kemudian, cowok itu tersenyum begitu manis. Wajahnya tampak begitu bercahaya di mata Nadya...dan tanpa sadar pipi Nadya merona lagi. Aldo sangatlah tampan.
"Aku dari dulu ngerasa kalo aku nggak bisa ngomong pake 'lo-gue' ke kamu, Nad," ujar Aldo pelan. Cowok itu kemudian memiringkan kepalanya. "karena bagiku kamu terlalu berharga untuk di'lo-gue'in."
Saat angin berembus dan menerpa wajah Nadya, saat itulah pipi Nadya kembali merona karena ucapan Aldo. Mata Nadya membulat. Jantung Nadya semakin berdegup kencang seolah-olah degupan itu sampai mampu membuat tubuh Nadya bergetar hebat. Waktu seolah berhenti; betis Nadya terasa bagaikan selembut plastisin. Lidah Nadya juga terasa kelu. Ia bahkan tak tahu apakah ia benar-benar bernapas atau mungkin lupa bernapas untuk beberapa saat lamanya.
Aldo kemudian melanjutkan, "Jadi, karena kamu berharga bagiku, aku mutusin buat nemenin kamu di sini dan dihukum bareng kamu. Aku nitipin bukuku di tas Rian dan aku bilang sama Bu Evi kalo aku nggak bawa buku PR-ku. Nggak apa-apa, 'kan, Nad?" tanya Aldo, cowok itu lantas tersenyum manis. Matanya bahkan nyaris tertutup dan melengkung seolah ikut tersenyum.
Kontan mata Nadya membeliak. Tubuhnya menegang. Cewek itu langsung menganga dan panik bukan main. "Hah? Aldo—kamu—kamu ngapain keluar? Kamu ngerusak reputasi kamu, lho! Kamu, kan, bawa PR-nya! Ayo masuk, nanti kubilangin sama Bu Guru! Nanti kamu—"
Aldo menepuk puncak kepala Nadya dengan pelan dan hal itu kontan membuat Nadya terdiam. Nadya langsung menatap tepat ke kedua mata Aldo dengan mata cewek itu yang membulat.
"Aku bukan orang yang mentingin reputasi, Nadya," ujar Aldo.
Nadya menunduk. Ia ingin menjawab, tetapi mendadak lidahnya kelu lagi. Ia merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba malah tersipu karena Aldo ternyata melakukan semua itu untuknya. Akan tetapi, sekali lagi akal sehatnya mulai mengambil alih. Aldo tidak boleh melakukan ini.
Ternyata Nadya benar-benar jatuh cinta pada Aldo. Nadya...sudah jatuh ke dalam pelukan Aldo. Meskipun Aldo tak pernah mengatakan cinta padanya, meskipun sampai sekarang ia masih membutuhkan jawaban yang benar-benar jelas dari Aldo, ia tetap saja jatuh cinta terlebih dahulu kepada Aldo.
"Lagi pula..." ujar Aldo pelan, cowok itu kembali menghadap ke depan dan bersandar pada dinding kelas. "aku masih pengin tau ke mana hilangnya buku kamu." []
69Please respect copyright.PENANAToCTNIYz09