
******
Bab 4 :
Jalan-Jalan, yuk?
******
74Please respect copyright.PENANA9EFGDOHKpI
"KAMU tau ke mana chicken nugget yang Mama simpen di kulkas, Nad?" tanya Elin, mama Nadya, saat Nadya baru saja keluar dari kamar mandi—yang ada di dapur—untuk mencuci tangan. Nadya terperanjat, ia sangka yang bertanya padanya barusan adalah hantu. Mata Nadya memelotot, sebelah tangannya memegangi dadanya; jantungnya rasanya mau copot.
Nadya menggeleng. "Ya ampun, Ma! Kirain tadi siapa looh!"
Elin mengernyitkan dahi, menutup pintu kulkas, lalu menatap anak sulungnya itu sembari berkacak pinggang. Wanita itu menghela napas. "Kamu kira siapa emangnya? Hantu? Itu chicken nugget yang Mama simpen di freezer kok hilang, ya?"
Nadya menyatukan alis, mendekati mamanya sembari berkata, "Mana aku tau, Ma. Mungkin Papa, tuh. Papa kan suka nggoreng chicken nugget pas tengah malem. Sambil nonton bola, katanya."
"Ck," decak Elin. "padahal adikmu ngerengek tuh minta digorengin."
"Lha, kan dia udah makan malem," ujar Nadya heran. Elin hanya mengedikkan bahunya, lalu beranjak mengambil botol susu yang ada di lemari makan. Susu itu jelas akan diberikan kepada adik Nadya yang bungsu, Mario, yang baru saja berumur satu tahun. Adik bungsunya itu tidak mau meminum ASI, jadi Elin memilih untuk membeli susu bayi dalam kemasan kotak, sebanyak tiga sampai empat kotak setiap bulannya.
Adik Nadya yang mau makan chicken nugget itu pasti adalah Beni, si nomor dua yang baru kelas tiga SD. Wajahnya hampir mirip dengan Nadya, hanya beda jenis kelamin dan umur, tetapi bagi Nadya si Beni itu nakalnya bukan main. Pengacau kelas kakap. Hiperaktif, songong, nyebelin, pokoknya semuanya, deh. Namun, biar begitu...Nadya tetap sayang juga. That's what sibling is.
Nadya kemudian memilih untuk pamit kepada mamanya. "Ma, aku ke kamar, ya."
"Iya. Besok kamu ada ulangan nggak?" tanya mamanya. Nadya sudah meninggalkan dapur, posisinya sudah agak jauh, sehingga cewek itu menjawab mamanya sembari berteriak, "Gak ada, Ma!"
Sesampainya di kamar, Nadya mendapati ponselnya yang ada di atas bantalnya itu bergetar. Cewek itu melebarkan mata dan mendekati ranjangnya, kemudian meraih ponselnya dan mendapati bahwa ada sebuah pesan masuk.
Jantung Nadya serasa berhenti berdegup saat ia melihat nama Aldo tertera di layar ponselnya. Tangan cewek itu rasanya tak sabar; ia ingin membuka pesan itu cepat-cepat, tetapi ia merasa sangat malu dan gugup.
Aldo mengiriminya pesan?
Mengingat kembali kejadian dua hari yang lalu, saat ia diantar Aldo pulang karena terkena bola, Aldo mengatakan sesuatu yang membuatnya serasa terbang ke langit ketujuh. Terngiang di telinganya suara Aldo yang terdengar begitu merdu bersamaan dengan embusan angin saat itu:
'...sebenarnya alasan aku itu banyak, Nad, tapi pada akhirnya aku cuma bisa bilang ke kamu kalau alasanku itu hanya satu...karena aku nggak bisa membedakannya. Soalnya, semua alasannya itu adalah kamu.'
Nadya merona. Aldo membawa seluruh kehangatan ke dalam jiwanya. Satu hal yang ia tahu, Aldo itu ternyata begitu manis. Ia tak memiliki perasaan apa-apa kepada Aldo, tetapi kali ini ia benar-benar yakin bahwa...Aldo berhasil mencuri hatinya. Aldo berhasil mengalihkan dunianya. Aldo berhasil membuat Nadya menatap cowok itu, hanya cowok itu.
Dunia Nadya serasa dijungkirbalikkan, padahal di sisi lain…Nadya sendiri merasa bahwa cerita aneh tentangnya dan Aldo ini mungkin hanyalah mimpi. Mimpi: sebuah dunia yang bisa membuatmu masuk ke dalam petualangan dan kejadian-kejadian yang tak masuk akal.
Duh, kok Aldo ngomong gitu, sih...
Nadya tak tahu apakah ia yang tolol atau Aldolah yang terlalu mendadak mengatakan sesuatu seperti itu. Akan tetapi, pada akhirnya Nadya membuka pesan dari Aldo itu dengan jantung yang berdebar.
74Please respect copyright.PENANAhGvfcG3A23
Nad, lagi apa?
Kita...jalan-jalan, yuk? Kalo kamu mau, aku jemput. Biar aku yang minta izin ke ortu kamu.
74Please respect copyright.PENANAdish9tUHEE
Mata Nadya membulat. Aldo...mengajaknya jalan-jalan? Tunggu, sekarang sudah jam setengah tujuh malam. Apakah bakal diizinkan oleh kedua orangtuanya?
74Please respect copyright.PENANAqoFyCtmhrv
******
74Please respect copyright.PENANA7VDx81fDEC
"Malam, Om, Tante," sapa Aldo saat pintu rumah dibuka oleh mama Nadya. Papa Nadya kebetulan sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu, lalu mama Nadya mempersilakan Aldo masuk. Mama Nadya menyambut Aldo—tamu yang menurutnya asing itu—dengan senyuman manis, soalnya Nadya sudah bilang bahwa akan ada 'temannya’ yang datang.
"Eh...malam juga... Kamu temennya Nadya, ya? Ayo masuk!" ajak mama Nadya dengan ramah. Aldo menunduk seraya berterima kasih. Aldo menyapa papa Nadya sejenak dan dibalas dengan anggukan ramah oleh papa Nadya.
Sesungguhnya, Elin tahu kalau cowok tampan yang datang ini pastilah tidak hanya berteman dengan anak perempuannya. Cowok ini sepertinya sudah berhasil mengambil hati Elin dan juga suaminya sejak cowok itu menyapa mereka berdua.
"Tante siapin minum dulu, ya?" ujar Elin. Aldo, yang duduk berseberangan dengan papa Nadya, langsung menatap mama Nadya dengan mata yang melebar sembari berkata, "Ah...nggak usah, Tante. Nggak usah repot-repot."
"Udah, nggak apa-apa. Sebentar, ya," ujar Elin dan wanita itu langsung meninggalkan ruang tamu untuk menuju ke dapur. Aldo agak menganga, kemudian cowok itu tersenyum tatkala menyadari bahwa ada seseorang yang baru saja sampai di ruang tamu.
Itu Nadya. Memakai baju tidur bergambar panda yang di atas kepalanya ada tulisan 'Chuu!' serta ada simbol love di dekat tulisan itu. Aldo menatap baju Nadya lekat-lekat, kemudian cowok itu tersenyum. Ia akhirnya beralih menatap wajah Nadya yang kini juga sedang menatapnya balik.
"Yaya? Ngapain kamu di situ? Sini, temen kamu dateng, nih," panggil papa Nadya. Nadya biasa dipanggil 'Yaya' hanya oleh papanya dan itu artinya papanya menyuruhnya untuk mendekat. Nadya agak kaget saat papanya tiba-tiba memanggilnya, tetapi akhirnya Nadya berjalan pelan dan duduk di sebelah papanya. Nadya menatap Aldo sejenak, tersenyum, lalu sedikit menunduk. Nadya masih merasa malu dengan ucapan Aldo dua hari yang lalu, terutama...sekarang Aldo terlihat sangat tampan. Aldo tampak macho memakai jaket kulit berwarna hitam. Jaket itu agaknya cowok itu gunakan untuk melapisi kaus V-neck tipis yang berwarna abu-abu. Kalung perak Aldo yang berliontin simbol infinite itu begitu cocok di leher Aldo yang terlihat sangat menggoda.
Nadya sudah tahu dari lama kalau Aldo itu ganteng. Akan tetapi, sekarang rasanya Nadya jadi benar-benar memperhatikan cowok itu. Apakah itu terjadi karena sekarang otak Nadya berpikir bahwa Aldo itu adalah...kekasihnya? Iya, mereka memang sepasang kekasih, tetapi...bagi Nadya…
Ah, sulit dijelaskan.
Tambahannya, wangi tubuh Aldo yang selalu sama: wangi segar yang membuat nyaman dan membuat siapa pun ingin terus menciumnya. Parfum merk apa yang sebenarnya Aldo pakai? Nadya mendadak ingin tahu. Akan tetapi, cewek itu tak sempat berpikir lama-lama tentang merk parfum karena pipinya malah merona terlebih dahulu sebelum benar-benar memikirkan soal itu.
Aldo tersenyum, kemudian cowok itu beralih menatap papa Nadya yang kini sedang menatapnya dengan penasaran.
Papa Nadya terlihat seperti masih berusia tiga puluh tahun, padahal sejatinya umur pria paruh baya itu sudah 41 tahun. Nadya benar-benar mewarisi wajah manis papanya.
"Ada apa kamu datang malam-malam begini, Nak?" tanya papa Nadya sembari menatap Aldo dengan alis yang menyatu. Tak biasanya ada teman Nadya yang bermain ke rumah Nadya malam-malam begini, apalagi yang bermain ini adalah laki-laki.
"Em... Maaf ganggu malam-malam, Om," ujar Aldo dengan sopan. "Sebenarnya, begini, Om... Kalau Om sama Tante ngizinin...saya mau ngajak Nadya jalan-jalan."
Nadya meneguk ludahnya, menunggu respons papanya. Sementara itu, papanya mengernyitkan dahi. "Jalan-jalan ke mana?"
Tibalah mama Nadya di ruang tamu, wanita itu mulai menaruh beberapa gelas sirup di atas meja. Aldo tersenyum pada mama Nadya, kemudian cowok itu menatap papa Nadya lagi dan menjawab dengan sopan, "Saya mau ngajak Nadya ke mall yang nggak jauh dari sini, Om. Di sana ada konser band lokal. Saya janji bakal bawa Nadya pulang sebelum jam sepuluh malam."
Mama Nadya kini duduk di sebelah Aldo dan menatap Aldo seraya tersenyum jail. "Kamu pacar Nadya, ya?"
Nadya kontan terkejut. Nadya langsung menatap mamanya dengan mata yang melebar. Nadya lalu melihat ke arah Aldo yang juga tampak sedikit melebarkan mata, tetapi agaknya Aldo tak terlalu terkejut.
Tiba-tiba Aldo tersenyum lagi. Senyumannya tampak begitu manis dan tulus. Aldo tampak begitu tenang dan bersahaja. Cowok itu kemudian mengangguk singkat pada mama Nadya.
"Iya, Tante," jawab Aldo. "saya pacarnya Nadya. Saya minta maaf karena baru ngasih tahu soal ini ke Om dan Tante, tapi...saya janji saya bakal jaga Nadya."
Mama Nadya kontan tercengang. Wanita itu tak mampu berkata apa-apa. Nadya itu tak pernah berpacaran, tetapi sekarang anak sulungnya itu tiba-tiba mendapatkan seorang kekasih yang mampu menarik hati kedua orangtuanya dalam hitungan detik seperti ini.
"Nama kamu siapa? Kamu boleh ngenalin diri kamu ke Om dan Tante. Om pengen tau tentang pacar pertama Nadya ini," ujar papa Nadya, kemudian pria paruh baya itu menatap Nadya. Nadya terperanjat, ia menatap papanya sembari salah tingkah.
"Nga—ngapa, Pa?!" tanya Nadya dengan gugup.
"Sejak kapan kamu bisa pacaran?" tanya Reynald, papa Nadya, dengan tatapan menyelidik. "Masih bau kencur, masih sering berantem sama Adek, udah pacaran aja sekarang, ya?"
Pipi Nadya kontan merona bukan main. Mengapa harus diungkit di depan Aldo, sih...
"Papa nih," ujar Nadya. "Yaya jarang kok berantem ama Adek."
"Heleh, kamu ini dibilangin malah nggak mau ngaku," ujar papa Nadya.
Pria paruh baya itu lalu kembali menatap Aldo. Ternyata Aldo sedari tadi tersenyum manis saat memperhatikan perdebatan antara Nadya dan papanya. Cowok itu juga sibuk memperhatikan Nadya yang terus tersipu. Tanpa Nadya sadari, Aldo adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang benar-benar merasa lega karena mengetahui bahwa Nadya belum pernah berpacaran sebelumnya.
Plus, Aldo kini tahu bahwa ternyata Nadya sering berkelahi dengan adiknya. Sesungguhnya, hal itu sangat menggemaskan.
"Ya udah, kenalin diri kamu, ya. Om pengen denger. Bentar aja, abis itu kalian boleh pergi jalan-jalan," ujar papa Nadya pada Aldo.
Nadya terperanjat. "Eh?! Papa bolehin, Pa?"
Papanya mengangguk. "Iya, boleh. Asal jangan pulang malam. Ganti baju kamu sana, biar pacar kamu ngenalin dirinya ke Papa."
Nadya meneguk ludahnya, lalu mengangguk meskipun sedikit ragu. Cewek itu menatap Aldo sejenak, melipat bibirnya, lalu ikut tersenyum saat Aldo tersenyum manis padanya. Selagi berdiri dan berbalik, Nadya meneguk ludahnya. Ia gugup memikirkan bagaimana nanti saat ia jalan-jalan dengan Aldo.
"Nama saya Aldo, Om," ujar Aldo begitu Nadya menghilang di balik lorong. "Aldo Gabriel Nugraha. Saya satu sekolah dan satu kelas dengan Nadya. Saya tinggal di Menteng sama keluarga saya. Saya udah kenal Nadya dari kelas satu."
"Ooh, sekelas toh... Kamu ikut ekskul apa aja?" tanya mama Nadya dengan penasaran. Wajah wanita itu terlihat berseri-seri saat rasa penasarannya kepada Aldo memuncak.
Aldo tersenyum. "Saya ikut OSIS, basket, futsal, sama voli. Sebenarnya, saya ikut semua ekskul yang menjurus ke kegiatan olahraga, Tante, tapi saya nggak begitu aktif berhubung saya sibuk di OSIS."
"Sibuk di OSIS? Kamu Ketua OSIS, ya?" tebak papa Nadya dengan alis terangkat.
"Iya, Om. Saya juga jadi kapten di tim basket sekolah, Om. Kalau di futsal...agak sulit untuk ikut jadwal latihannya yang hampir tiap hari, padahal saya hobi main futsal."
"Sama, dong. Om juga suka main futsal, hahaha!" Papa Nadya tiba-tiba tertawa. Aldo dan Elin ikut tertawa. Dalam sekejap, Aldo mampu menyingkirkan sedikit rasa takut yang papa Nadya rasakan. Ketakutan tersendiri bagi seorang ayah terhadap anak gadisnya. Namun, kini Papa Nadya merasa bahwa Nadya mampu memilih laki-laki dengan tepat untuk dijadikan sebagai seorang kekasih.
Reynald tersenyum. Pria paruh baya itu kemudian menatap Aldo dan berkata, "Om sebenernya kaget. Nadya nggak pernah pacaran sebelumnya...dan Om kira dia bakalan terlalu polos untuk memilih. Tapi ternyata dia nggak ngecewain Om sama sekali. Entah ngapa Om ngerasa kalo kamu bisa menjaga dia di sekolah. Sering-sering liat Nadya, ya, Aldo? Dia itu agak males belajar juga, tuh."
Aldo terkekeh, kemudian cowok itu mengangguk sopan. Sebenarnya, menurut Aldo Nadya itu tidak malas. Akan tetapi, mungkin saja Nadya agak sulit disuruh belajar ketika di rumah. Aldo jadi pengin melihat wajah Nadya sekarang juga karena hal itu terdengar sangat menggemaskan.
Cowok itu lalu menatap papa Nadya dengan mata jernihnya yang terlihat sangat indah. "Iya, Om. Saya bakal jaga Nadya."
74Please respect copyright.PENANA8rTd7LJJPE
******
74Please respect copyright.PENANAGGNinnT1hH
Nadya menatap Aldo yang menggenggam tangannya begitu mereka masuk ke dalam mall. Suasana mall yang ramai itu sebenarnya enggan Nadya lihat, tetapi berjalan bersama Aldo membuatnya bisa melupakan semua itu.
Nadya juga tahu bahwa banyak sekali tatapan yang tertuju kepada Aldo. Nadya sudah biasa dengan bisik-bisik kekaguman yang selalu orang-orang berikan kepada Aldo yang memiliki paras tampan, apalagi Aldo itu adalah bule blasteran. Nadya hanya bisa melihat ke sekeliling—entah apa yang ia lihat—melihat orang yang lalu lalang, melihat barisan toko…meskipun kenyataannya jantungnya berdebar-debar. Ia melihat orang-orang hanya untuk meredakan jantungnya yang berdebar-debar. Debaran itu terasa begitu aneh.
Ini salah karena ia terlalu cepat terpaut pada Aldo yang masih kurang jelas mengapa bisa memilihnya sebagai kekasih. Ini salah, tetapi ia tak bisa menahan perasaan itu. Perasaan itu...muncul dengan sendirinya. Setidaknya Nadya paham bahwa ia sepertinya suka dengan Aldo meskipun kenyataannya ia tak punya pengalaman berpacaran.
Novel romantis yang sering ia baca ternyata lumayan bisa menjadi petunjuknya.
"Nad, kita makan, yuk?" ajak Aldo tiba-tiba. Nadya kontan mendongak untuk menatap Aldo. Mata cewek itu sedikit membulat.
"Umm...tadi aku udah makan, Aldo. Hehe. Kamu belum makan, ya?" tanya Nadya.
Genggaman tangan Aldo terasa semakin erat. "Udah, sih. Tapi aku laper lagi," ujar Aldo sembari tersenyum geli.
Kontan Nadya tertawa. Aldo berhasil membuat debaran jantungnya sedikit mereda akibat rasa canggung yang sudah menghilang. Nadya menoleh kepada Aldo lagi, lalu mata bulat cewek itu berkedip beberapa kali. "Kamu mudah laper, ya?"
"Hmm... Sebenarnya, sih…iya, Nad. Aku bahkan kadang-kadang makan lebih dari lima kali sehari," ujar Aldo. "Kalau kamu?"
"Aku?" ujar Nadya. "Um… Aku, sih...makannya nggak tentu. Kalau laper juga bisa berkali-kali. Hehe."
Entah sejak kapan...bicara dengan Aldo bisa senyaman ini. Entah mengapa, hal sesederhana ini mampu menimbulkan kebahagiaan di hati Nadya, kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan. Mereka mulai mencoba untuk mengetahui satu sama lain. Ini seperti baru saling mengenal setelah berhubungan sebagai sepasang kekasih.
Rasanya seperti menikah dengan teman tanpa ada perasaan sebelumnya. Perasaan tumbuh justru setelah berkomitmen. Perasaan tumbuh setelah selalu menjalani hari-hari bersama.
Aldo tersenyum, lalu cowok itu mengacak rambut Nadya sejenak. Nadya kontan tersipu, kemudian Aldo mencubit kecil hidung Nadya. "Makan di KFC aja, yuk. Kalo kamu nggak laper, aku pesenin kamu makanan yang ringan aja. Kamu suka burger nggak?"
"Nggak, aku...kurang suka, Aldo," ujar Nadya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aldo melebarkan matanya.
"Kenapa? Enak, lho, Nad," ujar Aldo. Mereka masih bergandengan tangan.
Nadya menggeleng pelan. Cewek itu tertawa hambar dan berusaha untuk menatap Aldo, tetapi entah mengapa rasanya sekarang berlama-lama menatap Aldo itu adalah hal yang sulit. Nadya jadi heran sendiri. Mengapa ia merasa bahwa kini…menatap mata Aldo adalah hal yang sangat sulit dan langsung membuat jantungnya berdegup kencang? Seolah menatap mata Aldo itu sama seperti menatap dunianya Aldo. Tempat di mana ia akan tersesat jauh di dalam diri Aldo. Tempat yang akan membuat hatinya melayang ke langit layaknya sehelai mahkota bunga yang tertiup angin.
Ini pasti karena kata-kata Aldo dua hari yang lalu.
Nadya melipat bibirnya. "Aku punya trauma, Aldo...walau aku nggak tau itu bisa disebut trauma atau nggak."
Aldo melebarkan matanya dan menatap Nadya dengan lekat, sementara Nadya menatap Aldo sembari tersenyum. Aldo kemudian bertanya pada Nadya dengan alis yang menyatu; cowok itu tampak penasaran dan khawatir. "Kamu trauma sama burger? Trauma kenapa, Nad?"
"Ah..." Nadya menggaruk tengkuknya lagi. "Bukan apa-apa, sih, Aldo. Kamu jangan ketawa, ya?"
Aldo terkekeh. Cowok itu pun tersenyum. "Nggak, Nad, nggak kok."
Pipi Nadya sempat merona saat melihat Aldo yang sedang terkekeh seperti itu. Sungguh bersinar. Sungguh...menyejukkan hati. Akan tetapi, Nadya berusaha untuk kembali fokus.
Nadya mulai menjelaskan, "Dulu, waktu aku sama keluarga pergi ke Palembang, kami naik travel. Terus waktu travelnya berhenti di sebuah tempat untuk istirahat—aku nggak inget itu di mana, entah itu di depan restoran atau di depan ruko—sopir travel-nya ngebagiin burger untuk penumpang travel. Kayaknya, burger itu baru dibeli. Nah, aku itu setengah sadar...soalnya aku lagi mabuk perjalanan waktu itu. Terus Mamaku ngasih burger itu ke aku. Ya aku makan satu gigitan, tapi ternyata bau daging dari burger itu bikin aku tambah mual. Alhasil, aku muntah-muntah terus di sepanjang perjalanan. Sampai sekarang, tiap aku makan roti isi daging, aku selalu muntah. Aku bahkan gak mau mencium bau roti isi daging lagi, terutama burger."
Aldo tercengang. Cowok itu menatap Nadya, lalu akhirnya cowok itu membuka pintu masuk KFC karena Nadya menyelesaikan kalimatnya tepat ketika mereka sampai di depan pintu masuk. Aldo menggandeng Nadya masuk; cowok itu memilih tempat duduk di ujung, tepatnya di dekat jendela. Begitu Nadya duduk, Aldo memegang punggung tangan Nadya sembari tersenyum manis. Cowok itu memilih untuk tidak duduk terlebih dahulu. Nadya kaget, cewek itu lantas menatap Aldo dengan mata bulatnya.
Aldo lalu berkata, "Nad, kamu itu lucu, ya. Mudah traumaan gitu." Ada sebuah jenaka yang tersirat di kedua mata Aldo. "tapi aku tau banget rasanya muntah itu gimana. Jadi, aku nggak bakal ngetawain kamu. Aku bakal pesenin kamu kentang goreng sama es krim. Kamu suka es krim, 'kan? Kamu sering beli di sekolah. Em...aku pesen ayamnya banyak, deh, supaya kamu bisa ikut makan ayamnya." Aldo lalu meremas punggung tangan Nadya.
Nadya tercengang. Cewek itu menatap Aldo dengan mata yang berbinar karena tak menyangka. Aldo benar-benar baik hati, terutama...Aldo... Aldo tahu bahwa Nadya suka beli es krim saat di sekolah.
Apa Aldo memperhatikan Nadya selama ini? Tidak mungkin, 'kan?
Jadi...mengapa...
Saat Aldo tersenyum manis dan mengacak rambut Nadya, Nadya balas tersenyum tulus pada Aldo. Rona di pipi Nadya tak mau hilang. Wajahnya benar-benar memerah. Begitu Aldo pergi untuk memesan makanan pun...Nadya memperhatikan punggung Aldo dengan tatapan yang penuh arti.
Nadya sadar bahwa...dia jatuh cinta.
74Please respect copyright.PENANAfutjBoKcIJ
******
74Please respect copyright.PENANAfQU5CH3IWl
Nadya duduk di boncengan Aldo saat mereka menonton konser di belakang mall itu. Konser mini dari band lokal yang diadakan di belakang mall itu tampak begitu ramai. Mall itu berada di tepi jalan sehingga orang-orang yang ada di trotoar pun tampak berusaha masuk untuk menonton konser itu.
Karena motor Aldo diparkir di tempat parkir belakang mall, terutama tempat parkir itu tak jauh dari area konser, maka Aldo mengajak Nadya menonton sembari duduk di motor. Banyak juga orang yang memilih jalan yang sama, soalnya tak semua orang suka berdiri berdesak-desakan, apalagi jika banyak orang yang berteriak dan melompat-lompat.
Lagu yang dinyanyikan oleh vokalis band itu mengalun indah di telinga Nadya; kebetulan saat ini band itu sedang menyanyikan lagu ballad. Rupanya band lokal ini punya banyak lagu yang bagus meski kebanyakan lagu mereka yang dinyanyikan sejak tadi bergenre pop-rock.
74Please respect copyright.PENANAuoD7TkccA1
Aku berteriak dan menyapamu, akankah kau mendengarkan salamku, Sayang?
Aku merasa seperti jatuh ke jurang yang dalam, tetapi aku merasa bahagia.
Tahukah kau apa yang terjadi padaku?
Aku terlalu mencintaimu.
Biarkan cintaku mengalir padamu seiring berjalannya waktu, Sayang.
74Please respect copyright.PENANAVqNKOQ7fk7
Nadya meneguk ludah. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat mendengarkan lirik itu. Tidak ada percakapan yang terjadi antara ia dengan Aldo. Saat ini yang terdengar hanyalah suara berisik penonton, suara keras dari alat musik, dan nyanyian dari vokalis band.
Nadya diam dan terus memperhatikan band itu. Ia tak mau melihat Aldo karena tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Jantung Nadya berdebar; Nadya merasakan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia hanya bertanya-tanya, apakah begini rasanya menyukai seseorang? Ia sadar bahwa ia menyukai Aldo. Sesimpel itu.
Nadya benar-benar gugup, tetapi ia tak mau momen ini berakhir begitu saja. Menyukai seseorang itu kok...rumit, ya. Ternyata benar kata orang, cinta itu rumit dan membingungkan. Cinta itu susah dimengerti. Yang jelas, saat kau merasakannya, semuanya akan terasa indah. Kau jadi agak berubah, seperti bukan dirimu yang biasanya.
Bagaimana jika Aldo mengetahui perasaan Nadya? Apa yang akan terjadi jika Aldo tahu? Nadya yakin Aldo itu...tidak mencintai Nadya. Nadya sendiri bingung dengan kata-kata Aldo dua hari yang lalu meskipun kata-kata itu terdengar sangat manis.
Nadya merasa ada sebuah pergerakan di sampingnya. Duduk menyamping membuat jarak di antara mereka mudah terhapus jika salah satu dari mereka ada yang bergerak.
Sekarang...jarak itu dihapus oleh Aldo.
Nadya belum memiliki keberanian untuk menatap Aldo meskipun ia bisa merasakan bahwa Aldo tengah menatapnya dengan intens. Degupan jantung Nadya terdengar semakin mengganggu. Nadya bahkan takut kalau-kalau Aldo bisa mendengarnya meski mereka sedang berada di tempat yang berisik seperti ini.
"Nad?" panggil Aldo pelan.
Akhirnya, Nadya berusaha untuk menoleh, menatap Aldo, dan menyahut, "Iya, Aldo?"
Aldo tersenyum manis. Senyumannya merekah di antara cahaya lampu yang ada di area halaman belakang mall itu. Kedua mata Aldo tampak melengkung seolah ikut tersenyum. Setelah itu, mata Aldo terbuka kembali; iris mata berwarna hitam milik Aldo tampak begitu jernih.
Nadya terpana hingga beberapa detik lamanya. Cewek itu terpana dengan senyuman Aldo yang membuat ketampanan cowok itu jadi bertambah sepuluh kali lipat. Senyuman itu bukan senyuman palsu. Bukan senyuman yang dipaksa. Senyum Aldo itu...
Selalu tulus...
Nadya ingin terus melihat senyuman itu. Nadya jadi benar-benar ingin Aldo terus bahagia agar bisa tersenyum seperti itu selamanya. Nadya tadi bahkan ingin menghentikan waktu meski ia tahu itu mustahil.
Tak lama kemudian, waktu benar-benar seakan terhenti.
Hanya dikarenakan oleh satu hal yang tak pernah Nadya duga.
Satu hal yang berhasil membuat mata Nadya membulat penuh.
Satu hal yang manis, yaitu saat Aldo menarik pinggang Nadya dan memeluk Nadya, lalu memberikan satu kecupan manis di kening cewek itu.
Bibir Aldo…terasa basah. Bibir itu menempel di kening Nadya.
Napas Nadya tertahan. Jantungnya bagai berhenti berdegup. Beberapa saat kemudian, ketika wajah Aldo menjauh secara perlahan...saat itu jugalah degupan jantung Nadya menggila.
Pipi Nadya memerah sampai ke telinga. Nadya yakin Aldo bisa melihatnya—di bawah cahaya lampu yang menerangi malam di belakang mall itu—meski Nadya menunduk dan tak mau menatap Aldo. Nadya juga malu karena mungkin saja yang tadi itu dilihat oleh orang banyak. Nadya hanya bisa berdoa semoga tidak ada orang yang melihat mereka. Wajah Nadya memanas bukan main.
Aldo... Aldo menciumnya!
Kedua tangan Aldo masih ada di pinggang Nadya. Napas Aldo bahkan masih menerpa wajah Nadya. Itu artinya wajah Aldo masih dekat dengan wajah Nadya.
Setelah itu, Aldo sekali lagi membuat Nadya menahan napasnya tatkala tiba-tiba cowok itu merunduk untuk mencari wajah Nadya dan meraih dagu Nadya agar mata mereka bertemu.
Saat mata mereka bertemu, Aldo bisa melihat betapa merahnya pipi Nadya. Aldo tersenyum sejenak, lalu cowok itu menatap Nadya dengan intens lagi.
"Tadi itu...nggak ada yang ngeliat kok, Nad," ujar Aldo lembut.
Nadya spontan kembali menunduk. Wajahnya semakin memerah. Aldo melebarkan matanya, merasa takjub.
Nadya ini...lucu banget.
Akan tetapi, tanpa Aldo sangka, Nadya tiba-tiba mendongak untuk menatapnya. Cewek itu menggigit bibirnya dan matanya menatap Aldo dengan rasa ingin tahu. Dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus itu, Nadya pun meneguk ludahnya, lalu bertanya kepada Aldo:
"Aldo, em...kemaren kamu udah ngasih tau alasan kamu jadiin aku sebagai pacar kamu. Tapi...aku masih kurang ngerti, Aldo... Aku nggak tau maksudnya. Kalo boleh, bisa nggak kamu kasih tau aku dengan lebih jelas? Aku—duh... Aku...bingung."
Mendengar pertanyaan dari Nadya, Aldo jadi semakin mendekatkan wajahnya. Senyuman di wajah cowok itu muncul lagi, tetapi kali ini senyumannya itu adalah senyuman tipis yang penuh arti. Tatapannya terasa begitu dalam.
Aldo kemudian memiringkan kepalanya. "Apa kamu tau kalo aku sering merhatiin kamu?" []
74Please respect copyright.PENANAJQNALEXFho