
******
Bab 1 :
Gara-Gara Tiket
******
106Please respect copyright.PENANASA8lzYlXsD
"Jika kamu punya satu hal yang belum bisa kamu dapatkan saat ini, ya udah, ikhlasin aja. Bisa jadi, Tuhan itu bukannya nggak mengabulkannya, tapi Tuhan menunggu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkannya."
106Please respect copyright.PENANAWcWn05MW6z
******
106Please respect copyright.PENANAVs9LXNdDZr
SUARA tangisan Nadya hampir saja merusak pendengaran Gita. Berkali-kali Nadya mengguncang-guncang tubuh Gita, merengek sampai membuat Gita pusing tujuh keliling. Astaga, cuma karena mau tiket konser Muse yang kabarnya mau datang ke Indonesia satu bulan lagi, Nadya sampai merengek habis-habisan begini di depan Gita! Gita memutar matanya dan menutup telinganya, dia malas banget mendengarkan rengekan Nadya karena Nadya ini udah merengek setiap hari sejak beredar luasnya kabar kedatangan Muse ke Indonesia.
Lagian, kok Nadya bisa, sih, suka banget sama band rock itu? Dari tampangnya sebenarnya tidak cocok karena Nadya ini merupakan cewek yang sederhana dan tidak tomboi sama sekali. Jadi, bisa suka sama Muse itu jalan ceritanya bagaimana?
"Ampun, Nad, udahan kali nangisnya," celetuk Gita kesal. "Mau digimanain lagi, 'kan, kalo nggak bisa beli tiketnya. Bahkan kalo kita patungan plus tambahan dikit dari ortu lo, itu masih belum cukup juga!"
Nadya semakin merengek keras-keras, cewek yang tinggi badannya sama dengan Gita itu mengentak-entakkan kakinya ke tanah berumput belakang sekolah yang ia dan Gita duduki. "Huaaa Git, lo nggak tau seberapa lama gue nungguin kesempatan ini! Lo itu nggak bakal ngerti, Giiit!! Muse itu udah mendarah daging di dalam diri gue!! Huaa Git, gimana dong?!! Apa kita minjem uang aja ya..."
Mata Gita terbelalak. "Gila lo, Nad! Mau minjem ama siapa, coba?!"
Nadya bersandar di pohon eucalyptus yang ada di belakangnya. Nadya dan Gita sedang duduk berteduh di bawah pohon eucalyptus yang tumbuh di belakang sekolah mereka. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar satu jam yang lalu, tetapi mereka berdua belum pulang karena Nadya yang katanya malas jalan. Malas jalan—karena bad mood—berhubung tidak punya tiket konser Muse.
"Iya, sih…tapi…huaaaaaaa! Gimana kalo gue nggak pernah ketemu atau ngeliat Muse seumur hidup gue, Git? Gue punya banyak poster mereka di kamar, tapi gue pengin banget nonton konser mereka! Berarti begini, ya, kalo jadi fans yang nggak punya duit…" Nadya menunduk, kini ia duduk seraya memeluk lututnya.
Gita menghela napas. "Gue nggak tau gimana rasanya jadi anak fandom kayak lo karena gue nggak nge-fans sama siapa pun. Tapi oke, gue ngerti kok perasaan lo. Udah, Nad, jangan nangis lagi. Mungkin nanti pas kita udah dewasa dan udah kerja, bisa jadi Muse konser lagi di Indonesia, 'kan? Lo bisa beli tiketnya saat itu."
Nadya tertunduk.
Iya, yang dikatakan Gita itu benar. Akan tetapi, apakah Muse akan datang ke Indonesia lagi? Apakah Nadya bisa berharap? Kalau Nadya keburu nikah, entar malah tidak kesampaian lagi... Soalnya, kalau sudah menikah, fokusnya sudah berbeda. Terus bagaimana, dong?
Melihat Nadya yang tertunduk lemas, Gita menghela napas lagi.
"Ya udah, Nad, mending kita pulang dulu. Biar gue ambil tas kita di kelas, lo tunggu di sini aja. Takutnya ntar bapak penjaga sekolah keburu ngunci kelas," ujar Gita, kemudian cewek berkucir kuda itu berdiri, menepuk-nepuk rok abu-abunya, lalu berlari ke kelas mereka.
Nadya semakin tertunduk lemas. Napasnya ia keluarkan dengan ogah-ogahan. Kedua tangannya memeluk lututnya semakin erat, sementara tubuhnya bergerak ke depan dan ke belakang. Embusan angin sore membelai dan menerbangkan beberapa helai rambut Nadya yang tergerai dan berhiaskan jepit hitam kecil di poninya.
106Please respect copyright.PENANAs2euzTluCl
"Kamu mau tiket Muse?"
106Please respect copyright.PENANAexdL9npq5N
Nadya tersentak. Cewek itu melebarkan matanya, napasnya terhenti; ia kaget karena tiba-tiba mendengar ada suara seorang cowok di depannya.
Nadya perlahan mengangkat kepalanya. Sekitar 45 derajat, Nadya sudah melihat sepasang sepatu hitam bermerk Adidas di depannya. Nadya kemudian mengangkat kepalanya lagi hingga ia mendongak.
Saat telah melihat ke atas, Nadya semakin melebarkan matanya. Cewek itu membutuhkan waktu sekitar dua detik untuk berkedip sebanyak dua kali karena keheranan dengan sosok cowok yang berdiri di depannya.
Bukan, cowok itu bukan orang asing. Cowok itu adalah Aldo Nugraha, Ketua OSIS sekaligus teman satu kelas Nadya yang pintarnya bukan main. Dia adalah cowok macho yang selalu juara umum di sekolah. Wajah bening dan alis tebal milik Aldo yang berdarah Perancis-Indonesia itu selalu berhasil memukau semua cewek di SMA Kusuma Bangsa, tetapi Nadya dan Aldo selama ini hanyalah teman sekelas yang boleh dikatakan jarang berteguran. Mereka berteguran kalau ada tugas kelompok saja (saat mereka kebetulan berada di kelompok yang sama).
Untuk diperjelas lagi, Nadya juga sosok yang tidak terkenal di kelas. Nadya itu paling banter dapat ranking sepuluh doang. Nadya itu cuma anggota kelas yang nyaris-terlupakan, yang mainnya cuma sama Gita. Nadya sama Gita itu sebelas dua belas, sama-sama malas cari perhatian dan malas jadi perhatian orang-orang. Mereka berdua seperti punya dunia mereka sendiri, tetapi bukan berarti mereka tidak berbaur di kelas. Mereka berdua berbaur ala kadarnya saja.
Aldo memiringkan kepalanya, melambaikan sebelah tangannya dengan pelan di depan wajah Nadya. Cowok itu bahkan sampai merunduk cuma untuk melakukan situ. "Hei."
Nadya tersentak, dia langsung memfokuskan dirinya kepada Aldo. "A—ah, Aldo? Kok kamu masih ada di sekolah?"
Aldo tersenyum. Senyum cowok itu terlihat sangat manis, bahkan kedua mata cowok itu melengkung seolah ikut tersenyum. "Aku ngambil jaketku. Tadi ketinggalan di kelas," ujar Aldo. "Oh ya, kamu belum jawab pertanyaanku."
Nadya menganga; dia akhirnya ingat bahwa Aldo datang ke hadapannya dengan membawa sebuah pertanyaan. Nadya meneguk ludahnya. Apakah Aldo mendengarnya merengek kepada Gita tadi sehingga Aldo tahu bahwa dia sedang membutuhkan tiket konser Muse?
Nadya menghela napas. Mendadak cewek itu jadi bad mood lagi. "Iya, aku mau tiket konser Muse. Sayangnya, uangku nggak cukup buat beli tiket seharga dua juta rupiah itu."
Aldo mengangguk perlahan.
"Aku punya satu tiketnya," ujar Aldo kemudian. "dan aku bisa kasih tiket itu ke kamu. Tapi…kamu yakin?"
Nadya benar-benar mendongak dan matanya membulat sempurna. Agaknya, Nadya sekarang jadi memelototi Aldo. Cewek itu tak percaya dengan apa yang baru saja Aldo katakan.
"APA?! KA—KAMU... PUNYA TIKETNYA?!!" teriak Nadya kencang.
Aldo tersenyum simpul. "Iya, Nadya. Aku punya. Tapi...apa kamu yakin?"
Pertanyaan Aldo itu membuat Nadya jadi mengernyitkan dahinya. Namun, suara Nadya masih tidak santai sama sekali saat menanyakan, "Yakin kenapa?!!"
"Ada perjanjiannya." Aldo mengatakan itu bersamaan dengan mata jernih cowok itu yang menatap Nadya dalam.
"Hah?" Nadya benar-benar bingung. Perjanjian apa?
Ah, bodo amatlah, yang penting Nadya dapat tiketnya!!
Nadya menggeleng, kemudian cewek itu menatap Aldo dengan mata yang berbinar. Ia tersenyum semringah, wajahnya berseri-seri. "Oke oke. Nggak apa-apa, deh, asal aku dapet tiketnya!"
Aldo mulai tersenyum lembut.
"Ya udah. Perjanjiannya itu..." Aldo menunduk agar bisa menatap Nadya dengan fokus, lalu cowok itu berkata:
106Please respect copyright.PENANA9o3kkSaH25
"...kamu jadi pacar aku." []
106Please respect copyright.PENANAp9JeRqsc9O