
Beberapa saat setelah kejadian tersebut, Tasya kembali hamil anak keduanya, begitu juga dengan Saras yang mengandung anak pertamanya. Tasya tidak pernah lagi bertemu ketiga laki-laki tersebut setelah hari itu.
Hubungan Tasya dan pak Broto pun tetap berjalan normal seperti sebelumnya. Mereka terus berhubungan setiap kali ada kesempatan. Pak Broto mampu memberikan Tasya kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya.
Sembilan bulan berlalu, Tasya pun akhirnya melahirkan anak keduanya, Kali ini dia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Putri. Sedangkan Saras juga melahirkan seorang anak perempuan.
Tasya saat ini tengah cuti, ia sibuk mengurus kedua anaknya, Andrew dan Putri yang hanya berjarak 1 Tahun, ia sudah lama tidak berhubungan dengan pak Broto.
2 Minggu setelah Tasya melahirkan, Bimo datang kerumah Tasya bersama Rio. Tasya yang membukakan pintu terkejut dengan kehadiran Bimo, Wajah Ceria yang terpancar di wajahnya langsung menghilang dalam sekejap.
Rio: "Sore sayang," sambil mencium kening istrinya.
Rio:" Mas Bimo akan nginap disini malam ini, dia akan membantu ku mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk. Rio berusaha menjelaskan niat kedatangan Bimo.
Bimo: "Selamat ya Atas kelahiran anak keduanya." Bimo mengucapkan selamat untuk kelahiran anak Tasya.
Tasya: "Terimakasih Mas." Jawab Tasya singkat.
Malam itu, Rio dan Bimo sibuk menyelesaikan pekerjaan Mereka. Rio dan Bimo membelakangi Tasya yang tengah duduk di sofa menggendong putri, sedangkan Andrew sudah tertidur pulas di kamar.
Tasya yang saat itu mengenakan baju tidur dengan celana pendek, membuat paha mulusnya terlihat oleh Bimo.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Rio yang sudah sangat mengantuk ambruk di meja kerjanya, ia pun tertidur pulas.
Bimo: "Rio,,,Rioo." Bimo memanggil-manggil nama Rio sambil menggerakkan tubuhnya, berusaha memastikan bahwa Rio sudah Tertidur.
Setelah memastikan Rio sudah tertidur, Bimo pun menghampiri Tasya yang tengah menyusui Tasya di belakangnya.
Bimo pun duduk di lantai tepat didepan Tasya yang tengah menyusui Putri.
Bimo: "Putrinya belum tidur ya sya" tanya bimo.
Tasya: "Iya nih mas, lagi rewel malam ini." Jawab Tasya.
Bimo: "Mungkin Putri ingin ngeliat kedua orang tuanya bermesraan." Celetuk Bimo sambil mengusap paha mulus Tasya.
Tasya: "Apaan sih Mas" Tasya Langsung menepis tangan Bimo dari pahanya.
Bimo kemudian mengeluarkan sebuah surat dari tas nya, surat hasil test DNA yang menunjukkan jika putri adalah anaknya.
Tasya hanya terdiam setelah membaca surat yang diberikan Bimo.
Bimo: "jadi gimana.?" Bimo tersenyum licik ke arah Tasya, dan kembali mengusap pahanya.
Tasya: "Maaf Mas, Ada suami saya." Tasya kembali menepis tangan Bimo dari pahanya. Tasya langsung beranjak pergi meninggalkan Bimo, ia menggendong Putri yang sudah tertidur menuju kamar.
Bimo yang mengartikan ucapan Tasya sebagai ajakan untuk melakukannya ditempat lain, langsung mengikuti Tasya dari belakang.
Setelah Tasya meletakkan Putri di dalam Box bayi nya, Bimo langsung memeluk Tasya dari belakang.
Tasya: "Jangan Mas, saya gak mau melakukannya, Ada suami saya." Tasya terus memberontak dan berusaha melepaskan pelukan Bimo.
Bimo: "Kamu gak kangen sama ini?" sambil menarik tangan Tasya menuju kontolnya yang sudah mengeras.
Tasya langsung terdiam dan mengendurkan perlawanannya, setelah merasakan Kontol bimo yang sudah mengeras. Ia kembali teringat kenikmatan yang pernah ia rasakan bersama Bimo, kenikmatan yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya ataupun pak Broto.
Tasya tidak menyadari tangan Bimo sudah berada didalam baju tidur yang ia kenakan, kedua tangannya tengah meremas payudara Tasya yang meneteskan Asinya.
"Ughhhh" Tasya melenguh saat Bimo mencubit puting payudaranya.
Bimo kemudian membalikkan tubuh Tasya, Ia langsung melumat bibir Tasya, keduanya tangan Bimo langsung menerobos celana pendek yang dikenakan Tasya ia langsung meremas kedua bongkahan pantat Tasya.
Gerakan bimo dengan cepat membuat Tasya terangsang, ditambah lagi ia sudah lama tidak berhubungan dengan pak Broto. Tasya langsung membalas lumatan bibir Bimo, tangannya menerobos masuk ke dalam celana Bimo dan kemudian memainkan kontol nya yang sudah mengeras.
Bimo kemudian menghentikan gerakannya, kedua tangan Nya menarik kepala Tasya menjauh dari bibirnya. Kemudian menatap wajah Tasya yang sudah sangat terangsang sambil tersenyum.
Keduanya kembali saling melumat dengan rakus, keduanya saling bertukar ludah.
Tasya menghentikan gerakannya, dan kemudian Tasya berjongkok dihadapan Bimo. Tasya langsung menurunkan celana beserta celana dalam yang dikenakan Bimo.
Tasya langsung mengulum kontol Bimo dengan sangat rakus. Bimo hanya tersenyum menyaksikan tingkah istri bawahannya.
"Slurrpp,,, Slurrpp,,, Slurrpp."
"Aghhhh,,, Aghhhh" Bimo mengerang Saat Tasya mempercepat gerakannya.
Tasya menghentikan gerakannya, ia kembali berdiri dan melepas kancing baju tidurnya yang iya kenakan kemudian menurunkan celana beserta celana dalam putih yang ia kenakan.
Tasya kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang tepat disamping Andrew yang tertidur pulas. Kedua pahanya terbuka lebar, menggoda Bimo untuk datang menghampirinya.
Bimo segera menghampiri Tasya, ia langsung duduk dihadapan vagina Tasya yang sudah terbuka lebar. Bimo kemudian menempelkan kontolnya dibibir vagina Tasya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Tasya.
Bimo: "Kamu yang goyang duluan." Bisiknya ditelinga Tasya, sambil mengangkat kedua bahu Tasya untuk kembali bangun.
Tasya yang sudah sangat terangsang menyambar Kontol besar bimo dengan tangannya, kemudian mengarahkannya menuju lubang vaginanya.
"Owhhhhhss" Kontol bimo dengan mudah bisa menerobos masuk vagina Tasya yang sudah basah.
Tasya langsung menggoyangkan pinggulnya atas-bawah, depan belakang, kedua tangan Nya menutup mulutnya. Ia takut jika desahan akan membangunkan suaminya yang tertidur di ruang tamu atau pun membangun kan anaknya yang tertidur tepat disampingnya.
Kedua tangan Bimo menekan pinggul Tasya agar tetap tumbuh Tasya tetap merapat pada tubuhnya, mulutnya menyusu di payudara kanan Tasya membuat tubuh Tasya melengkung ke belakang.
"Ughhh,,, Ughhh" Sesekali rintihan terdengar dari mulut Tasya meskipun Kedua tangannya masih menutup mulutnya.
"Ughhhh,,,Owhhss" Tasya mempercepat gerakannya. Keduanya hanya bertahan 10 menit dan mencapai orgasmenya secara bersamaan. Keduanya saling memeluk dengan sangat erat.
Bimo kemudian mengankat tubuh Tasya, lalu mengarahkan kontolnya menuju lubang anusnya.
"Aghhhhh" Tasya sedikit terpekik saat anusnya dimasuki Kontol bimo, lubang anusnya anus nya masih sangat karena sudah lama tidak dimasuki kontol bimo. Kali ini Tasya masih terduduk di atas paha Bimo, ia bisa merasakan kontol Bimo telah sepenuhnya berada di lubang anusnya.
Tasya mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan.
"Ughhhh,Aghhh," sesekali desahan keluar dari mulutnya saat merasakan gesekan kontol Bimo didalam anusnya yang sudah lama tidak dimasuki kontol
"Aghhh,Agghhh." Mata Bimo terpejam merasakan jepitan anus Tasya yang sangat sempit.
Kali tangan Bimo meremas bongkahan pantat Tasya, dan mempercepat gerakan pinggul Tasya.
Setelah cukup puas Bimo mengangkat tubuh Tasya dan mencabut Kontolnya dari lubang anus Tasya, kemudian membaringkan tubuh Tasya disamping tubuh Andrew yang masih tertidur.
Bimo langsung menjilati klitoris Tasya Dengan lidahnya.
“Ooohh,,,Ooohh,,,nikmatnya,,,Aaauggghhhh"desahan keluar dari mulut Tasya, tubuhnya berkelojotan merasakan jilatan Bimo. Tangan kanannya menjambak rambut bimo dan menekannya agar tidak menghentikan gerakannya, sedangkan tangan kirinya terus menutup mulutnya.
Bimo kembali bersiap menghujamkan kontol nya kedalam vagina Tasya, ia tengah menggesekkan kontolnya dibibir vagina Tasya. Bimo menghujamkan kontol nya dengan keras kedalam vagina Tasya.
Bimo terus memompa kontolnya keluar masuk vagina Tasya. Mulut keduanya terus saling melumat, sedangkan kedua tangannya Tasya memegangi kepala Bimo agar tidak melepaskan lumatanya.
Tanpa mereka sadari, Rio yang sudah terbangun dari tidurnya, tengah mengintip aksi mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tengah menyaksikan bos nya tengah menggauli istrinya disamping Andrew yang tengah tertidur pulas dan ia melihat istrinya tidak sedikitpun memberikan perlawanan. Alih-alih memberikan perlawanan istrinya justru terlihat menikmati apa yang dilakukan bosnya.
Tidak sanggup melihat semua itu, Rio memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya dengan kesal. Ia tidak menyangka istri dan bosnya akan mengkhianatinya.
Sementara itu didalam kamar, Bimo terus mempercepat gerakannya, mulutnya melahap Payudara Tasya.
"Aghhhh,,,Aghhh, Oooohhh Yes" Tasya mengerang keenakan.
"Aghhh,,,Aghhh,,,enak banget mas." Tasya menarik mulut Bimo dari payudaranya dan mengarahkannya menuju mulutnya. Keduanya kembali saling melumat
"Aghhhh,,,Aghhh"
"Ughhh,,,Ughhh"
Erangan demi erangan terus keluar dari mulut keduanya. Setelah setengah jam keduanya pun segera mencapai orgasme.
"Aghhhhhh" Bimo langsung mencabut Kontolnya dari vagina Tasya, dan menyemprotkan spermanya di perut Tasya.
Tasya langsung bangkit setelah orgasme nya selesai dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Bimo sendirian di tempat tidur.
Setelah membersihkan sperma Bimo yang menempel ditubuhnya, Tasya keluar dari kamar mandi dan meminta Bimo segera pergi ke kamar tamu.
Tasya lalu berjalan keluar kamar untuk mengantar Bimo menuju kamar tamu, setibanya di luar kamar, bimo memegang tangan Tasya dan memojokkan tubuhnya ke dinding dan kembali melumat bibir Tasya dengan rakus, namun Tasya Terus memberontak.
Tasya: "Sudah cukup Mas" tolaknya sambil mendorong tubuh Bimo menjauh. Tasya lalu berjalan dan membukakan pintu kamar tamu.
Bimo yang masih sangat bernafsu, Manarik tangan Tasya kedalam kamar dan mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur. Kedua tangan Bimo langsung memegangi kedua tangan Tasya.
Bimo:"Kontol saya masih pengen" Bimo kembali melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Tasya terus berusaha memberontak namun ia sedikit kesulitan karena Bimo memegangi kedua tangannya dengan tangan nya yang kekar.
Bimo terus melumat bibir Tasya, berusaha membuat ia kembali terangsang. Setelah 5 menit Tasya akhirnya berhasil melepaskan diri, ia mendorong tubuh Bimo menggunakan kakinya.
Tasya langsung berlari meninggalkan kamar dan menutup pintu. Ia merasa sudah cukup untuk malam ini, ia juga takut jika sewaktu-waktu suaminya terbangun. Lalu ia berjalan menghampiri suaminya yang masih tertidur.
Tasya: "Mas, bangun Mas, pindah ke kamar yuk." ajak Tasya pada suaminya.
Rio: "Dimana Mas Bimo?" Tanya Rio pada istrinya.
Tasya: "Dia sudah tidur di kamar tamu." Jawab Tasya kemudian memapah suaminya menuju kamar.
Setelah sampai, Tasya langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam, ia takut jika bimo yang masih belum puas tiba tiba masuk ke kamarnya.
***
Bersambung...
4248Please respect copyright.PENANA3lN27N9Sae
4248Please respect copyright.PENANAkznHNvW0z4