
******
Chapter 9 :
Come Here, My Dear19Please respect copyright.PENANAOcC1kC1etG
******
19Please respect copyright.PENANA4x7LoQ4TOT
Violette:
MEGAN masih tertawa kencang.
Ah...ini memang pantas untuk dia tertawakan. Lagi pula, siapa yang akan menyangka bahwa pada akhirnya aku malah berpacaran dengan CEO yang kubenci itu? Aku juga ingin menertawakan diriku sendiri. Sialan, mengapa aku bodoh sekali? Aku mengacak rambutku dengan frustrasi, sementara Megan masih tertawa. Aku bersandar pada kepala ranjangku yang terbuat dari kayu bercat keemasan.
Namun, tiba-tiba Megan berhenti tertawa. Setelah itu, dia mendekat padaku seolah ingin membicarakan sebuah gosip hangat. "Serius, kapan kau jadian dengan CEO misterius itu?"
Aku membulatkan kedua mataku dan refleks agak menjauh dari Megan. "A—aku—mengapa kau menanyakan hal itu?! Sudahlah, Meg, itu tak penting, tolonglah," rayuku.
Megan tertawa lagi. Ia pun sedikit menjauhkan tubuhnya. Dia akhirnya berhenti tertawa dan kembali menatapku.
"Baiklah... Meskipun sebenarnya aku sangat ingin tahu," jawabnya kemudian.
Megan menatapku sembari tersenyum penuh penantian. Melihat ekspresinya yang seperti itu, aku terdiam. Mendadak aku...jadi merasa seolah aku tak menganggap keberadaannya. Megan selalu memedulikanku dan kupikir...tak baik bila aku tak menghiraukannya.
Sesaat kemudian, aku berdecak dan menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku akhirnya memilih untuk menjawabnya setelah sebelumnya meneguk ludahku dengan gugup.
"I—itu terjadi beberapa hari yang lalu, setelah aku pergi bersamanya untuk urusan bisnis dengan perusahaan milik orang lain." Well, aku tak ingin memberitahu bahwa perusahaan itu adalah perusahaan milik Martin walaupun sebenarnya Megan tak tahu sama sekali tentang masa laluku. Aku tak ingin mengungkitnya di depan Megan. Lagi pula, hitung-hitung ini adalah antisipasi juga, bukan?
Mata Megan berbinar. Aku langsung membuang muka; kurasa wajahku mulai memanas.
"Kau beruntung sekali, Vio!! AAAAA! BILA KALIAN SUDAH BERPELUKAN ATAU SE—"
Mataku memelotot dan aku langsung menutup paksa mulut Megan.
"Please, Meg, mengapa kau selalu berbicara seolah aku dan dia tidak memiliki masalah? Ya Tuhan." Aku mendengkus. Megan mengangguk dengan cepat; dia mengangkat tangannya ke atas sebagai pertanda bahwa dia menyerah. Aku melepaskannya, lalu dia menghirup oksigen sebanyak mungkin. Aku menggeleng sekaligus berdecak pelan.
"Selamat, ya? Mudah-mudahan kalian sampai ke jenjang pernikahan." Megan tersenyum padaku. Aku tercengang.
Hah?
Aku lantas meneguk ludahku. "Megan, aku belum pernah memikirkan—"
Megan menggeleng. "Tidak, Vio. Maksudku, pikirkan itu sekarang. Kau sudah seharusnya menikah. Jangan seperti aku yang masih memelototi setiap pria tampan yang lewat di depanku haha!" gelaknya.
Aku memukul pundaknya, lalu dia tertawa keras sekali.
"Dasar," ujarku. Sesaat kemudian, dia berhenti tertawa dan berdiri sembari berkacak pinggang.
"Yep, aku akan mengambilkan sarapanmu. Tunggu di sini, ya, Mrs. Alexander. Kau sepertinya demam," ujarnya, lalu sebelah tangannya memegang dahiku.
"Panas," ujarnya. Ia lantas menepuk pundakku pelan, beberapa kali. "Tunggu di sini."
Setelah itu, dia keluar dari kamarku.
Sial, aku tak sempat memprotesnya! Mengapa dia memanggilku Mrs. Alexander?! Astaga, apa-apaan? Aku benar-benar tak tahu wajahku harus ditaruh di mana!
Aku membaringkan tubuhku dan menghadap ke samping, ke arah meja riasku. Di sana ada fotoku bersama Nathan waktu kami menghadiri wedding kenalan Nathan, seorang pemilik peternakan sapi di Buffalo. Nathan memakai jas dan aku memakai gaun. Oh Tuhan, di mana Nathan?
Jika tidak ada Nathan, aku akan merasa sendirian. Biasanya, dia selalu memperhatikanku dalam diamnya; dia selalu memarahiku seakan aku adalah anak kecil. Selain dia, aku tidak punya siapa-siapa lagi.
Tanpa sadar aku air mataku jatuh. Tuhan, tolong jaga Nathan. Kuharap polisi yang dihubungi oleh Justin dapat menemukannya dengan cepat.
Mengelap air mataku, aku lantas terdiam lagi. Tiba-tiba aku kepikiran dengan apa yang Megan katakan.
Menikah?
Mengapa Megan menyuruhku untuk mulai memikirkan pernikahan? Aku rasa...ini bukanlah waktunya. Menurutku, aku belum siap. Lagi pula, dengan siapa aku akan menikah?
Shit, mengapa aku jadi memikirkan tentang pernikahan? Aku jadi seperti gadis mesum yang tak sabar untuk menikah. Astaga.
Selain itu…Megan mendoakanku agar sampai ke jenjang pernikahan dengan...Justin? Ha. Bagaimana kalau aku memang menikah dengan Justin? OOW, aku menggeleng dengan cepat. Pipiku tiba-tiba memanas. JAUHKAN PIKIRANKU DARI SEBUTAN MRS. ALEXANDER, YA TUHAN!
Tiba-tiba Megan datang dengan membawa nampan berisi bubur dan susu. Oh, sudah lama sekali aku tidak minum susu karena terlalu mementingkan pekerjaan. Meski pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang terlampau istimewa—seperti pelukis wanita jenius dan semacamnya—aku sangat menghormati pekerjaanku. Lagi pula, sekarang aku adalah seorang executive assistant. Bagiku itu adalah pekerjaan yang istimewa.
Megan duduk di samping ranjangku dan meletakkan nampan yang ia bawa itu di atas nakas. Ia mengambil mangkuk berisi bubur hangat itu, lalu meniupkan sesendok untukku. Dia mulai menyuapiku.
"Megan, kau tak perlu menyuapiku, kau tahu. Kau sudah sangat—"
Ponsel Megan tiba-tiba berdering. Nada dering teleponnya—lagu milik Ellie Goulding—menggema di kamarku. Dia agak terkejut; dia langsung meletakkan mangkuk bubur itu kembali ke nampannya, lalu pergi ke luar sembari mengeluarkan ponsel itu dari sakunya. "Tunggu sebentar, Vio."
Aku mengangguk mengerti. "Ya."
Aku menghela napas, lalu mengalihkan pandanganku ke segelas susu yang juga ada di nampan itu. Aku meraih segelas susu itu, lalu meneguknya hingga aku merasa puas. Aku menaruh gelas susu itu kembali di atas nampan dengan lega. Aku sedang mengelap bibirku ketika tiba-tiba Megan datang menghampiriku dengan tergesa-gesa dan menyodorkan ponselnya kepadaku. "VIO! That—that's Mr. Alexander! Bicaralah! Dia mencarimu!"
Mataku kontan memelotot. Justin?
"Ha? Kau bercanda," elakku. Megan membulatkan matanya dan menggeleng cepat. Dia semakin menyodorkan ponsel itu ke depan wajahku dan aku jadi ikut panik.
"SERIUS, VIO, ITU CEO KITA! YA TUHAN, SUARANYA BEGITU SEKSI! BICARALAH, VIO! SEBELUM KAU DIMAKAN OLEHNYA!" teriak Megan padaku.
Ergh... Ya, ya.
Aku melihat Megan—yang sedang mengagumi Justin itu—sebentar, lalu aku menempelkan ponsel itu ke telingaku dan mengalihkan pandanganku dari Megan.
"Ha—halo," kataku.
Mengapa seperti tidak ada kehidupan?
Aku mengernyitkan dahi. "Hal—"
"Bagaimana keadaanmu?"
Ya Tuhan, kali ini aku setuju dengan Megan. Suara rendahnya memang terdengar seksi.
Aku meneguk ludahku. "Ju—stin? Uhh—aku…aku baik-baik saja."
"Aku tak suka mendengar seorang gadis berkata bahwa dia baik-baik saja, tetapi nyatanya dia masih disuapi."
DA—DARI MANA DIA TAHU?!
"Dari mana kau tahu?! Megan memberitahumu, ya? Tidak, aku baik-baik saja, serius! Lagi pula, apakah yang membawaku pulang tadi malam itu kau?" tanyaku dengan cepat.
Sial, Megan kini menguping pembicaraanku. Aku menahan maluku demi mengetahui kebenarannya.
"Hm," deham Justin di seberang sana.
Aku tercengang. "Dari mana kau tahu di mana aku? Dasar penguntit!"
"Mengapa kau menuduhku menguntitmu? Bila kau ingin tahu, tidakkah itu lucu menemukan seorang gadis yang tengah pingsan di pinggir jalan yang sepi, terutama dia pingsan di dekat motornya sendiri? Apakah kau memilih tempat yang nyaman untuk pingsan?"
What the—
Aku. Benar-benar. Malu. SIALAN!
"HEI! AKU BAHKAN TAK TAHU KALAU AKU AKAN PINGSAN! BERHENTILAH MENGEJEKKU!" teriakku dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
"Mengapa kau tak memberitahuku bahwa Nathan menghilang?"
Aku langsung terdiam.
Pikiranku kembali kacau. Mungkin wajahku terlihat murung. Aku menggigit bibirku dan mataku mulai memanas lagi; aku ingin menangis.
"Tidak apa-apa,"jawabku, lalu aku langsung menutup sambungan telepon itu. Air mataku mulai mengalir meski aku sudah menahan tangisku. Aku tak pernah merasa sekehilangan ini sebelumnya, kecuali saat aku kehilangan kedua orangtuaku.
Justin mengetahui masa laluku karena Justin adalah teman masa kecilku sejak kami bergabung di Red Lion. Hari itu adalah hari di mana aku yang masih kecil dan kedua orangtuaku baru saja pulang dari supermarket untuk membeli berbagai keperluan rumah serta boneka beruang untukku. Namun, sebuah mobil menabrak mobil kami. Di tengah kebahagiaan itu...mobil kami jungkir balik dan menghantam aspal, lalu diakhiri dengan ledakan.
Namun, dalam keadaan itu, entah karena sebuah takdir atau kekuatan alam yang tak kumengerti, aku terlempar ke luar pada saat mobil itu akan mendarat ke aspal. Aku terguling dan sempat memiliki kesadaran sebentar sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Pihak kepolisian dan medislah yang mungkin menemukanku dan membawaku ke rumah sakit.
Setelah itu, aku hidup sendiri dan ditemukan oleh Brian. Aku masuk ke Red Lion dan tak lama kemudian aku bertemu dengan Justin. Justin saat itu benar-benar kacau (karena ia juga yatim piatu sepertiku) dan masih tak mau menuruti Brian. Namun, perlahan-lahan pria itu mau menurut walau kepribadiannya berubah menjadi sangat beku.
Sekarang, apakah Nathan juga akan meninggalkanku? Setelah akhirnya aku menemukan Pamanku yang ada di New York... Mungkin bila dari dulu aku sudah bertemu dengan Nathan, maka aku takkan pernah masuk ke organisasi Red Lion dan takkan pernah bertemu dengan Justin.
Aku menangis kencang dan Megan langsung memelukku. Megan ikut menangis. Dia sepertinya langsung tahu bahwa aku menangis karena memikirkan Nathan.
19Please respect copyright.PENANALZZTG4c7CE
******
19Please respect copyright.PENANA5fv1Zlv0Ou
Author:
Megan sudah pulang.
Siang ini, Violette hanya di rumah. Tidak mandi dan masih memakai pakaian yang sama. Penampilannya agak kusut. Wajah gadis itu pucat pasi dan ia terlihat tak bertenaga. Ia baru saja meminum air putih dari kulkas dan ia berhenti ketika mendengar nada dering ponselnya.
Violette langsung berlari ke kamarnya—mengingat ponselnya ada di dalam kamar—setelah sebelumnya menaruh kembali botol air itu ke dalam kulkas. Mungkinkah...mungkinkah itu telepon dari pihak kepolisian? Apakah ada kabar—meski sedikit saja—soal Nathan? Tuhan, semoga saja...
"Halo?!" ujar Violette tak sabar ketika ia mengangkat telepon itu. Ia tampak panik. Mata berwarna birunya terlihat melebar.
"Ms. Violette Morgan?! Kami dari Kepolisian New York."
"Iya, Pak, apakah ada kabar terbaru tentang Jonathan Morgan?!" teriak Violette panik.
"Kami ingin memberitahumu bahwa kami sudah memfilter lokasi-lokasi yang mungkin sesuai dengan deskripsi dari laporan Mr. Alexander. Kami akan berusaha untuk menemukannya secepat mungkin. Kami harap Anda bisa tenang, Ms. Morgan."
Mata Violette berair. Gadis itu merasa dadanya sesak. Ludahnya terasa sulit untuk diteguk. Gadis itu melipat bibirnya sembari menahan tangis.
"Thank you, Sir. Saya harap Anda bisa menemukan paman saya secepatnya."
"You can depend on us, Ms. Morgan," kata petugas polisi itu, kemudian sambungan telepon itu terputus.
Violette mulai meringkuk di kasurnya. Pikirannya kalut dan ia tak yakin kapan itu akan berhenti, kecuali bila Nathan kembali dengan selamat.
19Please respect copyright.PENANAjk6uWWk3jz
******
19Please respect copyright.PENANAgk8D2rPeyq
Elika tersenyum ketika berada di depan pintu yang selama ini bagai pintu menuju surga di matanya. Ia membawa berkas-berkas yang seharusnya Chief Assistant CEO kerjakan kemarin; ia mengantarkannya kembali kepada Justin. Ia tahu—bahkan sangat tahu—betapa harumnya ruangan di balik pintu dengan plang ‘Chief Executive Officer’ itu. Di bawah tulisan itu ada sebuah tulisan lagi, tulisan yang bisa membuat siapa pun yang melihatnya jadi merasa segan.
‘Justin Alexander’.
Di bawah nama itu, ada tulisan ‘Alexander Enterprises Holdings, Inc.’, yaitu nama perusahaan.
Dengan melihat pintu itu saja sudah bisa mendeskripsikan betapa menegangkannya suasana di dalam sana dan betapa berwibawanya lelaki itu.
Lelaki itu berbahaya; dia seberbahaya Azazel, tetapi semenggoda Giacomo Casanova.
Elika mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dengan pelan. Wanita itu lalu menunggu terdengarnya suara rendah dan berat yang sangat, sangat ia inginkan itu.
"Masuk."
Elika merasa jantungnya berdebar. Ia tersenyum menggoda, lalu berusaha menampilkan belahan dadanya melalui baju ketat yang ia pakai. Jika ada orang yang bilang bahwa ia tergila-gila, itu benar.
Elika tergila-gila dengan pria itu, apalagi pria itu hebat di ranjang.
Elika menutup pintu itu kembali dan menyaksikan sosok bertubuh maskulin itu duduk di kursinya.
Oh. Fuck.
Elika berjalan menghampiri Justin dan menemukan kedua bola mata berwarna lelehan emas Justin itu sedang menatap laptopnya. Elika tersenyum, lalu ia berdeham pelan.
"Sir?"
Justin berhenti sejenak, lalu pria itu menatap Elika seraya memasang ekspresi datar. "Kau sudah selesai?"
Damn. Elika ingin mencium bibir lelaki itu sekarang juga.
"Ya, Sir," ujar Elika sembari tersenyum manis. Justin mengangguk. "Terima kasih. Taruh saja berkasnya di atas meja executive assistant-ku."
Elika mulai menaruh berkas-berkas itu di atas meja Violette, lalu ia menghadap ke arah Justin.
"Apakah executive assistant Anda—maksudku Ms. Morgan…masih belum bekerja, Sir?" tanya Elika pelan.
"Hm."
Elika mengangguk. Satu detik kemudian ia tersenyum. "Kalau begitu, aku bisa me—"
"Tidak usah, Elika. Kembalilah ke ruanganmu dan fokuslah pada pekerjaanmu. Aku akan mengadakan rapat setelah jam istirahat. Beritahukan kepada semua direktur untuk hadir. Aku akan menyuruh assistant-ku yang lain untuk mengerjakan pekerjaan Violette sementara waktu."
Elika tercengang.
Gadis itu lantas mendekati meja Justin seraya mengentak lantai; matanya nyalang. "Mengapa kau sangat dingin kepadaku? Mengapa kau tak melihatku? JUSTIN, LIHAT AKU SEKARANG!!!!" teriak Elika, kemudian Justin menghela napas samar. Pria itu lantas mendongak dan menatap Elika. Ada sebuah kilat yang muncul di matanya saat itu.
"Hanya itukah yang bisa kau katakan padaku?” ujar Elika. “KAU MEMBIARKANNYA LALAI DENGAN PEKERJAANNYA! DIA SUDAH TIDAK BEKERJA SELAMA BEBERAPA HARI DAN KAU HANYA DIAM? ITU BUKAN KAU, JUSTIN!! BUKAN KAU YANG KUKENAL!! MENGAPA KAU MEMILIHNYA DAN TAK MEMILIHKU?"
Justin mendengkus samar. "Keluarlah, Elika."
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN—"
"Jangan bandingkan dirimu dengannya," potong Justin dingin. Matanya menyipit tajam.
Elika terdiam.
Ia lalu tersenyum sinis. "Kau akan sadar bahwa gadis itu hanya akan menyusahkanmu, Justin," ujar Elika, lalu ia keluar dari ruangan Justin.
Justin menyaksikan pintu ruangannya ditutup dengan kencang oleh Elika; ekspresi wajahnya masih datar.
Seharusnya ia tak perlu melibatkan Elika dalam permasalahan masa lalunya.
19Please respect copyright.PENANAMrIaZSGlvK
******
19Please respect copyright.PENANAfJIl0ozwyD
Setelah rapat selesai, Justin keluar dari ruangan rapat itu dan langsung kembali ke ruangannya. Ia mengambil sebungkus rokok, korek api, dan tas kerjanya, lalu ia keluar dari ruangannya dan mengunci pintu. Ia berjalan ke lift, lalu masuk ke lift itu dan pergi ke lantai dasar seraya menghidupkan sebatang rokoknya. Bungkus rokok sekaligus korek api itu ia masukkan lagi ke dalam saku kemeja berwarna hitamnya.
Justin mengembuskan napas berasapnya itu di dalam lift. Pria itu lalu keluar dari lift setelah terdengar bunyi 'ding'. Saat ia sudah berjalan di lobi, semua staf langsung merunduk hormat padanya. Banyak yang hampir berteriak karena kagum akan ketampanannya, tetapi mereka berusaha untuk menahan teriakan itu ketika sedang memberi salam padanya. Kini semua orang sudah tahu bagaimana tampang CEO mereka yang selama ini misterius. Selama ini, staf di lobi pun tak tahu wajah CEO mereka karena Justin tak pernah diikuti oleh pengawal saat ia masuk atau keluar dari perusahaan. Ternyata…sosok pria tampan yang lewat di lobi hampir setiap pagi dan sore itu adalah CEO mereka.
Justin hanya menanggapi mereka dengan senyum tipis atau anggukan, lalu pria itu keluar dari kantor perusahaan—yang hampir memiliki 100 lantai itu—dan mencari mobilnya di tempat parkir. Tadi pagi, dia menggunakan Mercedes-Maybach Exelero-nya, bukan Bugatti Chiron yang ia pakai beberapa hari belakangan.
Justin masuk ke mobilnya, lalu ia meletakkan tasnya di jok samping pengemudi. Pria itu melonggarkan dasinya, melepas jasnya, lalu menarik batang rokok dari mulutnya dan mematikan rokok itu di asbak yang ada di atas dashboard.
Alih-alih menghidupkan mobilnya, Justin malah mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Belum dijawab, memang. Selama Justin menunggu telepon itu diangkat, ia pun menghidupkan mesin mobilnya. Sebuah suara terdengar ketika Justin mulai mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
"Justin," ujar gadis di seberang sana, baru saja mengangkat panggilan dari Justin. Gadis itu terdengar agak cemas. "maaf soal tadi pagi, ya. Sebenarnya, kemarin aku bukannya tak mau memberitahumu, aku hanya tak ingin kau berbuat sesuatu untukku ketika mendengar Nathan hilang. Itu berbahaya dan akan berpotensi membongkar rahasia kita. Jadi, aku memilih untuk merahasiakan—"
"Mengapa kau percaya diri sekali bahwa aku akan melakukan sesuatu untukmu?" potong Justin.
Gadis itu, Violette, langsung berteriak, "JUSTIN!!!"
Justin tersenyum miring. "Yah, setidaknya aku akan melakukan sesuatu untuk Nathan, bukan untukmu."
“FINE!” teriak Violette. “TERSERAHMU SAJA, MR. ALEXANDER! YA TUHANKU, AMPUNI AKU, MENGAPA AKU MEMILIKI CEO YANG SEMENYEBALKAN INI...”
"Berikan padaku nomor ponsel orang yang menghubungimu dan menyekap Nathan," ujar Justin ketika membelokkan mobilnya. "Aku akan mencoba untuk mencarinya."
"JUSTIN—KAU TAHU MEREKA MENGHUBUNGIKU? BAGAIMANA MUNGKIN—"
Justin bernapas samar. "Berikan sekarang, Vio. Jangan mengulur waktu ataupun membantahku."
"Iya, tetapi kumohon, Justin, kumohon jangan lakukan apa pun yang menunjukkan bahwa kau adalah mantan anggota Red Lion. Kumohon, itu bisa membahayakan dirimu sendiri. Kita bisa-bisa—"
"Aku tahu. Berikan itu padaku," potong Justin dingin. “Nomor itu juga akan kuberikan kepada polisi.”
"B—baiklah," ujar Violette, lalu sambungan telepon itu terputus. Justin masih fokus menatap jalanan. Tak sampai satu menit, datanglah sebuah pesan yang dikirim oleh Violette.
19Please respect copyright.PENANAszPYVZUsTo
From: Violette
Ini, Sir: +1-646-348-0032
19Please respect copyright.PENANAvuFLSoUF4T
Justin membalasnya.
19Please respect copyright.PENANA6vyPPsrUjw
To: Violette
Okay.
Don't forget to eat, Vio. I’ll go to your house tonight.
19Please respect copyright.PENANA93AIvMBLJH
From: Violette
HA? :O
KAU TIDAK SERIUS, ‘KAN?
19Please respect copyright.PENANAtyjCSbLBca
Justin tidak membalasnya lagi. Pria itu meletakkan ponselnya di atas dashboard, lalu mulai berkendara dengan kecepatan penuh; mobilnya membelah jalanan sore yang sedikit basah karena gerimis sekitar setengah jam yang lalu.
Justin ingat perkataan Violette tentang suara ayunan, suara yang bergema, dan lain-lain. Dari semua clue itu, Justin mencoba untuk mengunjungi tempat yang paling mungkin. Bisa jadi, polisi juga telah menyelidiki tempat itu.
Namun, ketika Justin sampai di tempat itu, yang ia temukan hanyalah satu.
Kekosongan.
19Please respect copyright.PENANAUZ3X1XoL5U
******
19Please respect copyright.PENANAHraOnrRoQP
Violette mendongak, menatap langit dari balkon kamarnya; ia duduk di salah satu kursi yang ada di ujung balkon. Lampu kamarnya tidak ia hidupkan, hanya pancaran sinar dari layar laptopnyalah yang sedikit menerangi suasana saat itu. Balkonnya juga gelap. Tidak ada bintang malam ini, rumah Violette juga sedikit jauh dari rumah tetangganya. Jadi, tidak ada lampu dari rumah tetangga yang membantu menerangi balkonnya. Malam itu, di rumahnya hanya ada dirinya seorang.
Violette sering bernyanyi untuk menghibur dirinya sendiri. Baik itu saat sedih atau bosan, ia sering duduk di balkon hanya untuk bernyanyi sembari memainkan gitarnya, seperti saat ini.
Baru saja Violette ingin memetik senar gitar yang ada di pelukannya, ponselnya berbunyi. Violette mengambil ponsel itu dari sakunya dan ternyata ada sebuah pesan masuk.
19Please respect copyright.PENANAQTqEW5fIUr
From: +1-646-348-0032
Kau hanyalah mainan bagi Justin.
Dia itu seorang bajingan dan aku yakin kau tahu itu, Lady Morgan.
19Please respect copyright.PENANAdA6GcjAPCX
Violette menggertakkan giginya dan menatap pesan itu dengan penuh kebencian. Namun, akhirnya gadis itu menggeleng dan memasukkan ponsel itu kembali ke sakunya.
Violette mulai memainkan gitarnya.
19Please respect copyright.PENANAmqPLXStXSR
I've forgotten how long it has happened
Since I've never again
Listened to you telling your beloved fairytale
I've thought for a long time
I start to panic
Have I done something wrong?
19Please respect copyright.PENANAvi8uAFqSTz
Violette berhenti ketika ada setetes air mata yang jatuh ke pipinya. Ah! Dia bahkan tak sadar kapan air mata itu jatuh. Dengan cepat, Violette menghapus air matanya itu dan menggeleng. Berusaha untuk rileks, gadis itu lantas kembali berencana untuk memetik senar gitarnya.
19Please respect copyright.PENANAp1rq6eZPuu
"Mengapa berhenti?"
19Please respect copyright.PENANA0GRHXcvqfE
...ujar seseorang, terdengar seperti suara yang rendah, berat, dan dingin dari seorang pria. Violette langsung menoleh ke pintu balkon; matanya terbelalak ketika menyadari siapa pemilik suara itu.
“JUSTIN?!!!!!! KAU—"
"Aku sudah bilang aku akan kemari, Nona."
Violette sontak teringat pesan dari Justin tadi sore, lalu ia menggaruk tengkuknya. "Ah...ya...Sir."
Justin mendekati Violette dan duduk di kursi yang satu lagi, di samping kiri Violette. Mata Violette membulat ketika tiba-tiba Justin mengambil gitar itu dari pelukan Violette.
"Itu lagu yang romantis, terjemahan bahasa Mandarin," ujar Justin lembut. Justin bernapas samar. "tetapi ada kunci yang salah kau gunakan. Kau harus berkonsentrasi, jangan menangis dan memikirkan apa pun."
Justin lagi-lagi tahu apa yang Violette lakukan.
"Sejak kapan kau ada di pintu balkonku?!! Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?!!" teriak Violette, menutupi rasa malunya.
Justin mendengkus.
"Sejak nyanyianmu belum terdengar," jawab Justin. “Aku bisa masuk ke sini karena aku sudah pernah datang ke sini. Aku bisa menduplikat kuncimu, tentu saja.”
HECK. APA?! KAPAN IA MENDUPLIKATNYA?
Violette terbatuk dan pipinya merona seketika. Sialan sekali Justin ini.
Violette kembali menanyai Justin, "Mengapa kau selalu melakukan hal yang tak bisa kuduga? Selain itu, mengapa kau—ergh! KAU SANGAT SUSAH DITEBAK DAN AKU HERAN MENGAPA YANG TERLAHIR KE DUNIA ITU KAU, BUKAN TEKA-TEKI SILANG."
Namun, sialnya semua omelan Violette tak dihiraukan oleh Justin. Justru itu semua terpotong dengan suara Justin yang berpadu dengan melodi gitar, menyanyikan sambungan lagu yang tadi Violette nyanyikan. Mata Violette kontan terbelalak; Violette menatap Justin dengan terkejut. Suara Justin...benar-benar indah. Suara pria itu sangat bagus...
Ini adalah pertama kalinya Violette mendengar Justin bernyanyi.
19Please respect copyright.PENANAfSX8ELiVhI
You said to me with full of tears,
Inside the fairytale are all lies.
I can't possibly be your prince,
Maybe you can ever understand.
You said I love you ever after,
The stars in my sky has lightened up.
19Please respect copyright.PENANA3D88nOu7Xb
I'm willing to be,
That angel you love inside the fairytale.
Spread up my hands,
Become the wings to protect you,
You must believe, believe that we can be like that in the fairytale.
Prosperity and happiness in the ending...
19Please respect copyright.PENANAksadiAmBI4
"Terpana dengan apa yang kau lihat, hm?"
Violette terperanjat, mata gadis itu langsung membulat. "HEI!!!! TIDAK!"
Justin tersenyum. Walau di antara kegelapan...entah mengapa Violette bisa melihatnya dengan jelas. Violette bisa melihat dengan jelas bahwa senyuman Justin saat itu adalah senyum yang sangat manis.
Dia tersenyum!
Justin...untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu berlalu...
Violette nyaris lupa bernapas. Itu...adalah senyuman yang benar-benar indah.
"Let's go to your bed, Vio. You should sleep."
Justin lantas menarik tangan Violette hingga membuat Violette yang masih sungkan berdiri itu merasa terkejut dan melebarkan matanya. Justin membawa Violette; pria itu berjalan agak cepat dan mendudukkan Violette di ranjang milik gadis itu. Setelah itu, Justin menaruh gitar Violette di samping meja rias Violette.
Justin mulai menutup pintu balkon. Pria bertubuh maskulin itu lalu menarik dasinya dan menaruh benda itu di atas meja rias Violette.
Justin mendekati Violette lagi. Ia berdiri di samping kasur Violette, berhadapan dengan Violette yang masih duduk di kasur kecilnya yang hanya cukup untuk satu orang. Sembari membuka satu kancing bagian atas kemejanya, Justin langsung mengangkat sebelah alisnya ketika melihat mata Violette yang tiba-tiba memelotot.
"APA YANG MAU KAU LAKUKAN, HAH?!!! OH GOD!" Violette langsung mengalihkan pandangannya dari Justin.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu? Masih bodoh seperti biasanya," ujar Justin, nadanya datar.
"DIAMLAH, JUSTIN! KAU BENAR-BENAR—APA MAKSUDMU MEMBUKA BAJUMU DI SINI??!!!"
"Alasan apa yang kira-kira ingin kau dengar, hmm?" Justin memiringkan kepalanya seraya tersenyum miring.
Violette menganga. " MR. CEO YANG TERHORMAT, KAU KENAPA, SIH?!! HENTIKAN!!"
"Justru kaulah yang kenapa. Lihat baik-baik,” ujar Justin.
Eh?! Apa maksudnya itu?
Mengedipkan matanya beberapa kali, Violette akhirnya merasa penasaran. Berarti ada yang salah dengan reaksinya hingga membuat Justin berkata seperti itu?
Akhirnya, Violette perlahan-lahan berbalik. Menoleh kepada Justin kembali.
…dan ternyata Justin tidak membuka pakaiannya. Pria itu hanya membuka satu kancing kemejanya.
Pipi Violette merona; ia malu dan langsung membuang muka. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Kata-kata 'Matilah aku' terus terucap di kepalanya.
"Jadi, Ms. Morgan, apa kau belum mau tidur?” tanya Justin.
Pelan-pelan—dengan rasa malu—Violette pun menoleh kepada Justin lagi. “A—aku…”
“Aku ingin kau tidur di lantai bersamaku," ujar Justin sembari mulai duduk di lantai, di samping kasur Violette. Dia berselonjor di sana.
"TIDAK, TERIMA KASIH!” teriak Violette panik. “TERIMA KASIH ATAS TAWARANMU, SIR! DAN—APA?! KAU TIDUR DI SINI?"
"Ya," jawab Justin singkat.
Violette melebarkan matanya.
"Mengapa?!!! Rumahmu lebih luas!! Kamarku panas dan aku—aku tak bisa tidur jika kau ada di sini!! Ya Tuhan," keluh Violette.
"Apa kau sering terbangun di malam hari, Violette?" tanya Justin. Dia mengabaikan Violette lagi, astaga.
Akhirnya, Violette menghela napas. "Ya, terkadang."
“Kalau begitu, tidurlah bersamaku di lantai,” ujar Justin sembari menatap Violette dengan tajam.
Mendadak wajah Violette memerah lagi. Gadis itu merasa jantungnya seolah jatuh ke perut. "Tidak, terima kasih, Sir! Aku berjanji aku takkan mimpi buruk! Aku tidur sekarang, Sir, good night!" ucap Violette dengan panik. Gadis itu langsung berbaring di kasurnya dengan posisi membelakangi Justin—menyamping—dan mengubur dirinya di dalam selimut.
Tak lama kemudian, Justin berbaring di lantai itu. Tidak ada bantal yang pria itu gunakan, tetapi mungkin karena lelah, pria bertubuh maskulin itu pun tertidur di sana.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Violette tiba-tiba terbangun dengan keringat di pelipisnya; ia terbangun karena memimpikan sesuatu. Namun, ia tidak berteriak. Ia bermimpi tentang masa kecilnya lagi. Tentang kecelakaan itu.
Dengan gemetar, Violette mulai bergerak ke pinggir dan akhirnya turun dari kasur. Gadis itu lantas mengguncangkan tubuh Justin meski tangannya masih gemetar. Violette ingin Justin terbangun dan menemaninya. Demi Tuhan, apa yang telah terjadi padanya seharian ini? Ini pasti karena Nathan...
Akhirnya, Justin membuka matanya. Violette menghela napas; ia benar-benar bersyukur. Setelah itu, Violette berkata dengan lirih, "Ju—stin...aku… Tolong temani aku..."
Justin menghela napas samar. Pria dengan tubuh berotot yang tercetak jelas di balik kemeja tak rapinya itu langsung mengulurkan tangannya ke belakang leher Violette dan menarik Violette ke dalam pelukannya.
“Dasar nona keras kepala. Kemarilah.”
Oleh karena itu, Violette kini jadi berbaring di samping Justin. Gadis itu berada di dalam pelukan Justin yang tubuhnya cukup untuk melingkupi seluruh tubuh Violette.
19Please respect copyright.PENANAqQO70Lywhc
******
19Please respect copyright.PENANAmpgQEROlCw
Violette:
"Justin, bisakah kau berhenti menggandengku seperti ini? Kau tahu, kau seperti seorang ayah yang habis marah dengan anaknya yang barusan bermain di parit, lalu membawanya pulang dengan kesal. Lagi pula, apa kau tak malu? SEMUA ORANG MELIHAT KE SINI!!! Aku seperti parasit yang menempel di tubuhmu dan mereka tak ingin melihat itu, astaga," ocehku pada Justin yang berjalan di depanku.
Justin menghela napas samar. "Kau selalu tak bisa diam tiap kali aku melihatmu."
"KAULAH YANG MEMBUATKU TAK BISA DIAM!!! OH, GOD, HELP ME..." Aku merengek.
Justin hanya diam. Aku tahu kalau semua orang di lobby tengah menatap kami sembari berbisik-bisik. Mereka terkagum-kagum pada kami—oh, maksudku terkagum-kagum pada Justin. Mereka mungkin berbisik-bisik karena mereka heran dengan adanya diriku di samping Justin. Namun, sepertinya ini sudah berkali-kali terjadi dan aku yakin mereka pasti sudah tahu soal hubunganku dengan Justin.
Damn, Violette, hentikan analisis yang memalukan ini.
Sungguh, aku sangat malu tatkala memikirkan tentang hubungan kami...dan aku selalu merasa tak menyangka. Justin ini memiliki banyak wanita yang mengaguminya. Lagi pula, ada juga rumor yang mengatakan bahwa dia itu...bajingan, 'kan? Jadi, mengapa dia malah…oh, lupakanlah.
Ketika kami baru akan sampai di lift, aku melihat Megan lewat. Dia tampaknya ingin pergi ke meja resepsionis. Dia pergi ke arah yang berlawanan, tetapi posisinya agak jauh di ujung sana...dan dia bersiul mengejekku! Sialan!
Oh, please, Meg!Hentikan!
Ketika sampai di lift, aku dan Justin sama-sama diam. Justin akan selalu seperti itu, sebelum kau menampar wajahnya dengan kuali berbahan aluminium di dapurmu. Namun, Justin sejujurnya memang...lebih cocok dengan karakter itu. Aku justru akan merasa aneh jika dia tiba-tiba bersikap baik dan hangat. Soalnya, rasanya itu seperti bukan Justin.
Ketika sudah sampai di dalam ruangan CEO, dia mulai melepaskan genggaman tangannya dan aku langsung menutup pintu ruangan itu. Dia langsung duduk di kursinya setelah sebelumnya meletakkan tasnya di atas sofa.
Pria itu duduk dan mulai membuka laptopnya. Aku masih berjalan ke mejaku ketika dia berkata dengan dingin padaku, "Sebentar lagi assistant-ku akan datang membawa berkas yang seharusnya kau kerjakan kemarin. Ambil itu darinya, lalu selesaikanlah semua hal yang harus kau selesaikan hari ini." Justin memberi jeda sejenak. Aku duduk dan meletakkan tasku di atas meja ketika akhirnya dia melanjutkan, "Nanti ada rapat dan kau harus ikut bersamaku. Jangan pulang lebih awal dariku."
Yeah..itu memang pekerjaanku, ‘kan? Lagi pula, aku tak bisa kabur karena aku tak membawa motorku. Motorku ditinggal di rumah karena hari ini aku berangkat dari rumah bersama Justin.
Aku lantas mengangguk, lalu menjawab, “Baiklah, Sir.” []
19Please respect copyright.PENANAC6ljPnoSjG