
******
Bab 1 :
138Please respect copyright.PENANAJy9hYLyAUd
"BAAANGG!" teriak Talitha, suaranya terdengar menggelegar dari depan rumah. "Bang Gavin! Astagaaa bang, ntar gue terlambat kuliah, nih!"
Berkali-kali Talitha mengecek jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya, gadis itu mengembuskan napasnya dengan tak sabaran seperti orang yang baru saja melakukan push-up. Matanya melihat berkali-kali ke dalam rumah, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa kakak laki-lakinya itu akan keluar. Talitha yang berdiri di depan di pintu rumahnya itu menganga lebar ketika jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan. Dia ada kelas di jam setengah sembilan hari ini! Niatnya, sebelum jam delapan, dia akan pergi bersama Basuki ke rumah tantenya Basuki yang baru pulang dari Yogyakarta. Sumpah! Lenyap sudah harapan ingin berebut oleh-oleh. Talitha jadi mengerang hebat.
"Baaaangg!! Ampun dah. Dosennya killer, neh! Bang, lo itu mandi atau ngeram, sih, di kamar mandi?! Putus sudah harapan..."
"Heh! Putus patas putus! Apanya yang putus?!" Gavin dengan seragam kantornya sudah muncul di dekat Talitha, membuat Talitha tersentak. Talitha lalu mendongak; matanya memelototi Gavin.
"Ha! Tuh, dia udah selesai!" teriak Talitha sembari menunjuk Gavin dengan jari telunjuknya.
Gavin hanya melewati Talitha. "Lo tuh kenapa, sih, Ta? Diem aja ngapa coba? Dah tau abangnya lagi mandi tadi," ujar Gavin, dia tahu Talitha mengikutinya dari belakang. Gavin berjalan ke garasi dan mulai masuk ke mobilnya.
Talitha ikut masuk sembari mencibir. "Itu mandi apanya yang digosok? Masa mandi lamanya minta ampun."
Mata Gavin memelotot, dia menghadap ke arah Talitha yang baru saja menutup pintu mobil. Gadis itu sedang memasang seat-belt. "ITA!! Apa maksud lo?! Ini masih pagi, Dek, jangan buat gue emosi! Ampun, punya adek kok..."
Talitha mengangkat alisnya sembari menghadap ke arah Gavin. Menatap Gavin yang sama sekali tidak seru untuk diajak berkelahi pagi ini. Talitha langsung menghadap ke depan kembali. "Halah, Bang... Udah, sih, yang terlambat itu gue! Sumpah, ini udah jam delapan, Bang! Delapan!"
Gavin memutar matanya, kemudian ia menghadap ke depan. Ia memilih untuk menghidupkan mesin mobilnya, kemudian keluar dari garasi dan akhirnya keluar dari pagar rumah itu. Gavin sempat turun dari mobilnya untuk menutup pagar rumah kembali sebelum akhirnya dia masuk kembali ke mobil.
Gavin mengendarai mobilnya dengan cepat karena mengetahui bahwa ini sudah jam delapan. Dia sempat mengecek jam tangannya setelah Talitha berkata bahwa sekarang sudah jam delapan.
Talitha menatap Gavin, dia gelisah, tetapi dia mencoba untuk tenang karena dia tahu bahwa kegelisahannya itu akan mengacaukan konsentrasi Gavin yang sedang mengemudi.
"Bang, emang lo ngapain tadi malem? Kok bisa telat bangun gitu? Nggak biasanya," ujar Talitha.
Gavin menatap Talitha sekilas, kemudian kembali fokus ke depan. "Gue capek banget. Semalem lembur karena kerjaan kayaknya jadi nge-double."
Talitha mengernyitkan dahi. "Nge-double?"
"Iya. Bos Besar sakit dan kayaknya nggak bisa masuk kerja lagi. Belum ada penggantinya juga. Jadi, para direktur lainlah yang bantu ngerjain untuk sementara dan alhasil kami para bawahannya juga jadi kena imbasnya. Tugas kami jadi lebih banyak. Katanya, sih, hari ini bos baru atau direktur utama penggantinya bakal dateng."
Talitha mengangguk-angguk, tetapi anehnya dia menatap Gavin dengan mata yang membulat ‘sok’ polos. Seperti orang bodoh. "Ooh... Kasian banget, ya, Bang. Setau gue lo pernah bilang kalo direktur di sana udah pada punya istri... Berarti, istrinya makin sering ditinggal suaminya, yak?"
Gavin langsung menganga; pria itu lantas menatap adiknya dengan mata yang melebar. "Ya ampun, Dek! Jadi, dari tadi lo fokus ke situ, ya? Sumpah, nih anak gila banget, ya Tuhan..."
"Wakakakakak!" Talitha tertawa terbahak-bahak, gadis itu menghadap ke depan dan memegangi perutnya. Gavin menggeleng, mencoba untuk fokus kembali ke jalanan yang ada di depannya, tetapi ia tetap meladeni tawa gila Talitha.
Akhirnya, Talitha berhenti tertawa. Namun, gadis itu masih memegangi perutnya. "Tapi, Bang, siapa pengganti direktur utamanya? Anaknya? Atau mungkin orang lain gitu?"
"Ntah. Katanya, sih...yang nerusin itu anak dari Bos Besar."
"Oh. Lo pernah liat, Bang?" tanya Talitha lagi. Gavin mengedikkan bahu. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya.
"Nggak. Gue nggak pernah liat. Yah, kalo gue, sih, nggak masalah siapa pun orangnya. Asalkan perusahaan tetep maju. Hm...tapi kalo ga salah...katanya lagi, nih, ya, anak dari Bos Besar itu pindahan dari Taiwan. Ah, nggak tau gue ah."
Talitha melebarkan matanya. "Dari Taiwan? Wuih mantep! Pasti berkarisma banget, tuh! Dia punya istri, ya, Bang?"
Mata Gavin langsung memelototi Talitha. "Ita, plis. Pikiran lo tuh dijaga dikit napa, Dek."
"Yee Abang mah! Makanya, jangan jomblo terus! Kalo Abang nggak jomblo, pasti ngerti, tuh, apa artinya seorang istri bhahaha!"
Gavin menjewer telinga Talitha, membuat Talitha mengerang kencang. "Ampun nggak lo, hah? Ampun nggak?"
"Aaaaaaah—aah!! Iya, Bang, iya, ampun—sumpah ampun, Bang—aaaakk! Ampun!!! Bang!!"
Akhirnya, Gavin melepas telinga Talitha, menyisakan Talitha yang kini tengah mengusap telinganya yang memerah.
Gavin mendengkus. "Lagian, kayak lo nggak jomblo aja," ejek Gavin.
Talitha menatap Gavin dan cengar-cengir. "Kalo gue beda, Bang. Jomblo, tapi kece. Udah jadi Hukum Kekekalan Alam."
"Astaga, apaan tuh? Baru dengar gue." Gavin tertawa. "Pokoknya, kalo lo pacaran harus lapor ke gue."
"Siskamling baru, nih. Lapor 24 jam." Talitha menggeleng. Menyadari bahwa Gavin tetap saja seperti biasa, overprotective.
"Hahahaha!" Tawa Gavin terdengar membahana di dalam mobil. Setelah tertawa, Gavin pun mempercepat mobilnya.
Talitha juga diam, canda tawa dengan Gavin membuatnya melupakan kegelisahannya karena terlambat. Mendadak dia melupakan sejenak masalah oleh-oleh dari tantenya Basuki beserta masalah dosen killer yang akan masuk ke kelasnya pagi ini.
Mobil tetap berjalan, tetapi kali ini ada masalah baru.
Macet.
Ini memang terlalu buruk. Macetnya Jakarta, kepulan asap knalpot dan panasnya mentari pagi ini sudah melengkapi penderitaan Gavin dan Talitha. Sudah setengah jam mereka terjebak di jalan, belum juga ada tanda-tanda macet akan berkurang. Tidak ada celah. Ini sudah jam delapan lewat 45 menit. Memilih untuk ke luar jam segini memang sama saja dengan bunuh diri jika kau tinggal di Jakarta. Talitha bahkan sudah tak semangat lagi untuk mengikuti dua jam pertama mata kuliah hari ini. Sudahlah, pasrah saja.
"Ta, gimana, nih?" tanya Gavin tiba-tiba, setelah hanya suara napas merekalah yang sedari tadi mengisi keheningan di dalam mobil. Talitha menghela napas.
"Udah, deh, Bang. Ya terpaksa ga ikut. Ikut mata kuliah kedua aja jam dua belas nanti, daripada terlambat."
"Lho, kok gitu, sih, Dek? Pokoknya lo harus giat kalo kuliah!"
Talitha mengernyitkan dahi. "Nahloh, yang bikin terlambat siapa coba?"
"Iya iya, gue minta maaf," ujar Gavin sembari mendengkus. "tapi lo mau ngapain aja ntar nunggu sampe jam dua belas? Nggak kering apa nunggu segitu lama?"
"Nggak kering, mungkin berkerak. Ya tapi gue mau ke rumah tantenya Basuki aja heheh. Dia bawa oleh-oleh dari Yogya." Talitha tersenyum lebar kepada Gavin. Gavin mendorong pelan kepala gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Makan aja yang lo pikirin, Dek! Perasaan tadi udah sarapan, masa mau ngembat oleh-oleh Tante Fera lagi? Udah sarapan belom, sih, sebenernya?"
"Belom. Belom lima kali." Talitha tertawa keras.
"Dasar kurang ajar nih anak... Bocah tengil!" Gavin menggeleng seraya tergelak.
Menyadari bahwa macetnya sudah mulai berkurang, Gavin langsung mencoba untuk menjalankan mobilnya dan akhirnya, Gavin sampai di Universitas Indonesia—tempat Talitha kuliah—pada jam sembilan. Talitha turun dari mobil setelah pamit dengan Gavin. Gavin menghela napas dan mulai memutar balik mobilnya. Setelah itu, Gavin pun melirik jam tangannya.
"Sial, gue ada rapat setengah jam lagi!" umpatnya.
138Please respect copyright.PENANAQW5sntG6nF
******
138Please respect copyright.PENANAJIlpvaxwP0
Gavin melangkah dengan langkah lebar ke depan pintu elegan berdaun dua di depannya—dia nyaris berlari—sembari merapikan dasinya. Ketika sudah sampai di depan pintu itu, Gavin pun berhenti dan berusaha untuk mempersiapkan dirinya. Dia menarik napas dalam. Seluruh kubikel yang ada di direksi pengembangan sudah kosong, jadi dia langsung mengambil kesimpulan bahwa rapat sudah dimulai. Dia memang panik karena kali ini rapat itu dihadiri oleh bos baru, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Gavin mengembuskan napasnya dengan kuat lewat mulut dan akhirnya ia membuka pintu ruangan yang ada di depannya.
Bertepatan dengan terbukanya pintu itu, terlihat pulalah oleh Gavin semua rekan kerja dari direksinya dan dari direksi lain. Dia adalah seorang ketua direksi pengembangan dan dia terlambat! Sial.
Gavin masuk dan menutup pintu itu kembali. Dia langsung menatap ke depan, ke tempat berdirinya calon Bos Besar nanti, tetapi di sana tidak ada orang. Hanya pasang mata dari seluruh direktur lain, ketua direksi, dan seluruh karyawan yang ada di Abraham Groups ini.
Gavin merunduk hormat tatkala dia sudah sampai di barisan direktur. Dia melakukan itu dengan penuh penyesalan. "Maafkan saya, Pak. Saya terlambat."
Ada beberapa direktur yang menatapnya dengan sinis, tetapi ada juga yang mengangguk.
"Ya, cepatlah duduk. Direktur utama kita belum datang. Jangan melakukan hal yang sama lagi."
"Baik, Pak," jawab Gavin, dia lalu menunduk singkat. Gavin langsung berjalan dengan langkah lebar ke barisan ketua-ketua direksi dan dia disambut oleh Revan. Rupanya Revan menyiapkan sebuah kursi untuknya, tepat di samping pria itu.
Ketika Gavin berhasil duduk dan mengeluarkan napasnya dari mulut—karena gugup—Revan pun menepuk pundaknya. Pria berusia 28 tahun yang menjabat sebagai ketua direksi pemasaran itu mulai berbicara kepada Gavin, "Heh, Nyet. Dari mana aja lo?"
"Nggak dari mana-mana, Nyet," jawab Gavin, ia menoleh kepada Revan. "Gue abis nganter si Ita. Guenya, sih, yang kesiangan. Parah macetnya."
Revan menganga, pria itu hampir tertawa. "Dih, keliatan bener kalo lo nggak pernah keluar di jam-jam telat gitu. Ya, deh, yang anak teladan! Bhahaha!" Revan tertawa, tetapi tidak keras. Dia masih tahu diri bahwa mereka kini sedang duduk di ruangan rapat besar. Nyaris seluruh karyawan Abraham Groups ada di ruangan ini! Bayangkan betapa besarnya ruangan ini. Seperti stadion, tetapi tidak melingkar dan yah...tidak juga seperti panggung untuk anak band.
"Sialan lo." Gavin berdecak. Revan terkikik geli. Si playboy itu kemudian kembali menepuk pundak Gavin. "Ita emang nggak bangunin lo, ya? Ya emang, sih, akhir-akhir ini kerjaan numpuk banget. Untung udah ada pengganti untuk Dirut."
Revan dan Ita memang sudah saling kenal, soalnya Revan adalah sahabat Gavin yang lebih gila dari Gavin. Revan sering bermain ke rumah Gavin yang membuat Revan sudah seperti anggota keluarga Gavin.
Gavin mengangguk. "Ita mana mau bangunin gue. Wong biasanya juga gue yang bangunin tuh bocah kunyuk."
Revan tertawa terbahak-bahak. "Tuh anak emang adek yang paling ajaib."
"Kampret lo, Nyet. Itu Adek gue lo bilang ajaib maksud lo apa, hah?"
Revan tetap tertawa keras, tetapi hanya bisa didengar oleh kumpulan ketua direksi.
Beberapa saat kemudian, pintu berdaun dua yang berada jauh di depan sana itu terbuka. Dari sana keluarlah seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan sontak semua orang (termasuk para direktur) mulai berdiri dan menyambutnya dengan hormat.
Gavin juga berdiri dan dia melihat laki-laki itu masuk dengan dibuntuti oleh seorang perempuan yang sepertinya adalah asistennya. Laki-laki itu kelihatan masih muda, sungguh muda. Namun, tubuhnya sangat sempurna, jauh lebih tinggi dan lebih berotot daripada Gavin. Dari jauh Gavin dapat melihat bahwa laki-laki itu memiliki perawakan yang tegap. Bila dilihat dari situasinya, sepertinya…lelaki itulah bos baru mereka. Direktur utama baru mereka.
138Please respect copyright.PENANAMBSdJkHW4v
"Selamat pagi."
138Please respect copyright.PENANAF8rr6gSEws
"Selamat pagi, Pak." Semua orang menjawab, tetapi tidak terlalu serentak karena tentu saja bukan dibuat-buat. Sepertinya, orang itu tidak terlalu mahir berbahasa Indonesia. Pengucapannya terdengar sedikit…berbeda. Jadi, rumor itu benar? Apakah rumor bahwa orang itu adalah anak dari dirut sebelumnya itu...benar juga?
Semua orang akhirnya kembali duduk.
"Okay... Baiklah, langsung kita mulai saja pertemuan hari ini. Perkenalkan, nama saya Deon. Marco Deon Abraham. Mulai sekarang saya akan menjabat sebagai direktur utama di Abraham Groups ini. Saya mohon bantuan dan kerja sama Bapak dan Ibu semua untuk kemajuan perusahaan ini. Saya akan melakukan yang terbaik dan mencoba untuk membangun kekeluargaan yang erat di dalam perusahaan."
Gavin mengangguk, menyadari bahwa karyawan-karyawan yang lain juga sudah mengerti. Rumor itu ternyata benar. Nama belakang Abraham sudah membuktikan bahwa lelaki tampan yang berdiri di depan sana, di balik podium itu, adalah anak dari Pak Abraham, dirut sebelumnya.
138Please respect copyright.PENANAJyVvlc5IHx
Kurang apa lagi tuh anak, pikir Gavin.
138Please respect copyright.PENANA5cme3ZNs4x
"Pada rapat hari ini, ada beberapa hal yang akan saya bahas. Saya akan membahas apa rencana dan kebijakan perusahaan yang telah saya tetapkan dan tentu saja ini berdasarkan pertimbangan direktur utama sebelumnya. Ada beberapa perubahan yang mencolok dan ada juga yang tidak, tetapi ini semua dilakukan untuk kemajuan perusahaan. Seperti yang kita ketahui, khususnya kepada bapak-bapak direktur sekalian, kini perusahaan otomotif kita..."
Gavin mulai mendengarkan presentasi direktur utama itu di depan sana, tepat setelah direktur utama itu memperkenalkan diri.
Setelah beberapa saat mendengarkan presentasi itu, Gavin jadi mendapatkan satu kesimpulan penting, yaitu orang yang bernama Marco Deon Abraham itu jauh, jauh lebih tegas dan adikuasa dibandingkan ayahnya, Pak Abraham.
Gavin yakin, direktur utama itu pasti lebih muda darinya. Demi celana dalam Revan, ini menyebalkan sekali saat kau mengetahui bahwa ada orang yang lebih muda darimu, tetapi jauh lebih sukses.
138Please respect copyright.PENANA52iws26U1C
******
138Please respect copyright.PENANAcIjn6iYWy8
"ITAAAAA!!! YA AMPUN CAYANGKUU, LO KE MANA AJAAHH?!!" teriak Basuki, memecah gendang telinga semua orang yang lewat di koridor kampus saat itu. Talitha langsung memberi tatapan nih-anak- enaknya-dibunuh pada Basuki.
Sesampainya di dekat Talitha yang sedang duduk dengan pose melamun di salah satu kursi yang entah mengapa ada di depan kelas Ekonomi, Basuki langsung memeluknya dengan dramatis. Entah mengapa Talitha sampai menyasar jauh ke Fakultas Ekonomi, padahal dia adalah anak Fakultas Teknik. Jurusannya adalah Teknik Sipil.
Talitha menganga, tetapi dengan ekspresi wajah yang datar sedatar-datarnya, sampai akhirnya Basuki melepaskan pelukan gila itu. "Lo ke mana aja sih, Cyiiinn!! Kangen guee! Aaahh, tega lo. Aku mah apa atuh..."
"Sumpah, ngapa ada dangdut masuk di kalimat lo? Lo cowok apa cewek, sih, Bas? Sampe kapan, sih, lo mau jadi bencong terus?"
"Biarin dah," ucap Basuki seraya menjulurkan lidahnya di depan Talitha. Talitha menganga sampai akhirnya ekspresi wajah Basuki berubah. Si bencong itu tiba-tiba jadi sok berkuasa. "Helloow, Itaaa! Gue udah kasih tau elo booo, kalo lo harus panggil gue Nana. Na-Na. Bukan bas bes bos! Krik banget gue dengernya ih."
Talitha menyeringai, gadis itu langsung berdiri dan merangkul bahu Basuki.
"Iya, deh, Nana Dalemku."
Kedua mata Basuki sontak saja memelotot. "SIALAN LO, ITAIK!!"
Talitha langsung berlari ke depan, menghindari kemarahan Basuki seraya tertawa keras. Basuki kontan ikut berlari dan menyusul Talitha. Napasnya terengah-engah saat ia menyamakan langkahnya dengan Talitha. Maklum, laki-laki jadi-jadian seperti Basuki kebanyakan jarang berolahraga.
Basuki mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, mengecek sebentar notifikasinya sebelum ia menatap Talitha dengan penasaran. "Lo kenapa nggak masuk kelas pagi tadi, Ta? Udah gitu malah nunggu di Fakultas Ekonomi lagi! Dasar aneh. Ew."
"Gue telat, woy. Gue nyampe di kampus jam sembilan. Daripada gue dibunuh sama dosen? Ntar aja gue masuk pas mata kuliah kedua, jam dua belas. Oh iya, kita ke rumah tante lo, yuk, mumpung belum jam dua belas. Gue mau nagih janjinya. Katanya dia mau ngasih gue coklat, wahahahaha!"
Basuki memasang ekspresi wajah datar. "Cape, deh. Ya udahlah, tenang ajaaah. Pasti dikasih kok coklatnya," ujarnya. Setelah itu, Basuki melanjutkan, "Lha, trus lo ngapain aja dari jam sembilan sampe sekarang? Kan satu jam, tuh. Ngapain aja lo? Jangan bilang...ngegebet anak Ekonomi lagi? Aduuuhhh, Cyiiinnnn!"
"Gue melamun doang. Mikirin kapan gue bisa ketemu Chris Evans, gitu," ujar Talitha.
"Tai! Hoek! Maksa banget hii!!" Basuki sok muntah. Talitha tergelak. "Lha, ketimbang elo? Nama Basuki, tapi minta diubah jadi Nana. Jauh banget. Setau gue kalo yang di jalanan itu, kan, Sumanto siang, tapi malemnya jadi Sumanti. Lah, ini? Basuki jadi Nana. Maksa banget woooy! Plis, deh, sok imut wakakakakakak!"
"Kamvret lo Itaik!!" teriak Basuki.
Basuki menggeleng, dia memilih untuk mengalah hari ini.
Talitha tetap tertawa dan tiba-tiba Basuki teringat sesuatu. Segera diberikannya handphone-nya kepada Talitha dan mengisyaratkan Talitha untuk membuka kuncinya.
Talitha hanya menganga tak mengerti. "Apaan?"
"Buka aja, deh. Liat wallpaper-nya. OHHHHHHH GANTENGKUUUH...!"
Talitha mengernyitkan dahinya dan langsung membuka kunci handphone Basuki tanpa membuang waktu. Handphone Basuki tidak dilindungi dengan password ataupun pola. Hal yang dilihat oleh Talitha di layar ponsel Basuki adalah...oh, ini artis, 'kan? Eh, bukan. Model? Penyanyi? Talitha lupa. Namun, Talitha tahu namanya.
"Ini Marco Deon, 'kan?" tanya Talitha kepada Basuki. Fotonya menakjubkan. Sangat...seksi.
"Iyaaaa, Itaaaa...! Duuuhhhh, dia itu ganteng bangeeett, ya ampoeen mamih!! Dramanya juga top banget! Gue nge-fly melulu pas dia godain pemeran ceweknya! Ampyunnn!! Dia itu model terkenal yang main di banyak drama! Ampun daaahhhh, kipas mana kipaas...!" Basuki mulai mengipasi dirinya sendiri menggunakan jari-jarinya.
"Emm...gue tau kok. Dia ini terkenal banget. Dari Taiwan, 'kan? Tapi emang asli, yak, nih orang ganteng banget weeh. Mau teriak rasanya haha!" Talitha tertawa terbahak-bahak.
Namun, tiba-tiba Basuki jadi lemas. Dia menghela napas. "Tapi dia sekarang berhenti dari dunia entertainment, Taaaa. Dia berhenti. Katanya dia pergi dari Taiwan. Huaa, tolong Barbie! Dan yang buat gue makin terkejut lagi apaaa coba? Masa ada yang bilang kalau dia pindah ke Indonesia? Anjaaaay, nggak mungkin bangetlah, 'kan? Ntar dia jadi ireng lagi, aduh!"
Talitha tertawa. "Mungkin kalo dia ireng tetep seksi," ucap Talitha. "tapi nggak mungkinlah dia ke Indonesia dan tinggal di Indonesia. Nggak ada yang dikejernya juga di Indonesia, kalo menurut gue."
Talitha berucap asal, tetapi sebetulnya itu berdasarkan persepsinya sendiri. Basuki manggut-manggut.
"Gue fangirling amat sama tuh cowok Taiwan, huaaaaaa! Tapi katanya dia emang blasteran Taiwan-Indo loh. Nggak tau, deh, ya. Mungkin ada juga yang mau dia kejer di Indonesia. Hmm..." Tangan Basuki memegangi dagunya sendiri.
"Apaan?" tanya Talitha sembari mengernyitkan dahi; dia menunggu dengan serius.
Basuki diam selama dua detik. Talitha tambah bingung.
Hingga akhirnya Basuki kembali bersuara.
138Please respect copyright.PENANAerOTqU1KQ3
"Gue. Pastinya donggh."
138Please respect copyright.PENANAh1uCWm59Id
Setelah mengatakan itu, Basuki tersenyum lebar. Kelewat lebar sampai kelihatan begitu menyebalkan. Itu kelakuan Basuki yang tertular dari Talitha.
"Astaga! HOEK! HAKCUIH! Hahahahahahah—elo?—a—elo? Wakwakwakwak aduh, Nak, bangunlah dari tidurmu, Nak, ini sudah siang... Pangerannya nyangkut di pohon sawit..." ledek Talitha. Alhasil, ledekan itu membuat mereka berdua jadi tontonan orang-orang yang lewat di koridor karena mereka mulai kejar-kejaran seperti kucing dan tikus. Tidak ada bedanya sama sekali.
138Please respect copyright.PENANAVwwj0nt0N1
******
138Please respect copyright.PENANAbe10R3lElN
Talitha berdiri di depan kampus, celingak-celinguk ke sekeliling. Ini sudah jam dua lewat dua puluh menit dan ia belum juga melihat mobil Gavin menjemputnya. Basuki sudah pulang beberapa menit yang lalu. Talitha menolak untuk ikut dengan Basuki naik angkot karena Talitha tahu bahwa Gavin akan menjemputnya hari ini. Gavin hanya absen menjemputnya di hari Senin dan Jumat. Ini hari Selasa. Apa sesuatu terjadi dengan Gavin? Gavin biasanya akan menjemputnya di jam dua (lewat sedikit), pas sekali dengan jam pulang Talitha, karena itu masih terhitung jam istirahat di kantor Gavin. Gavin akan pulang sekitar jam empat sore.
Mengingat hari ini adalah hari pergantian bosnya...mungkin dia agak telat?
Satu hal lagi yang membuat Talitha gelisah adalah saat ini cuacanya sudah mulai hujan gerimis. Sejak jam dua belas tadi langit tiba-tiba gelap. Dua jam sebenarnya merupakan waktu yang lama untuk turunnya hujan, apalagi ujung-ujungnya hanya gerimis seperti ini. Melihat ke sekeliling lagi, akhirnya Talitha mendapati mobil milik Gavin yang tengah mendekat ke arahnya. Talitha menghela napas lega; gadis itu langsung berlari ke dekat mobil Gavin, lalu membuka pintu mobilnya agar ia bisa masuk.
Ketika ia masuk ke mobil, ia langsung disambut oleh senyuman Gavin. Talitha mulai grasah-grusuh mencari seat-belt dan memasang seat-belt itu ke tubuhnya. Ia langsung menatap Gavin yang kini sedang memutar balik mobil, menjauh dari area universitas.
"Gerimis, Bang," ucap Talitha dan rasanya sekarang rambutnya jadi sedikit basah. "Tadi Abang gimana di kantor? Bosnya baik?"
"Hm," deham Gavin, kini mobilnya sudah berjalan dengan santai. "ya gitu, deh."
Talitha mengernyitkan dahi, lalu mencibir. "Kayaknya Bosnya nggak baik, tuh," kata Talitha. "Muka lo keluar dari kantor jadi kayak muka zombie gitu."
"Bosnya bagus kok. Tegas. Tapi satu: dia kejam. Tuh anak padahal lebih muda dari gue, tapi merintahnya kayak ngebudakin orang banget. Kalo nggak inget dia itu dirut, gue tonjok serius."
Talitha jadi ngakak sendiri mendengar keluhan serta gerutuan rancu yang keluar dari mulut Gavin.
"Lakuin itu dan lo bakal langsung ditendang, Bang, wakwakwak!" Talitha tergelak hingga kepalanya tertolak ke belakang. "Terus besok pagi bakal ada berita: 'Seorang pegawai di Abraham Groups meninggal dengan dramatis di koridor kantor. Kabarnya, ia adalah seorang ketua direksi yang bernama Gavin Aryadinata.' HAHAHAH!"
"Sialan lo, ya, Ta," umpat Gavin sembari menjewer telinga Talitha. "Awas kalo lo mintain pena gue lagi, ya!"
Talitha mengaduh kesakitan, tetapi tiba-tiba ia tertawa kencang. Ya, kebiasaan dia adalah mengambil atau meminta pena kantor milik Gavin yang biasanya ada di tas kerja Gavin.
"Gyahahahahahaha!" Talitha tergelak, kini telinganya sudah dilepaskan oleh Gavin. Gavin kembali menatap jalanan dengan ekspresi wajah antara kesal dan menahan tawa.
Namun, tiba-tiba mata Gavin membelalak; ia teringat sesuatu.
"Bang—"
"Ta," panggil Gavin tiba-tiba, membuat Talitha jadi melebarkan matanya. Gavin lalu melanjutkan, "gue mau minta tolong sama lo."
Wajah Gavin mendadak terlihat serius dan...panik?
Talitha mengernyitkan dahi. "Apaan? Kok serius amat, Bang?"
"Hari Kamis ntar lo sibuk, nggak?" tanya Gavin, pria itu menatap Talitha sesekali dengan ekspresi wajahnya yang serius itu. Talitha semakin bingung.
"Nggak ada. Emang kenapa?"
Gavin menghela napas. Tampaknya situasinya benar-benar gawat. "Hari Kamis ntar bakal ada acara anniversary ke-30 Abraham Groups. Ulang tahun ke-30-nya perusahaan tempat gue kerja," terang Gavin. "Nah, tadi dari hasil rapatnya…katanya bakalan diadain pesta dan semua orang disuruh bawa pasangan masing-masing. Kalo nggak punya pasangan, disuruh datang sendirian aja. Duh, sumpah, mati gue. Gue nggak mau datang sendirian. Malu!"
Talitha kontan tertawa terbahak-bahak. Kali ini keras sekali. "Ya ampun, Bang! Jangan bilang lo mau minta tolong gue buat pura-pura jadi pasangan lo? ASTAGAAAHHH, HAHAHAHAHA!!"
"Duh, Ta, tolongin gue plis. Gue malu kalo datang sendirian. Lo ketawa kayak lo udah nggak jomblo aja! Sialan lo, Dek."
Talitha masih tertawa hingga dua menit ke depan.
Membuat Gavin jadi mengomel sendiri.
Akhirnya, tawa Talitha mulai mereda seiring dengan gadis itu yang masih mengelus perutnya. "Okelah. Tapi...emang nggak apa-apa, ya, Bang, gue masuk ke sana? Ga enak, lho, Bang. Ntar...gue diusir." Talitha jadi bergidik.
"Lah, kan emang disuruh bawa pasangan. Rata-rata karyawannya bakal bawa pasangan kok. Ada yang bawa pacar, ada yang bawa istri."
"Oh. Dan lo bawa adek. Hehehe," seloroh Talitha.
Gavin berdecak sebal.
"Udah, diem aja. Palingan yang tau kalo lo Adek gue tuh cuma si Revan."
Talitha melebarkan matanya, mendadak kelihatan excited. "Waah, Bang Revan apa kabar, Bang? Udah lama banget dia nggak maen ke rumah..."
Gavin mencibir. "Kayak lo nggak tau aja. Ya udah pasti dia sibuk sama cewek-ceweknya. Dia, kan, tempat penampungan cewek."
Akhirnya, Gavin berhasil membuat Talitha tergelak lagi. Gavin pun ikut tertawa.
"Ntar gue beliin gaun, deh, Dek. Anggap aja hadiah dari gue sebelum lo KKN." Gavin tersenyum pada adiknya, Talitha. Talitha mengangguk senang dan lagi-lagi terkikik geli. "Oke, deh, Bang! Sebenernya, gue nggak suka gaun, tapi kalo itu dari Bang Gavin...apa, sih, yang nggak? Yahahahahaha!"
Gavin tertawa keras. "Oke, tapi ntar temenin gue ke pesta itu, ya?"
Talitha mengangguk mantap sembari mengacungkan jempolnya. "Oke sip!" []
138Please respect copyright.PENANAFVNsnKT454