
1072Please respect copyright.PENANA18lt2brAiQ
Pagi itu, matahari bersinar terik di langit Kampung Angin. Dani sedang jongkok di pinggir jalan, kedua tangannya sibuk mencabut sampah yang menyumbat gorong-gorong rumah salah satu tetangganya. Keringat bercampur kotoran menempel di wajah dan lengannya, membuatnya terlihat seperti baru saja bergulat dengan lumpur.
1072Please respect copyright.PENANA9DHZRmD22i
Baru saja ia ingin menarik napas lega setelah berhasil membersihkan sebagian besar, suara ibunya terdengar dari kejauhan.
1072Please respect copyright.PENANACpSCxMJL8U
"Daniii! Cepat ke rumah Bu Rina! Katanya ada perlu penting!"
1072Please respect copyright.PENANAQHkvCAEQoU
Dani mendongak dengan napas masih terengah. Ia melirik ke arah tubuhnya yang penuh lumpur dan dedaunan kering, lalu mendesah panjang.
1072Please respect copyright.PENANArWsJcLE7RU
"Bu! Aku kayak gini! Masa ke sana dalam keadaan kayak orang jatuh di comberan?" serunya, mengangkat kedua tangannya yang penuh lumpur.
1072Please respect copyright.PENANAHP28rYQkcE
Ibunya hanya melotot tajam. "Udah, nggak usah banyak alasan! Pergi sekarang juga!"
1072Please respect copyright.PENANA9RQhbOfHV8
Dani mendecak, lalu mengeluh, "Paling nggak mandi dulu, Bu. Masa aku mau ketemu Bu Rina dalam keadaan begini? Bisa-bisa dikira hantu gorong-gorong!"
1072Please respect copyright.PENANAqdCokv23al
Ibunya mengibaskan tangan dengan malas. "Dia butuh cepat! Jangan buang waktu! Lagian Bu Rina udah biasa lihat kamu dekil."
1072Please respect copyright.PENANAjSX4keVIhI
Dani hanya bisa menggeleng pasrah sebelum akhirnya menaiki motornya dan melaju ke rumah Rina.
__________
1072Please respect copyright.PENANAmzmpcQTCjU
Di rumahnya, Rina sedang menggendong bayinya di ruang tamu saat suara motor Dani terdengar mendekat. Refleks, ia berdiri dan melangkah ke depan kaca, menatap pantulan dirinya.
1072Please respect copyright.PENANAY1CxrnnXye
Tangannya buru-buru merapikan rambut, lalu ia berhenti sejenak dan mengerutkan dahi. "Aduh, kenapa aku malah sibuk sendiri?" gumamnya, merasa aneh dengan tingkahnya sendiri.
1072Please respect copyright.PENANACHS3qXVSDL
Sesaat kemudian, Dani turun dari motor dengan wajah penuh noda kotoran, bajunya pun masih belepotan. Begitu melihat keadaannya, Rina tak bisa menahan tawa. Untuk pertama kalinya, suara tawanya terdengar begitu lepas.
1072Please respect copyright.PENANApmafpVUJLV
"Astaga, Dani! Kamu mirip hantu gorong-gorong!" ujarnya sambil terkekeh.
1072Please respect copyright.PENANAffc9CcOdFu
Dani hanya cengengesan, merasa sedikit malu tapi juga senang melihat Rina tertawa. "Iya nih, Bu. Saya langsung disuruh ke sini tanpa sempat mandi. Jadi, Bu Rina ada perlu apa?"
1072Please respect copyright.PENANAuF5iyodqoD
Rina masih tersenyum kecil sebelum akhirnya menjelaskan bahwa atap rumahnya sudah mulai rapuh dan ia juga berencana merenovasi sedikit warungnya agar lebih nyaman. Dani mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk.
1072Please respect copyright.PENANAU6LTHhFKDb
"Bisa, Bu. Tapi kalau atapnya, saya ajak Bapak juga ya? Soalnya kalau saya sendirian, bakal butuh waktu lama."
1072Please respect copyright.PENANAA6ztKVf0CU
Rina mengangguk setuju. "Boleh, kalau begitu aku percayakan pada kalian."
1072Please respect copyright.PENANAjQQeKpnTkW
__________
1072Please respect copyright.PENANAfMXSMiFVpO
Selama dua minggu berikutnya, Dani dan ayahnya bekerja keras memperbaiki atap dan merapikan warung Rina. Panas terik dan lelah tak membuat mereka mengeluh, dan itu semakin membuka mata Rina.
1072Please respect copyright.PENANAXfIu0soDMz
Dani benar-benar pemuda yang tulus. Ia tak pernah menunjukkan gelagat ingin mengambil keuntungan dari bantuannya. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang hanya datang mendekat jika ada maunya.
1072Please respect copyright.PENANAnLx43DF3eQ
Perlahan, warung Rina semakin kokoh dan rapi, bersamaan dengan hatinya yang makin luluh. Setiap kali melihat Dani bekerja tanpa mengeluh, Rina semakin yakin—pemuda itu berbeda.
1072Please respect copyright.PENANAzeL2cjBuV4
Jika sebelumnya ia masih mencoba menyangkal, kini ia tak bisa lagi menolak kenyataan. Ada sesuatu yang tumbuh di hatinya. Sesuatu yang hangat, lembut, dan tak lagi bisa ia abaikan.
1072Please respect copyright.PENANAGge9ffy5a1
Setiap senyum Dani, setiap tatapan penuh ketulusan itu, membuatnya semakin yakin bahwa perasaan ini nyata.
1072Please respect copyright.PENANAJVMkMjaVIb
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rina membiarkan hatinya merasakan cinta lagi.
1072Please respect copyright.PENANAkdNLGUQcVO
___________
1072Please respect copyright.PENANAuZB8nyD9KZ
Saat pekerjaan hampir selesai, tiba-tiba ayah Dani mendapat panggilan untuk menghadiri kegiatan desa.
1072Please respect copyright.PENANAB4mmFlxQgr
"Dani, Bapak harus pergi sebentar ke balai desa. Kamu lanjutkan saja sisa-sisanya, ya. Tinggal sedikit lagi kok," ujar sang ayah sebelum bergegas pergi.
1072Please respect copyright.PENANAKWyt5KqSZQ
Dani mengangguk santai. "Iya, Pak. Biar saya selesaikan."
1072Please respect copyright.PENANAEFWtzfn4Zu
Melihat Dani yang kini bekerja sendirian, Rina merasa tidak enak jika hanya diam saja. Ia pun masuk ke dalam rumah, lalu tak lama kemudian keluar membawa dua cangkir kopi panas dan sepiring gorengan.
1072Please respect copyright.PENANAdMObD35AYn
"Dani, istirahat dulu. Minum kopi sama makan gorengan dulu, biar nggak capek banget," katanya sambil meletakkan nampan di atas meja kecil di teras.
1072Please respect copyright.PENANAnbwgSutsOW
Dani yang memang sudah mulai kelelahan langsung menyambut dengan senang hati. "Wah, pas banget, Bu. Tenggorokan saya udah kering dari tadi."
1072Please respect copyright.PENANAGbLrUciBA3
Dani duduk di bangku kayu, meniup kopi panasnya, sementara Rina ikut duduk di seberangnya. Ia menyandarkan tubuhnya, menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus di halaman rumahnya.
1072Please respect copyright.PENANAKalQCs7sVr
"Kamu nggak capek kerja terus, Dani?" tanya Rina, membuka obrolan.
1072Please respect copyright.PENANAFsXhaNCNSe
Dani menyesap sedikit kopinya sebelum menjawab, "Capek sih, Bu. Tapi kalau sudah terbiasa, ya dijalanin aja. Lagian, saya juga senang kerja kayak gini. Rasanya puas kalau bisa bantu orang."
1072Please respect copyright.PENANA5yva5oU1QX
Rina tersenyum kecil. "Kamu memang beda dari laki-laki lain, Dani."
1072Please respect copyright.PENANAELeBQJlUxG
Dani mengangkat alis. "Beda gimana, Bu?"
1072Please respect copyright.PENANAZWh0NRoGR3
Rina menghela napas pelan, lalu menatap Dani dengan lembut. "Banyak laki-laki yang membantu karena ada maunya. Tapi kamu? Kamu tulus. Itu yang bikin aku..."
1072Please respect copyright.PENANAvAbWCfkLpj
Rina langsung menghentikan kalimatnya. Hampir saja ia keceplosan mengungkapkan isi hatinya.
1072Please respect copyright.PENANAdKBGO5EJ4R
Dani yang tidak menyadari perubahan ekspresi Rina hanya tertawa kecil. "Ah, Bu Rina terlalu baik. Saya cuma melakukan apa yang saya bisa."
1072Please respect copyright.PENANADQeQ0JxEHK
Rina ikut tersenyum, tetapi dalam hatinya, ia tahu—perasaan ini sudah semakin sulit untuk dihindari.
1072Please respect copyright.PENANAqKBhfQKfxA
Ia menyeruput kopinya pelan, menatap Dani yang masih lahap mengunyah gorengan. Sebenarnya, ia ingin tahu lebih banyak tentang pemuda ini. Selama ini, ia hanya mengenal Dani dari cerita orang-orang atau sekilas dari ibunya.
1072Please respect copyright.PENANAE4wPksgaNX
"Dani, boleh tanya sesuatu?" ujar Rina akhirnya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
1072Please respect copyright.PENANAK28lkuBvJy
Dani menoleh sambil mengunyah. "Tentu, Bu. Mau tanya apa?"
1072Please respect copyright.PENANAqB7XEWFaJf
Rina tersenyum tipis, menaruh cangkir kopinya ke meja. "Kamu kan sempat kuliah di ibu kota, ya? Gimana rasanya hidup di sana?"
1072Please respect copyright.PENANA4FRPmd5FOp
Dani menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, lalu menghela napas panjang. "Seru sih, Bu. Tapi juga melelahkan. Semua orang sibuk, semuanya cepat. Kadang kangen juga sama rumah."
1072Please respect copyright.PENANAo95r9dJMTu
Rina terdiam sejenak. Ada sesuatu dari jawaban Dani yang membuat hatinya semakin hangat.
1072Please respect copyright.PENANAh3IUUNypNc
Ia menundukkan pandangannya ke cangkir kopi di tangannya. Perlahan, dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengangkat cangkir itu ke bibirnya dan menyeruput pelan.
1072Please respect copyright.PENANASUVJZpPZH1
Kopi itu pahit, tapi ada kehangatan di dalamnya.
1072Please respect copyright.PENANASjwdD7bxvO
Dan saat itu juga, Rina sadar—perasaan ini nyata.
1072Please respect copyright.PENANAEwCZ31LA25
Ia jatuh cinta.
1072Please respect copyright.PENANArE9tx1BBqO
Dan kali ini, ia tak akan menyangkalnya.
1072Please respect copyright.PENANApZ3sA15UNE