Namaku Dewanto, seorang pria berdarah jawa. Mengenal dan mencintai karya tulis, saat aku tak sengaja melihat hasil karya beberapa penulis terkenal di Indonesia. Aku jatuh cinta dengan pembawaan serta keanggunan penulisan sebuah sastra dengan berbagai retorika dan perumpamaan. Dari sejak aku menginjak sekolah dasar, aku mengabdikan diri dan mengorbankan waktu mainku sebagai seorang penulis amatiran.
Keluargaku adalah keluarga sederhana, mereka mengikuti apa yang anak anaknya cita citakan selama hal itu positif dan membangun. Ayahku adalah seorang Guru TK di sebuah sekolah swasta, sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Aku memiliki adik lelaki beda 5 tahun dariku, namun kepribadian kami berbanding terbalik denganku.
Hingga suatu ketika aku mandi bareng adikku, dikarenakan biaya penggunaan listrik relatif mahal, maka mengakalinya adalah dengan mandi bareng. Aku melihat burung adikku lebih besar dan panjang dariku, di usianya yang belum menginjak SD ini ukurannya terbilang besar untuk anak seusianya, 8cm. Sementara burungku masih kecil saja tak lebih dari 4cm.
Aku yang kala itu masih cuek dengan hal tersebut, mengacuhkan hal itu sebagai sesuatu yang sepele.
10 Tahun Kemudian.
Aku kini menginjak usia remaja dengan adikku yang sudah di pertengahan jenjang pendidikan di sekolah dasarnya. Rinto, sudah berkali kali membawa teman sekelasnya ke rumah. Tak hanya satu orang, bahkan berbeda-beda. Malah suatu waktu melihatnya tengah menyetubuhi temannya yang kudengar dari sayup sayup percakapannya saat sedang berlaga kenikmatan.
"Ouuuhh ayuuu... memekmu enak bangeettt... gilaaaa terussin kontol gue udah mau crottt nih"
"Oh oh oh... yessss rinto terussinnnn plisss enak ohh keluarin ajah pejunya di memek aku"
Aku yang melihatnya hanya cuma bersembunyi dalam sudut ruangan, sembari mengocok kencang burung kecilku 4cm lalu memuncratkan sebanyak 7x dalam satu waktu. Rinto tahu aku mengintipnya, bahkan dia dengan terang terangan mengumbar tubuh betina buruannya dihadapanku.
Merasa diatas angin, karena aku punya kelainan fisik. Hal itu terulang berkali kali hingga kami dewasa. Di usiaku yang berkepala 3 ini, tak henti hentinya Rinto merenggut kegembiraanku dengan menyelingkuhi setiap wanita yang aku seriusi. Tak hanya itu, mereka turut menilai kekurangan fisikku dengan kelebihan fisik miliknya.
Aku hanya bisa bersyukur, bahwa aku masih bisa berkarya dengan berbagai ilmu yang ku raih dan keuletan dalam menghasilkan karya, malah membuat aku semakin di benci oleh adikku Rinto. Baginya aku yang cacat, tak pantas berhasil, apalagi karyaku terbilang sangat brilian dalam hal pembawaan jiwa.
"Kontol kecil gitu aja bisa jadi terkenal gini? belagu luh.. anjing"
Umpat adikku dikala aku sedang bersantai atau mencari inspirasi karya tulisku. Hingga akhirnya aku mendapatkan nominasi dari beberapa media dan mengundangku untuk memberikan sambutan. Rinto yang terasa terbakar hatinya, merencanakan hal keji untuk menghancurkan hidupku. Padahal hingga kini, biaya hidupnya aku yang menanggung tanpa ada pamrih.
"Teler juga nih orang, Santi! geret nih orang ajakin temen temen luh juga kalo mau ngentot sama abang gue!!"
"Ihh bener nih?"
"Tapi kalo nyesel, ngewek ma gue ya.. ntar gw kasih kenikmatan sempurna"
"Dihh ogahhh... mendingan sama abang lu lah ketimbang pengangguran kayak luh"
1 Jam Setelah Insiden
".... " semua mata terpaku kearah kemaluanku, dan saat itu juga aku tersadar dan tertegun sembari menutupi burung empritku.
"Hahahahahahahah pantesan ajah Rinto minta ngentot sama kita kita, wong abangnya cacat" tak sedikit yang mencoba memperkosaku, dari yang menyentil nya hingga menggigit burung ku yang imut ini.
Aku yang ditinggalkan dalam keadaan terlecehkan ini hanya bisa menangis dan melarikan diri memasuki kamar mandi. Bermandikan air rintik yang hangat tepat di kepalaku, membuatku semakin sedih dan pecahlah tangisanku.
Lama aku berdiam disana hingga perutku perih, kucoba untuk mengisi perutku, dan insiden tak terelakkan pun terjadi. Kakiku terpleset lalu kepala belakangku membentur ujung bathub begitu keras. Pandangan tiba tiba gelap. Inikah kematianku. Pasti ini yang namanya mati.
"Dewanto! Dewanto!"
Suara yang hangat lagi lembut memanggil manggil namaku, sesosok berwajah cahaya menerangi pandanganku. Kemudian sosok itu melanjutkan omongannya.
"Wahai Dewanto, aku sudah melihat kegigihan hatimu.. kamu begitu berbesar hati tanpa pernah mengeluh atas apa yang aku berikan kepadamu.. ujianmu telah selesai, aku berikan apa yang seharusnya menjadi milikmu.. hidup dan bangunlah keinginanmu dalam kehidupanmu selanjutnya.. "
Lalu cahaya itu memenuhi sejauh mata memandang dan aku terbangun di sebuah kamar yang entah mengapa begitu tidak asing. Cahaya menjalar dari sisi jendela yang terbuka dan korden putih menyibakkan belaiannya karena angin pun menyapa hariku. Didepanku sesosok pria tampan, khas peranakan korea jepang menatapku.
Kuarahkan telapakku ke wajah dan benar saja, dia adalah MC dari sebuah karya Novelku yang masuk nominasi lalu. Alis yang tebal dengan sorot mata yang tajam, aku termenung melihatnya dan kemudian berdiri dengan melepaskan tiap helai pakaian dan memperhatikan detail diriku. Bertubuh ideal dengan tinggil 185cm dengan otot yang bulky. Dan wow banget aku melihat burungku tegak menjulang, bukan sembarang ukuran.
Besar seperti lenganku dihiasi oleh urat urat dan nadi di kulit burungku yang putih, begitu kontras. Ku beranikan untuk mengayuh pelan kontol baruku ini dengan hati hati. Betapa nikmatnya setiap hentakan kemaluanku aku menggapai gairah seks ku dan memuncratkan cairan sperma begitu banyak dan kental.
Namun kesenanganku sepertinya harus berakhir, karena seorang wanita memandangku penuh nafsu dibalik pintu kamarku...
Bersambung...
ns3.128.247.220da2