
(Forgive me for the chapter covers, awalnya nggak nyangka bakal posting di luar platform Wattpad...)
43Please respect copyright.PENANA61UlMbCznk
******
Chapter 1 :
Prince Charming
******
43Please respect copyright.PENANADzoGkwnD85
“AKU mau putus denganmu,” ucap Haruki ketika ia tak sengaja bertemu dengan Mei di sebuah taman hiburan yang baru dibuka di kota sekitar satu bulan yang lalu. Mei yang saat itu sedang berjalan-jalan dengan teman sekantornya—untuk melepas penat sejenak—justru mendapatkan kejutan bak disambar petir di siang bolong tatkala melihat Haruki di ujung sana; pemuda itu tengah menggandeng seorang perempuan dan tertawa bersama seraya memakan churros.
Mei pun lantas terdiam, seluruh tubuhnya kaku tatkala melihat kekasihnya jelas-jelas sedang berkencan dengan perempuan lain. Langkahnya terhenti di tempat dan hal itu membuat teman-temannya jadi bertanya-tanya. Namun, tatkala mengikuti arah pandang Mei, mereka pun sontak terperanjat. Mulut mereka menganga. Mereka akhirnya mengerti dan langsung ikut geram pada Haruki. Mereka terus mendorong Mei untuk melabrak kedua manusia tidak tahu diri itu.
Akhirnya, di sanalah Mei, sudah berdiri di depan kedua orang itu. Mei pun hanya memberikan beberapa pertanyaan singkat, seperti: ‘Apa yang kau lakukan di sini?’ dan ‘Siapa perempuan ini?’, tetapi alih-alih panik, Haruki justru menatap Mei dengan jenuh. Muak. Dia bahkan mendengkus dengan santainya. Setelah itu, yang ia ucapkan dari mulutnya hanyalah berupa: ‘Aku mau putus denganmu.’
Mei merasa bak disambar petir lagi. Tubuhnya semakin mematung, tak bisa bergerak seolah sudah terpasak ke bumi. Dia menatap Haruki dengan tatapan tak percaya; matanya melebar. Ini serius, dia diputusin? Dia dibuang begitu saja?
Salahnya Mei di mana? Setahu Mei ia selalu memperlakukan Haruki dengan baik. Ia juga tidak pernah bermain-main di belakang pemuda itu.
“Kau selalu sibuk bekerja dari pagi sampai sore,” ujar Haruki, tidak lagi menunggu jawaban dari Mei. “Kau membosankan. Tidak menarik.”
Jantung Mei serasa ditembak dengan panah bertubi-tubi tatkala mendengar hinaan demi hinaan itu. Namun, dua detik kemudian mendadak Mei jadi kesal dengan hinaan-hinaan itu.
“Bukankah aku selalu menghubungimu?! Aku selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu denganmu!” protes Mei. Orang-orang yang lewat mulai mencuri-curi pandang ke arah mereka.
Haruki memutar bola matanya. “Sudahlah. Aku bosan. Aku sudah ada pacar baru yang lebih oke darimu.” Haruki lalu menatap perempuan berambut pirang yang berdiri di sebelahnya itu dan mereka mulai tersenyum satu sama lain, lalu saling merangkul tepat di depan mata Mei. Tatkala Haruki menoleh ke arah Mei lagi, tatapan pemuda itu terasa begitu dingin. “Enyah kau sana.”
“Kau ini—kau bersikap seperti anak-anak saja!! Aku tak percaya kau seberengsek ini!” teriak Mei dengan geram.
“Ya ya ya ya.” Haruki menatap Mei dengan bosan, menghina apa pun yang Mei katakan padanya. Seolah dia sudah malas dan tak peduli lagi dengan apa yang Mei katakan. “Terserah. Sekarang enyah dari hadapanku. Aku sudah punya kekasih yang baru.”
Pada akhirnya, Mei pun hanya mendengkus kesal; tubuhnya gemetar karena menahan rasa dongkol. Tangannya terkepal. Napasnya memburu. Kepalanya terasa panas. Dia juga malu karena diperlakukan seperti ini di tempat umum. Semua orang, termasuk teman-teman sekantornya, melihat kejadian ini secara live.
Karena menahan malu, mata Mei pun akhirnya berkaca-kaca. Dia pun langsung berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.
Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Mengingat ia dan Haruki berpacaran baru tiga bulan, sebetulnya rasa cinta yang terpupuk tidak sedalam itu. Namun, itu tidak mengubah fakta bahwa dia betul-betul sakit hati. Dia baru pertama kali berpacaran dan nahasnya dia malah diselingkuhi!
Setelah kejadian itu, keesokan harinya Mei tidak bekerja. Mei menangisi nasibnya selama satu harian itu. Rasa malu, kecewa, sakit hati, dendam, semuanya bercampur menjadi satu. Namun, untungnya Mei bisa berhenti menangis mengingat bahwa dia tidak seharusnya menangisi pemuda malas yang mukanya macam blobfish itu. Dia memang mirip ikan jelek, serius. Sudahlah jelek, malah berselingkuh. Mei jadi tambah benci dan ilfeel. Mungkin faktor itulah yang membuat Mei perlahan-lahan mulai berhenti menangisi nasibnya.
Maka dari itu, hari ini—tiga hari setelah kejadian itu—Mei sudah lumayan membaik. Akan tetapi, kalau dia sedang melamun atau sedang sendirian seperti ini, dia jadi mengingat kejadian itu dan ujung-ujungnya dia jadi merasa seperti ada sesuatu yang menekan dadanya. Hal itu membuatnya tanpa sadar berhenti bernapas sejenak.
Sebenarnya, Mei tidak benar-benar sendirian saat ini. Dia baru pulang dari Kantor Pelayanan Publik—tempatnya bekerja—dan memutuskan untuk mampir ke café langganannya sebentar. Dia mau membeli vanilla milkshake kesukaannyaseperti biasa.
Ada beberapa orang yang duduk di dalam café itu. Di tiap-tiap mejanya ada yang ditempati oleh dua orang dan ada juga yang ditempati oleh tiga orang. Hanya meja Mei sendirilah yang ditempati oleh satu orang, yaitu Mei.
Mei meminum vanilla milkshake-nya lagi seraya menatap ke luar jendela. Ia memilih tempat duduk di pinggir, tepat bersebelahan dengan jendela. Jendela itu ada di samping kiri Mei dan menghadap ke area luar café, yaitu area pedestrian walkway. Café ini terletak tepat di depan jalan dan bersebelahan dengan bangunan-bangunan lainnya.
Ketika mendengar sebuah ketukan sepatu di depannya, Mei yang tengah mengaduk-aduk vanilla milkshake-nya itu refleks langsung melihat ke depan. Di sana Mei melihat ada seorang pria yang memakai jas hitam (yang sebenarnya hanya ia sampirkan di tubuhnya sebagai outer, tidak benar-benar dipakai) dan di dalam jas itu ia memakai sebuah sweater berwarna hitam yang cocok sekali di tubuhnya. Celana yang ia pakai juga berwarna hitam, tetapi tidak segelap sweater-nya. Celana dan jasnya berwarna senada, yaitu hitam keabuan.
Pria itu memakai topi fedora yang berwarna hitam juga.
Tatkala pria itu datang, sosoknya yang memiliki tubuh yang bagus itu sebetulnya menyita cukup banyak perhatian. Minimal orang-orang akan memberikannya second glance tatkala pertama kali menemukan sosoknya. Meski pakaiannya serba hitam, entah mengapa kelihatannya bagus-bagus saja. Cocok-cocok saja dengan tubuhnya. Justru terlihat sangat memesona, terutama pria itu juga memakai sebuah jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Dia terbilang sangat fashionable.
Pria itu terlihat seperti model…atau sesuatu sejenis itu.
Mei saja tanpa sadar telah memusatkan atensinya kepada pria itu; Mei benar-benar lupa bahwa dia harus segera memalingkan wajah karena bagaimanapun juga, pria itu mungkin akan terganggu dengan tatapannya. Mata Mei melebar karena kagum; tangannya sampai berhenti mengaduk minumannya.
Namun, tanpa Mei sangka-sangka, pria itu tiba-tiba berhenti melangkah.
Ia berhenti tepat di depan meja Mei.
Mei yang matanya masih melebar—dan wajahnya blank—itu pun perlahan-lahan mendongak. Mei lantas melihat pria itu yang berdiri menjulang di hadapannya
Mei kelihatan seperti orang bodoh. Dia betul-betul tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat wujud pria yang aura kebangsawanannya menguar dengan kuat, padahal dia hanya melihat pria itu berjalan ke arahnya.
Tatkala Mei benar-benar melihat wajah pria itu dengan jelas, Mei semakin terpaku. Pria itu memiliki rambut yang berwarna merah. Crimson red. Matanya juga…berwarna sama seperti rambutnya.
Ini aneh. Apakah rambutnya di-bleaching? Namun, mata? Bagaimana dengan mata? Apakah dia memakai lensa kontak? Tidak mungkin ada orang Asia yang memiliki rambut serta mata dengan warna merah natural seperti itu. Bahkan satu dunia pun kemungkinan tidak ada yang memiliki mata serta rambut natural yang berwarna merah.
Namun, pria ini memilikinya. Sialnya keajaiban itu sangat cocok dengan wajahnya yang tampan. Hidungnya mancung dan garis rahangnya terbentuk dengan sempurna. Bentuk matanya sebetulnya terlihat tajam seperti elang, tetapi karena tatapannya sangat lembut dan ramah, bentuk matanya itu jadi tidak terlihat mengintimidasi. Malah terlihat seperti mahakarya. Secara penampilan, dia tampak begitu sempurna. Dengan penampilan yang begitu unik dan luar biasa seperti ini, apakah dia pernah ditawari untuk berkerja sebagai model? Atau mungkin dia adalah seorang model?
Namun, entah mengapa…rasanya dia terlalu majestic untuk menjadi seorang model. Rupa pria itu terlihat seolah dia memiliki garis keturunan bangsawan atau sesuatu sejenis itu. Paling tidak, keseharian hidupnya pasti berbeda dengan orang-orang biasa. Caranya berjalan, caranya tersenyum…
Eh, sebentar, dia tersenyum pada Mei?
Mei semakin melebarkan matanya. Pria itu memang sedang tersenyum padanya! Senyumannya begitu manis, gentle, dan…
Astaga. Dia kelihatan seperti pangeran berkuda putih yang ada di dalam cerita-cerita dongeng. Sangat gentle. Benar-benar prince charming.
Pria itu lalu itu melepas topi fedoranya. Mei semakin tertegun melihat betapa tampannya pria itu dengan rambut merahnya. Dia keturunan apa, sih?
Senyuman pria itu terlihat semakin lembut dan manis. Pria itu lalu sedikit memiringkan kepalanya. “My lady.”
A—apa? Apa katanya? My lady?!
Oh, Tuhan. Pria itu betul-betul bersikap seperti bangsawan. Memperlakukan wanita dengan istimewa. Harusnya etika itu diajarkan juga kepada semua lelaki zaman sekarang. Pria itu perfect sekali.
Menyadari bahwa pria itu sedang berbicara padanya, Mei pun agak panik. Dia jadi menampar dirinya sendiri secara mental agar bisa sadar sepenuhnya dan menjawab pria itu dengan baik.
Namun, sialnya dia masih terdengar gagap ketika menjawab, “Y—ya?”
Pria itu kemudian sedikit terkekeh.
43Please respect copyright.PENANA1cXtWGEZPp
Ah, tampan sekali.
43Please respect copyright.PENANAy7U0yJi4V1
“Boleh aku duduk di sini, my lady?” tanya pria itu dengan sopan.
43Please respect copyright.PENANA58c1XNs5zW
For God’s sake, suaranya seksi!
43Please respect copyright.PENANALSMI5abVTa
Mei kontan panik setengah mati, detak jantungnya entah mengapa jadi bertalu-talu kencang. Akan tetapi, Mei tetap menjawab pria itu dengan cepat seraya menyingkirkan tasnya agar posisi tas itu jadi agak ke sudut. “Oh—ya, ya, boleh. Si—silakan.”
Waduh, dia akan duduk satu meja dengan pria itu!
“Terima kasih, my lady,” ucap pria itu, lalu pria itu mulai beranjak untuk duduk satu meja dengan Mei. Mereka duduk berhadapan.
Mei melihat pria itu meletakkan topi fedoranya di atas meja. Sesaat setelah pria itu duduk, ada seorang pelayan café yang mengantarkan minuman pesanan pria itu ke atas meja. Pria itu tampak memesan cappuccino.
“Ah—terima kasih,” ucap pria itu kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Pria itu memberikan sebuah senyuman yang manis kepada pelayan itu. Pelayan itu lalu mengucapkan ‘Sama-sama, Tuan.’ dan merunduk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja mereka.
Tatkala kepala pria itu kembali menghadap ke arah Mei, Mei mulai gugup lagi. Rasanya canggung sekali. Apakah mereka akan mengobrol? Atau hanya diam-diaman saja?
Pria itu meminum cappuccino-nya sejenak, lalu matanya mulai menatap Mei. Seraya tersenyum, pria itu pun mulai berbicara.
43Please respect copyright.PENANAmoxX3f9RHc
“Apakah kau sering datang ke sini, my lady?”
43Please respect copyright.PENANAHOqn8X1ipF
Mei yang sedari tadi lupa memalingkan pandangannya, kini jadi gelagapan bukan main. Dia langsung mengaduk minumannya dengan ‘agak’ kencang, matanya beralih melihat ke minumannya itu, lalu ia tertawa dengan hambar. “Ah—haha, i—iya. Aku sering ke sini sepulang bekerja.”
“Oh...” ujar pria itu, tetapi Mei tidak melihat wajahnya. Mei tidak tahu ekspresinya seperti apa. Mei terlalu gugup untuk melihat wajah mengagumkan milik pria itu.
“Jika kau berkenan, apakah aku boleh bertanya di mana kau bekerja, my lady?” tanya pria itu lagi.
Mei pun mulai mengangkat kepalanya. Dia menatap pria itu yang kini masih tersenyum dengan ramah padanya.
Mei menatap pria itu dengan saksama dan menyadari bahwa seluruh warna merah yang dimiliki oleh pria itu tampak indah sekali. Seperti melihat bunga mawar yang tumbuh di taman kerajaan. Mereka tumbuh dengan anggun dan mulia. Agung.
Setelah mengedipkan matanya satu kali, Mei pun meneguk ludahnya. Menyiapkan diri karena mungkin saja percakapan mereka akan berlanjut. Kemungkinan besar, keadaan di antara mereka berdua tidak akan menjadi canggung. Mereka tidak akan diam-diaman saja.
Akhirnya, Mei pun menjawab, “Aku…bekerja di Kantor Pelayanan Publik. Tidak jauh dari sini.”
“Oh, apakah kau seorang PNS?” tanya pria itu lagi. Matanya sedikit melebar tatkala menanyakan hal itu.
Mei menganggukkan kepalanya perlahan. Gadis itu pun tersenyum tipis, sedikit canggung, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah…iya.”
Wah, untuk sejenak Mei jadi lupa bahwa dia baru saja putus hubungan. Pria itu benar-benar menyita perhatiannya.
Pria itu pun berdeham sedikit panjang, lalu mengangguk. Dia meminum cappuccino-nya lagi, kemudian kembali menatap Mei setelah meletakkan minumannya di atas meja. Tatapannya lembut dan ramah, terlihat benar-benar menghormati perempuan.
Benar-benar seperti bangsawan. Seolah dia adalah bagian dari keluarga kerajaan di Eropa zaman dahulu. Apakah pria ini memiliki kekurangan? Dia terlihat begitu sempurna. Tutur katanya begitu sopan, gentle, berkelas, dan tertata. Pakaiannya rapi dan wajahnya tampan. Caranya menghormati dan menghargai wanita juga patut diacungi jempol.
Karena tidak ingin membuat pria itu merasa seperti mesin penanya satu arah—padahal pria itu tidak berpikiran demikian—Mei pun berinisiatif untuk bertanya balik pada pria itu.
“Bagaimana denganmu? Apakah kau juga bekerja di sekitar sini?”
Pria itu sedikit terkekeh, lalu menggeleng. Dia menatap Mei lagi dan tersenyum. “Tidak, my lady. Aku hanya kebetulan ingin minum kopi. Jadi, aku mampir ke sini.”
“Apakah tempat kerjamu jauh?” tanya Mei dengan mata bulatnya; dia bertanya murni karena merasa sedikit penasaran.
Pria itu pun sedikit mengerutkan dahinya, matanya menoleh ke samping; ia tampak seperti tengah berpikir. “Hm…bisa dibilang begitu.”
Pria itu lalu kembali menatap Mei dan tersenyum kepada Mei.
“Ah…begitu, ya,” ujar Mei, gadis itu mengangguk-angguk. Dilihatnya pria itu mulai duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia duduk dengan kaki yang menyilang.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, masih tersenyum seraya memperhatikan Mei.
Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Sanggup membuat jantung Mei terus berdegup dengan kencang seolah baru saja berlari sejauh dua kilometer. Penampilannya menyilaukan.
Namun, karena tidak mau responsnya menggantung, Mei pun berusaha keras untuk menggelengkan kepalanya dan menyampingkan rasa kagumnya untuk sementara waktu. “Jadi…apakah kau pulang lewat sini?”
“Tidak juga,” ucap pria itu. Tatapan matanya pada Mei saat ini terlihat sedikit lebih…intens. “Hanya kebetulan lewat sini karena ada sebuah pekerjaan, my lady.”
Mei pun mengangguk-angguk mengerti; pupil matanya masih terlihat melebar. Kau pasti akan melakukan itu ketika ada sesuatu yang membuatmu tertarik.
Pria itu tersenyum lagi. “Boleh aku tahu siapa namamu, my lady?”
Mata Mei pun membeliak. Napasnya sedikit tertahan tatkala mendengar pertanyaan itu. Ia kaget dengan kenyataan bahwa pria itu ingin tahu namanya.
Setelah melipat bibirnya sejenak, Mei pun akhirnya meneguk ludahnya dan mengangguk.
“Namaku… Mei,” ucap gadis itu.
“Mei…?” Pria itu memiringkan kepalanya, matanya menatap Mei dengan penuh tanda tanya. Dia menunggu. Seolah masih ingin tahu sesuatu.
Ah. Dia ingin nama lengkap, ya.
“Shiori. Shiori Mei,” ucap Mei, memperjelas namanya.
Pria itu pun kembali menegakkan kepalanya, kemudian ia tersenyum puas. Suaranya lalu terdengar lagi. “Nama yang sangat cantik, my lady.”
Seketika pipi Mei merona. Dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke vanilla milkshake-nya, pura-pura mengaduknya dengan pipet lagi, lalu meminumnya dengan cepat.
Reaksi Mei itu membuat pria tersebut terkekeh dengan manisnya. Mei semakin dibuat salah tingkah setengah mati. Bisa-bisa Mei jadi naksir pada orang yang baru saja Mei temui kalau begini caranya.
Habisnya, manusia apa yang sesempurna ini?
Karena tidak ingin terus-menerus malu, Mei pun memutuskan untuk mengalihkan perhatian. Dia mencoba sekuat tenaga untuk berbicara agar pria itu tidak terus-menerus melihat dirinya yang tengah salah tingkah.
“B—bagaimana denganmu? Siapa namamu?” tanya Mei dengan tempo cepat. Dia malu sekali soalnya.
Pria itu kembali tersenyum seolah-olah memberikan senyuman adalah spesialisnya. Dia sepertinya sadar bahwa senyuman manisnya itu memberikan efek yang mematikan untuk perempuan. Atau jangan-jangan dia tidak sadar?
Dengan senyuman manisnya itu, pria itu pun menjawab, “Akashi, my lady. Akashi Roan Kaiser.”
Wah. Wajah dan tubuhnya sempurna. Etikanya bagus. Suaranya sangat seksi. Sekarang…namanya pun bagus. Cocok sekali dengan orangnya.
Kaiser artinya…seorang kaisar, ‘kan?
43Please respect copyright.PENANAeEh9Lj2WIg
Well, he looks like one.
43Please respect copyright.PENANAFOoEEehfNB
“Namamu…bagus.” Mei memuji pria itu dengan tulus. “Sangat cocok untukmu.”
Pria itu tertawa pelan.
Dia tertawa.
Kalau saja Mei bisa melukis, Mei akan betul-betul menjadikan pria ini sebagai muse-nya. Dia terlihat seperti seorang pangeran yang baru saja turun dari sebuah kerajaan di langit.
“Not really, my lady,” ucap pria itu. “Bolehkah aku memanggilmu ‘Mei’, my lady?”
Oh, ya Tuhan. Nama Mei enak sekali didengar tatkala diucapkan oleh lidah pria itu beserta suara seksinya. Namanya jadi terdengar begitu indah. Pipi Mei langsung merona.
Akhirnya, Mei pun mengangguk. Agak perlahan karena ia masih lumayan tertegun mendengar namanya disebut oleh pria itu.
“Boleh…” ujar Mei kemudian. Namun, tiba-tiba Mei tersadar akan sesuatu. “Kalau aku? Dengan apa aku memanggilmu?”
Mei tadi dengar pria itu mengenalkan dirinya dengan nama Akashi, tetapi Mei hanya ingin memastikannya sekali lagi.
Pria itu terkekeh lembut di depan Mei. Menatap Mei dengan mata yang bersahabat. Lembut dan ramah. “Akashi. Panggil saja Akashi, my lady.”
Benar. Nama panggilannya adalah Akashi.
Namanya bagus sekali. Begitu berkarisma, seperti orangnya.
“Baiklah, Akashi,” ucap Mei, merona tatkala memanggil Akashi untuk pertama kalinya. Mei meneguk ludahnya perlahan.
Akashi pun mengangguk. Pria itu lalu mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Mei. “Salam kenal, Mei.”
Dengan gerakan yang ragu sekaligus malu-malu, Mei pun menyambut uluran tangan Akashi. Ketika bersalaman dengan Akashi, Mei merasa kalau tangannya kecil sekali jika dibandingkan dengan tangan pria itu. Tangan pria itu tampak kuat. Lengannya terlihat berotot di balik sweater hitamnya.
Berusaha untuk menyingkirkan segala pikirannya sebelum menembus batas wajar, Mei pun mengangguk. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk bertatapan dengan Akashi. Tatapan mata mereka berserobok. Setelah itu, dalam waktu singkat, tatapan mereka terlihat saling menerawang. Mei merasa seakan terhisap ke dalam kepekatan warna merah dari mata milik Akashi. Terjerumus dalam warna merah yang begitu menarik perhatiannya. Merah yang memiliki daya tarik yang luar biasa. Memiliki kekuatan. Gairah. Begitu intens, membuat Mei merasa terjerat di dalamnya dalam waktu yang sangat singkat.
43Please respect copyright.PENANA6ykQs8APwK
Ini berbahaya.
43Please respect copyright.PENANARnHr8rjqi5
Jika Mei berada di dalam café ini lebih lama lagi,
…bisa-bisa Mei benar-benar akan menyukai pria itu. Pria yang bernama Akashi itu.
Mei tidak yakin dia akan bertemu lagi dengan Akashi di kemudian hari. Jadi, Mei tak mau menanggung risiko untuk jatuh cinta pada Akashi yang merupakan orang asing, terutama Mei baru saja mengalami patah hati. Agaknya, hal yang seperti ini harus cepat-cepat dicegah. Tidak lucu kalau dia harus mengalami patah hati dua kali berturut-turut dalam waktu kurang dari satu minggu.
Meski sangat enggan melepaskan diri dari tatapan mata Akashi, Mei tetap berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan pandangannya. Dia membuang seluruh hasratnya saat ini—meski itu terbilang nyaris mustahil mengingat betapa luar biasanya daya tarik dari kedua mata Akashi—dan menguatkan dirinya karena ini adalah keputusan yang terbaik. Dia tak mau terbawa suasana ataupun terbawa perasaan.
Mei akhirnya berhasil mengalihkan pandangannya. Mei mengangguk sejenak, kemudian dia melepaskan tangannya dari genggaman Akashi. Dia pun lalu mengambil tas selempangnya yang masih ada di atas meja, lalu memakai tas tersebut.
Akan tetapi, mau tidak mau dia harus tetap menatap Akashi lagi untuk berpamitan. Dia harus bersikap sopan dan menghargai Akashi. Sama seperti bagaimana Akashi memperlakukannya sejak tadi.
Tatkala telah menatap Akashi kembali, Mei pun berusaha untuk tersenyum meski senyumannya itu malah terlihat kikuk. Canggung. “Uh—um… Aku pulang dulu, ya, Akashi. Ini sudah sore. Aku harus…uh…mencuci pakaianku.”
Akashi terlihat melebarkan matanya, tubuh pria itu sedikit menegap. “Ah—begitu, ya? Di mana rumahmu, Mei? Pulang naik apa? Mau kuantar pulang?”
Kontan saja kedua mata Mei terbelalak, dia buru-buru menggeleng dan memajukan kedua tangannya, menggerakkan kedua tangannya itu ke kanan dan ke kiri, menolak Akashi dengan sangat cepat. Dia panik. “T—tidak, tidak usah, Akashi. Aku tinggal di daerah sini kok. Aku bisa berjalan kaki dari sini.”
“Benar di daerah sini?” tanya Akashi lagi, memastikan. Dahi pria itu agak berkerut, dia tampak khawatir pada Mei.
Mei mengangguk. “Iya. Apartemenku ada di dekat sini. Aku duluan, ya, Akashi.”
Akhirnya, Akashi pun mengangguk. Pria itu menghela napasnya pelan, terlihat seakan sudah menerima kepergian Mei dari sana serta menerima Mei yang tidak mau diantar olehnya.
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati, ya, Mei,” ujar Akashi, pria itu pun tersenyum dengan lembut pada Mei.
Mei mengangguk. Gadis itu balas tersenyum pada Akashi, lalu ia berpamitan. “Terima kasih, Akashi. Aku pulang dulu, ya.”
Setelah melihat Akashi mengiyakannya, Mei pun merunduk singkat pada Akashi, lalu ia berdiri dan beranjak keluar dari meja itu. Ia mulai berbalik—membelakangi Akashi—dan berjalan ke pintu masuk café.
Ketika Mei sudah berdiri di depan pintu café, Mei tahu bahwa untuk sampai ke apartemennya, dia harus menghadap ke kanan, lalu berjalan lurus. Jadi, dia akan kembali melewati jendela tempat ia dan Akashi tadi duduk.
Tatkala Mei melewati jendela itu, Mei melihat Akashi yang masih duduk di sana; Akashi melihat ke arahnya melalui jendela yang terbuka itu. Akashi memberikannya sebuah senyuman manis, kemudian pria itu melambaikan tangan padanya.
Dengan senyuman yang masih sedikit canggung, Mei pun balas melambaikan tangannya pada Akashi. Setelah itu, Mei mulai berjalan meninggalkan café itu.
43Please respect copyright.PENANAlXFssJ2Ohb
******
43Please respect copyright.PENANAyRdC8p05DW
Akashi menurunkan tangannya yang tadi tengah melambai kepada Mei. Dia masih melihat ke arah Mei yang sedang berjalan menjauhi café. Kepalanya menghadap ke kanan dan matanya melihat ke belakang, berhubung arah pulang Mei itu berlawanan dengan posisi duduknya saat ini.
Senyuman yang tadi ia berikan kepada Mei itu masih menghiasi wajah tampannya, tetapi kini senyuman itu terlihat sedikit berbeda. Sedikit menipis.
Matanya yang sejak tadi memberikan tatapan yang ramah dan lembut itu perlahan-lahan kembali mengikuti bentuk aslinya. Bentuk mata yang tajam seperti elang. Sensual. Misterius. Kedua bola mata berwarna merahnya mengikuti langkah Mei yang semakin lama terlihat semakin jauh. Dia menyipitkan mata, memperhatikan Mei dengan saksama di dalam diamnya. Cahaya merah dari kedua matanya seakan-akan mampu mengunci Mei dari jauh, mengurung Mei di dalam penjara yang ia ciptakan di dalam kepalanya.
Tak lama kemudian, Akashi pun menoleh ke depan. Ke posisi awal. Pria itu kemudian meraih topi fedoranya yang ia letakkan di atas meja, memakai topi tersebut, lalu pergi keluar dari café itu.
Tatkala berjalan keluar dari café dengan langkah tegapnya, orang-orang yang ada di dalam café tersebut kembali melihat ke arah Akashi dengan tatapan terpukau. Dia tidak seperti orang ‘biasa’. Antara artis, model, atau…keluarga prestigious. Dia seperti punya status yang tinggi.
Tatkala Akashi sudah berada di luar café, pria itu pun menghampiri sebuah mobil limousine hitam, Rolls Royce Phantom limousine, yang sudah terparkir di depan café itu. Menunggunya.
Ada beberapa orang berjas hitam yang terlihat berdiri di depan limousine tersebut. Mereka semua berpakaian rapi, berjas hitam, dan di dalamnya mereka memakai kemeja berwarna putih. Mereka semua berdiri berjajar dengan rapi, mulai merunduk hormat tatkala melihat Akashi keluar dari café. Mereka menyambut Akashi dengan hormat.
Begitu Akashi berdiri tepat di depan mereka, salah satu dari mereka yang tengah memegang sebuah jas hitam panjang langsung sigap mengganti jas yang tengah Akashi kenakan dengan jas hitam panjang tersebut.
“Boss,” sapa salah satu dari mereka, menyambut Akashi. Dia membukakan pintu mobil untuk Akashi. “Sudah selesai?
“Hm,” deham Akashi. Pria itu mulai masuk ke mobil, lalu pintu mobil itu ditutup kembali oleh pria yang tadi membukakan pintu untuknya. Ada dua orang yang ikut satu mobil dengan Akashi, sementara beberapa pria yang lain hanya mengikuti dari belakang dengan mobil hitam yang berbeda. Mengawal mobil Akashi.
Ketika mobil yang Akashi naiki itu mulai berjalan, suara Akashi tiba-tiba terdengar.
43Please respect copyright.PENANA2agYzTBqVG
“Di mana apartemen yang jarak tempuhnya bisa berjalan kaki dari sini?”
43Please respect copyright.PENANAWX6cyzbFuj
Pria yang duduk di depan, seorang capo yang tengah menyetir mobil itu, tampak sedikit melebarkan matanya tatkala mendengar pertanyaan dari bosnya. Dia mengerutkan dahi, berpikir sejenak, lalu melebarkan matanya lagi karena sudah mendapatkan jawabannya. Dia ingat sesuatu.
Pria itu lantas menjawab, “Ah, mungkin yang ada di depan sana, Boss. Sekitar seratus meter, sebelah kiri. Di sana kalau tidak salah ada apartemen tiga lantai.”
Suara Akashi kembali terdengar di dalam mobil itu. Suaranya yang begitu dingin, sarat akan kepemimpinan, tetapi sangat menggoda untuk didengar. Tipe-tipe suara yang membuatmu ingin mendengarnya lagi dan lagi. Jika ia bertelepon denganmu dengan suara itu, kau akan merasa seolah meleleh hanya karena mendengarkan suaranya.
Dia berkata, “Begitu, ya.”
“Memangnya ada apa, Boss?” ujar salah satu capo itu, sesekali melihat Akashi melalui kaca spion dalam. Capo satu lagi yang duduk di sebelah Akashi pun tengah menatap Akashi, ingin tahu mengapa bos mereka menanyakan hal itu. Mereka menunggu Akashi berbicara.
Akashi pun mulai menatap ke jendela mobil yang ada di samping kanannya, lalu di bibirnya terbit seulas senyum tipis. Matanya menatap ke luar dengan tatapan yang dingin. Berkilat dan tajam layaknya mata seekor elang. Mengunci apa pun yang sedang ia lihat.
“Tidak ada,” ujar Akashi kemudian. “Besok aku akan pergi ke café yang tadi lagi.” []
43Please respect copyright.PENANAxBOV04fOde