
******
Chapter 3 :
Full Harvest Moon14Please respect copyright.PENANAPrhQpqjISG
******
14Please respect copyright.PENANAe1C1I7jg4Z
AKHIRNYA, setelah berada di Kuil Dewa Hymen selama kurang lebih satu jam, Hiyori pun turun dari gunung. Jika mendaki gunung itu hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, maka menuruninya tentu akan lebih cepat. Gunung itu bukan gunung yang tinggi.
Sepanjang menuruni gunung, kata-kata dan tingkah laku Dewa Hymen terus berkecamuk di kepala Hiyori. Kata-katanya, suaranya, rupanya yang sempurna, rambut panjang berwarna silver-nya yang tertiup angin, senyum miringnya, serta kedipan matanya…
Semuanya terus berputar di kepala Hiyori bagaikan potongan-potongan adegan atau potongan-potongan memori indah dari masa lalu. Anehnya, semuanya terekam dengan kualitas tertinggi di dalam kepalanya, layaknya ketika seseorang menyimpan memori terindah yang ada di dalam hidupnya untuk terus dikenang kembali.
14Please respect copyright.PENANAE1S8kHgiT2
“Kalau begitu, mohon bantuannya, ya, Hiyori-chan.”
14Please respect copyright.PENANAHYm13ADAfG
Aaaah, sial! Suara sang Dewa jadi terngiang-ngiang di telinga Hiyori. Hiyori memukul keningnya dengan pelan beberapa kali sembari merutuki dirinya sendiri. Aduh, jangan macam-macam, deh. Kalau Dewa bisa membaca pikiranmu dari kejauhan bagaimana?
Ketika Hiyori sudah hampir sampai di kaki gunung, dari kejauhan Hiyori sudah bisa melihat betapa ramainya warga-warga desa yang berdiri menyambut kedatangannya. Mereka semua terlihat sangat gembira, bahkan ada yang terlihat memeluk satu sama lain karena sama-sama bersyukur. Namun, tiba-tiba salah satu dari mereka—seorang pria paruh baya—mulai menyadari kedatangan Hiyori dan matanya langsung melebar. Pria itu kontan menunjuk Hiyori.
“Oh, Hiyori-chan!!! Semuanya! Itu! Itu Hiyori sudah pulang!!!” teriaknya.
Spontan para warga langsung menoleh kepada Hiyori yang baru saja sampai di kaki gunung. Hiyori tersenyum kikuk, tetapi para warga langsung melebarkan mata dan tersenyum bahagia saat melihat Hiyori. Mereka langsung heboh, langsung mendekati Hiyori dan bahkan ada yang sampai berteriak mengucapkan terima kasih kepada Hiyori. Beberapa ibu-ibu mulai memeluk tubuh Hiyori sampai Hiyori merasa sesak.
“Ya Tuhan, Hiyori, terima kasih banyak, Nak!!” teriak salah satu wanita paruh baya. “Bencana di desa kita benar-benar hilang dalam sekejap!”
Setelah, itu, suara-suara warga yang lain mulai terdengar; suara mereka saling menyusul.
“Iya, benar! Luar biasa!”
“Aku akan memberikanmu dan kedua orangtuamu separuh hasil panenku yang selanjutnya!”
“Aku tahu bahwa Dewa Kemakmuran adalah dewa yang hebat, tetapi kali ini aku benar-benar menyaksikan kekuatan besarnya dengan mata kepalaku sendiri!”
“Benar! Aku juga melihat bagaimana banjir itu tiba-tiba surut dan semua tumbuhan yang mati jadi hidup kembali!”
“Bencananya hilang dengan cara yang begitu ajaib! Kau adalah pahlawan kami, Hiyori!”
“Hiyori, kau mau apa? Aku akan memberikanmu hadiah sebagai bentuk terima kasih!”
Menanggapi semua itu, Hiyori hanya tertawa canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah—haha… Tidak usah, Pak, Bu… Tidak apa-apa.”
Seluruh warga di sana kembali ribut, mereka tetap bersikeras untuk memberikan Hiyori sesuatu atau mengistimewakan Hiyori karena telah menyelesaikan masalah yang menimpa desa mereka. Mereka kira…tadinya mereka benar-benar akan mati secara perlahan.
Namun, di tengah keributan itu, tiba-tiba sang Tetua Desa, Raiden-sama, maju ke depan. Pergerakannya itu langsung membuat warga-warga desa terdiam; mereka langsung menyimak apa yang ingin Raiden-sama katakan. Hiyori pun menoleh kepada Raiden sama dan merunduk hormat.
“Raiden-sama,” sapa Hiyori.
Raiden-sama lantas mengangguk. “Apakah kau baik-baik saja, Hiyori?”
Hiyori tersenyum simpul, lalu mengangguk. “Iya, Raiden-sama. Aku baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih atas bantuanmu, ya.” Raiden sama tersenyum. “Apakah kau mau menceritakan apa yang telah terjadi di atas sana, Hiyori?”
Hiyori melebarkan mata. Gadis itu meneguk ludahnya.
Astaga, bagaimana ini? Terjadinya bencana tersebut sebenarnya ada hubungannya juga dengan Hiyori. Bagaimana kalau penduduk desa jadi marah padanya saat mengetahui kenyataan itu?
Namun, mau tidak mau Hiyori harus menceritakannya. Penduduk desa pasti ingin tahu apa yang terjadi dan apa yang membuat Dewa mau menghentikan bencana itu. Apabila mereka tahu kronologinya, mereka pasti bisa menghindari bencana yang mungkin terjadi di masa depan. Jika memang bencana itu terjadi karena Dewa marah, maka mereka harus tahu apa yang membuat Dewa marah.
Hiyori harus menceritakan semuanya. Ia harus jujur dan meminta maaf kepada penduduk desa tentang apa yang telah terjadi.
Akhirnya, seraya menatap Raiden-sama dengan yakin, Hiyori pun mengangguk. “Baiklah, Raiden-sama. Aku akan menceritakannya.”
14Please respect copyright.PENANAQEowX7fN17
******
14Please respect copyright.PENANAUQ1O4NNlXY
Banyak pasang mata yang saat ini tengah memperhatikan Hiyori dengan saksama. Setelah Hiyori setuju untuk menceritakan semuanya, Raiden-sama dan para warga lainnya lantas membawa Hiyori ke sebuah gazebo kayu luas milik warga yang letaknya tak jauh dari kediaman Raiden-sama.
Banyak warga yang ikut duduk di dalam gazebo itu, bahkan ada juga yang berdiri di sekitar gazebo hanya untuk mendengarkan apa yang akan Hiyori ceritakan, tetapi tidak semua warga ada di sana karena keterbatasan ukuran gazebo itu. Gazebo itu luas, tetapi tentu saja takkan cukup untuk menampung semua warga. Kebanyakan warga yang hadir di sana adalah para kepala keluarga sehingga nanti mereka tinggal menceritakan semuanya kembali kepada istri dan anak mereka.
Hiyori duduk di spot yang dapat dilihat oleh semua orang. Mereka duduk melingkar di gazebo luas itu dan Hiyori duduk berseberangan dengan Raiden-sama.
Suasana saat itu cukup hening meskipun banyak orang yang hadir. Mereka semua sedang menanti cerita dari Hiyori. Keheningan itu jujur membuat Hiyori beberapa kali meneguk ludahnya; ia duduk di sana dengan tegang dan kepalanya menunduk. Ia jadi gelisah, terutama karena semua orang melihat ke arahnya.
Beberapa detik kemudian, suara Raiden-sama pun terdengar.
“Baiklah, Hiyori. Sebenarnya…apa yang terjadi di atas sana? Maukah kau memberitahukan detailnya kepadaku?” tanya Raiden-sama perlahan-lahan.
Mata Hiyori sedikit melebar.
Ah, inilah saatnya.
Pelan-pelan, Hiyori mulai mengangkat wajahnya. Menatap Raiden-sama yang duduk di depan sana, tengah memperhatikannya dengan lekat.
Hiyori kembali meneguk ludahnya. Ia bernapas samar.
Dua detik kemudian, ia pun menjawab Raiden-sama, “Iya, Raiden-sama.”
Raiden-sama tersenyum tipis—dan senyuman itu sejujurnya sedikit membuat Hiyori tenang—lalu pria lanjut usia itu mengangguk. “Ceritakan padaku, Hiyori.”
Hiyori mengangguk. Gadis itu pun mulai bercerita.
“Sebelumnya…maafkan aku, semuanya!!” Hiyori tiba-tiba membungkuk, ia mengepalkan kedua tangannya yang bertumpu di pahanya sendiri. Hiyori melipat bibirnya dengan gelisah dan tangannya sedikit gemetar. Sementara itu, semua orang yang melihatnya membungkuk seperti itu kontan melebarkan mata; mereka bingung mengapa Hiyori tiba-tiba meminta maaf.
Hiyori lalu melanjutkan, “Sebenarnya…bencana itu…” Hiyori menarik napas, mendadak jantungnya berdebar. “Bencana itu…ada hubungannya denganku, Pak, Bu…”
Semua orang diam. Mereka agak bingung.
“Hiyori, lihat aku,” ujar Raiden-sama tiba-tiba. Mendengar panggilan dari Raiden-sama itu, Hiyori langsung melebarkan matanya. Pelan-pelan, dengan takut-takut, Hiyori pun mengangkat wajahnya kembali dan menatap Raiden-sama.
Dilihatnya Raiden-sama yang menatapnya seraya menyatukan alis. “Tenanglah, Hiyori. Maksudmu bagaimana?”
Hiyori kembali meneguk ludahnya.
“Aku…” ujar Hiyori, ia berbicara dengan gugup. “Waktu Anda menyuruhku untuk mengantarkan persembahan kepada Dewa sembilan hari yang lalu, sebenarnya ada beberapa percakapan yang terjadi di antara aku dan Dewa, tetapi pada akhirnya…aku…kabur…”
Semua orang mulai menatap Hiyori dengan penuh tanda tanya. Namun, Tetua Desalah yang akhirnya menyuarakan pertanyaan mereka. “Mengapa kau kabur?”
Hiyori agak menunduk, gadis itu melipat bibirnya. “A—aku…malu…”
Raiden-sama memiringkan kepalanya. “Malu? Apakah Dewa mengatakan sesuatu yang membuatmu malu?”
Hiyori kontan melihat ke arah Raiden-sama lagi. Gadis itu diam sejenak—dengan ekspresi ragu—tetapi akhirnya ia menjawab, “I—iya, Raiden-sama.”
“Apa yang sang Dewa katakan, Hiyori?” Kali ini Naoto-san yang bertanya. Hiyori langsung menoleh kepada pria itu.
Hiyori lagi-lagi menunduk. Ia meremas jemarinya sendiri dengan gelisah. Ini agak memalukan untuk diceritakan. Namun, semua orang sedang menunggunya.
Hiyori menggigit bibirnya sejenak, lalu ia pun menjawab, “Dewa bilang…dia suka…a—aroma tubuh gadis muda sepertiku. Dewa bilang, baru kali inilah Raiden-sama mengirimkan seorang gadis sepertiku untuk mengantarkan persembahan kepadanya.”
Semua orang yang mendengar perkataan Hiyori itu kontan menganga. Mereka tercengang.
Raiden-sama membulatkan matanya. Ia juga agak kaget saat mendengar itu.
“Jadi, apakah Dewa marah padamu karena kau kabur, Hiyori?” tanya Raiden-sama.
“Setelah Anda dan para warga lainnya menyuruhku untuk naik ke gunung, aku sebenarnya sempat berpikir seperti itu, Raiden-sama,” jawab Hiyori. “tetapi ternyata bukan karena itu Dewa menurunkan bencana di desa kita.”
Raiden-sama kembali menyatukan alisnya, tetapi ia hanya diam. Menunggu Hiyori melanjutkan.
Hiyori bernapas samar. “Satu hari setelah aku naik ke gunung, Dewa melihat orang yang mengantarkan persembahan kepadanya dan ternyata…itu bukan…aku. Dewa ingin akulah yang mengantarkan persembahan untuknya, jadi dia menciptakan bencana itu agar kita semua bisa mengerti apa yang dia inginkan.”
Seluruh warga di sana—termasuk Raiden-sama—betul-betul tercengang, mereka takjub dengan apa yang baru saja mereka dengar. Ternyata…permasalahannya…
…sesimpel itu?
Mereka semua menderita selama berhari-hari, astaga!
“Jadi…begitu kau naik tadi, Dewa langsung menghilangkan bencana itu?” tanya Raiden-sama.
Hiyori menatap Raiden-sama, lalu menjawab, “Dewa mau menghilangkan bencana di desa kita, Raiden-sama, tetapi dengan satu syarat.”
Kini giliran ayahnya Hiyori yang bertanya, “Syarat apa, Nak?”
Dengan ragu, Hiyori pun menjawab seraya menatap ayahnya, “Dewa… Dewa berkata…mulai sekarang hanya akulah yang boleh mengantarkan persembahan dari Desa Shinrei untuknya. Jika tidak begitu, maka bencana di Desa Shinrei takkan ia hentikan.”
Kontan semua orang membelalakkan mata. Otoya-san, salah satu warga yang biasa mengantarkan persembahan untuk Dewa, lantas berkata, “Astaga! Kau serius, Hiyori?”
“Waduh, bagaimana itu, Hiyori?” tanya warga lain. “Kalau begitu ceritanya, berarti kau harus naik turun Gunung Kouzu setiap hari, lho!”
Hiyori menunduk. Ia sadar akan hal itu.
Orang yang duduk di sebelah Hiyori—salah satu warga desa—lantas menepuk pundak Hiyori pelan. Mencoba untuk menenangkan Hiyori. Semua orang di sana mulai agak ribut, mereka saling membicarakan keinginan sang Dewa itu dengan orang-orang yang ada di sebelah mereka. Akan tetapi, situasi itu dengan cepat dihentikan oleh Raiden-sama yang tiba-tiba mengangkat tangannya agar semua orang diam.
Setelah semua orang terdiam, Raiden-sama lantas bertanya lagi kepada Hiyori, “Melihat desa kita yang sudah terbebas dari bencana…berarti kau menyetujui permintaan Dewa, ya, Hiyori? Apakah kau tidak apa-apa?”
Banyak orang yang mengangguk—menyetujui pertanyaan Raiden-sama karena sepemikiran—lalu mereka menatap Hiyori dengan penuh perhatian. Mereka khawatir. Sebenarnya, dari cerita Hiyori barusan, mereka mengerti mengapa Hiyori bilang dia ada hubungannya dengan bencana itu. Akan tetapi, sebetulnya…itu bukan salah Hiyori juga.
Hiyori menatap semua orang, lalu perlahan-lahan ia mengangguk.
“Iya, Raiden-sama. Aku menyetujuinya. Aku tak ingin Desa Shinrei tenggelam.” Hiyori sedikit membungkuk, menghormati Raiden-sama. “Mulai sekarang akulah yang akan mengantarkan persembahan untuk Dewa Kemakmuran setiap harinya, Raiden-sama. Aku tidak apa-apa.”
Mendengar jawaban dari Hiyori, beberapa dari mereka bernapas lega, tetapi beberapa yang lainnya tetap merasa tidak enak karena harus menyerahkan semuanya kepada Hiyori.
“Baiklah. Kami semua akan tetap membantumu apabila kau membutuhkan bantuan, Hiyori,” ucap Raiden-sama dengan penuh perhatian. “Akan tetapi…ternyata sejak awal dugaanku benar. Dewa ingin kaulah yang mengantarkan persembahan itu ke kuilnya.”
Tiba-tiba ada salah satu wanita paruh baya yang angkat suara.
“Sepertinya, Dewa tertarik padamu, Hiyori.”
Hiyori kontan mengangkat wajahnya—menoleh ke asal suara—lalu matanya membulat. Hah?
“I—itu—"
“Iya, benar!” sahut wanita yang lain, bahkan sebelum Hiyori sempat merespons. “Dewa sepertinya menyukaimu, Hiyori.”
“Astaga, sepertinya desa kita akan makmur, nih, kedepannya.”
“Bukan makmur lagi, desa kita mungkin akan dispesialkan!”
“Tidak apa-apa. Hiyori, kan, sudah dewasa.”
“Ternyata bencana kemarin adalah jalan menuju kesejahteraan yang sesungguhnya!”
“Hiyori, aku akan membujuk suamiku untuk memberikanmu seluruh hasil panen kami yang selanjutnya, bukan hanya separuh!”
Akibat asumsi serta seloroh para wanita paruh baya itu, banyak orang yang mendadak jadi terkekeh. Suasana saat itu mendadak jadi mencair, ada juga yang sampai menggeleng geli. Banyak yang cekikikan. Akan tetapi, ayah dan ibunya Hiyori kelihatannya masih tercengang. Mereka tak menyangka bahwa sang Dewa akan tertarik kepada anak gadis mereka.
Ya…kalau dipikir-pikir, ada-ada saja. Satu desa hampir mati tenggelam cuma gara-gara sang Dewa ingin bertemu lagi dengan seorang gadis.
Hiyori jadi salah tingkah sendiri; pipi Hiyori memerah dan ia menunduk malu.
Raiden-sama pun sampai ikut terkekeh. Pria berbaju coklat tua itu lantas berkata pada Hiyori, “Ya sudah, Hiyori. Tetaplah melakukan apa yang Dewa minta. Kami akan selalu bersamamu.”
Mendengar perkataan Raiden-sama itu, Hiyori lantas menatap wajah Raiden-sama, tetapi kini dia hampir merengek.
Oh, astaga, kalian semua tak tahu bahwa dewa itu agak aneh…
14Please respect copyright.PENANAklV637nttT
******
14Please respect copyright.PENANAFUQVBGOi0C
Hiyori menatap ke jendela.
Gadis itu sedang berbaring di kasurnya. Ia sudah menyelimuti tubuhnya dan lampu kamarnya sudah dimatikan. Namun, karena tak bisa tidur, otaknya langsung kembali mengingat kejadian tadi pagi.
Rasanya banyak sekali yang terjadi hari ini. Semuanya seakan tak nyata. Hari ini terasa begitu panjang dan tak masuk akal, seperti petualangan di dalam mimpi.
Tatkala menatap ke jendela kamarnya—di samping kiri—yang ditutupi oleh gorden berwarna putih tipis, Hiyori lantas melihat bulan purnama yang bersinar sangat terang di langit malam ini. Cahayanya menembus masuk ke kamar Hiyori melalui jendela. Menerangi sebagian kamar Hiyori, terutama bagian kasur. Kulit lengan, betis, dan wajah Hiyori yang putih itu semakin terlihat bersinar akibat cahaya bulan itu. Rambut berwarna ungunya tampak berkilau.
Ah. Iya. Ini adalah awal musim gugur. Berarti, Hiyori sedang melihat bulan purnama di awal musim gugur.
Bulan Panen.
Rasanya damai sekali,padahal tadi pagi semuanya terasa kacau. Tadi pagi masih banjir. Tahu-tahu malam ini sudah jadi sedamai ini. Seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa.
Hymen-sama benar-benar kunci dari segala hal di desa ini, pikirnya.
Apa pun itu, Hiyori merasa lega. Akhirnya, bencana di desanya berakhir. Akhirnya, semuanya kembali normal, kecuali fakta bahwa kedepannya dia harus mengantarkan persembahan untuk Dewa Hymen setiap hari.
Semoga tidak ada masalah. Semoga kemesuman Dewa Hymen agak berkurang, ucap Hiyori di dalam hati.
Tadi, ketika sedang makan malam, Hiyori dan keluarganya kembali membicarakan tentang Dewa Kemakmuran. Ayah dan ibu Hiyori kembali mempertanyakan apa yang terjadi tadi pagi serta apa yang terjadi sembilan hari yang lalu—saat pertama kali Hiyori mengantarkan persembahan untuk Dewa—secara mendetail. Jadi, kali ini Hiyori kembali menceritakan seluruh kejadiannya secara berurutan tanpa ada yang terlewat. Ingatannya tentang Dewa Kemakmuran benar-benar sebening kristal. Akan tetapi, Hiyori tak menceritakan bagaimana ia sempat mengomeli Dewa dan mengatai dewa itu mesum karena pasti orangtuanya akan memarahinya habis-habisan. Kalau diceritakan, takutnya Hiyori malah dihukum dan disuruh membersihkan kebun milik ayahnya seharian.
Saat mendengarkan itu, ayah dan ibu Hiyori semakin yakin bahwa Dewa Kemakmuran memang benar-benar tertarik kepada anak mereka. Mereka lantas menanyai Hiyori apakah Hiyori benar-benar tidak apa-apa, tetapi jawaban Hiyori masih sama. Ia lebih baik naik turun gunung setiap harinya daripada desa mereka tenggelam.
Jadi, agar Hiyori tidak terlalu lelah, ibu Hiyori memutuskan untuk mengurangi pekerjaan rumah Hiyori. Ayah Hiyori juga berpesan kepada Hiyori untuk selalu bersikap baik kepada Dewa karena pada dasarnya dewa itulah yang menjadi kunci kemakmuran di desa mereka. Hiyori pun mengangguk—mengiyakan ayahnya—padahal di dalam hatinya dia rasanya mau menangis. Dewa Hymen itu mesum! Rasanya bagai memasukkan diri sendiri ke sarang predator dengan sukarela.
Ah. Entahlah.
Hiyori mau tidur saja.
14Please respect copyright.PENANALFCLO943Ao
******
14Please respect copyright.PENANAiq3KaFwWCP
Di dalam kamar Hiyori yang cukup gelap, di antara cahaya bulan purnama malam itu, ada sebuah sosok bercahaya yang perlahan-lahan muncul dari arah jendela. Sosok itu seolah terbang dari suatu tempat menuju ke kamar Hiyori, tetapi hanya menampakkan dirinya tatkala sudah sampai di kamar Hiyori. Sosok itu mulai datang, kakinya mendarat di lantai dekat jendela, lalu berdiri di sana seraya melihat Hiyori. Sosoknya begitu bersinar bak malaikat malam itu, bagai mengeluarkan cahaya dan mengalahkan sinar bulan purnama yang masuk ke kamar Hiyori.
Sosok itu hanya berupa roh. Tidak bisa disentuh.
Di malam yang sunyi itu, Dewa Hymen mengunjungi Hiyori dalam wujud roh. Roh yang terlihat amat bersinar, terutama karena rambut silver-nya serta terangnya bulan malam itu. Ia datang ke kamar Hiyori dan menemukan bahwa Hiyori sudah tertidur lelap di kasurnya.
Dewa Hymen melangkah mendekat. Ia berdiri di samping kasur Hiyori dan membelakangi jendela. Memperhatikan Hiyori yang tertidur dengan posisi menyamping seraya memeluk gulingnya. Napas Hiyori berembus dengan teratur; gadis itu tertidur lelap dengan wajah yang damai.
Sebuah senyuman muncul di wajah sang Dewa. Matanya yang berwarna abu-abu itu memandang Hiyori lekat-lekat.
“Kalau sedang tidur seperti ini, gadis ini terlihat tenang,” ujar sang Dewa lirih. “Siapa sangka dia akan sangat bawel saat terjaga?”
Dewa Hymen diam sebentar, lalu ia mengangkat sebelah alisnya.
“Mengapa aku baru sadar bahwa ada anak gadis secantik ini di Desa Shinrei? Aku sudah terlalu lama bersantai-santai,” ujarnya. “Apakah ada anak gadis cantik lainnya?”
Setelah mengatakan itu, Dewa Hymen lantas tersenyum miring. Dengan gerakan yang pelan, ia mulai membungkuk dan menempelkan ujung jari telunjuknya ke dahi Hiyori.
Dari ujung jari telunjuk itu, keluar sebuah cahaya berwarna putih. Bersinar terang seperti lampu kecil; lampu itu tetap hidup selama beberapa detik seolah mengalirkan cahayanya ke dalam kepala Hiyori. Hingga akhirnya, cahaya itu perlahan-lahan padam.
Dewa Hymen memberikan sebuah perlindungan kepada Hiyori.
Setelah selesai memberikan perlindunganitu, Dewa Hymen pun tersenyum lembut. Ia lantas berdiri tegak kembali, memandangi Hiyori selama beberapa detik, lalu akhirnya ia berbalik.
Ia berjalan ke dekat jendela, lalu sosoknya yang berwujud roh itu akhirnya pergi. Roh itu berubah menjadi asap yang tipis, lalu asap itu menghilang tanpa jejak di udara.
14Please respect copyright.PENANAR9IF171Hhs
******
14Please respect copyright.PENANApoDpKLid18
Pintu berdaun dua kuil itu terbuka dengan sendirinya begitu Dewa Hymen mendaratkan kakinyadi lantai teras kuil. Sama seperti bagaimana ia muncul di kamar Hiyori, begitu pulalah ia muncul di depan pintu kuil itu; ia muncul secara tiba-tiba di sana, tampak seperti habis terbang, tetapi baru menampakkan sosoknya tatkala ia mulai mendarat.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Setelah kedua kakinya telah berpijak di lantai teras kuil, wujud rohnya itu perlahan berubah. Wujudnya kembali normal dan kini siapa pun bisa melihatnya.
Dewa Hymen melangkah mendekati pintu utama kuil itu dengan tenang. Pembawaannya saat itu tampak seperti air yang tak beriak. Akan tetapi, saat ia baru saja sampai tepat di pintu itu—belum benar-benar masuk—tiba-tiba langkahnya terhenti.
Suasana kuil itu sepi, seperti biasanya, tetapi Dewa Hymen tiba-tiba membuka suara.
14Please respect copyright.PENANA3AwjYbEIHI
“Oi. Apa yang kau lakukan di sana?”
14Please respect copyright.PENANAzGrKLQNVSO
Tiba-tiba saja di ujung sana—di sebelah kanan—muncullah seorang pria. Pria itu memiliki tubuh yang kurang lebih sama besarnya dengan Dewa Hymen. Pria itu memakai baju dan celana yang berwarna hitam, tetapi dilapisi dengan sebuah kimono merah berbordir emas di bagian luarnya. Rambut pria itu berwarna merah tua. Matanya berwarna keemasan bak mata seekor harimau. Ada sebuah anting-anting permata panjang yang terpasang di telinga sebelah kirinya.
Berbeda dengan Dewa Hymen yang kemunculannya tidak ditandai dengan apa pun, kemunculan pria itu diawali dengan sebuah percikan api. Pria itu langsung memperlihatkan wujudnya begitu Dewa Hymen menegurnya.
Pria yang baru muncul itu lantas cengengesan. Sama seperti Dewa Hymen, wajah pria itu terlihat tegas, perawakannya tampak kuat, tetapi di sisi lain…ia juga terlihat seperti orang yang suka bermain-main. Tidak serius.
A mischievous one.
Tatkala melihat Dewa Hymen, pria itu langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu dengan riang ia berkata, “Wow, wow, Hymen. Santai, dong. Galak sekali, sih. Sudah lama kita tak bertemu.”
Mendengar jawaban pria itu, Dewa Hymen pun menghela napas.
Ah, sepertinya malam ini dia takkan bisa beristirahat dengan tenang. Ada Enzou, sang Dewa Api, yang menginvasi kediamannya. []
14Please respect copyright.PENANA6nw3ktu0rU