
#4
3088Please respect copyright.PENANAVdeRAd2vm3
Training hari pertama berjalan lancar. Hanya pengenalan soal perusahaan. Mulai dari produk dan juga jasa yang ditawarkan. Pukul 4 sore saya sudah pulang.
Aku pulang naik motor milik Om Budi. Kebetulan ada motor yang tidak dipakai. Om Budi menyuruhku untuk memakainya.
Sesampai di rumah Om Budi, aku melihat Tante Sari sedang masak di dapur.
“Ada yang bisa saya bantu tante?” tanyaku. Aku tidak enak jika hanya numpang di sini tanpa bantu-bantu.
“Tidak perlu, kamu segera mandi saja sana. Ini sudah mau selesai,” katanya.
Aku pun pergi mandi. Setelah mandi kami bersiap-siap berbuka puasa. Tante Sari juga selesai mandi.
Aku duduk di meja makan, aroma masakan khas buatannya masih hangat menguar dari mangkuk di depanku. Tak berselang lama terdengar adzan Magrib dari masjid.
Tante Sari kemudian membawa segelas es jeruk ke meja.
"Maaf ya, cuma ini yang bisa Tante sajikan," katanya sambil duduk di depanku.
"Aduh, Tante kok bilang gitu. Ini mah udah enak banget," ujarku sambil menyendok kuah sayur.
Tante Sari tertawa kecil. "Tante suka bikin ini pas puasa. Om Budi juga suka, tapi ya gitu, dia jarang buka puasa di rumah.”
"Om Budi hebat ya, Tante. Dia pekerja keras. Jadi sopir sering ke luar kota gitu, pasti capek," kataku sambil mulai menyantap makanan.
"Iya, capek mah pasti. Tapi ya namanya kerja. Dia bilang, ‘yang penting keluarga di rumah happy,’ gitu. Tante cuma bisa doain dari sini supaya dia selamat sampai pulang lagi," jawab Tante Sari.
Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi cepat-cepat dia hapus sambil pura-pura nyanyi-nyanyi kecil biar suasana nggak canggung.
Aku ikut tersenyum. "Pasti lebih senang kalau buka puasa ada Om Budi ya Tante?"
"Eh, bener banget. Pinginnya tiap hari buka puasa sama suami dan anak juga. Tapi ya mau gimana lagi. Untung ada kamu nemenin Tante buka puasa hari ini. Kalau nggak, pasti sepi banget seperti biasanya," katanya sambil mengambil sepotong tempe goreng dari piring tengah.
Obrolan kami mengalir santai. Tante Sari cerita tentang masa muda dia sama Om Budi, waktu mereka masih pacaran dan Om Budi suka bawa motor butut ke rumah Tante buat jemput dia ke pasar.
"Dulu Tante malu, motornya berisik banget. Tapi sekarang malah kangen suara itu," katanya sambil terkekeh.
Aku cuma bisa mangut-mangut sambil menikmati makanan. Di luar, angin malam mulai berhembus pelan.
“Nanti sahur apa?" tanya Tante Sari.
"Terserah tante, gak perlu repot-repot," jawabku.
Kami terus makan sambil mengobrol hingga selesai.
.
.
.
Malam hari setelah Sholat Tarawih, aku duduk di kursi teras depan sambil menikmati kopi dan merokok.
Tak berselang lama, Tante Sari datang.
“Buat kopi sendiri, bilang saja ke tante kalau mau kopi. Biar tante bikinin,” katanya.
“Gak usah tante, biar saya buat sendiri,” jawabku.
Tante Sari ini memang baik sekali. Dia menerima keberadaanku di sini. Tapi aku tidak mau banyak merepotkan dia.
Tante Sari lalu ikut duduk di kursi.
Tapi malam ini penampilan Tante Sari bikin aku gagal fokus. Dia memakai kaus longgar warna putih tanpa lengan yang agak tipis. Lalu celana pendek warna kuning, motif bunga. Sebuah pakaian rumahan biasa untuk santai atau untuk tidur. Tapi entah kenapa kalau dia yang pakai jadi terasa beda.
Mungkin selama ini, aku tidak pernah melihatnya berpakaian seperti ini saat ketemu. Tante Sari terlihat biasa saja pakai baju itu di di depanku.
Tapi aku jadi berkali-kali curi pandang ke arahnya. Dia jadi terlihat lebih muda kalau berpakaian seperti ini. BH-nya warna merah muda jadi membayang, karena bajunya tipis.
Semenatara paha putih dan mulus Tante Sari mau tak mau kulihat, karena saat ia duduk, celananya juga makin ke atas.
Sebagai anak muda dan jomblo, jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Aku kemudian menyeruput kopi lagi
"Panas ya malam ini," kata Tante Sari. "Tante gerah banget."
Mungkin alasan kenapa Tante Sari pakai baju minim seperti ini. Atau memang sudah biasa pakai baju begini kalau di rumah.
"I-iya, Tante. Memang agak sumuk," jawabku tergagap, berusaha nggak terlalu jelas melirik ke arahnya. Tapi susah, mataku seolah punya kehendak sendiri.
Aku harus ekstra keras menahan diri biar nggak salah tingkah.
Tante Sari tampaknya nggak sadar dengan efek baju yang dia dia pakai.
"Om Budi biasanya suka di sini pas malam. Ya ngopi sama merokok seperti ini. Tapi ya kalau di keluar kota jadi sepi. Untung ada kamu jadi tante nggak bengong sendiri," katanya sambil tersenyum.
Aku cuma nyengir kaku, "Iya, Tante,” jawabku singkat.
Kami pun terus mengobrol. Mulai dari hari pertama di tempat kerja, keluarga, dan lain-lain.
“Eh, kamu sudah pacar?" tanyanya sambil tertawa kecil.
“Belum punya, Tante. Masih jomblo, hehe,” jawabku.
“Tante nggak sering kesepian kalau Om Budi tidak pulang?" tanyaku.
Tante Sari menghela nafas pelan, "Ya kadang kesepian, kangen juga kalau lama-lama ditinggal sendiri. Tapi udah biasa. Dia telepon tadi sore, katanya lagi istirahat di rest area. Besok lanjut ke Solo. Tante cuma bisa sabar nunggu."
Aku mengangguk, "Om Budi pasti seneng punya istri sebaik Tante."
"Ih, manis banget ucapanmu," kata Tante Sari sambil tertawa.
"Aku ambil camilan bentar ya, ada keripik di dalam. Kamu mau kopi lagi?" tanyanya sambil berdiri.
Saat Tante Sari balik lagi, kami lanjut ngobrol tentang hal-hal ringan—dari cerita lucu Om Budi sampai rencana ke mana saja saat lebaran nanti.
Tak berselang lama, Tante Sari pamit mau tidur dulu, biar nanti dia tidak telat untuk bangun sahur.
“Kalau kamu nanti mau tidur juga, jangan lupa dikunci pintunya ya,” katanya, mengingatkanku.
“Iya tante,” jawabku.
Tante Sari pun masuk ke dalam.
Aku masih terus ngopi. Setelah Tante Sari masuk, aku harus akui, pakaian minim Tante Sari tadi bikin aku terus membayangkannya dan pelan-pelan bikin naik libidoku. Sampai aku sadar dia adalah tanteku sendiri.
Tante Sari seakan punya pesona malam ini. Apalagi dengan pakaiannya seperti itu, aku bisa melihat kulitnya putih mulus, khas orang yang rajin merawat diri.
Rambutnya sedikit bergelombang, dan tadi dia biarkan tergerai dengan ikatan longgar yang malah bikin tambah menarik.
Meskipun dia agak gemuk, tapi pundak dan lengannya terlihat ramping dan putih mulus.
Tadi lekuk pinggangnya sedikit terlihat karena bajunya itu agak ngepas di badan. Perutnya terlihat agak buncit dikit. Celana pendek yang dia pakai memperlihatkan pahanya yang lumayan besar, putih dan mulus, dengan betis yang sedikit berisi tapi tetap terlihat kencang.
Aku jadi berpikir apakah dia sengaja memamerkan apa yang dia punya. Waktu dia berdiri buat ambil keripik di dapur, aku sempat memperhatikan pinggulnya yang, bergerak selaras sama langkahnya yang ringan.
Sementara payudaranya kulihat ukurannya lumayan besar–menonjol, tapi seimbang dengan tubuhnya. Aku jadi terus membayangkannya.
Tak berselang lama, aku masuk ke dalam. Tak lupa ku kunci pintu, rumah sesuai dengan yang diingatkan Tante Sari tadi. ***
3088Please respect copyright.PENANAB6xGmWmQpd