
#3
3156Please respect copyright.PENANASk2LkVFEPX
Aku merasa beruntung bisa tinggal di sini. Aku tak perlu mengeluarkan biaya untuk kos selama training.
“Juna, ayo kita sahur,” ucap Tante Sari dengan suara yang lembut, disusul ia mengetuk pintu kamar.
“Iya tante,” sahutku, karena aku sudah bangun sekitar 10 menit yang alu.
Aku segera bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk sahur. Aku dapat mencium aroma makanan yang dimasak Tante Sari.
Aku melangkah ke ruang makan, Om Budi dan Tante Sari sudah menyiapkan hidangan.
“Ayo cepat makan!” kata Tante Sari dengan senyum cerahnya.
“Ayo duduk,” sahut Om Budi.
“Enak ini masakan Tante Sari,” balasku sambil duduk. Di depan kami terhidang nasi hangat, telur dadar, dan sayuran.
Kami pun mulai menyantap sahur. “Kamu harus banyak makan, Jun. Badanmu kurus gitu. Makan yang banyak, biar kuat puasanya,” kata Om Budi, disusul tawa, sambil menyendok nasi ke dalam piring.
“Tentu, Om!, ini kurus karena bingung cari kerja,” sahutku, ikut tertawa.
Tante Sari juga tertawa.
Setelah selesai makan, kami mengobrol sejenak.
“Hari ini aku akan pergi untuk pengiriman ke luar kota selama dua hari,” kata Om Budi.
“Oh, Kapan berangkat, Om?” tanyaku.
“Nanti pagi. Ada beberapa barang yang harus segera dikirimkan,” jawabnya sambil menatapku. “Tolong temani Tante Sari ya!”
“Tentu, Om,” jawabku.
Sambil menunggu imsak, aku membakar sebatang rokok milik Om Budi di teras rumah. Beberapa saat kemudian Om Budi dan Tante Sari beranjak masuk.
Selesai merokok, aku hendak kembali masuk ke kamar. Aku tidak tidur, aku masih nunggu imsak dan Sholat Subuh.
Saat aku menuju ke kamar, ada suara samar-samar terdengar dari kamar Om Budi dan Tante Sari. Suara bisikan dan tawa lembut. Terdengar sangat mesrah.
“Papa, ayo cepetan, keburu imsak,” suara Tante Sari terdengar lembut namun menggoda.
“Iya ma,” jawab Om Budi, suaranya dalam dan penuh gairah.
Mendengar percakapan itu aku jadi diam di depan pintu mereka. Om Budi dan Tante Sari akan melakuan hubungan intim.
“Ayo lakukan sekarang, mama kan mau ditinggal lagi sama papa selama 2 hari,” bisik Tante Sari, dan aku bisa membayangkan senyumnya di balik pintu.
“Iya ma,” kata Om Budi, suaranya semakin bersemangat.
Aku tidak bergerak dan tidak bersuara, hanya berdiri. Terus menguping apa yang dilakukan mereka di dalam.
Setelah beberapa saat, suara mereka mulai mereda. Berubah menjadi suara desahan dan bisikan lembut.
“Ooohhhh…. pa, terus pa,” ucap Tante Sari dengan suara manja dan mendesah. Jantungku berdebar mendengarnya.
“Aaaahhhh…. iya ma, enak ma,” kata Om Budi, sambil mendesah.
Suara desahan mereka terdengar hingga keluar kamar secara samar-samar. Ditambah suara derit tempat tidur mereka.
Beberapa menit kemudian, terdengar lagi suara Om Budi. “Ma, papa mau keluar,” katanya.
“Ih papa, baru juga mulai, udah mau keluar,” protes Tante Sari.
“Iya ma, karena punya mama enak banget, jadi papa cepat mau keluar,” katanya.
“Aaaaaaahhhhhhh……” desah Om Budi kemudian.
“Ih papa, mama belum puas, udah keluar,” kata Tante Sari dengan manja.
Setelah itu, aku pun segera masuk kamar, takut mereka keluar.
.
.
.
Pagi harinya, Om Budi segera bersiap-siap untuk berangkat. Dia pamitan ke Tante Sari dan juga ke aku.
“Aku berangkat ya…,” ucapnya sambil mengenakan jaketnya.
“Hati-hati, Om. Semoga selamat sampai pulang lagi,” balasku.
“Tolong temani tantemu ya,” pesan Om Budi sebelum pergi.
“Siap om,” jawabku.
Setelah Om Budi pergi, suasana rumah jadi sunyi. Aku dan Tante Sari kembali masuk, dan dia mulai membereskan meja.
Aku sempat bantu-bantu bentar, lalu bersiap untuk berangkat ke tempat training. ***
3156Please respect copyright.PENANAuDuEqM7PGe