
#1
3371Please respect copyright.PENANAhF4IVzmEOl
Setelah empat tahun bergelut dengan tumpukan buku dan tugas-tugas kuliah, akhirnya aku berhasil lulus. Selanjutnya, aku siap untuk mencari pekerjaan yang kuimpikan.
Ijazah sudah di tangan sebagai “kunci” untuk melamar pekerjaan. Namun, kenyataan tidak seindah yang aku bayangkan. Tidak semudah itu mencari pekerjaan.
Aku seperti pengembara yang tersesat di tengah padang pasir. Surat lamaran yang kukirim ke sana-sini seolah-olah hanya menghilang begitu saja. Tidak ada satu pun balasan atau respon.
Hari-hari berlalu, dan setiap kali aku memeriksa email dan tak ada balasan dari perusahaan yang kulamar, rasa cemas semakin membayangiku.
“Bagaimana masa depanku? Apakah aku akan mendapatkan pekerjaan? Sampai kapan aku akan menganggur?” pertanyaan itu terus berputar di pikiranku.
Apalagi orangtua terus bertanya, “Jadi kerja di mana?” Sudah berbulan-bulan aku menganggur dan hanya lantung-lantung di rumah.
Suatu sore, aku duduk di teras rumah, menatap langit biru yang perlahan mulai gelap. Kuminum secangkir kopi dan menghisap satu batang rokok milik bapak.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada notif email yang masuk. Dengan jantung berdebar, aku membuka satu pesan yang membuatku terloncat dari tempat duduk.
“Selamat, Anda diterima untuk mengikuti training di perusahaan kami.”
Perusahaan yang kulamar bergerak di bidang IT. Masih nyambung dengan jurusan yang kuambil saat kuliah.
Rasa gembira meluap-luap dalam diriku. Akhirnya, setelah berbulan-bulan berusaha, keberuntungan menghampiriku. Namun, kegembiraan itu segera diiringi oleh rasa cemas.
Karena aku harus menjalani training di luar kota, sebut saja Kota X. Aku harus training di perusahaan utama, sebelum nanti dipekerjakan di perusahaan cabang.
Segera setelah itu, aku berlari ke dalam rumah untuk memberitahukan orang tuaku. “Bu, Pak! Aku dapat panggilan untuk training!” seruku dengan penuh semangat.
Ibu yang sedang menyiapkan makan malam menoleh, matanya berbinar. “Wah, itu kabar yang sangat baik, Nak! Kami ikut senang,” jawabnya, senyumnya lebar.
“Namun trainingnya di Kota X, selama seminggu, bagaimana bu?” kataku. “Aku harus berangkat minggu depan.”
“Bukannya minggu depan sudah memasuki bulan puasa?” tanya ayah.
“Iya yah. Aku bingung mau tinggal di mana selama training. Harus kos kayaknya. Karena perusahaan tidak menyediakan tempat tinggal,” jawabku.
“Kan di sana ada om kamu, Om Budi tinggal di kota itu,” jawab ibu.
“Iya, kamu bisa numpang di rumah Om Budi selama seminggu saja,” sambung ayah.
Om Budi adalah saudara dari ibuku. Dia tinggal bersama istrinya, Tante Sari dan anaknya di Kota X. Tapi sudah lama aku tidak berjumpa dengan mereka.
“Coba kamu hubungi Om Budi. Mereka pasti setuju kamu nginap di sana,” kata ayah.
“Ya, Pak,” jawabku, merasa lega mendapatkan dukungan bapak dan ibu. Segera setelah itu, aku menghubungi Om Budi.
.
.
.
“Om, aku dapat panggilan training di kota X. Bolehkah aku tinggal di rumah Om selama seminggu? Tempatnya juga tak jauh dari rumah om,” tanyaku.
“Iya Juna! Tentu saja, Om sangat senang kamu nginap di sini,” suara Om Budi terdengar ceria. “Kapan kamu ke sini?”
“Seminggu lagi Om, awal puasa,” balasku.
“Oke, om tunggu ya,” jawabnya.
Aku pun sangat senang, mendapat tempat menginap selama training di sana.
Oh, perkenalkan, namaku Arjuna, biasa dipanggil Juna. Usiaku saat ini 23 tahun. Sebagai pemuda yang baru lulus kuliah, aku lagi semangat-semangatnya mendapatkan pekerjaan untuk masa depanku. ***
3371Please respect copyright.PENANAYmcYQ8YLyw