Ibukota memang keras. Semua orang di dalamnya mesti berjuang dan berkorban biar tidak tersingkir, dan tidak semua jalan yang bisa dilalui itu terang-benderang…
4174Please respect copyright.PENANAWSo7YRSqei
Izinkan saya menceritakan kisah hidup saya. Nama saya Darmini, tapi orang nggak banyak yang mengenal nama asli saya. Bapak dan Simbok memanggil saya Denok, itu panggilan biasa untuk anak perempuan di kampung saya, tapi artinya nggak cuma itu. Denok juga berarti montok alias sintal, dan rupanya arti itu yang lebih diingat banyak orang dalam kehidupan saya di Ibukota.
4174Please respect copyright.PENANAT256EB3ZQe
Masa kecil saya dihabiskan di kampung, jauh dari Ibukota. Saya anak semata wayang Bapak dan Simbok, sekeluarga petani penggarap yang tak berpunya. Sejak kecil saya diajari menari oleh Simbok, karena beliau sendiri waktu muda adalah seorang penari, dan masih sering ditanggap kalau ada acara di kampung. Sayang, kehidupan kami yang damai di kampung terhenti ketika suatu hari saya dan Simbok dapati Bapak gantung diri. Ternyata Bapak punya banyak utang gara-gara gila judi, dan beliau tidak mampu bayar utangnya itu. Kami jelas sedih karena Bapak sudah tidak ada, tapi juga bingung karena beberapa hari setelah Bapak dimakamkan, kami diusir dari rumah karena rumah kami disita bandar judi yang memberi utang kepada Bapak. Kami tak punya tempat tujuan, dan uang simpanan kami tak seberapa. Simbok akhirnya nekat mengajak saya pindah ke Ibukota mencari penghidupan. “Denok, kita ndak bisa apa-apa lagi di sini, di kota kita bisa coba cari uang, mudah-mudahan di sana mendingan daripada di sini,” kata Simbok.
4174Please respect copyright.PENANAqvD3JrW8I0
Saya cuma lulusan SMP, Simbok lulusan SD. Kami sama-sama nggak sadar hidup di Ibukota begitu beratnya. Melamar kerja kesana-kemari, nggak diterima karena dianggap pendidikan kurang tinggi. Cari kerja yang nggak perlu ijazah, saingan banyak sekali. Akhirnya setelah cukup lama mencermati berbagai kesempatan yang ada, Simbok memutuskan untuk memanfaatkan keahlian kami. Dengan bermodal pakaian dan perlengkapan yang kami bawa dari kampung, serta radio tape bekas dan kaset-kaset musik tradisional yang kami beli dari pasar loak dengan sisa uang, mulailah kami berdua menjadi penari jalanan.
4174Please respect copyright.PENANAwZJvvaafa1
Waktu gadis-gadis seumur saya yang di kota sedang siap-siap ujian akhir SMA atau menjalani tahun pertama kuliah, dan yang di desa menunggu dijodohkan oleh orangtuanya, saya mulai menjalani kehidupan baru, menjajakan keahlian seni tari bersama Simbok. Awalnya kami berkeliling Ibukota, sekadar mencari keramaian di mana kami bisa memperoleh beberapa lembar rupiah demi menyambung hidup. Kami biasa mulai pagi-pagi, menjajaki jalan-jalan Ibukota untuk mencari orang-orang yang mau kami hibur dengan tarian kami. Ternyata nggak gampang juga mencari uang dengan cara seperti ini, paling-paling yang kami dapatkan hanya cukup untuk makan kami berdua, satu atau dua kali pada hari itu. Dan nggak di semua tempat kami bisa mendapat penonton yang bersedia membayar, kadang-kadang kami malah diusir atau dihardik. Setelah cukup lama, kami ketemu tempat di mana kami bisa selalu dapat penonton dan uang: satu pasar induk yang cukup besar, dan lingkungan di sekitarnya. Kami pun menyewa satu kamar kontrakan murah di dekat Pasar. Banyak orang di Pasar, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, haus hiburan murah yang bisa bikin mereka ingat kampung masing-masing. Kehadiran kami di sana selalu disambut senyum, tawa, dan lembar-lembar uang yang kumal hasil perasan keringat mereka. Walaupun tak jarang lembar-lembar itu diberikan kepada kami dengan kurang sopan misalnya dengan diselipkan ke pakaian kami.
4174Please respect copyright.PENANAWXG4Z5StHW
Apa saya dan Simbok memang menggoda? Entah ya. Saya sendiri tidak merasa cantik. Sebagai anak petani yang sering main di luar sejak kecil, kulit saya jadi agak gelap terbakar matahari. Tapi Simbok juga dari dulu selalu mengajari dan mengingatkan saya untuk merawat tubuh biarpun dengan cara sederhana, jadi biarpun sawo matang, kulit saya tetap mulus dan tidak jerawatan apalagi bopeng-bopeng lho. Oh ya, tadi kan saya sudah cerita arti nama panggilan saya, Denok. Dipikir-pikir benar juga sih kalau dibilang saya montok. Enggak tahu kenapa, biarpun rasanya dari kecil makanan saya bergizi pas-pasan, kok tetap saja badan saya bisa jadi ya. Sebelum remaja saja tetek saya sudah tumbuh, dan sekarang jadinya subur gumebyur sampai-sampai saya selalu kuatir dengan kemben saya tiap kali menari. Bokong saya juga kencang gara-gara dibentuk latihan olah tubuh dalam tarian. Ada yang bilang bahenol, saya sih matur nuwun saja kalau ada yang anggap begitu. Herannya, biarpun atas bawah gede, tengahnya tidak ikut gede, perut dan pinggang saya masih singset. Saya anggap masih singset soalnya kayaknya nanti badan saya akan jadi seperti badan Simbok, tengahnya mulai ikutan lebar.
4174Please respect copyright.PENANAOLyxZkAuwt
Denok
4174Please respect copyright.PENANAhaP3wA2Dlc
Nah, kalau Simbok itu memang cantik. Sampai umur segitu pun beliau tetap cantik. Apalagi kalau sudah pakai sanggul dan rias, wuihh. Semua orang nengok dan nggak lihat apa-apa lagi. Saya sendiri selalu merasa jelek lho kalau tampil bersama Simbok. Ah, tapi sedunia cuma saya sendiri yang nganggap muka saya jelek. Selain Simbok, orang-orang yang biasa nonton kami menari kok semuanya bilang saya cantik. Saya pikir, itu sih pinter-pinternya Simbok mendandani saya aja. Waktu pertama kali didandani buat ngamen, saya protes, kok repot amat. Rambut mesti disasak, disanggul, disunggar, pakai tusuk dan kembang. Muka mesti dibedaki tebal-tebal, sampai beda warna dengan badan. Mungkin tinggal tahi lalat di pipi saya saja yang nggak ketutupan. Alis saya yang sudah tebal dibikin tambah tebal. Bibir juga dikasih gincu warna merah mentereng. Saya waktu itu ngeluh, “Kok sudah kayak penganten aja, Mbok.” Simbok menjawab, “Yang namanya penari itu nggak boleh biasa-biasa aja, nduk. Mesti kinclong, manglingi. Kita mesti bikin senang yang nonton.” Lama-lama saya biasa juga memakai riasan seperti itu, malah saya jadikan guyonan sama Simbok. “Mbok, aku wis saban hari jadi penganten, ntar kalau nikah beneran mesti kayak apa diriasnya?” Rias wajah yang tebal jadi bagian seragam kerja saya, sama seperti kemben, kain batik, dan selendang.
4174Please respect copyright.PENANAYd1xQWyJv6
Tapi memang yang namanya nasib itu jalannya nggak ada yang tahu. Dua bulan kami menetap di dekat Pasar, musibah datang lagi. Waktu sedang nyebrang jalan, Simbok ketabrak mobil. Luka parah. Saya panik, orang-orang di sekitar ramai-ramai ngangkut Simbok ke rumah sakit. Tapi Simbok nggak tertolong. Simbok meninggal di rumah sakit setelah dua hari dua malam berusaha diselamatkan dokter di sana. Sebenarnya sejak ketabrak juga Simbok sudah nggak ada harapan, tapi entah kenapa beliau lama sekali meninggalnya. Sekaratnya sampai seharian. Sampai nggak tega saya melihatnya. Waktu itu ada yang bisik-bisik, mungkin Simbok pasang susuk, makanya meninggalnya susah. Orang kok tega ya ngomong seperti itu. Tapi apakah itu benar atau nggak, saya nggak mau tahu, biarlah itu jadi rahasia Simbok.
4174Please respect copyright.PENANA3ggbL4arP7
Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Ditambah lagi, uang habis untuk mbayar rumah sakit dan pemakaman, malah mesti berutang ke mana-mana. Saya nggak mampu mengadakan acara macam-macam buat Simbok, hanya bisa mendoakan sendiri semoga arwah Simbok bisa tenang di alam sana dan ketemu lagi dengan Bapak.
4174Please respect copyright.PENANAT8WzZjSBRr
Seminggu lebih saya di kontrakan saja karena terlalu sedih. Mungkin saban hari saya menangis, sedih mengingat Simbok, juga kesepian. Akhirnya saya memaksa diri untuk keluar lagi, ngamen lagi, karena uang sudah habis dan saya juga mesti hadapi para tukang tagih utang yang nggak mau tahu kesulitan saya.
4174Please respect copyright.PENANAgTGsfHxdzj
Jadi, seminggu sesudah Simbok dimakamkan, saya kembali siap-siap untuk keluar, menari. Di hadapan cermin saya tata rambut saya sendiri, saya pasang sanggul dan kembang, saya bedaki muka saya biar nggak kelihatan bekas-bekas menangis, saya pakai lagi kemben dan kain, saya sampirkan selendang di leher.
4174Please respect copyright.PENANAkSLUoutOaG
Ealah, pas keluar kamar saya malah ketemu dengan ibu yang punya kontrakan. Si ibu nggak pake basa-basi langsung nagih tunggakan 2 bulan. Saya nggak punya uang, jadi saya cuma bisa bilang maaf, dan si ibu malah ngancam secara halus. Nggak apa-apa nggak bayar, katanya, tapi besok kamu keluar dari tempat saya. Haduh biyung, kok nggak habis-habis ya cobaan buat saya. Saya mau usaha dulu, kata saya, nanti akan saya bayar.
4174Please respect copyright.PENANA27XKgNrJ9e
Hari itu saya berangkat ngamen, berusaha cari uang buat hidup.
4174Please respect copyright.PENANAYX38WHWP1L
*****
4174Please respect copyright.PENANAAVw9rrU9om
Sialnya, hari itu Pasar agak sepi, dan sesudah dua jam saya baru dapat Rp5000 sesudah menari di pangkalan ojek. Saya nggak bisa konsentrasi, kepala penuh dengan pikiran, gimana caranya supaya nanti kalau pulang sudah punya cukup uang untuk bayar kontrakan. Belum utang-utang lainnya.
4174Please respect copyright.PENANACZc3Et3zb2
Menjelang siang, saya sedang jalan di barisan toko-toko besar di samping Pasar. Dan di depan toko beras paling besar di Pasar, saya melihat Juragan sedang menghitung segepok uang. Beliau baru saja terima uang banyak, rupanya ada orang yang habis mborong.
4174Please respect copyright.PENANAacWmsk9lT8
Saya waktu itu cuma kenal beliau sebagai ‘Juragan’. Beliau pemilik toko beras yang besar itu. Beliau sudah tua, lebih tua daripada Simbok, mungkin umurnya sudah 50 atau 60 tahun. Kepalanya hampir botak, rambutnya tipis beruban, kumis dan jenggotnya jarang-jarang. Badannya besar dan perutnya gendut. Sekali dua kali saya dan Simbok pernah menari di depan tokonya, dan pegawai-pegawainya memberi kami uang tapi beliau tidak. Tapi beliau pernah meminjamkan uang kepada Simbok, dan Simbok sempat mengembalikannya.
4174Please respect copyright.PENANADL7NCZn3FE
Saya beranikan diri menghampiri Juragan. Dia sendirian di depan toko, sementara anak buahnya sibuk di dalam dan di belakang. Tokonya sedang sepi, tidak ada pembeli.
4174Please respect copyright.PENANAwjgUCFJtFX
“Juragan,” pinta saya. “Anu… saya…”
4174Please respect copyright.PENANAeRRKos4fi8
Juragan melihat saya dengan acuh. “Ada apa, Denok?”
4174Please respect copyright.PENANAY0by7ejv3v
“…saya… saya…” Duh, saya nggak kuat bilangnya. Tapi saya harus bilang. “…saya boleh pinjam uang, Juragan? Uang saya sudah habis untuk biaya pemakaman Simbok… sekarang saya mesti bayar kontrakan dua bulan…”
4174Please respect copyright.PENANAlKOIToKm1p
“Hah?” Juragan melihat saya dengan aneh, “Kamu perlu uang?”
4174Please respect copyright.PENANAKhyM3PstD7
“Tolong, Juragan,” saya meminta lagi, “Saya sudah ditagih, hari ini harus ada, atau saya diusir. Saya janji akan kembalikan secepatnya.”
4174Please respect copyright.PENANAA8GSRwWY5A
Eh, kok Juragan langsung mengantongi segepok uang yang tadi dia hitung-hitung.
4174Please respect copyright.PENANAQBoTpXA0FQ
“Denok,” kata beliau dengan dingin, “Aku ini pedagang, bukan tukang ngasih utang. Kamu perlu uang? Kerja sana. Atau kamu jualan aja.”
4174Please respect copyright.PENANAI9Yda4wljv
“Saya sekarang juga lagi kerja, Juragan,” saya jengkel tapi tidak berani menunjukkan; sepertinya Juragan tidak mau meminjamkan uang. “Cuma takutnya saya tidak bisa dapat cukup uang hari ini buat bayar kontrakan. Kalau jualan, saya ndak punya apa-apa, mesti jual apa?”
4174Please respect copyright.PENANAXBY7jh8kYy
Tapi lantas tatapan Juragan kok berubah jadi aneh… Beliau mendekati saya dan merangkul saya. Tangannya yang besar itu memegang bahu saya.
4174Please respect copyright.PENANAPPmIKgNBy7
“Siapa bilang kamu nggak punya apa-apa?” bisiknya. “Badan kamu bagus, Denok. Aku mau kok mbayar buat itu.” Beliau menarik badan saya mendekat ke badannya, sampai pipi saya nempel di samping dadanya yang gemuk.
4174Please respect copyright.PENANANTjDRsxLOD
“Ihh?!” saya kaget dengar bisikan Juragan itu. Duh, inikah yang namanya bisikan iblis? “Badan… saya?” Bisikan Juragan terus terngiang di kepala saya. Merinding bulu kuduk saya membayangkan apa maksudnya itu.
4174Please respect copyright.PENANATUWogpvuo4
“Kalau kamu mau, Denok, aku lunasi tagihan kontrakanmu yang dua bulan itu sekalian mbayar untuk bulan depan,” bisik Juragan lagi.
4174Please respect copyright.PENANAAns2v5NVMs
Duh, biyung, saya mesti gimana? Saya perlu uang, tapi apa mesti dengan cara seperti ini? Tapi kalau nggak, bagaimana lagi? Yang ada saya bakal diusir, nggelandang, dan…
4174Please respect copyright.PENANAzgP79HgAZC
…ujung-ujungnya sama saja.
4174Please respect copyright.PENANANqLNI2aO57
Saya nggak punya pilihan lain…
4174Please respect copyright.PENANAiGARxqMd3b
“…mau, Juragan…” saya berbisik, lirih sekali sampai nggak kedengaran. Kalau saja nggak ketutupan bedak, mungkin sudah kelihatan muka saya berubah merah seperti cabe.
4174Please respect copyright.PENANA3NAqLpbWkQ
Juragan ketawa, badannya yang gendut itu sampai terguncang-guncang. “Bagus, Denok. Ayo ikut aku. Kamu ikutin aja kataku, nanti kubayar kamu, ya?”
4174Please respect copyright.PENANAzE06xPzlwb
Lantai atas toko beras itu rumah Juragan. Juragan membawa saya naik tangga di samping toko, masuk ke rumahnya. Juragan ternyata tinggal sendirian. Saya penasaran, apa Juragan nggak punya istri? Kami masuk ke rumah Juragan. Saya terus memandangi lantai, tidak berani mengangkat kepala, tapi sekali-sekali saya ngintip kesana-kemari melihat keadaan. Juragan rupanya tinggal sendirian di atas tokonya. Ada foto tua yang menunjukkan Juragan dengan seorang perempuan—istrinya kah?
4174Please respect copyright.PENANA1hKdrQnU1y
Juragan menggandeng tangan saya masuk ke satu kamar. Kamar tidurnya. Dia nyuruh saya duduk di ranjang. Saya duduk, sambil menundukkan kepala. Juragan berdiri di depan saya, mengamati sekujur tubuh saya. Dia menyentuh dagu saya, sambil bilang, “Denok, angkat kepalamu, lihat aku.” Saya nurut. Mungkin dia lihat mata saya ketakutan setengah mati.
4174Please respect copyright.PENANAHUwXKwVNpt
“Buka kembenmu,” katanya. Dia taruh selembar uang Rp50.000 di samping saya. Saya menengok, melihat uang itu. Besar sekali buat saya. Biasanya seharian menari saya tidak pernah dapat uang sebanyak itu. Tapi saya tetap ragu. Juragan tiba-tiba mau mengambil lagi uang itu.
4174Please respect copyright.PENANAdb1HyagyDV
“Kalau nggak mau ya sudah,” katanya dengan nada kurang senang. Tapi saya tahan uang itu dengan tangan saya, lalu saya ngangguk. Haduh, Simbok, Bapak, maafkan saya. Saya lepas ikatan kemben di punggung saya, lalu pelan-pelan saya urai lilitan kain kemben merah yang membebat badan saya. Pas tinggal selembar lilitan yang menutup tetek saya, saya jadi malu, dan saya tahan selembar itu dengan lengan saya. Juragan tersenyum melihat saya.
4174Please respect copyright.PENANA7ezjgWpNpF
“Wahh… Susu kamu gede, ya? Bikin orang nafsu ajah…” Saya lihat Juragan nyengir lebar setelah ngomong itu. Sumpah, baru kali ini ada laki-laki blak-blakan ngaku seperti itu.
4174Please respect copyright.PENANAQiTDa9ipaB
Lembar uang lima puluh ribu yang tadi ditaruh Juragan di sebelah saya dia ambil, lipat, lalu dia selipkan ke… aduh! Dia selipkan ke belahan dada saya!
4174Please respect copyright.PENANALM4JeCxqu0
“Itu buat kamu, Denok,” katanya. Duh, nggak percaya rasanya. Sebelumnya saya dan Simbok mesti menari seharian, sampai pegal-pegal, buat dapat uang kurang dari lima puluh ribu. Tapi… sekarang saya dapat uang sebanyak itu … kok gampang banget?
4174Please respect copyright.PENANARrnZygQnWc
“Beneran buat saya…?” Masih tidak percaya, saya tanya lagi.
4174Please respect copyright.PENANABTwKk5z9QZ
“Iya… asal kamu buka semuanya,” kata Juragan sambil menyeringai. “Badan kamu bagus, Denok. Montok… bahenol…”
4174Please respect copyright.PENANAe2FBA7gVx0
Duh, apa maksudnya itu? Apa Juragan suka dengan tubuh saya? Seumur-umur belum pernah ada orang yang bilang itu ke saya… Jantung saya deg-degan mendengarnya.
4174Please respect copyright.PENANAO8F3hSfR1x
Juragan menarik kain kemben yang masih ditahan tangan saya, dan kainnya meluncur begitu saja tanpa saya tahan. Saya masih tutupi gunung kembar saya dengan kedua tangan. Aduh… malu banget rasanya, telanjang di depan orang lain… Tapi saya bisa dapat uang…
4174Please respect copyright.PENANAfQRjcEo9W0
“Nah, Denok, sekarang buka kainnya, ya?” Sekarang Juragan minta saya buka juga kain batik coklat yang saya pakai. Mungkin karena tadi saya malu-malu dan lambat sekali waktu buka kemben, Juragan mendekati saya dan menyingkap kain batik saya. Saya sontak mundur, tapi tangan Juragan lantas memegang pundak saya. “Jangan takut, Denok…” katanya. Juragan juga memegang paha saya yang masih sebagian tertutup kain batik. Dia remas sedikit paha saya. Suara “Eihh” keluar dari mulut saya, malu karena sentuhan Juragan. Tangannya lantas nyelip ke bawah kain saya! Kulit tangan Juragan bersentuhan dengan kulit paha saya, dan saya makin deg-degan. Dia terus remas-remas paha saya. Saya nggigit bibir, takut keluar suara macam-macam dari mulut saya. Tangan satunya terus nyibak kain saya, sampai ke dekat pinggang… Duh, biyung, sedang diapakan saya ini? Kain saya tinggal nyangkut di pinggang saja, sementara kedua kaki, betis, dengkul, sampai paha saya sudah dikeluarkan dari bungkusnya, sedikit lagi kancut saya kelihatan!
4174Please respect copyright.PENANAgTid7Fn4aR
“Rebahan saja, Denok!” suruh Juragan. Saya nuruti perintahnya, pelan-pelan saya rebahkan badan atas saya. Kedua tangan saya tetap nutupi sepasang tetek saya. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya. Dan sambil saya rebahan itu, tangan Juragan beraksi sangkutan terakhir kain saya di pinggang. Aduhhh biyung. Kedua tangan saya bagi tugas: satu melintang di depan dada, satu turun ke bawah nutupi kancut saya.
4174Please respect copyright.PENANAbPi1GkXugz
Saya ragu-ragu, tapi nggak tahu kenapa, saya juga kok ngerasa gairah saya bangkit? Waduh? Kok begini jadinya? Juragan terus-terusan melihat sekujur tubuh saya, sambil memuji.
4174Please respect copyright.PENANAi1wPlnpYWZ
“Ayo dong, nggak usah ditutupin,” kata Juragan. “Tanganmu disingkirin dong? Denok, kalau kamu mau kupegang, kutambah dua puluh ribu, ya…”
4174Please respect copyright.PENANA1OeenmyXAq
Kedua tangan saya dipegang Juragan, lalu pelan-pelan diletakkan di samping badan saya. Duh, buyar deh pertahanan saya. Sekarang susu saya nggak ada lagi yang menutupi. Sekarang kancut saya kelihatan.
4174Please respect copyright.PENANAphn7260WTo
“Euh… Juragan… mau pegang?” kata saya bingung. “Ja… jadi sekarang tujuh puluh ribu?”
4174Please respect copyright.PENANAKqULbXENox
Juragan juga sudah buka baju, dan hanya dengan bercelana pendek beliau naik ke ranjang, posisi merangkak di atas badan saya. Gede sekali badannya, kalau dilihat di atas pasti saya ketutupan.
4174Please respect copyright.PENANAFhHF1jgYGr
“Eh!?” pekik saya waktu tangan Juragan yang besar menggenggam tetek saya.
4174Please respect copyright.PENANAKqP5CBe1u9
“Wooh, Denok, empuk ya susumu,” kata Juragan. “Kenyal-kenyal kalau diremas…”
4174Please respect copyright.PENANA3C8iFVV4cB
“Kh… ihh… apa iya…?” kata saya, sambil merasa jari-jari Juragan memenceti sepasang tetek saya. Muka Juragan mendekat ke muka saya.
4174Please respect copyright.PENANAHVUgV0OIDv
“Bibir kamu nggemesin, Denok. Merah, kelihatannya empuk… Ayo, cium aku,” pintanya.
4174Please respect copyright.PENANA4sjHUygYw1
“Ci… cium?”
4174Please respect copyright.PENANAhQZlM7jlJi
“Ya. Belum pernah ciuman? Nggak susah kok, cuma bibir ketemu bibir.”
4174Please respect copyright.PENANAEb7incV9rx
“Eh… kalau cium bibir saya belum pernah, Juragan… paling-paling cium pipi, cium tangan…”
4174Please respect copyright.PENANA0vkwj9R7WQ
“Ya udah, nggak apa-apa! Ayo…”
4174Please respect copyright.PENANAhvNIil8TqW
“…”
4174Please respect copyright.PENANA6wc1SS8oNY
Muka Juragan yang lebar itu menempel ke muka saya, bibirnya yang lebar menempel ke bibir saya, memaksa mulut saya terbuka. Duh, lidahnya ikut main juga, masuk-masuk ke mulut saya, mengajak bergulat lidah saya. Beda sekali rasanya dengan cium pipi atau cium tangan, rasanya hangat, geli… Saya kurang suka bau mulut Juragan, jijik dengan lidahnya yang basah, tapi saya merasa nggak mau melawan, nggak tahu kenapa… Lidahnya melumat lidah saya, bibirnya melumat bibir saya. Lama sekali kami ciuman, ciuman saya yang pertama, kepala saya terhimpit kepalanya.
4174Please respect copyright.PENANAjvze2nSsis
Duh, yang saya lakukan ini salah nggak ya? Iya, saya mulai sadar saya sedang jual badan saya… itu sebenarnya salah, tapi kok… kenapa saya jadi nggak peduli? Kenapa saya malah jadi bergairah membayangkan bagaimana kelihatannya saya sekarang? Saya nyaris telanjang, susu saya habis diremas-remas, bibir merah saya dilalap, dan badan saya dihimpit badan laki-laki. Bunyi-bunyi jilatan, desahan, dan cairan di mulut saya. Dan saya malah makin larut. Lidah saya mulai menjilat balik lidah Juragan. Air liur Juragan saya telan.
4174Please respect copyright.PENANA2GsrKrjSxM
“Uaahhh…” keluh saya ketika Juragan akhirnya menarik bibirnya. Sisa liur kami dari ciuman basah tadi masih nyantol seperti tali yang menyambung bibir saya dan bibir Juragan. “Juragan… rasanya kok beda ya…” kata saya. “Jiah!” Saya kaget waktu Juragan mencubit-cubit pentil saya. “Gimana Denok, kamu suka dicium seperti tadi? Enak kan?”
4174Please respect copyright.PENANANceuksJmlW
“Ahn…” desah saya karena keenakan pentil saya dimain-mainkan, akibatnya omongan saya sudah nggak terkendali, “Iya Juragan… saya suka dicium kayak tadi…”
4174Please respect copyright.PENANAmcTTbWMBCq
“Bener? Bagus, bagus,” Haduh! Juragan nyentuh bagian depan kancut saya! Katanya, “Aku bikin kamu tambah enak di sini ya?”
4174Please respect copyright.PENANAgXN9vAFgLp
Juragan menyibak kancut saya dan menowel… menowel… itil saya! “Coba kalau begini…”
4174Please respect copyright.PENANAVwrJE7A5MD
“Nhaaaa!! Iyhaaah? Aahh… jangan!!” Seperti kesetrum saya waktu itil saya ditowel dan dikocok jari-jari Juragan. Kenapa ini… kok badan saya bereaksi seperti itu? “Ooh… heehhh… aduh Juragan… kena…pa ini?” saya meracau, bingung dengan badan saya sendiri. Saya belum pernah disentuh orang di bagian situ. Sumpah, saya nggak tahu ada apa gerangan. Rasanya ada sesuatu yang mau keluar dari dalam badan saya… Saya takut.
4174Please respect copyright.PENANABBNVp6JhlF
Juragan terus memain-mainkan itil saya tanpa ampun. Rasanya panas dingin, kalang kabut, merinding! Dan… aduh, nikmat! Ditambah lagi, sekarang Juragan memasuk-masukkan jarinya juga ke… belahan memek saya!
4174Please respect copyright.PENANAavjtO7vh2S
“Aduh, aduh, ahh… Juragan! Juragan udah… jangan! Ah… saya… saya… aduh juragan ada yang mau keluar Juragan… aduh…”
4174Please respect copyright.PENANAeaxDhF1EXw
Memang, saya merasa seperti mau pipis… Haduh bagaimana ini, masa’ saya pipis di depan Juragan? Jari-jari Juragan terus main di kemaluan saya, dan nggak tahu kenapa, saya malah ngangkat-ngangkat selangkangan saya!
4174Please respect copyright.PENANAv8HPPciUrn
“Uuuuaaahhh… iyaaA!!” Bobol-lah pertahanan saya akhirnya, dan terdengar bunyi “criiit” dari itil saya yang memuncratkan sesuatu. Aduhhh… malunya. Saya merasa seperti barusan pipis di ranjang Juragan. (Belakangan saya tahu itu bukan pipis). Tapi… kok rasanya enak dan nikmat sekali, sampai ada yang keluar dari badan saya sesudah itil dan memek saya dimain-mainkan Juragan? Sampai saya ngangkat pinggul saya?
4174Please respect copyright.PENANAvj0ztWyJBZ
“Haahh… haduhh…” Saya tersengal-sengal, sehabis ngecrit, badan saya seperti habis kena setrum atau kesambar petir. Duh, edan tenan. Sampai gemetaran. Juragan senyum di depan muka saya, sambil bilang, “Nah, itu buat permulaannya, Denok…”
4174Please respect copyright.PENANA11ljPdC6bG
Dan tahu-tahu saja, Juragan sudah buka celana, dan menempelkan… menempelkan… anunya di belahan memek saya!
4174Please respect copyright.PENANAc1lxbPmt69
“Aduh, Juragan…! Itu… Kok ditempel ke anu saya?!” kata saya. Memang saya belum tahu banyak mengenai badan laki-laki dan wanita.
4174Please respect copyright.PENANASn8xnkOPZx
“Ini namanya kontol, Denok,” Juragan menjelaskan, “Kontol ini mau masuk ke memekmu…”
4174Please respect copyright.PENANAkMNeV9nzJA
Saya melotot melihat anunya Juragan yang gede dan berurat itu. “Tapi… tapi nggak bakal muat, Juragan!”
4174Please respect copyright.PENANAcrUU16r09K
“Nggak apa-apa… Kukasih kamu tiga puluh ribu lagi kalau kamu mau kumasuki.”
4174Please respect copyright.PENANApSjFd9vRRl
Kali ini Juragan tidak nunggu jawaban saya. Beliau langsung saja menurunkan badannya yang besar itu, menghimpit badan saya di bawahnya. Dan anunya… kontolnya… masuk ke memek saya! Ampuun! Sakit! Saya sampai njerit!
4174Please respect copyright.PENANAuM3fR00s4q
“AaaaAAAA!! Aduuuu!!”
4174Please respect copyright.PENANAFdkCtvQfYB
Juragan mendengus dan menggerung. “Huoooh! Kamu masih perawan ya Denok!? Sempit banget!”
4174Please respect copyright.PENANA3GZ0duuiB2
Perawan?
4174Please respect copyright.PENANAZTIMk6BeUy
Aduh biyung… saya diperawani Juragan!
4174Please respect copyright.PENANAuWIbORS3ar
Badan Juragan yang berat menindih badan saya, dadanya menggencet susu saya, kontolnya yang gede itu mencoblos memek saya… menerobos kehormatan saya… Saya merasa sakit campur nikmat campur malu… Aduh, Bapak, Simbok, saya sudah bukan perawan lagi!
4174Please respect copyright.PENANAycdP8zTPt4
“Aku masuk lebih dalam lagi, ya, Denok?” Juragan bertanya tanpa menunggu jawaban, menerobos tambah dalam ke anu saya. Saya cuma bisa bersuara ah uh saja. Lalu pelan-pelan Juragan menarik kontolnya sampai keluar semua… Beliau raih belakang kepala saya, nyuruh saya melihat. Di kontolnya kelihatan bercak darah, darah perawan saya! Haduh biyung. Juragan ketawa, lalu beliau cium bibir saya lagi. Sambil mencium, anunya dia masukkan lagi ke memek saya. Saya njerit lagi, tapi mulut saya ketutupan mulutnya. Sesudah itu Juragan terus nggenjot saya, keluar masuk, keluar masuk, tambah lama tambah kencang. Badan saya diguncang-guncang, kepala saya menenggak-nenggak, sepasang susu saya gondal-gandul, digoyang gerakan Juragan. Saya sampai nggak bisa ngomong, cuma bisa ndesah dan njerit nggak karuan. Saya berusaha minta Juragan jangan kencang-kencang, tapi beliau tidak mendengarkan. Tapi…
4174Please respect copyright.PENANACIae7dvVF6
…kok saya merasa nikmat, ya? Duh, saya lagi di… dientot sama Juragan, dan saya baru tahu ngentot itu… enak… sudah gitu… saya… dibayar?
4174Please respect copyright.PENANASDQnRBdwOP
Kenapa ndak dari dulu saja, ya?
4174Please respect copyright.PENANA6WtBfUH6Ip
Terlintas pikiran seperti itu dalam kepala saya. Tapi saya acuhkan. Saya luluh akibat gempuran-gempuran Juragan. Waktu beliau rebahan dan minta saya tegak, saya nurut. Dan badan saya gerak sendiri, naik-turun sambil masih tersodok kontolnya.
4174Please respect copyright.PENANAzEFlndDV5T
“Aah! Aiih!! Hiih!” Duh, saya sudah nggak tahu lagi apa yang keluar dari bibir saya, atau seperti apa kelihatannya saya. Muka saya pasti kelihatan mesum banget. Dada saya gonjang-ganjing. Juragan kelihatan senang.
4174Please respect copyright.PENANAgYVQZmN00F
“Hah… uh… Ayo terus Denok… aku senang ndengar suaramu kalau dientot… mbikin tambah nafsu. Kamu juga suka, kan?” Juragan berusaha ngajak bicara. Saya njawab dengan lenguhan dan ocehan nggak jelas, ah-ah uh-uh. “Hauhh… Ga…n! Enakh… ahh…”
4174Please respect copyright.PENANAA2ALtQhGeE
“Denokh… uh… nanti kalau udah sampai… kamu njerit yang keras ya?” pinta Juragan di sela-sela nafasnya yang memburu. “Sampai?” Saya bingung apa maksudnya. “Nanti juga kamu… uh… hh… rasa sendiri,” kata Juragan. “Yang seperti… uh… tadi. Aku mau… keluarin di dalam kamu kalau kamu udah… sampai, ya?”
4174Please respect copyright.PENANAdTLhVCEXEQ
“Hah… ough… di… dalam?” Sumpah, saya nggak ngerti apa maksudnya Juragan, dan nggak sempat mikir juga. Mana sempat mikir, kalau kepala saya penuh dengan perasaan nikmat karena dientot Juragan. Tapi nggak lama kemudian saya merasa ada yang memuncak dalam badan saya, seperti waktu itil dan memek saya dimain-mainkan tadi. Apa sudah waktunya?
4174Please respect copyright.PENANAekT6vS6hlp
Saya nggak bisa kendalikan badan saya. Saya makin getol nggoyang pinggul, merasakan kontol Juragan dalam anu saya. “Eahh!! Uwahh!! Haduhh!! JURAGAAAN!! ANNGGGHHHH!!” Dan menjeritlah saya.
4174Please respect copyright.PENANAgRbvZOKOf8
Juragan mendengar saya njerit, dan langsung memegangi tangan saya sambil ngangkat pinggulnya sehingga burungnya masuk sedalam-dalamnya ke memek saya. “Khn! Ghooh!” Mata saya melotot, mulut saya nganga, mungkin lidah saya menjulur keluar, saya sudah nggak peduli semesum apa tampang saya selagi saya menjerit keenakan itu.
4174Please respect copyright.PENANA1qYm7MnioR
Saya merasakan ada yang keluar di dalam kemaluan saya. Basah dan hangat. Dari anunya Juragan. Untuk pertama kalinya ada orang yang menebar benihnya di dalam badan saya.
4174Please respect copyright.PENANAbGq6gT2JXx
“Hiyahh…” erang saya. Badan saya condong ke depan, kedua tangan saya bertumpu ke dada Juragan, kepala saya mendongak, menganga sambil memekik. Dan akhirnya ambruklah badan saya ke dada Juragan, ngos-ngosan, mendesah-desah. Susu saya yang tergencet jadi menyembul ke samping badan, pentilnya mencuat keras.
4174Please respect copyright.PENANAUD4B9eX6nc
Beberapa lama saya terkulai di atas badan Juragan yang empuk. Dia lantas menggeser saya dan bangun, lalu memakai lagi bajunya. Sambil berpakaian, dia ngomong ke saya.
4174Please respect copyright.PENANA7YqSdrZiM1
“Hehehe. Lumayan juga bisa ndapat perawan siang-siang begini… Kalau kamu mau, Denok, cari uang itu nggak susah…”
4174Please respect copyright.PENANA4wksj5ca7E
Beliau jatuhkan enam lembar lima puluh ribuan ke dekat muka saya. Saya nggeletak nggak karuan di ranjang Juragan, mandi keringat, ngos-ngosan.
4174Please respect copyright.PENANATUnCAr8pb2
“Itu buat kamu,” kata Juragan. “Cukup kan buat bayar kontrakan kamu tiga bulan?”
4174Please respect copyright.PENANAEzMrkMcyhH
Saya berbaring agak lama sampai akhirnya kekuatan saya kembali. Buru-buru saya pakai lagi kemben dan kain saya. Haduh, tampang saya pasti sudah ndak karuan. Bedak saya sampai luntur dan nempel di seprai ranjang Juragan. Juragan terus duduk memperhatikan saya yang kalang kabut pakai baju. Beliau diam saja. Saya pamitan dan buru-buru turun. Di bawah, di depan toko mulai ramai. Beberapa orang pegawai Juragan manggil saya, tapi saya nggak berani menghadapi mereka, apalagi pas acak-acakan begini. Saya sampai setengah lari meninggalkan toko beras Juragan, langsung ke kontrakan. Ee, ternyata ibu pemilik kontrakan lagi nangkring di depan. “Siang-siang kok udah balik, Denok? Lah, kok berantakan gitu? Habis ngapain kamu?” Semua pertanyaannya saya acuhkan, saya jejalkan uang yang saya dapat ke tangannya, lalu saya langsung mabur ke kamar. Saya langsung buka pakaian serta sanggul, masuk kamar mandi, dan mandi… Ngguyur sekujur tubuh, cuci muka. Masih nggak percaya apa yang barusan saya lakukan dengan Juragan. Saya barusan serahkan keperawanan saya ke Juragan… ditukar uang kontrakan tiga bulan.
4174Please respect copyright.PENANAKNo7dNW4pQ
Apa saya sedih atau malu?
4174Please respect copyright.PENANAaZr8Wu2WDQ
Apa saya mestinya sedih atau malu?
4174Please respect copyright.PENANAXrQ4LgntWw
Nggak tahulah… Tapi yang terjadi malah tangan saya mulai meraba-raba selangkangan saya, memainkan itil saya seperti yang dilakukan Juragan tadi…
4174Please respect copyright.PENANAGEKnJ9ETG5
*****
4174Please respect copyright.PENANANyuCVs8CwC
Saya si Denok, penari jalanan. Ini kisah kehidupan saya…
4174Please respect copyright.PENANAULYnCdgODI
Sesudah hari itu, ada yang berubah dalam kehidupan saya. Saya tetap mencari penghidupan dengan menari untuk orang-orang di Pasar. Tapi ada yang lain…
4174Please respect copyright.PENANASBpCUVMxC4
Sekarang, kapan saja saya perlu uang, saya nggak lagi segan-segan menawarkan badan saya kepada laki-laki. Saya tahu ini nggak benar, dan harusnya saya berhenti, tapi godaan duit terlalu kuat…
4174Please respect copyright.PENANAvEvtFEu8Xi
Saya si Denok, penari jalanan, semua orang di Pasar kenal saya. Siapa yang tidak kenal si Denok yang berkemben merah, berbedak dan bergincu tebal, bertahi lalat di pipi. Dan sekarang saya dikenal juga sebagai Denok yang susunya montok, pantatnya sintal, goyangannya mantap.
4174Please respect copyright.PENANA3hIQliStt3
Sudah malam, dan saya baru saja menari buat beberapa orang supir truk pengangkut sayur yang habis bongkar muatan. Saya kalungkan selendang saya ke salah seorang, saya beri senyum manis dan saya bisikkan harga saya kalau dia mau.
4174Please respect copyright.PENANAnFBOeXUzmR
“Bener nih, segitu?” kata si supir yang bertubuh kerempeng, berambut cepak, dan mulutnya bau minuman.
4174Please respect copyright.PENANA2kltUGHWjR
“Iya Bang… tapi buat satu orang aja ya… kalau yang lain mau ikutan, nambah.”
4174Please respect copyright.PENANAFjqLVYGdhI
“Hehehe,” katanya sambil menjamah kemben saya. “Mau dong nyobain,” dia remas tetek saya. Dari semua orang yang ada di sana, cuma dia dan satu orang temannya yang ‘nanggap’ saya. Saya bawa supir-supir itu ke deretan kios kosong di dalam pasar, yang nggak laku-laku disewa karena letaknya terlalu ke dalam. Saya buka salah satunya dan saya nyalakan lampunya, dan dua orang supir itu pun saya layani di sana. Saya digilir mereka berdua di sana. Mereka minta saya layani mereka sekaligus. Jadilah saya dijepit mereka berdua… satu orang ngentoti memek saya, dan yang satunya saya kasih bokong saya.
4174Please respect copyright.PENANAsso5u0vvxj
“Waduh, Neng, pantatnya sempit amat, nih,” kata orang yang nyoblos pantat saya. “Baru pertama kali?”
4174Please respect copyright.PENANAuiW6kN9aJH
“Ah, enggak Bang,” kata saya malu-malu, disela nafas memburu. Temannya iseng menanya, sudah pernah sama berapa orang saya bersetubuh. Berapa ya? Saya pikir mungkin dua puluh atau lebih. Saya nggak ngitung. Saya nggak peduli… yang saya pikir cuma kerja seperti ini lebih gampang dapat uang. Saya juga nggak pernah merasa sendirian lagi.
4174Please respect copyright.PENANA0991NbKQiZ
“Uohhh… buang di dalem boleh gak Neng?” tanya supir yang di depan saya. Saya ngangguk. Dia muncrat di dalam memek saya. Saya ngerti itu sebenarnya bahaya, tapi rasanya lebih enak… anget dan lebih puas aja rasanya. Dan sesudahnya, saya dapat duit.
4174Please respect copyright.PENANAEFwOGPjJqC
Sebulan-dua bulan sesudah Juragan ngambil kegadisan saya, saya jadi makin berpengalaman sebagai lonte. Sudah banyak orang di Pasar yang merasakan badan saya: kuli, pedagang, preman, petugas, tukang ojek, supir dan lain sebagainya. Dan saya pun jadi makin akrab dengan mereka semua. Saya seperti nyimpan semua rahasia mereka. Hihihi… Saya tahu siapa yang kontolnya paling gede, siapa yang lemah syahwat, kadang-kadang saya sampai tahu urusan rumah tangga mereka. Saya tahu orang-orang yang sehari-harinya kelihatan galak atau rajin ke tempat ibadah, tapi kalau sudah pengen, mereka nyari saya juga.
4174Please respect copyright.PENANAQTtJmwy2BG
Saya juga berkali-kali tidur dengan Juragan. Juragan sering nyuruh saya coba hal-hal baru. Misalnya ngemut dan nyedot. Atau pakai tetek saya buat njepit kontol. Juga bahwa lubang pantat saya bisa dientot juga. Duh, waktu pertama kali nyoba itu, saya jejeritan. Sakit! Minta ampun sakitnya. Tapi lama-lama kebiasa juga.
4174Please respect copyright.PENANAZ4UPcMb6Al
Saya juga jadi makin kenal dengan Juragan. Perempuan yang ada di foto bersama Juragan itu benar istrinya, tapi sudah meninggal. Meninggal waktu melahirkan anak pertama, anaknya juga tidak selamat. Juragan selama ini kesepian, dan kehidupannya cuma ngurus toko beras saja. Saya jadi kasihan sama Juragan, ternyata beliau sendirian juga seperti saya.
4174Please respect copyright.PENANAlFftMsKh7R
Saya juga jadi tahu bahwa dulu, sewaktu muda dan masih tinggal di kampungnya, Juragan pernah kepincut seorang penari juga. Cuma waktu itu Juragan belum punya apa-apa, apalagi penari itu juga simpanan seorang camat. Juragan cuma bisa nonton dan mengagumi dari jauh tiap kali si penari itu mentas. Kata Juragan, saya mirip penari itu. Mungkin karena itu juga Juragan selalu minta saya pakai pakaian dan riasan penari lengkap tiap kali beliau nanggap saya… Yah, saya juga ikut senang kalau bisa bikin Juragan senang.
4174Please respect copyright.PENANAa4ANGi4Nsc
Makin hari saya makin larut dalam kehidupan sebagai penari yang juga jualan badan. Karena uang, harga diri saya lupakan, dan saya jadi bahan pelampiasan nafsu laki-laki. Tiap kali ada orang menggencet saya, menjamah saya, memasuki badan saya… sebenarnya saya ingat jalan ini tidak benar, tapi badan saya terus minta lebih. Saya jadi nggak tahu lagi apa saya masih terus melakukannya hanya karena duit. Makin lama saya makin gawat. Melayani dua-tiga orang sekaligus. Sudah nggak terhitung orang yang membuang benih di dalam rahim saya. Saya pun makin berani.
4174Please respect copyright.PENANATyqucXo5kn
Akhirnya saya nggak bisa lagi hitung berapa orang yang sudah merasakan badan saya, dan saya pun bunting… Wajar, kalau ingat sudah begitu banyak orang yang bisa menghamili saya. Tapi saya terus melacur walaupun perut saya membesar. Dan saya juga terus datang ke Juragan. Terakhir kali saya tidur dengan Juragan, perut saya sudah mulai menonjol, dan beliau kelihatan agak khawatir dengan saya.
4174Please respect copyright.PENANAld2qgNlYFB
“Sudahlah Denok… Kamu berhenti saja, ingat keadaan kamu,” kata Juragan sambil pelan-pelan menggenjot saya.
4174Please respect copyright.PENANA4pLQD7XhVJ
“Ndak apa-apa Juragan…” kata saya. Saya tersenyum buat Juragan. Saya ingat dulu saya tidak senyum buat beliau waktu pertama kali beliau tiduri saya. Tapi sekarang, di antara semua pelanggan saya, saya cuma bisa senyum untuk Juragan… Senyum setulus hati. Kenapa? Entahlah… saya sendiri juga nggak tahu. Mungkin karena sesudah Simbok meninggal, Juragan-lah yang paling dekat dengan saya? Yang jelas saya sungguh menikmati saat-saat bersama Juragan. Termasuk sekarang, waktu beliau sedang senggama dengan saya, sambil tampangnya khawatir. Rasanya saya ingin bikin beliau nggak khawatir. Bukannya sakit, malu, atau jijik, saya bahagia tiap kali badan Juragan bersatu dengan badan saya.
4174Please respect copyright.PENANAMu0b0YfNXN
*****
4174Please respect copyright.PENANAmyhyFL0m0H
Hampir setahun sesudah saya dan Simbok meninggalkan rumah untuk jadi penari jalanan di Jakarta, ada satu lagi kejadian yang ngubah hidup saya. Saya sudah enam bulan bunting, tapi tetap masih keliling menari… Saya seharusnya sudah berhenti. Tapi saya mbandel.
4174Please respect copyright.PENANA9tQIuHNZ94
Saya pingsan di jalan.
4174Please respect copyright.PENANARCrc1d4d0e
Pastinya ada yang melihat dan membantu saya, soalnya saya siuman di rumah sakit. Tengah malam. Dan di samping tempat tidur rumah sakit, duduk sendirian sambil pegangi tangan saya, ada Juragan.
4174Please respect copyright.PENANAUTfPB8qFfB
“Kamu sudah sadar Denok? Syukuuur…” kata Juragan sewaktu melihat saya siuman. Juragan menangis. Saya nggak bisa apa-apa karena masih lemas.
4174Please respect copyright.PENANAAhqQn1iwJH
Selanjutnya Juragan kasih tahu saya, beliau dan anak buahnya yang bawa saya ke rumah sakit. Dan bahwa saya keguguran.
4174Please respect copyright.PENANAiBNReUF7pz
“Duh, untung kamu masih selamat, Denok… Tapi anakmu…” Juragan bilang itu semua sambil nangis. Beliau bilang teringat istrinya, dan sudah takut saya bakal mengalami kejadian yang sama. Beliau genggam tangan saya erat-erat, nggak dilepas-lepas.
4174Please respect copyright.PENANABhkopKfcmq
Dan…
4174Please respect copyright.PENANAQ90Oh77dEg
“Denok, maaf… maafin aku. Kalau bukan karena yang pertama kali itu, kamu nggak usah sampai seperti ini… Aku salah, Denok, aku yang ndorong kamu sampai jadi begini… Salahku gede sekali sama kamu, Denok…”
4174Please respect copyright.PENANAW1CnpoOHkz
Dengan sedikit kekuatan yang sudah muncul, saya coba rangkul beliau sebisanya. “Juragan… nggak apa-apa… mungkin ini sudah jalan hidup Denok…”
4174Please respect copyright.PENANAQAjFyjIjin
“Nggak, nggak boleh lagi, Denok… Mulai sekarang biar aku yang nanggung kamu, Denok. Kamu nggak boleh lagi melacur. Biar aku nebus dosaku ke kamu, Denok.”
4174Please respect copyright.PENANAEcn9d9kDBM
“Juragan…” saya cuma bisa bilang itu karena masih lemah, sambil berusaha senyum. Kata-kata Juragan penuh arti…
4174Please respect copyright.PENANApIOxynROmN
Juragan mendekatkan mukanya ke muka saya “Jangan panggil Juragan lagi… panggil namaku saja… namaku…”
4174Please respect copyright.PENANAFUj0dAo6Kq
*****
4174Please respect copyright.PENANAOhU7utZaHn
Ibukota memang keras. Tapi buat mereka yang gigih dan mujur, selalu ada jalan.
4174Please respect copyright.PENANAbEI0R0j1Jf
Sesudah saya keluar dari rumah sakit, Juragan melamar saya. Sekarang saya sudah jadi istri Juragan, dan kehidupan saya jadi jauh lebih baik. Waktu kondangan pernikahan, semua orang di Pasar datang dan memberi selamat ke saya, si Denok, penari jalanan berkemben merah yang sudah ketemu jodoh. Untungnya, Juragan termasuk dihormati di Pasar dan semua orang tidak ada yang mempermasalahkan pilihan beliau untuk mengangkat saya yang hina dan pernah terjerumus ini.
4174Please respect copyright.PENANAKtEIBDjDXW
Kini hari-hari saya dihabiskan mengurus Juragan dan membantu Juragan menjalankan toko beras. Juragan dan saya sadar bahwa perbedaan umur kami itu jauh banget, dan Juragan juga sudah tidak muda. Saya berusaha menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya untuk Juragan. Tapi ada peran lama saya yang nggak saya lupakan.
4174Please respect copyright.PENANAnMR50J7Km7
Sekali-sekali, kalau Juragan minta, saya akan kenakan lagi kemben merah dan batik, sanggul dan kembang, bedak tebal dan gincu merah, untuk kemudian melayani Juragan di ranjang. Memang dulu penampilan penari saya yang membuat Juragan kesengsem, dan memang dengan berpakaian seperti itulah saya jalani malam pertama kami. Itu jadi kenangan penting buat kami, waktu Juragan didatangi seorang penari jalanan…
4174Please respect copyright.PENANAHC2wSmfRzE