Di malam hari,Qio Wei termenung di pinggiran kolam depan rumahnya.Ya sekarang mau tak mau Jing Wei harus terbiasa dengan panggilan tersebut.Duduk diatas bebatuan sambil menggerakkan giginya,menggigit-gigit kecil memainkan setangkai batang rumput liar yang di ambilnya secara asal.Dibawah cahaya bulan wajahnya bersinar meski dalam keadaan muram dan bersedih.Rambut hitamnya berkibar ditiup angin.Dengan gaya duduknya yang elegan membuatnya terlihat bak seorang dewi yang turun ke bumi.
Sesekali tangannya bergerak usil melempar batu kerikil ke dalam kolam.Menimbulkan bunyi 'kecipuk' akibat perpaduan batu yang masuk ke air kolam.
Wanita itu dengan cemberut menggerutu kesal sebab tidak menyangka akan kembali ke rumah yang paling dibenci dan dihindarinya yakni rumahnya sendiri.Mungkin kata orang,rumah adalah syurga tetapi tidak baginya.Setelah Satu bulan kabur dari rumah dan pertunangannya berhasil di batalkan,dia malah disuruh berpatisipasi mengikuti acara kekaisaran yang akan di selenggarakan sepekan lagi.Qio Wei yakin acara itu bertujuan untuk mencari pasangan untuk putra mahkota,Xio Shangdong.Pangeran kharismatik tapi sangat temperamental.Qiao Wei sangat membenci perkawinan politik.Jika bukan karena kaisar mana ada yang mau dengannya.
Prestasi ayahnya saat menjadi jenderal kerajaan sebelum datang masa pensiunnya pasti menjadi alasan datangnya undangan tersebut.Padahal dia masih memiliki dua anak perempuan berbeda ibu dengan Qiao Wei.Selain itu pamer mereka juga tak kalah hebat di masyarakat luar,berbeda dengan Qio Wei yang diremehkan dan terhina seusai kabar perceraiannya.
Qiao Wei menggelinjang,kakinya bergerak seolah menggaruk bebatuan seperti tingkah nya anak kecil yang merengek di belikan permen " Seharusnya aku mati saja. " rutuknya.
" Nona,saatnya istirahat.Angin malam tidak baik untuk kesehatan. " Seorang pelayan datang menghampirinya dari belakang memberi mantel karena memng cuaca saat itu cukup dingin.Lalu dia duduk disebelah Qiao Wei.
" Apakah dengan tenggelam bisa membuatmu langsung mati? " ucap Qiao Wei datar.Pandangannya kosong ke depan.
" Jika yang dimaksud nona itu tenggelam,kemungkinan iya kemungkinan tidak.Tapi yang pasti sangat menyakitkan dan menyiksa.Campuran antara rasa tercekik,tersedak dan semua organ dalam terisi air.
Detik berikutnya,sang pelayan langsung panik menyadarinya.Tergambar beberapa kesimpulan dalam otaknya setelah mencerna kalimat tersebut.
" Jangan bunuh diri nona,saya sangat merasa kehilangan saat nona pergi beberapa waktu lalu.Bagaimana saya bisa hidup jika nona mati? "pelayannya menjawab dengan nada bergetar.Matanya mulai berkaca-kaca.
Qiao Wei menoleh kepalanya saja.Tangan memukul pundak pelayannya sekali sambil memarahinya " Siapa yang mau bunuh diri,aku hanya ingin bertanya saja. "
Qiao Wei menjeda ucapannya lalu melanjutkannya " Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.Apalagi mengalaminya. " lanjutnya sambil mengangkat bahu.Bola matanya terangkat ke atas memandang langit malam.
" Jam berapa sekarang? " Qiao Wei bertanya santai dengan wajah datarnya.
" Jam ayam jantan nona. "
Seketika Qiao Wei menoleh terkejut " Apa? Kenapa tidak mengingatkanku? Ayah bisa marah jika aku bangun kesiangan. "
Chun Chun menggerakkan bibirnya " Saya-kan sud~ "
Ucapannya terputus lantaran telah ditinggal lari sang majikan ke dalam rumah.
Chun Chun tersenyum geli dan berlari menyusulnya sambil berteriak " TUNGGU SAYA NONA! "
•••♢•••
Sepekan sudah berlalu,saat yang dinantikan pihak istana akan segera dimulai.
Di aula,para dayang dan pelayan berlalu lalang menyiapkan hidangan untuk para tamu undangan.Ada buah,kue kering,anggur dan sebagainya.
Meja yang ditata berjajar memanjang di bagian kiri dan kanan.Karpet merah terbentang mulai dari sisi pintu utama dan berakhir sampai kursi kebanggaan sang kaisar.
Lampu mewah tergantung indah diatas awang-awang.Hiasan bunga berbau harum ditaruh di setiap sudut aula terutama di dekat singgasana.
" Kira-kira Pangeran Xionglue akan pulang tidak ya? "
" Mana mungkin.Dia kan sedang berobat.Bukankah acara ini khusus untuk putra mahkota. "
Beberapa dayang menata piring dimeja sambil bersosialisasi ria.Kemudian lewat pelayan laki-laki membawa hidangan buah besar dan menaruhnya dimeja raja.Dia mendekati kerumunan para dayang yang bergosip tadi.Sambil pura-pura menata kursi dia ikut menyela perundingan tersebut.
" Melihat karakter putra mahkota saja sudah ngeri,bagaimana jadinya jika Pangeran ke-dua yang dingin dan arogan itu datang? Bisa-bisa hanya ada kesunyian diantara para tamu undangan. "
" Dan juga~ "nadanya menurun hampir berbisik sambil mendekatkan wajahnya ke kerumunan dayang -dayang di depannya.Membuat mereka langsung menatapnya penasaran.
"Apa kalian tidak mendengar tentang desas-desus kematian sang Pangeran ke dua? "
" SANG PANGERAN MENINGGAL? TIDAK MUNGKIN.DIA ADALAH JENDERAL PERANG YANG HEBAT.SELALU PULANG MEMBAWA KEMENANGAN.MANA-MUNGKIN BISA MATI BEGITU SAJA. " celetuk salah seorang dayang dwngan suaranya meninggi satu oktaf.
Pelayan pria dihadapannya mengangkat telunjuk " SSSHHT. Pelan kan suaramu! Ini istana bukan pasar yang ramai sehingga suaramu tak berarti apa-apa. "
" Aku juga tidak tahu.Yang pasti sekarang katanya Sang pangeran sudah sembuh.Tapi salah satu tangannya menjadi lumpuh. " imbuhnya.
" Kasih~ "
" JANGAN ASYIK MENGOBROL! CEPAT SELESAIKAN PEKERJAAN KALIAN! PARA TAMU UNDANGAN AKAN SEGERA TIBA.JIKA TIDAK,KALIAN HARUS ANGKAT KAKI DARI SINI! " Suara kepala dayang istana tiba-tiba mengagetkan mereka.Sontak mereka langsung panik berhamburan.
Satu jam masa-masa merepotkan telah terlewati.Satu persatu tamu istimewa berdatangan.Mereka adalah para bangsawan kelas bawah,perdana menteri dan para pensiunan jendral terdahulu.
Masing-masing membawa dan menggandeng anak perempuan mereka yang berparas cantik dan menawan.Tak cuma satu,ada yang membawa tiga,empat bahkan yang memiliki lima putri yang mencapai usia menikah,semuanya di bawa sekaligus.
Beberapa pelayan menghampiri guna mengarahkan mereka ke tempat duduk yang telah disediakan.
Rombongan terakhir datang dari keluarga bermarga Shen.Ya,dia adalah ayah dari Shen Qiao Wei.Di belakangnya ada dua wanita cantik bernama Shen Meilan dan Shen Xishuang.Mereka adalah kakak satu ayah dengan Qiao Wei.
Namun kepala Shen tidak menyadari bahwa Qiao Wei tidak datang memasuki aula perjamuan.Padahal jelas-jelas dia memasuki kereta saat keberangkatan.
Semua orang telah memilih kursinya menyisakan lima kursi paling depan.Satu kursi di sebelah kanan dan empat kursi di sebelah kiri.Karena memang sengaja didesain bagian kanan untuk tamu pria dan sebelah kiri untuk tamu wanita.
" YANG MULIA RAJA MEMASUKI AULA. " Suara lantang sang kasim memasuki telinga.
Semua hadirin langsung berdiri menyambutnya.Kepala Shen sangat bersemangat dan percaya diri mengira bahwa pasti salah satu putrinya akan terpilih.Dia memandang putrinya.Baru saat itulah kepala Shen menyadari salah satu putrinya tidak hadir.
" SHEN-QIAO-WEI " ucapnya lirih sambil menggerakkan giginya dan mengepalkan tangan secara diam-diam.
____________________
Hi guys! This is my first story about Chinees transmigration.I hope my readers like it.Happy reading for you all.Thank you.
ns18.224.63.104da2